Seni Bercerita Melalui Puisi

Bagi sebagian besar orang, puisi acap kali dianggap suatu “benda” yang abstrak. Sukar sekali untuk menerka apa yang sebenarnya ingin disampaikan seorang penyair dalam karya-karyanya yang tidak jarang menggunakan ungkapan-ungkapan yang tidak lazim. Tidak sedikit orang yang akan mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya dalam hati, misalnya, ketika membaca puisi-puisi karya Remy Sylado – yang ia sebut puisi Mbeling. Namun, ada juga puisi yang kata-katanya cenderung sederhana, bahkan terkadang jenaka, tetapi bisa menimbulkan berbagai “efek samping”. Ketika membaca puisi-puisi karya Joko Pinurbo yang cenderung “ringan” karena dekat dengan kehidupan sehari-hari, seseorang dapat dibuat tersenyum karena ungkapan-ungkapan di dalamnya, tetapi sejurus kemudian terkepung dalam kontemplasi otak dan nurani tentang hal-hal yang baru dibacanya.

Terlepas dari segala hal yang terlihat abstrak yang muncul dari berbagai jenis puisi tersebut, nyatanya puisi justru ditujukan untuk mengonkretkan hal yang abstrak. Berbagai hal yang tidak lazim didengar yang dirangkai dalam sebuah puisi sebenarnya adalah media bagi seorang penyair untuk dapat mengungkapkan berbagai hal dalam tulisan yang ringkas. Hal yang perlu diperhatiakan adalah bahwa puisi bukan hanya sekedar menyalin detail yang bermacam-macam, tetapi juga seni dalam menyajikan dan merepresentasikan suatu gagasan yang terkadang teramat abstrak (Else, 2003: 104). Simak penggalan puisi berjudul “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono berikut,

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Larik kedua dan ketiga dari puisi tersebut merupakan ungkapan Sapardi dalam menggambarkan “cinta yang sederhana” yang masih abstrak pada larik pertama. Berbagai interpretasi dapat muncul tentang penggambaran yang digunakan tersebut, tetapi itulah yang menjadi kekuatan sebuah puisi dalam mengonkretkan “dunia”.

Bahasa yang digunakan penyair sering juga disebut “bahasa tingkat dua”. “Bahasa di sini adalah bahasa yang dimurnikan, bahasa yang daya ungkapnya ditingkatkan agar dapat menggambarkan pikiran-pikiran dengan sejelas-jelasnya dan setepat-tepatnya.” (K.M., 1993: 123) Namun, meskipun menggunakan “bahasa tingkat dua” tadi, bahasa yang digunakan dalam membangun sebuah puisi sebenarnya menggunakan struktur kalimat yang benar, karena pada dasarnya bahasa puisi berakar pada bahasa sehari-hari (K.M., 1993: 125).

Sebuah puisi sebenarnya tersusun atas struktur fisik dan struktur batin, dan salah satu ciri keberhasilan puisi adalah kesatuan dari dua struktur tersebut. Struktur fisik terbagi menjadi penutur, pendengar, dan bahasa. Bagian yang terakhir disebutkan biasanya dianggap sebagai bagian yang cukup penting karena tidak selalu setiap puisi dapat dideklamasikan sehingga penting bagi seorang penyair untuk dapat menyeleksi kata-kata yang digunakan dalam merepresentasikan hal-hal yang dirasakannya. Seorang penyair perlu membuat puisinya tidak menjadi klise. Puisi yang bersifat klise tidak terjadi karena kesamaan tema yang diangkat, tetapi lebih mengarah kepada penggunaan metafora yang sudah mati. Gorys Keraf (1984: 139) mengatakan bahwa perubahan makna kata mula-mula terjadi karena metafora, tetapi lama-kelamaan orang tidak lagi memikirkan metafora itu, arti yang baru dalam metafora tersebut kerap kali sudah dianggap sebagai arti kedua atau ketiga. Kata-kata “kaki langit”, contohnya, saat ini bahkan sudah terdaftar sebagai bentukan kata dari kata “kaki” yang terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Contoh yang lain misalnya penggunaan frase “selembar kertas putih” sebagai perlambangan kesucian yang rasanya sudah tidak terhitung jumlahnya penggunaannya, bahkan dalam kalimat sehari-hari. Akan tetapi, kepentingan untuk mencari kata-kata yang indah terdengar dan terasa orisinal tersebut tidak lantas membuat seorang penyair menjadi sibuk mencari kata-kata yang indah terdengar saja.

