Bahasa dan Teknologi

Akhirnya, blog ini saya isi lagi. Awalnya sih karena tertarik melihat tulisan Pak Rinaldi Munir (ini), seorang dosen Informatika ITB, dan Pak Arry Akhmad Arman (ini dan ini), dosen Elektroteknik ITB. Tulisan Pak Arry, terutama, membuat saya lebih ingin jalan-jalan lagi, foto-foto lagi, dan melihat dunia yang sangat luas ini. Akan tetapi, tulisan kali ini adalah tentang bahasa. Yep, salah satu topik kesenangan saya. Nah, kebetulan salah satu karya Pak Arry, yang kebetulan adalah dosen mata kuliah Sistem Digital saya, adalah aplikasi text to speech. Silakan cek di blog beliau untuk lengkapnya. 😀

Jadi, apa sebenarnya yang mau saya tulis? Well, saya sebenarnya teringat dengan salah satu ide teman saya, yang dituliskan dalam tugas mata kuliah KPIP waktu itu, tentang alat yang dapat membantu memahami bahasa orang lain. Gampangnya, kerjanya akan seperti “Konyaku Penerjemah” punya Doraemon, tapi ini berbentuk headphone, mungkin.

Jadi, masalahnya apa?

Hmm… Buat saya, yang notabene orang yang senang bahasa, alat tersebut akan menghilangkan kesenangan dari mempelajari bahasa asing. Loh, kenapa? Ya karena buat saya mempelajari bahasa asing adalah bentuk penghormatan untuk orang asing, terutama jika kita sedang mengunjungi suatu lokasi baru, katakanlah di luar negeri misalnya. Prancis, contohnya, adalah negara yang sangat menjunjung tinggi penggunaan bahasanya. Kita bisa saja menggunakan bahasa Inggris kepada mereka, dan mereka mungkin mengerti, tapi siap-siap saja menerima jawaban dalam bahasa Prancis. 😀

Intinya, sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa belajar bahasa asing adalah bentuk penghormatan kita kepada orang asing. Bukankah justru dengan berbeda, dunia ini menjadi semakin indah? Bayangkan saja dunia yang semuanya sama, datar sekali bukan? Namun, saya tidak berkata bahwa adanya alat itu berarti jelek. Komunikasi yang baik kan berarti kedua belah pihak dapat saling memahami. Agar jangan lagi terjadi miskomunikasi. Kita sering mendengar orang-orang yang berselisih hanya karena miskomunikasi kan? Nah, alat tersebut bisa menjadi penghubung antara orang yang satu dan yang lainnya.

Saya jadi berpikir, kira-kira bagaimana algoritma dari alat itu ya? Karena bahasa bukanlah teori yang dapat dipahami seperti 1+1=2. Akan tetapi, bahasa juga bisa membuat 1+1=1 layaknya dalam sistem digital. 😀 Artinya, bisa terjadi banyak penafsiran di situ. Ini bukan hanya masalah teori, tapi ada unsur seni di dalamnya.

Jadi, bagaimana menurut Anda?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s