Di Bawah Ekspektasi

Disadari atau tidak, kita sering mengungkung diri dalam ekspektasi orang lain. Berharap ingin menyenangkan orang lain atau sekadar tidak ingin dilihat jelek di mata orang lain. Manusiawi memang. Bahkan, ada yang berteori kalau ini merupakan dalih ketidakmandirian masyarakat Indonesia di zaman reformasi — mentalnya tetap terjajah.

Saya yakin sekali banyak dari kita yang sudah pernah melihat atau mendengar kutipan ini,

We buy things we don’t need with money we don’t have to impress people we don’t like.

Semua itu semata-mata kita lakukan demi impresi, demi memenuhi ekspektasi orang lain terhadap kita. Lambat laun, ini bukan lagi menjadi motivasi, tetapi mengarah pada kehilangan jati diri.

I am free(?)

Membuat suatu hal yang berbeda jelas akan mendapat penolakan dari berbagai pihak. Orang-orang sudah terlanjur hidup seperti itu.

Kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.

Begitu kita diajarkan dalam agama. Maka, pada dasarnya memang orang itu akan sulit berubah dari pakem yang ada.

Karena pada dasarnya manusia adalah tempat salah dan lupa, maka kebaikan itu hanya akan datang bagi mereka yang mau mengubahnya. Jalannya sulit, tentu saja. Perubahan pun tidak selalu menjamin datangnya kebaikan, tetapi kebaikan hanya akan ada jika ada perubahan yang dilakukan.

Tuhan tidak akan menyalahi janji-Nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s