Salah Siapa?

Kebanyakan orang beranggapan kalau kita hanya perlu menjalankan apa yang diperintahkan dan sudah diakui banyak orang. Well, pikiran saya jadi lebih terbuka saat tadi berbincang-bincang dengan orang Rekayasa Industri saat mengajukan permohonan sponsorship. Memang saya sebenarnya sangat mendukung hal itu, cuma hari ini pikiran saya jadi lebih terbuka karenanya.

Coba baca ini: 1+1=2+0 Bagi sebagian besar orang, premis itu akan dibaca sebagai ‘satu ditambah satu sama dengan dua ditambah nol’. Dengan pembicaraan yang tadi, saya dijelaskan kalau itu sebenarnya bisa dibilang salah. Seharusnya, ‘equals to‘ diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai ‘sepadan dengan’ bukan ‘sama dengan’. Penjelasannya begini kira-kira, akankah sama jika kita mempunyai dua-buah satu-bundel dengan satu-buah dua-bundel? Pada hakikatnya, space-nya akan berbeda hanya bobotnya yang sama. Artinya itu dapat diartikan sebagai sepadan, bukan sama.

Cerita lain. Menurut pendapat sebagian besar orang di Indonesia, penulisan angka desimal yang benar untuk ½ adalah 0,5. Padahal, dalam kenyataannya di sebagian besar belahan dunia, penulisan yang benar adalah 0.5. Bagi sebagian besar orang, mungkin ini adalah hal sepele. Tapi, coba bayangkan misalnya Anda meminta uang di suatu tempat di luar negeri. Kalau misalnya Anda menulis US$ 1.000, Anda hanya akan mendapat seperseribu dari yang Anda harapkan: hanya US$1! Inilah yang terkadang membuat orang-orang Indonesia tidak berkembang. Saya pikir, banyak orang yang sebenarnya bertanya-tanya dalam hatinya akan perbedaan ini, sayangnya banyak yang tidak berani menanyakannya. Kita terlalu terpatri pada paradigma yang sudah digariskan oleh guru-guru kita sehingga kita tidak bisa berkembang.

Sebagian besar orang yang sukses justru adalah orang-orang reaksioner, orang yang mungkin dianggap gila pada awalnya. Merekalah orang-orang yang melawan hukum-hukum yang berlaku, namun merekalah yang malah dapat menghasilkan sesuatu yang lebih. Bayangkan kalau misalnya R.A. Kartini tidak berjuang untuk perempuan, maka hanya segelintir perempuan saja yang mungkin bisa menikmati pendidikan sekarang ini.

Beberapa orang terlalu terpaku pada doktrin yang diberikan oleh guru-guru mereka. Padahal, tak semuanya dari yang disampaikan itu benar. Sebagian besar dari kita terkadang kurang bersikap kritis terhadap apa yang diberikan kepada kita. Kita terlalu senang membuat kotak-kotak batasan diri kita. Itulah yang membuat kita sulit untuk berkembang.

Beberapa kesalahan-kesalahan yang muncul dari kehidupan kita biasanya adalah menyangkut kesalahkaprahan dalam penggunaan bahasa. Contoh untuk hal-hal semacam ini adalah penggunaaan kata ‘berat’ untuk mewakili ‘massa’, padahal dilihat dari segi dimensi saja ini sudah cukup berbeda. Jadi, siapa yang harus disalahkan? Apakah kita yang belum bisa memilah dan memilihnya? Atau guru-guru kita yang hanya cenderung memberikan hal-hal yang membuat kita menjadi dogmatis? Well, sebaiknya masing-masing dari kita introspeksi diri untuk hal-hal semacam ini.

Iklan

5 tanggapan untuk “Salah Siapa?

  1. Menurut saya penulisan 0,5 atau 0.5 tidak ada yang salah. Yang 0,5 lebih populer di Eropa daratan sedangkan 0.5 lebih populer di AS dan Inggris. Jadi tidak ada yang salah.

    Nah, untuk itu, untuk menentukan yang salah kitapun harus berhati2, siapa yang benar2 salah, apakah yang kita sangka bersalah itu benar2 salah?? Ataukah hanya kita saja yang menyatakan seseorang itu salah dengan kacamata kita yang sempit. Jadi kita perlu bijak dalam menentukan siapa yang salah, karena sekali palu diketuk untuk menyatakan siapa yang salah dan ternyata keputusan itu salah, maka harga atau biaya yang dikeluarkan akan sangat besar untuk menutupi kekeliruan tersebut…….
    _____________________
    Alias: Yah, saya sih sebenernya bukan mau mencari kambing hitam di sini. Cuma mau mengekspresikan pikiran aja. Terima kasih sudah lebih membuka pikiran saya.

  2. Setuju dengan om Yari NK. Namun ada sedikit tambahan. Ali menulis dengan pandangan secara global, menurut saya itu mungkin yang akan dipakai secara internasional. Contohnya dimensi itu tadi. Apa jadinya kalau kita salah yang US$ itu sangat besar perbedaannya. Betul? dalam dunia matematika aja penulisan itu yang 0.5 dan Rp 1,000 dibenarkan. jadi, solusinya, ajukan keluhan ini ke pemerintah! Yo!
    _________________
    Alias: Mau ngajukan ke pemerintah? Mereka aja udah repot ngurusin negara, masa mau dikasih masalah beginian? 😀

  3. Ada satu lagi penggunaan ejaan yang salah yaitu masalah kaca dan cermin. Contohnya adalah kita sering mendengar kaca spion, bukannya yg benar cermin spion ya?

  4. guru yang disalahkan…

    *menolak disalahkan :p
    ________________________
    Alias: Yah… tapi ga bisa sepenuhnya salahin salah satu pihak aja. Btw, terima kasih sudah mau mampir ke site ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s