UN, Sebuah Bentuk Pembalasan Dunia

Sabtu, 14 Juni 2008 adalah hari pengumuman hasi Ujian Negara (UN) untuk siswa-siswi SMA se-Indonesia. Penantian panjang nan menegangkan oleh para peserta didik yang melakukan UN pada 22-24 April lalu pun berakhir. Dan mereka yang berhasil pun berlinang air mata haru. Tangis bahagia tersebut adalah implikasi dari perjuangan tanpa henti mereka selama tiga tahun menimba kristal-kristal ilmu dengan seragam putih abu-abu. Namun, tidak sedikit yang menangis dengan alasan yang sangat berlawanan.

Tangisan penyesalan adalah buah yang mereka petik karena gagal melewati syarat kelulusan UN, yaitu tidak ada nilai mata pelajaran yang di bawah 4.25 dan nilai rata-rata enam mata pelajaran UN harus di atas 5.25. Enam mata pelajaran (mapel) yang dimaksud adalah dua pelajaran umum (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) serta empat pelajaran jurusan, yaitu Matematika IPA, Fisika, Kimia, dan Biologi untuk jurusan Ilmu Alam dan Matematika IPS, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi untuk jurusan Ilmu Sosial. Syarat di atas terdengar sederhana bukan? Namun sekitar 11% angka ini baru denger-denger, jadi maaf jika ada ketidakakuratan dari peserta UN gagal karena syarat di atas.

Mungkin salah satu ketidaklulusan mereka adalah sistem UN enam mapel yang baru diterapkan tahun ajaran ini. Sistem ini memaksa peserta didik untuk belajar dua kali lipat dari UN tahun ajaran sebelumnya yang hanya mengujikan tiga mapel. Padahal urgensi diadakan enam mata pelajaran ini menurut saya sangat kecil. Bagi siswa jurusan IS, toh ia tak akan pernah ditanya tentang teori penciptaan Bumi oleh bosnya bila ia bekerja menjadi akuntan.

Faktor berikutnya adalah tekanan yang besar bagi peserta UN. Para siswa harus menerima kenyataan bahwa mereka harus mengulang satu tahun lagi bila mereka gagal dalam tiga hari Ujian tersebut. Tidak peduli meskipun mereka adalah siswa teladan ataupun juara umum selama tiga tahun mereka bersekolah. Menurut saya tekanan yang mereka terima karena UN lebih menyulitkan mereka daripada UN itu sendiri. Hal ini juga yang menyebabkan mereka meghalalkan segala cara untuk memperoleh ijazah kelulusan nantinya. Penelitian yang dilakukan oleh Andy Setiawan (pemenang Pekan Karya Ilmiah Nasional bidang IPS, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia) pada tahun 2007 menunjukkan bahwa 7 dari 10 siswa menyontek saat UN. Hal ini menurut saya telah menghilangkan nilai dari pendidikan itu sendiri, yang seharusnya pendidikan menanamkan nilai-nilai keluhuran, di antaranya adalah nilai kejujuran.

Dampak buruk dari UN selain menimbulkan banyak siswa yang gagal adalah UN mengubah tujuan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Tujuan KBM yang sedianya adalah menyampaikan ilmu yang diperlukan siswa untuk menghadapi dunia telah berdegenerasi menjadi menghalalkan segala cara agar dapat melewati UN. Sungguh sebuah kebobrokan, tujuan yang amat mulia berubah menjadi sangat tidak berharga karena tekanan UN yang begitu besar.

Namun tak selamanya UN berdampak buruk. Ini merupakan tolak ukur sukses-tidaknya kegiatan belajar mengajar di suatu sekolah. Kalau tidak dengan UN, apalagi yang bisa mengukur kesuksesan mereka? Oleh karena itu UN adalah hari pembalasan dunia bagi para siswa setelah tiga tahun KBM. Seperti dijelaskan dalam al-Quran surat al-Zalzalah ayat 7-8 yang memiliki arti kurang lebih sebagai berikut:

Barang siapa yang berbuat kebaikan sebesar zarrah (biji atom) akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang berbuat kebathilan sebesar zarrah akan melihat balasannya pula.

Nilai UN adalah representasi dari apa yang kita lakukan selama tiga tahun menuntut ilmu. Siapa yang belajar dengan tekun dan ikhlas, niscaya hasil UN miliknya pun akan baik. Dan siapa yang belajar dengan cara sebaliknya, maka ia akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Oleh karena itu yang kelak akan melaksanankan UN, mari kita belajar dengan ikhlas mulai dari sekarang, agar kita tidak dihakimi pada hari pembalasan dunia nantinya.

written by: Wisnu Aribowo

Iklan

5 tanggapan untuk “UN, Sebuah Bentuk Pembalasan Dunia

  1. Hmmm…. Kalau saya dulu orangnya paling senang dengan ujian…. entah kenapa…. mungkin karena saya orangnya suka tantangan. Jikalau kita senang dengan sesuatu maka segalanya akan berjalan dengan mudah dan ringan….. karena kita mengerjakannya dengan ikhlas dan hati riang… namun tentu saja kita juga tidak boleh takabur….. πŸ™‚
    __________________________
    Alias: Setuju, Om. Ujian itu buat saya sebagai pembuktian diri, “Sudah mampukah kita menguasai materi tersebut?”

  2. Ujian itu kan langkah kecil menuju tangga berikutnya, lalui aja dengan riang gembira…
    _______________________
    Alias: Iya, Om. Ujian bisa membuktikan diri kita sudah layak atau tidak untuk mencapai level yang lebih tinggi. Terima kasih sudah mau mampir ya, Om.

  3. Tapi aneh kan juara kelas gak lulus UN. Bener kan?
    ________________________
    Alias: Hmmm… Aneh ga aneh sih. Soalnya mungkin aja dia malah bersantai-santai karena merasa dirinya sudah mampu, akhirnya hasilnya malah mengecewakan. Tapi, mungkin ga begitu banyak kejadian seperti itu.

  4. beudeuh!!! lu gaa tawu c, btapa qta terseok-seok, mengais2 soal.,, bwakakakak..,,, mav, lebai. blom lg kl liat nilai2 TO lo yg ‘dipinggir jurang nestapa’
    Udah gtu, soal UN tuh sumpah beda parah sm yg uda di TO2in sbelomnya sama pemerintah..,, gw ajaa syok bc tu soal.,
    baca soalnya c lancar, tapi ngisinya yg mendet2..,,
    intinyaa,, gw harap angkatan lo lu2s dgn lbh gemilang drpd angkatan gw.,, heheh..,,
    bedheweiy, gw blngin yaa ke ka andy, kl nama doi terpampang manis di blog lo.,, hahaiyy!!
    ________________________________
    Alias: Hehehe… Ya sudah, tapi alhamdulillah lulus 100% kan? πŸ˜‰ Mau bilangin Kak Andy? Ada-ada aja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s