Hidup Itu Layaknya Mengendarai Mobil

Kata ayah, hidup itu seperti mengendarai mobil. Kamu bisa melihat bagaimana orang lain menjalani hidupnya ketika ia sedang mengendarai mobil. Kamu akan mengerti bagaimana ia memosisikan dirinya di tengah keberadaan orang lain seperti bagaimana ia memosisikan mobilnya di jalan. Tidak heran, orang-orang seperti (maaf) sopir angkot yang sering ngetem di pinggir jalan dan menghalangi jalan orang lain juga tidak dimudahkan rezekinya, karena dia juga menghalangi rezeki orang lain dengan begitu.

Ketika di jalan, kamu juga akan melihat orang-orang yang lebih memilih untuk mengikuti antrean panjang di gerbang tol dibanding mencari jalur yang lebih kosong. Orang-orang seperti ini biasanya bersifat cepat puas dengan apa yang ada sehingga kurang bisa berjuang mendapatkan yang lebih baik. Well, tidak dapat dipungkiri, orang-orang seperti inilah yang banyak di Indonesia.

Kata ayah, orang yang sering mengalami tabrakan di dalam berkendara itu biasanya adalah orang yang kaku, karena mereka bisa jadi terlalu sembrono, atau justru terlalu ragu-ragu. Bagaimana dia mengambil sikap dalam persimpangan (hidup) dapat terlihat dari caranya mengambil sikap dalam menghadapi situasi yang sama di jalan. Tidak jarang kan, melihat orang yang tidak mau mengalah ketika di jalan? Ya seperti itulah ia dalam kehidupan sehari-harinya.

Kata ayah, kita juga bisa mengambil pelajaran ketika mengendarai mobil di jalan tol. Seperti itulah hidup, panjang dan terkadang menjadi membosankan. Oleh karena itu, perlu persiapan yang baik agar selamat sampai tujuan. Terkadang, mungkin kita juga perlu istirahat sejenak sekedar melepas penat yang melanda. Di waktu yang lain, kita perlu berpikir dan bergerak cepat dalam menganalisis kondisi sekitar untuk mengambil jalur yang tepat.

Kita juga perlu melihat jauh ke depan, agar kita siap untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Bayangkan kalau misalnya kita tidak melihat dua-tiga mobil di depan, lalu tiba-tiba rentetan mobil di depan kita mengerem mendadak. Akankah kita sudah siap? Meskipun begitu, kita juga tetap harus menyadari jarak kita dengan orang yang di depan, agar kita tidak salah ukur dalam mengambil keputusan.

Demikian pula hidup, yang memerlukan kita untuk mempunyai gambaran jauh ke depan, tapi tetap menjalani apa yang ada di hadapan kita dengan sebaik-baiknya. Bermimpi itu baik, tapi terus bermimpi hanya akan membahayakan diri sendiri.

Wallahua’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s