Dancing Fingers

Atraktif dan interaktif. Mungkin itu dua patah kata yang dapat menggambarkan konser Dancing Fingers (8/9) di Institut Français Indonesia dengan bintang Rama Widi, pemain harpa pria pertama di Indonesia. Malam ini, saya disuguhkan pertunjukan berkelas yang menunjukkan sisi lain dari harpa. Selain dihibur dengan dentingan dawai harpa yang merdu, Rama yang pernah beberapa kali bermain bersama Symphonia Vienna Orchestra ini juga memberikan kuliah singkat mengenai harpa dan sejarahnya.

Konser ini dibuka dengan lagu Kicir-kicir yang dimainkan dengan apik sekali. Senang rasanya bisa mendengarkan musik Indonesia dapat dimainkan dengan begitu indahnya. Nah, setelah lagu pembuka tersebut, Rama kemudian memainkan karya dari John Thomas, Adieu to His Native Land, kemudian La Source dari A. Hasselman, sebelum akhirnya menutup sesi satu dengan Fire Dance, lagu yang menurut pengakuan Rama membuat dia semakin jatuh cinta pada harpa. Lagu ini tergolong singkat dan terkesan cukup garang. Menurut Rama, lagu ini menunjukkan bahwa harpa itu tidak selalu identik dengan keanggunan dan wanita, karena ternyata pemain dan penggubah lagu-lagu harpa dunia justru banyak dari kalangan pria.

Rama Widi dengan pedal harp-nya

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Rama juga memberikan kuliah singkat mengenai harpa, misalnya tentang pedal harp  yang dia mainkan merupakan instrumen yang biasanya menggunakan 47 senar. Warna senar pedal harp biasanya dibedakan untuk mempermudah mengetahui interval nada-nadanya, misalnya warna merah untuk senar C dan warna hitam untuk senar F. Selain itu pedal harp menggunakan tujuh pedal untuk menaikkan atau menurunkan setengah nada. Nah, ternyata tapi harpa yang sering kita lihat diasosiasikan dengan malaikat di film-film kartun itu ada juga. Saya lupa disebutnya apa, tapi biasanya harpa yang seperti itu menggunakan senar yang jumlahnya lebih sedikit dan perlu diatur mekaniknya per senar untuk menaikkan atau menurunkan setengah nada. Cukup banyak pengetahuan baru kan?

Konser ini juga diramaikan oleh murid pertama Rama, Jessica Sudarta. Jessica memainkan Prelude in C karya Johann Sebastian Bach dan satu lagu lainnya (kebanyakan lupanya, maaf ya). Rama kemudian berduet dengan Jessica memainkan Feuilles d’Automne. Sebelumnya, Rama sempat memperbolehkan penonton untuk mengambil foto saat Rama memainkan Overture dari Benjamin Britten untuk kemudian di-tweet dengan me-mention akun @ramawidi. Foto terbaik akan diganjar kesempatan latihan harpa gratis selama sebulan oleh Rama. Menarik bukan? Maka saya segera maju ke kursi di bagian depan demi mendapatkan sudut yang pas. Foto di atas ini adalah salah satu hasilnya.

Penonton tampaknya meminta lebih dari Rama sehingga Rama kemudian masuk kembali ke panggung untuk encore. Anehnya, Rama membawa dua pasang sendok-garpu. Rama kemudian meminta dua orang sukarelawan untuk maju ke depan panggung. Akhirnya, barulah semua tahu kalau sukarelawan tersebut diminta untuk menjadi metronome. Penonton kemudian dibuat terkagum-kagum karena lagu yang dibawakan ternyata adalah soundtrack dari Pink Panther yang terkenal itu. Nampaknya Rama cukup pandai membaca pasar dengan menyuguhkan lagu yang cukup mudah dicerna pada malam hari ini.

Secara keseluruhan, konser ini luar biasa menarik, terutama bagi saya yang baru pertama kali ini melihat konser harpa secara langsung. Keramahan Rama terhadap penonton menjadi poin plus bagi konser yang berlangsung sekitar satu setengah jam ini. Setelah konser berakhir, Rama juga memberi kesempatan pada penonton untuk berfoto bersama dengan Rama dan harpanya. Nah, tentu yang satu ini tidak mungkin dilewatkan oleh saya dan teman-teman dari ITB Student Orchestra yang datang cukup ramai malam itu.

Semoga Rama kelak dapat mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional melalui permainan harpanya yang brilian. Bravo!

Iklan

3 tanggapan untuk “Dancing Fingers

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s