Happiness?

Liburan kali ini (ralat: hari-hari yang agak santai ini), saya tampaknya ada beberapa acara yang mengisi. Terutama untuk besok sampai hari Jum’at. Saya rencananya akan menginap di TMII sana buat acara yang diadain Sudin Dikti gitu deh… Malas rasanya. MALES. BANGET. Salah satu alasannya adalah karena saya pikir lebih tepat untuk menunjuk kelas X yang akan menjadi penerus untuk KIR. Karena, saya pikir kami selaku pengurus periode ini sudah mulai ‘kadaluarsa’. Perlu ada regenerasi.

Mau curhat sedikit ni…

Saya ga mengerti perasaan saya saat ini. Dulu, saya melihat kalo acara-acara menginap gitu dengan segudang isinya adalah sesuatu yang seru. Dari mulai SMP, saya udah sering ikut-ikut acara pesantren kilat yang biasa diadakan remaja mushalla di sekolah saya (dan saya sempet jadi pengurus sebentar, yang kemudian saya tinggalkan begitu aja karena pindah. Buat temen-temen di sana, maaf ya…). Ikut acara-acara begitu sudah biasa mengisi liburan saya dan hari-hari saya. Rasanya acara seperti itu selalu ditunggu-tunggu.

Anehnya, entah kenapa saya sekarang malah kurang berminat mengikuti acara-acara semacam itu. Rasanya ada hal yang tidak mengenakkan aja di hati. Terkadang saya juga melihat orang tua saya rasanya tidak ingin melihat saya pergi-pergi terus. Saya sudah terlalu sering ga ada di rumah. Acara sekolah berkali-kali menghabiskan waktu saya. Rasanya saya mulai menuju apa yang ayah saya bilang sebagai ‘anti-sosial’. Artinya, saya bisa jadi mulai tidak peduli dengan keadaan rumah.

Saya sering sedih kalau misalnya saya jadi sering ga ikut acara-acara keluarga dan liburan bersama keluarga karena saya sibuk dengan urusan sekolah dan semacamnya. Ayah saya pernah berkomentar seperti ini tentang cerita ini, “Kak, kamu cobalah liburan sekali-sekali sama keluarga. Jangan terlalu memikirkan urusan sekolah. Kamu baru SMA aja sudah sesibuk ini, bagaimana nanti kalau kuliah yang kemungkinan kau akan ke luar kota?” Saya juga sedikit banyak menjadi merasakan perasaan yang ‘hilang’ itu. Dulu, saya paling malas kalau diajak ke luar kota untuk liburan. Kalau pun sampe ke luar kota, saya paling hanya senang menjadi orang rumahan yang ga keluar dari tempat menginap di sana.

Sekarang, saya menjadi merasa sedikit menyesal dengan semua itu. Saya rasanya memang sudah terlalu sering tidak ada di antara keluarga. Saya terlalu sering ‘menghilang’. Memang sih, saya ga pernah sampe melakukan hal yang buruk selama saya ga ada di rumah. Hanya saja, saya jadi merasa ada yang kurang mengenakkan bila mengikuti acara-acara menginap-menginap lagi.

Saya jadi teringat dengan lirik lagu Save Me dari Queen.

—————

It started off so well
They said we made a perfect pair
I clothed myself in your glory and your love
How I loved you
How I cried…
The years of care and loyalty
Were nothing but a sham it seems
The years belie we lived a lie
I love you till I die
Save me save me save me
I can’t face this life alone
Save me save me save me…
I’m naked and I’m far from home

The slate will soon be clean
I’ll erase the memories
To start again with somebody new
Was it all wasted
All that love? …
I hang my head and I advertise
A soul for sale or rent
I have no heart I’m cold inside
I have no real intent
Save me save me save me
I can’t face this life alone
Save me save me save me…
I’m naked and I’m far from home

Each night I cry I still believe the lie
I love you till I die
Save me save me save me
Don’t let me face my life alone
Save me save me ooh…
I’m naked and I’m far from home

—————

Tampaknya, saya mulai menyadari di sinilah tempat saya dapat memperoleh kebahagiaan. Here, in the place where I belong. Di antara keluarga yang sangat saya sayangi…

Terima kasih, untuk semua yang selalu memperhatikan saya. Orang-orang yang selalu peduli pada saya.

Sekali lagi, terima kasih…

Pernah ditulis di http://aliasting.multiply.com

Iklan

9 tanggapan untuk “Happiness?

  1. Mood orang memang selalu berubah….. sayapun juga mengalaminya. Terkadang saya senang hura2 di luar terkadang ingin sendiri saja menikmati liburan dengan sepi… Apalagi sekarang ada Internet, kesepian di rumah dapat diusir dengan kehadiran Internet hehehe…..

    Ya udah…. hura2 di luar belum tentu positif juga toh? Yang penting kita bisa mengisi liburan kita sepositif mungkin atau minimal tidak melakukan hal2 negatif atau hanya menghambur2kan duit yg nggak perlu saja… 😀

  2. gak ada salah dengan orang rumahan kok. juga tidak ada salah dengan traveller. hanya bagaimana cara mengisinya saja. yang penting positif. betul tuh kata om Yari.

  3. @ Evita Cornelis
    Yah, hanya sebagai pelengkap aja. Lagi seneng mengekspresikan diri dengan lagu. Btw, terima kasih sudah mau mampir dan memberi komentar.

    @ Yari NK
    Home sweet home. Berusaha mengisi liburan dengan kegiatan yang bermanfaat, tapi apa ya?

    @ John Namru
    Ya begitulah. Harus belajar untuk lebih ikhlas. Btw, thanks udah mampir.

    @ aryodiponegoro
    Well, yeah. Tapi, mungkin perlu keikhlasan juga dalam menjalaninya.

  4. saya rasa saudara akan benar-benar merasakan manfaat dari semua aktivitas itu, ketika saudara dewasa nanti. ketika saudara telah berkeluarga dan bekerja. Insyaallah….

    so, hilangkan rasa malas. karena malas hanya mengantarkan diri kita pada jurang kebodohan dan kerugian dalam hidup

  5. @ ahsinmuslim
    Ya, saya harap pun demikian. Saya (seharusnya) tahu kalau ini akan berdampak baik buat saya. Cuma mungkin saya belum ikhlas menerimanya. Tapi, saya sudah diberi peringatan besar, semoga saya bisa belajar dari itu semua. Terima kasih sudah mampir. 🙂

    @ Annesoraya
    Ada ide untuk tulisan selanjutnya? 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s