Rezeki Itu Tidak ke Mana

Salah satu perkataan orang tua saya yang selalu saya coba untuk ingat dan praktikkan salah satunya adalah tentang masalah rezeki itu. Saya ingat ibu saya pernah marah sama saya karena saya harus repot-repot bantuin di rumah sementara adik saya ke rumah saudara untuk main-main. Kata ibu, itu rezekinya dia, jadi saya tidak boleh menggerutu karena itu.

Ayah pun sering bilang, kalau kamu mau traktir orang, tidak usah terlalu dipikirkan berapa yang bakal keluar. Kalau ada rezekinya, ikhlaskan saja, insya Allah itu akan baik nantinya. Begitu pula dengan kehidupan sehari-hari, memang terkadang nikmat itu baru dapat diraih dengan materi yang lebih banyak yang harus kita keluarkan. Namun, memang agama juga mengajarkan seperti itu kan? Allah menyuruh kita untuk membelanjakan harta di jalan-Nya. Jadi, tidak perlu pusing misalnya kita harus bayar lebih untuk dapat parkir yang enak, misalnya, atau sekadar memberikan uang makan untuk penjaga kosan kita yang senantiasa berbaik hati membukakan pintu kosan larut malam.

Dari sana, saya pun mulai untuk belajar mengikhlaskan apa-apa saja yang saya keluarkan. Benar kata salah seorang guru saya dulu, kita kalau mau bersedekah itu kadang-kadang mikir, “Mana yang harus kita kasih ya?” Ujung-ujungnya, biasanya kita akan keluarkan yang nominalnya kecil. Sekarang coba kita bayangkan, bagaimana kalau Allah juga memilih-milih dalam memberikan sebagian rezeki-Nya kepada kita? Namun, itulah baiknya Allah, sedemikian ‘pelitnya’ kita, kita masih saja diberi.

Yang harus diingat, Allah sudah menjanjikan bahwa bagi hamba-Nya yang bersyukur, maka Allah gandakan nikmat atasnya. Di sisi lain, mereka yang kufur terhadap nikmatnya kelak akan Allah azab dengan pedih. Menurut hemat saya, tidak usahlah kita sampai hitung-hitungan masalah sedekah itu. Allah akan kembalikan berapa kali lipat, itu tidak perlu menjadi soal. Walaupun itu bisa dijadikan sebagai motivasi, tapi percayalah bahwa Allah adalah sebaik-baiknya pemberi keuntungan.

Rezeki itu memang tidak ke mana, asal kita mau bersyukur dan berusaha.

Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan kan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s