Menipu Diri

Tanpa sadar, kita sering menipu diri sendiri. Penipuan ini dilakukan dengan latar belakang yang sama: tidak ingin mengakui bahwa ada yang tidak bisa kita lakukan. Namun, tujuannya berbeda-beda, tergantung situasinya. Bisa jadi baik, bisa jadi buruk.

Tidak jarang kita temukan orang-orang di sekeliling kita yang tak henti-hentinya berbicara dalam suatu forum, hanya karena ingin didengar dan diakui bahwa ia mengerti. Padahal, mungkin secuil pun ia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan. Semakin ia berbicara, maka semakin terperosok ia. Maka, diam sebetulnya menjadi pilihan yang lebih baik untuk kondisi seperti ini. Seharusnya, yang diajak bicara akan mafhum — bahkan mungkin dengan senang hati memperjelas duduk perkaranya.

Namun, menipu diri pun bisa jadi baik ketika ini dilakukan sambil terus memperbaiki diri dan belajar. Banyak sekali realita yang menunjukkan bahwa ketekunan bisa mengalahkan bakat. Selain itu, penipuan diri jenis ini juga dapat membantu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan “menarik” yang diajukan saat wawancara kerja, karena dari sini proses kreatif lahir. Pernah kan tiba-tiba dapat jawaban yang benar saat sedang mencoba-coba jawaban yang awalnya asal-asalan?

Lalu, yang mana yang sebaiknya kita lakukan?

Seperti biasa, jawabannya adalah: tergantung. Anda yang lebih tahu kondisi yang Anda hadapi seperti apa.

We are after all not omniscient.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s