Java Jazz Festival 2013

Akhirnya saya diberikan kesempatan untuk memijakkan kaki pada pergelaran musik jazz tahunan di Indonesia ini. Sejujurnya, ini kali pertama saya datang ke acara semacam ini dan saya merasa sangat puas! Saya menikmati setiap penampilan dari musisi-musisi jazz lokal dan internasional yang terlibat dalam acara ini.

Saya dan beberapa orang teman menginjakkan kaki di PRJ Kemayoran pada tanggal 2 Maret lalu sekitar pukul tiga petang. Cukup “pagi” karena belum banyak penampil bernama besar yang muncul sekitar waktu tersebut. “Ya sudahlah,” pikir kami ketika memilih untuk masuk ke aula yang akan menampilkan permainan dari Amboina.

Band yang terdiri dari opa-opa berumur sekitar 60-an ini ternyata asyik sekali. Mereka memainkan jazz klasik dengan bermodalkan bas, gitar, trombon, dan drum–tanpa vokalis. Permainan mereka begitu mantap, mengena di hati. Yang menarik, sebelum pertunjukkan Benny Likumahuwa–nama ini baru kami ketahui belakangan di akhir penampilan–sempat memberikan kuliah singkat tentang jazz, tentang elemen musik jazz seperti syncopation dan blues notes.

Amboina
Amboina

Sebelum menikmati pertunjukkan berikutnya, kami menyempatkan makan dulu di food court yang mewajibkan pengunjung menggunakan kartu prepaid B*I. Ide yang cukup menarik karena pengunjung jadi “terpaksa” membuat kartu prepaid bank yang menjadi salah satu sponsor besar acara ini. Walaupun, tentu saja ini menjadi merepotkan bagi kebanyakan pengunjung karena belum akrabnya penggunaan prepaid B*I di kalangan masyarakat.

Acara ini memang didominasi–hingga seolah dimonopoli–sponsor di berbagai lini: prim-* di air mineral, t*bs di minuman ringan, T*C di makanan ringan, hingga B*I yang sempat disebutkan sebelumnya. Yang lebih tidak mengenakkannya lagi, seperti halnya kegiatan besar lainnya, makanan dan minuman yang dijual di pergelaran ini menjadi jauh lebih mahal dari biasanya–hingga dua kali lipatnya!

Kembali ke masalah musik, penampilan berikutnya yang saya nikmati adalah George Duke dan kawan-kawan. Di aula yang luar biasa besar, mereka memukau penonton dengan permainan yang apik. Ketika nomor jazz klasik “Autumn Leaves” dimainkan, penonton dibuat terhanyut dalam lantunan melodi dari dentingan piano George Duke.

George Duke
George Duke

Setelah George Duke, saya dipukau oleh penampilan Indro Hardjodikoro and the Fingers. Mereka menyuguhkan musik jazz yang diberikan nuansa etnis. Permainan gendang dan suling yang diberikan mampu menggelitik para pendengar. Namun, sayangnya panggung yang berada di luar membuat para penonton harus berpanas-panasan karena udara Jakarta!

Indro and the Fingers
Indro and the Fingers

——

Akhirnya damai kembali! Setelah berpanas-panasan di luar, saya dan teman saya menuju ke aula D1 untuk menikmati D’Masiv Jazz Project. Ini mungkin jadi salah satu yang ditunggu para pendatang–penasaran! Dari penampilan mereka, ada beberapa kolaborasi yang dilakukan, antara lain dengan Ali Akbar The Groove, Barry Likumahuwa, dan Mus Mujiono. Bagian kolaborasi dengan Mus Mujiono itulah yang buat saya paling menarik. D’Masiv dan Mus Mujiono membawakan lagu “Pergilah Kasih” yang pernah dipopulerkan oleh Chrisye. Yang menarik, lagu ini diawali oleh scat singing dari Mus Mujiono. Overall, saya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap D’Masiv dengan membuat jazz project ini meski sepertinya memang karakter suara Rian (sang vokalis) kurang cocok untuk musik jazz.

Selesai dari aula ini, saya bermaksud menyusul teman-teman yang menonton Marcus Miller. Namun, ternyata berpindah dari D’Masiv yang “lebih pop” ke Marcus Miller yang “jazz banget” bukan suatu pilihan yang oke. Ditambah dengan sesaknya penonton di aula A2 saat itu, sebentar saya menjejakkan kaki di dalam aula, saya langsung pusing. Akhirnya saya memutuskan untuk keluar sebelum pertunjukkan selesai–meski sempat menikmati satu-dua lagu–untuk berbaris di D1 kembali.

Pertunjukkan terakhir ini sangat sayang dilewatkan. Penampil langganan Java Jazz akan menjadi penutup yang sempurna: Fourplay! Benar saja, nomor-nomor cantik seperti “Max-o-Man”, “Bali Run”, “Gentle Giant”, hingga “Chant” berhasil membuat para penonton bersenandung bersama. Saking asyiknya, penonton sampai meminta encore dua kali! Ketidakhadiran Harvey Mason yang cedera Achilles tendon masih bisa ditanggulangi dengan baik oleh penggantinya yang kebetulan sedang berulang tahun hari itu.

Overall, pergelaran ini mampu memuaskan saya dengan musik-musiknya yang berkualitas. Rasanya semangat saya untuk bermusik–meski saya bermusik untuk hiburan sendiri saja–meningkat drastis setelah selesai menonton rangkaian musisi-musisi jazz kelas dunia tersebut!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s