Terkadang, seorang penyair juga menggunakan “alat bantu”, seperti tipografi, dalam karya-karyanya. Keterbatasan “jarak” antara seorang penyair dengan pembacanya, membuat aspek-aspek visualisasi menjadi penting. Dengan majunya pola pikir manusia, puisi kontemporer yang sering ditemui sekarang tidak hanya bermain dengan kata-kata, tetapi juga bagaimana meletakkan kata-kata tersebut. Sudah tidak aneh untuk menemukan puisi yang ditulis dalam bentuk spiral, lingkaran, atau menyerupai bentuk hewan atau benda tertentu. Kata-kata yang sama yang ditulis berulang-ulang dapat saja menjadi sebuah puisi dengan sentuhan tipografi di dalamnya.

Namun, di atas semua itu, sekali lagi, sebenarnya bukan hanya pemolesan bahasa yang penting dalam proses pembuatan puisi, tetapi keberadaan kejujuran dalam proses kreatif berpuisilah yang akan menjadi roh dari karya tersebut. Hal-hal yang digambarkan seorang penyair akan menjadi sangat baik ketika itu didasari pada pengalaman yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Puisi-puisi yang indah justru terkadang muncul dari bahasa yang sederhana, bahasa yang tidak sibuk dengan segala macam metafora.

Seorang sastrawan yang juga menekuni dunia puisi pernah mengatakan bahwa akan sangat memudahkan seorang penyair untuk mulai membuat puisi tentang hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari penyair, harus ada unsur kejujuran di dalamnya. Kejujuran adalah “senjata” bagi seorang penyair untuk dapat memindahkan pengalaman yang dimiliki penulis sebagai pengalaman orang lain. Pada akhirnya, kata-kata “aku” dalam sebuah puisi diharapkan dapat diakuisisi oleh setiap pembaca puisi tersebut. “Melalui puisi, penyair tidak hanya berkata kepada pikiran pembaca, melainkan juga kepada perasaan dan khayalnya.” (K.M., 1993: 134)

Untuk membantu seorang penyair dalam menghasilkan karya yang jujur tadi, penting bagi seorang penyair untuk dapat terjun langsung ke dalam dunia yang dituangkan dalam puisinya. Sebagai contoh, jika seorang penyair ingin menceritakan kehidupan seorang kuli bangunan, misalnya, maka penyair tersebut perlu banyak berinteraksi dan bertukar pikiran dengan orang tersebut. Kekuatan dari sebuah puisi akan berkurang seiring dengan kurangnya pengetahuan sang penyair terhadap hal yang dituliskannya tersebut.

Walaupun banyak terkait dengan proses pengejawantahan hati, pembuatan puisi tidak kemudian terlepas proses berpikir otak. Sebuah puisi akan menjadi cerminan pengetahuan dari sang penulis. Seberapa banyak referensi yang dibaca dan pengalaman-pengalaman hidup seorang penyair secara langsung maupun tidak langsung akan tertuang dalam puisinya. Tidak jarang karya seorang penyair baru mempunyai banyak kemiripan dengan karya penyair-penyair yang lebih senior. Sebenarnya, fenomena ini adalah suatu hal yang biasa, karena pada dasarnya proses kreatif manusia bermula dari proses imitasi. Seiring dengan berjalannya waktu dan seiring banyaknya referensi yang diambil oleh seorang penyair, orisinalitas puisinya akan muncul dengan sendirinya.

Segala hal yang disebutkan di atas sebenarnya menunjukkan bahwa puisi dapat menjadi seni yang lengkap dari segi kemanusiaan. Proses pembuatan puisi selain memerlukan sains dan pemikiran-pemikiran kritis, juga memerlukan proses komunikasi yang baik dalam mengumpulkan referensi dan kemudian menyuarakannya. Puisi pun beberapa kali menjadi sarana bagi seorang penyair untuk dapat “berkomunikasi” dengan Tuhan, suatu proses spiritualitas yang didasari keinginan untuk menghamba dengan rasa keindahan seni.

Daftar referensi:

Else, Gerald F. 2003. Aristotle Poetics. Yogyakarta: Penerbit Putra Langit.

K. M., Saini. 1993. Puisi dan Beberapa Masalahnya. Bandung: Penerbit ITB.

Keraf, Gorys. 1984. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Iklan

5 tanggapan untuk “Seni Bercerita Melalui Puisi

  1. “Bagi sebagian besar orang, puisi acap kali dianggap suatu “benda” yang abstrak.” Yeah yeah, bagiku juga.

    Wahhh ini dari yang kamu pelajari di kelas sastramu itu Li? Asik banget sih. *masih iri*

  2. Saya lebih memilih pantun daripada puisi.

    Bagi saya, puisi sulit dicerna. 😦 Barangkali memang minat (dan bakat) saya bukan di sastra. :mrgreen:

    Seringkali, ketika membaca puisi2 di posting-an narablog lain, saya sulit mencari makna yang terkandung di dalamnya. Saya malah bertanya-tanya, kalau memang mau mengutarakan pendapat, mengapa tidak blak-blakan saja? 😛 😛 Haha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s