It’s Once in a Lifetime

Maraton!

Well, yang ingin saya bicarakan sebenarnya bukan lari maraton, bukan juga nonton serial secara maraton, tapi rapat maraton! Ya, terhitung sejak Badan Pengurus (BP) ISO 2011/2012 mulai dikatakan aktif bekerja, tertanggal 1 Juni 2011, si ketua baru ini sudah mulai mengajak untuk rapat membicarakan analisis kondisi dan keadaan di ISO. Saya kebetulan jadi bagian di BP kali ini juga, maka saya pun kena imbasnya untuk datang di rapat maraton ini. Memang sih, sempat istirahat sehari kemarin karena ada job, cuma ya tetap saja cukup intens rapatnya selama ini. Kejenuhan pun tidak bisa dihindari kedatangannya.

Boleh jadi saya mulai lelah. Beberapa hari terakhir ini otak saya dipaksa bekerja untuk berkonsentrasi penuh dalam tiap rapat, termasuk mesti mengolah informasi dari orang lain dan mencoba memikirkan jalan keluar untuk masalah-masalah yang dihadapi. Namun, sepertinya bukan itu masalah utamanya. Ada beberapa hal lain yang sebenarnya jadi pikiran saya juga dalam rapat tersebut.

Jelek sih, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa saya mulai mengalami penyesalan-penyesalan. Entah mengapa, saya merasa gerak saya serba terbatas dengan posisi saya yang sekarang, walaupun posisi saya sekarang di BP ISO tidak rendah juga. Well, harus saya akui bahwa ada perasaan menyesal karena saya tidak mencalonkan diri menjadi ketua dulu. Beberapa orang sebenarnya mendukung saya, hanya saja saya terlalu takut untuk maju di kala itu. Ketika semuanya sudah seperti sekarang, saya malah berpikir terus bagaimana jika saya yang ada di posisi Aldi – ketua yang sekarang – dan harus mengambil beberapa keputusan penting.

Saya terus membayangkan jika menjadi ketua, sebenarnya beberapa hal yang disampaikan Aldi tersebut apakah sudah saya pikirkan juga, mengapa dulu saya tidak maju karena takut tidak ada yang bisa memberikan dukungan, padahal sekarang teman-teman di BP terlihat sangat menjanjikan, mengapa saya tidak mencoba terlebih dahulu, walaupun itu mungkin berakhir dengan kegagalan. Saya belajar kembali untuk lebih memberanikan diri untuk mencoba dan berdiri di depan, karena toh kesalahan-kesalahan yang saya buat itulah yang nantinya akan membuat saya belajar, dan itu akan jauh lebih baik daripada saya terus berpikir tentang ketakutan-ketakutan saya sehingga menutup semua kemungkinan belajar itu.

“When confronted by our worst nightmares, the choices are few; Fight or flight. We hope to find the strength to stand against our fears but sometimes, despite ourselves, we run. What if the nightmare gives chase? Where can we hide then?” –¬†Mohinder Suresh, Fight or Flight

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s