Kongres IA-IF ITB, Akhirnya!

Alhamdulillah. Beberapa hari terakhir ini, Allah berikan kemudahan untuk urusan-urusan saya. Proyek yang sedang saya urus akhirnya selesai, pengumpulan orang-orang untuk tim dari suatu proyek baru juga sudah, tugas akhir tiba-tiba dapat pencerahan, hingga satu hal yang sudah saya kerjakan bersama Ginting selama setahun terakhir ini: Kongres IA-IF ITB! Rasanya excited sekali mengingat bahwa besok semua usaha yang dilakukan selama ini akan terbayar.

Semua bermula sekitar setahun yang lalu ketika Ginting meminta saya untuk membantunya di divisi ekstrakampus. Saat itu ia berkata bahwa ia punya mimpi besar untuk dapat mewujudkan Kongres IA-IF ITB. Kami pun berakhir pada nama Bapak Saiful Akbar (IF ’92) saat itu. Beliau adalah seorang dosen yang juga alumni IF dan pernah menjabat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Informatika di masanya. Dengan Pak Saiful lah banyak hal yang kemudian kami rencanakan. Namun, saya dan Ginting merasa bahwa perlu ada tenaga tambahan untuk mengurus ini. Kami bertiga tidak dapat menghasilkan apa-apa. Maka, kami memutuskan untuk menemui Kaprodi IF saat itu.

Maka, bergeraklah kami untuk menemui Bu Putri (IF ’84). Bu Putri ternyata punya keinginan yang sama, beliau ingin alumni punya wadah yang baik, yang dapat membantu untuk menjual para lulusan Teknik Informatika ITB. Karena, konon kabarnya, anak-anak IF dan STI itu tergolong legowo, bukan orang-orang yang memilih untuk “muncul ke permukaan”. Namun, Bu Putri saat itu sudah cukup sibuk dengan urusan prodi. Akhirnya, hasil pembicaraan kami berempat berujung pada pengangkatan Pak Saiful sebagai dosen pembimbing kemahasiswaan dan alumni. Dari situ saya melihat bahwa kami telah sepakat untuk membuat Kongres ini sebagai sebuah titik tolak dari kebangkitan IA-IF ITB.

Langkah pertama harus diambil. Kami memilih untuk menemui Pak Heydarul Humam (IF ’90) yang saat itu menjabat sebagai Ketua IA-IF ITB. Saat itu, bulan Ramadhan di tahun 2011. Kami memutuskan untuk bertemu dengan beliau di Cafe Geulis di bilangan Dago sekaligus untuk berbuka bersama. Pada hari itu, datang pula Bu Ayi Purbasari (IF ’90), seorang alumni yang saat ini menjadi pengajar di salah satu universitas di Bandung. Kesempatan kali itu digunakan oleh Pak Heddot untuk menceritakan banyak hal mengenai kondisi IA-IF ITB. Melalui cerita Pak Heddot saya tahu bahwa ternyata Pak Heddot sudah menjabat sebagai ketua IA-IF ITB untuk dua periode lebih, padahal menurut peraturan IA ITB pusat, seorang ketua IA hanya boleh menjabat selama 2 x 4 tahun masa kepengurusan.

Pertemuan kali itu kemudian berlanjut dengan sekian pertemuan berikutnya di berbagai tempat. Kami sempat mengadakan pertemuan di ruang rapat di Labtek V, menara Jamsostek, hingga restoran Pulau Dua di daerah Senayan. Pertemuan-pertemuan tersebut dihadiri oleh orang yang berbeda-beda, dari berbagai generasi. Namun, semua pada akhirnya sampai pada kesimpulan yang sama: sudah saatnya IF ITB mengeluarkan tajinya di kancah informatika nasional. Keilmuan informatika dengan keluwesannya seharusnya bisa menjadi solusi bagi banyak hal.

Besok, semua akan dimulai kembali. IA-IF ITB akan mencoba terbang tinggi, membuat semua orang memasang mata baik-baik, melihat gerakan para informatikawan dalam momentum 30 tahun pendidikan informatika di Indonesia untuk mencapai satu tujuan, mencapai kemandirian nasional melalui pendidikan, penelitian, dan industri informatika!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s