Konsumtif

Entah kenapa, akhir-akhir ini saya merasa banyak sekali yang ingin saya beli. Mulai dari benda yang tidak begitu penting seperti fixed-lenses untuk kamera saya, sampai ke hal yang agak penting seperti ponsel Android untuk belajar pengembangannya. Hal yang terakhir disebut sebenarnya bisa bermanfaat dan cukup berguna, masalahnya adalah belum sebegitu perlunya sepertinya bagi saya untuk membeli ponsel tersebut, karena saya bisa meminjam ponsel teman atau paling tidak ya menjalankannya di emulator saja.

Semakin ke sini, saya belajar untuk tidak heran melihat orang-orang yang semakin konsumtif saja. Mengapa? Karena saya pun mulai menyadari bahwa ternyata industrialisasi, terutama di bidang elektronik, begitu kencang menyuarakan “kemudahan-kemudahan” dengan berbagai macam gadget tersebut. Masalahnya, terkadang mahalnya harga barang-barang tersebut hanya karena pengaruh gaya hidup.

Coba kita lihat bagaimana RIM berusaha menguasai pasar dengan menjual BlackBerry dengan fitur BlackBerry Messenger (BBM), atau boleh sejenak kita menengok Apple yang menjual iDevice-nya yang terlihat fascinating: simple yet powerful. Perusahaan-perusahaan yang semakin banyak meraup keuntungan dari penjualan-penjualannya tersebut seolah-olah berkata bahwa seluruh dunia bisa ada dalam genggaman, “The World at Your Fingertips”.

Kalau sudah begini, biasanya beberapa golongan tua akan berseloroh, “Ah, dulu saya saja bisa hidup tanpa semua barang itu.” Menarik memang, menyadari fakta bahwa kebanyakan dari kita sekarang sulit untuk hidup tanpa peranti cerdas tersebut – termasuk saya yang merasa tidak lengkap jika keluar rumah tanpa membawa ponsel.

Poinnya sebenarnya begini, tidak ada yang salah dengan menggunakan semua barang-barang itu, it helps, yes, tapi untuk senantiasa mengikuti tren dengan terus membeli ini-itu yang ditampilkan dengan sangat menggiurkan di sekeliling kita, sepertinya kita perlu becermin sedikit. Cerna lagi kebutuhan kita akan barang-barang tersebut, hingga kita sampai pada pertanyaan,

Apa sebegitu perlunya untuk beli yang baru?

Iklan

4 tanggapan untuk “Konsumtif

  1. Aku nyesel beli fixed lens 50mm, nggak bisa dibawa perginya -___-”
    Kepengen juga euy Galaxy tab, tapi paling kalo udah beli cuma komentar, “ah cuma gini doang.” Sebulan paling udah bosen. Belajar nahan day a-daya material, hehehel. Jadi curcol…

    1. Ngga bisa dibawa pergi gimana maksudnya? Aku juga pengen belinya yang 50mm itu. Kaya’nya seru aja buat iseng-iseng. Soale apperture-nya bagus kan. 😀 Ta’ beli punyamu aja apa? 😀

  2. Nggak bisa dipake untuk foto kalo jalan-jalan gitu, ngerti kan? *udah, ngerti aja* Hahaha…
    Tapi kalo untuk foto orang, model sih emang asik. Soale f/angka kecil, blurnya asik hehehe. *norak*
    Hehehe, beli aja Li, murah ini…
    Eh btw, lensa kitmu udah rusak belum? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s