Cinta dan Pernikahan

Seorang pemuda bertanya kepada petapa, “Apa itu cinta?”

Sang petapa bangun dari duduknya dan berkata, “Apa yang kau ketahui tentang cinta? Kebanyakan dari manusia tidak mengerti arti cinta. Lihat disana? Kebun bunga yang indah, ambil bunga itu salah satu yang kau anggap paling bagus bawa kesini.”

Kemudian pemuda itu mengambil salah satu bunga yang ia lihat pertama kali dan memberikannya kepada petapa itu. Petapa itu menerimanya tanpa melihatnya sedikitpun. Ia hanya melinting tangkai bunga itu sembari tersenyum…

” Tahukah kau apa arti dari bunga ini? “

” Tidak…”

Perlahan petapa itu mencabut bunga dari tangkainya. Pemuda itu masih terheran dengan perlakuan petapa itu. Ia hanya berdiam dalam sunyi. Kemudian petapa itu mencabut kelopak dan mahkota satu persatu dan melemparkannya jauh tinggi ke langit.

Pemuda itu mengejar bunga itu dan menangkapnya. Sembari ia menyusunnya satu persatu. Ia merasa menyesal tidak melindunginya. Hanya dapat terus memeganginya dan menyusunnya paling tidak sama seperti semula.

” Kini kau mengerti arti cinta…”

Pemuda itu bertanya kembali kepada petapa, “Apa itu pernikahan?”

Petapa itu menghela nafasnya dalam-dalam, melihat pemuda itu dengan seksama seraya berkata, “Kau lihat taman bunga ini?”

“Ya…”

“Kau lihat ada pohon beringin ditengah-tengahnya…?”

“Ya…”

“Berjalanlah lurus melewati taman ini, menuju pohon beringin itu. Di sana ada dua persimpangan. Ambillah satu ranting, bunga atau daun yang kau lihat paling bagus di sana. Ketika kau mengambilnya, tidak boleh kau membuangnya. Apabila kau telah berjalan, janganlah kau mundur kebelakang ataupun menoleh walau sedikit. Sungguh-sungguhlah… Jangan pernah menyesal atas apa yang telah kau lakukan…”

Maka, pemuda itu berjalan menyusuri taman bunga yang indah. Terus ia melihat ke sekelilingnya tanpa menoleh kebelakang. Mencapai persimpangan pertama, ada sekuntum bunga yang sangat indah, seakan bunga itu tidak pernah disentuh oleh siapapun. Warnanya masih segar. Bahkan kupu-kupu pun tak berani menyentuh bunga itu, hanya beterbangan disekeliling bunga itu.

“Bunga yang sangat indah. Tak pernah sekalipun aku melihat bunga secantik itu. Ingin rasanya aku memilikinya. Namun, apakah ada jaminan masih ada bunga yang lebih bagus diujung sana? Ah, pasti masih ada yang lebih bagus lagi dari ini, aku tidak ingin menyesal karenanya “

Dan pemuda itupun berjalan kembali menyusuri taman itu. Hingga mencapai persimpangan kedua. Di persimpangan itu ia berhenti. Menatap pohon beringin yang hanya beberapa hasta di depannya. Kemudian ia melihat kanan dan kirinya.

Betapa sedihnya dia, tak sekalipun ia menemukan bunga yang lebih bagus dari bunga yang telah ia temukan sebelumnya. Bahkan yang mendekati pun tidak ada. Sepanjang ia memandang, hanya bunga yang tumbuh biasa saja. Hanya ada satu kuntum bunga yang paling bagus diantara bunga-bunga itu. Sepanjang ia melihat ke arah depan. Hanya bunga itu.

Namun, batangnya telah rusak, warna mahkotanya tak secerah bunga sebelumnya. Walaupun masih tetap cantik untuk dipandang. Daunnya telah gugur, dan rantingnya hampir patah. Dengan hati yang enggan dan terpaksa, ia mengambil kuntum bunga itu sembari menyesali perbuatannya. Andai ia mengambil bunga itu terlebih dahulu, ia akan mendapatkkan bunga yang terindah sepanjang hidupnya. Ia pun kembali melangkah ke arah pohon beringin…

Petapa itu telah berdiri disamping pohon beringin dan berkata,

” Kini kau mengerti arti pernikahan…”

Pernah ditulis di http://sorayasoraya.multiply.com

Iklan

3 tanggapan untuk “Cinta dan Pernikahan

  1. Hmmm…… sayangnya kenyataannya lebih banyak dijumpai dalam perjalanan di hutan tersebut ternyata lebih banyak bunga-bunga yang jauh lebih indah… huehehe….. apalagi… kalau kita bisa keluar dari hutan tersebut dan memasuki hutan yang lain… wah bisa2 bunganya bukan saja lebih indah tetapi juga lebih wangi…. husssh ah… lagi error nih…. :mrgreen:
    __________________________________
    Alias: Ya, mungkin saja begitu, Om. Tapi, rasanya di sekitar kita sebenarnya sudah ada bunga yang luar biasa indah. Masalahnya, sadarkah kita akan keberadaan mereka? It’s just in my humble opinion…

  2. 🙂 Mencari bunga di kehidupan lebih sulit dibandingkan mencari bunga ditaman bunga. Seluas apapun taman itu. 🙂
    ________________________________
    Alias: Ya, benar sekali. Tapi, ketika sudah menemukan bunga yang tepat, akan bahagia sekali rasanya. Ah, akankah saya menemukannya? 🙂

  3. Ya, seringkali kita tidak sadar, bahwa kesempatan itu belum tentu datang untk kali kedua. Sesal kemudian, seringkali tidak ada guna. 😀
    ___________________________
    Alias: Ya, begitulah. Semoga saja kita tidak salah dalam mengambil keputusan dan tidak terlambat dalam menggunakan kesempatan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s