Merdeka dari Penjajahan Bahasa

Saya acap kali bingung. Mengapa orang-orang yang ingin menunjukkan kecintaannya terhadap Indonesia harus menggunakan bahasa selain Indonesia? Coba perhatikan deh, seberapa sering kita melihat tulisan, “I love Indonesia” atau, yang akan populer hari ini, “Happy independence day, Indonesia”? Bukankah tidak susah menggantinya dengan “Aku cinta Indonesia” atau “Dirgahayu Republik Indonesia”. Yang lebih ironis, seorang teman katanya pernah mendengar penggunaan “I love bahasa Indonesia”. Ironis kan?

Semoga Sang Merah Putih kelak tak ragu berkibar

Alhamdulillah, tidak sedikit juga sih orang-orang yang sudah lebih baik dalam penggunaan bahasa Indonesia. Paling tidak masih ada orang-orang yang lebih memilih menggunakan “Aku cinta Indonesia” dan “Dirgahayu Republik Indonesia” dalam momen-momen penting. Namun, sangat disayangkan, dalam banyak hal kita masih lebih memilih kata-kata dalam bahasa asing dalam pergaulan sehari-hari. Menurut hemat saya, penggunaan bahasa asing itu biasanya karena bahasa asing itu lebih populer digunakan dan cenderung lebih sederhana. Penggunaan “meanwhile” daripada “sementara itu” atau “peranti lunak” daripada “software” bisa jadi contohnya.

Yang membuat lebih sedih, Pak Presiden, yang seharusnya menjadi preseden, justru lebih tidak tertib berbahasa Indonesia setelah beliau menjabat sebagai orang nomor satu negeri ini. Beberapa hari yang lalu saya sempat membaca artikel yang menunjukkan bahwa memang beliau sudah lebih nginggris sekarang. Padahal, setahu saya, dulu beliau tergolong pejabat yang tertib berbahasa Indonesia.

Pertanyaannya sekarang, apakah menggunakan bahasa asing itu berarti tidak nasionalis?

 

 

 

Iklan

6 tanggapan untuk “Merdeka dari Penjajahan Bahasa

  1. Mungkin bisa melihat dari sudut pandang “Jika saya ingin seluruh dunia tahu saya cinta sesuatu, maka saya akan menggunakan bahasa yang dimengerti seluruh dunia itu.” (Walaupun tidak semua orang seperti itu sih) Jadi belum tentu tidak nasionalis. Harus disesuaikan juga dengan situasi kondisi. Hehe.

      1. Wah, kalo masalah memaksakan sih kurang tahu juga.. Mungkin mereka bersikap realistis. Mungkin masih banyak yang bersikap “di mana langit dipijak, di situ langit dijunjung”. Tergantung tujuan makanya, mau mengenalkan cinta Indonesia pada dunia atau sekadar sok keren menggunakan bahasa asing #sotoybanget

    1. Coba pertimbangkan anekdot ini:
      (This story is tailored to befit our Independence Day. Merdeka!)


      Suatu hari, seorang teman saya berbicara dengan orang asing di Malioboro dengan menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian, seorang teman yang lain menegur dan mengatakan, “Kamu harus pake bahasa Inggris kalo ngomong ama orang bule.”

      Kemudian teman itu menjawab dengan ketus, “Sialan! Masa bahasanya yang mau saya pakai? Dia yang berkunjung ke negaraku, jadi dia yang harus pelajari bahasaku. MASA SAYA MAU DIJAJAH DUA KALI?!”

      Terlepas dari fakta bahwa ‘bule’ merujuk khusus pada ras Kaukasoid, yang berarti kemungkinan besar turis tersebut adalah orang Eropa atau Amerika, bukan berarti dengan menggunakan bahasa Inggris kita merendahkan diri di hadapan mereka.

      “Masa bahasanya yang mau saya pakai?” adalah asumsi nirlogis dari mereka yang menganggap bahwa bahasa Inggris adalah bahasa milik satu negara atau ras saja. Bahasa Inggris adalah sebuah /lingua franca/, sarana percakapan dunia. (Setidaknya, itu yang diajarkan 9GAG.)

      Selamat Lebaran, teman-teman.

  2. Halo. Saya mampir lagi. Tadi pagi saya menemukan contoh yang paling ekstrem yang pernah muncul di negeri tercinta:

    /airbending/ = pengendalian udara
    3 -> 8

    Hahahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s