Mengapa Menggunakan Linux?

Mungkin judulnya lebih tepat: “Mengapa Menggunakan Ubuntu?” karena yang saya gunakan sehari-hari adalah Ubuntu.

Permulaan

Saya mulai menggunakan Ubuntu ketika mulai tingkat akhir kuliah. Alasannya waktu itu sederhana: laptop saya secara ajaib melambat ketika menggunakan Windows dalam keadaan tidak terhubung dengan sumber daya. Kecepatan booting dan shutting down Ubuntu juga dapat bersaing dengan Windows 7. Selain itu, saya mulai tertarik karena menggunakan Ubuntu seolah membuat saya menjadi programmer sejati — pernyataan ini didukung oleh seorang teman ber-IPK 3.99.

Sebetulnya, beberapa kali saya memang diharuskan bersentuhan dengan Linux dikarenakan tugas kuliah. Saat mencoba menggunakannya, rasanya tidak terlalu sulit dan lancar-lancar saja. Satu-satunya hal yang agak menyulitkan hanyalah ketiadaan perangkat lunak yang mumpuni untuk melakukan penyuntingan dokumen dan tabel. LibreOffice rasanya memang belum cukup “menyenangkan” jika  dibandingkan dengan Microsoft Office.

Kemudahan Akses

Sebagaimana banyak pengguna Linux lainnya, fitur paling menyenangkan dari Linux adalah Terminal — atau command prompt kalau di Windows. Hampir semua pekerjaan bisa dilakukan melalui command line interface, dan tidak perlu pengaturan yang rumit untuk melakukan hal tersebut. Instalasi program-program menarik hanya memerlukan koneksi internet dan perintah

sudo apt-get install <aplikasi>

di Terminal. Melihat berbaris-baris perintah dan informasi yang muncul di Terminal seakan mengukuhkan pernyataan tentang programmer sejati.

Awalnya tentu ada rasa kagok. “Apalah arti baris-baris perintah itu?” batin saya. Namun, seorang teman yang baik hati, sebut saja Edo, mau mengajarkan saya apa yang harus saya lakukan. Dari situ saya mulai belajar bahwa ada komunitas baik hati yang akan membantu kita dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi pada sistem operasi super-gaul ini.

Salah satu komik favorit saya di http://xkcd.com

Sekarang, saya malah merasa kesulitan ketika tidak memiliki akses ke Terminal dengan cepat. Ctrl + Alt + T menjadi sahabat yang mengisi hari-hari saya. Kompilasi program, menjalankan script sederhana, menghubungkan komputer saya dengan server, hingga sekadar melakukan hitungan dengan kalkulator saya lakukan melalui Terminal. Adik saya pernah bertanya,

Kok kalo Kak Ali kerja suka ada yang hitam-hitam di layar itu sih?

Tweaking

Saya adalah orang yang suka dengan orisinalitas awalnya. Bahkan hingga ke hal-hal seperti makanan. Saya bukan orang yang suka menambahkan saus atau kecap ke makanan saya, kecuali untuk french fries. Begitu pula halnya dengan sistem operasi. Saya tidak suka dengan organisasi folder yang berantakan, sedangkan Ubuntu memaksa saya memasukkan beberapa aplikasi yang tidak ada di package manager ke dalam folder tertentu.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya belajar untuk lebih menerima perbedaan. Saya belajar untuk bisa membuka diri terhadap hal-hal yang aneh, yang tidak teratur. Ini merupakan sebuah bentuk kesadaran bahwa inilah proses berpikir kreatif, agar kita tidak terlalu kaku (filosofis sekali ya?).

Dari sinilah kemudian saya mencoba untuk mengonfigurasi berbagai macam hal di komputer saya. Laptop ini sudah berulang kali saya ganti sistem operasinya. Memang sempat ada alasan freeze, tapi akhirnya ini tetap saya lakukan hanya karena saya ingin mencoba hal baru. Karena alasan yang sama pula, saya berkali-kali mencoba berbagai desktop environment.

Open Source

Sebagai orang yang pernah mengalami susahnya membuat suatu aplikasi, saya memahami betul rasanya ingin memperoleh bayaran atas hasil karya saya. Hebatnya, ada orang-orang “gila” di luar sana yang mau membuat aplikasi yang sebetulnya bukanlah hal yang mudah dengan gratis! Sebagian dari mereka bahkan berhasil membuat aplikasi skala besar, misalnya saja Wine yang membuat pengguna Linux bisa menjalankan program-program Windows di dalamnya.

Python juga menjadi penyumbang terbesar bagi komunitas open source ini. Semenjak saya belajar Python, ngoding menjadi menyenangkan. Banyak tugas-tugas kecil yang rasanya jadi mudah sekali dilakukan dengan menggunakan Python. Python membuat saya makin banyak berkutat dengan Terminal, dan itu menyenangkan.

Komik lain yang menarik dari http://xkcd.com

SImpulan

Linux (dalam hal ini Ubuntu) membuat hidup saya jadi lebih mudah. Saya mulai meninggalkan penggunaan tetikus sedikit demi sedikit. Cukup dengan menghapalkan nama folder dan aplikasi, saya bisa melakukan navigasi dengan mudah melalui tombol Super (tombol Windows). Penggunaan Linux awalnya memang mungkin menyulitkan dan membingungkan. Namun, percayalah bahwa di luar sana ada orang-orang baik yang dengan senang hati akan membantu kita belajar menggunakan Linux sedikit demi sedikit hingga suatu saat kita bisa mengajarkannya pada orang lain.

Just try it yourself!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s