Media Sosial Itu Tempat atau Teman Bercerita?

Bagaimana menurut kamu?

Well, saya merasakan media sosial sebagai ‘teman’ bercerita.

Buat saya, dan mungkin sebagian orang lainnya, Twitter itu menjadi adiktif karena mudah untuk bercerita tentang apa yang saya alami saat itu. Twitter menjadi “teman” bercerita yang menyenangkan, tidak berkomentar akan apa yang saya pikirkan, siap mendengarkan kapan saja, tapi di sisi lain juga membuat saya dapat menyalurkan apa yang saya pikirkan dan ingin orang lain secara-tidak-langsung tahu.

Gambar diambil dari http://3.bp.blogspot.com/

Saya tidak sering menulis status di Facebook lagi sekarang. Terlalu banyak orang yang sudah menjadi friend sehingga membuat ‘gerakan’ saya tidak terlalu leluasa. Ada beberapa hal yang hanya ingin saya bagikan pada teman-teman di sekeliling saya saja. Itu sebabnya saya pun membuat segmentasi pembaca dari tulisan-tulisan saya.

Kembali ke kasus tempat atau teman bercerita, media sosial itu, seperti yang sudah saya sebutkan, mampu menjadi adiktif. Sayangnya, beberapa orang menjadi terlalu kecanduan sehingga membuat mereka tidak sadar lagi kalau tulisan tersebut dapat juga diakses oleh umum. Ini menyebabkan beberapa kasus, dari yang sederhana seperti nge-tweet hal-hal yang tidak penting sehingga mengganggu orang lain, sampai yang serius seperti memaki suatu pihak sehingga menimbulkan permusuhan.

Yah, ikut kata Aa’ Gym aja deh.

Jagalah hati, belalang kupu-kupu.

Siang makan nasi, kalau malam minum susu.

Eh, bukan ya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s