Sistemnya atau Orangnya?

Dalam sebuah organisasi — baik laba atau nirlaba — saya terkadang bertanya, apa yang paling penting dalam sebuah organisasi tersebut: sistem atau orang? Seorang teman pernah mengatakan bahwa sistem yang penting, karena biar bagaimanapun orangnya, kalau sistemnya sudah bagus, organisasi tersebut tetap bisa berjalan. Namun, saya sendiri selama ini berpikiran bahwa lebih penting orangnya, karena merekalah yang dibina, merekalah yang punya ilmunya. Kalau menurut Anda bagaimana?

Untungnya, fenomena yang terjadi di sekeliling kita dapat menjadi pembelajaran yang berharga untuk menjawab itu. Percayalah, waktu kita tidak akan cukup proses belajar kita menggunakan prinsip “baru mengerti ketika kita sudah salah”. Kita perlu belajar dari kesalahan orang lain. Jadi, mari kita bahas satu-satu.

***

Lingkungan kampus telah menunjukkan pada saya bahwa mengelola orang itu penting. Dengan perlakuan yang baik dan adanya kesamaan “suhu”, sebuah organisasi dapat berjalan dengan baik, meski secara sistem belum kokoh. Bisa dikatakan, ada poin bernama “kultur” di sana. Sesuatu yang mendasari kegiatan karena kebiasaan.

Namun, apa yang terjadi setelah sekian lama? Pola pikir orang berubah, peradaban tak lagi sama, bukan tidak mungkin kultur itu akan luntur. Lalu, apa pula yang mungkin terjadi ketika ternyata orang-orang tersebut bergerak hanya karena figur yang mengayomi dan orang tersebut tiba-tiba menghilang? Tak ada sistem di situ, anak ayam akan kehilangan induknya. Panik.

***

Dunia bisnis akan mengajarkan kita sesuatu yang berbeda. Orang dibayar di sini sehingga ada ancaman ketika seseorang tidak bekerja sebagaimana mestinya. Sudah ada sistem yang bisa dikatakan baik. Ada yang mangkir? Pecat saja, ganti yang baru. Lihat saja sekian banyak perusahaan yang sudah berganti pemegang tampuk kepemimpinan, tapi masih bertahan sampai sekarang.

Simpel? Tidak juga. Kalau mau menggunakan hati nurani, bayangkan saja berapa orang yang menjadi tanggungan si terpecat. Masih tega? Oke, saya berikan cerita yang lain kalau begitu. Mari kita sedikit menengok sejarah.

Mustafa Kemal Atatürk | from http://ayvazburckancpl.k12.tr/

Kekaisaran Turki Ottoman pernah mencapai kuasanya di dunia ini. Tumbuh besar sebagai negara multietnis dan multireligi, pada akhirnya kekaisaran ini runtuh di tangan Mustafa Kemal Atatürk yang memutuskan untuk membubarkan kekaisaran tersebut dan mengubahnya menjadi republik. Nah, saya tidak mau membahas apa yang melatarbelakangi itu semua, tapi yang ingin saya soroti di sini adalah: pengaruh orang tidak sekecil itu kan?

***

Mungkin para pembaca sudah mulai bisa menyimpulkan dari sedikit uraian di atas. Sistem dan orang layaknya dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Sistem yang baik memang perlu, karena yang diperlukan adalah orang yang mau bekerja demi kelangsungan organisasi, bukan demi kepentingan seseorang. Namun, rasanya sulit sekali menemukan sistem yang benar-benar sempurna sehingga kehadiran orang-orang yang berdedikasi dan potensial juga sangat diperlukan.

Lalu, apa yang perlu kita kelola?

“Pengetahuannya,” kalau kata ayah.

Wallahua’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s