Idealisme

Well, bicara tentang idealisme, saya bisa dibilang orang yang masih gamang dalam membahas bagaimana saya nantinya. Walaupun begitu, saya akan coba cerita-cerita sedikit tentang ini. Rasanya di Indonesia saat ini, khususnya di Jakarta, sulit untuk menjadi orang yang idealis. Orang yang idealis justru dianggap aneh dan kuno. Bisa dilihat dari banyaknya orang yang bekerja di Jakarta ini hanya untuk menghidupi dirinya, atau dalam fragmentasi sehari-hari, “Asal dapur bisa tetap ngebul“.

Kebanyakan orang di Jakarta kalah oleh tuntutan dari sana-sini yang mempengaruhinya. Banyak orang yang lebih memilih untuk mengalahkan impiannya untuk melakukan yang bisa menghidupinya hari ini saja. Dalam kenyataannya, banyak orang yang mengharapkan bisa dinaikkan pangkat atau gajinya padahal usaha yang dilakukan hanya sedikit. Kenapa bisa seperti ini? Karena kebanyakan mereka bekerja hanya untuk ‘bertahan hidup’, bukan benar-benar keinginan mereka. Padahal, justru dengan mengejar impian kita dan bekerja dengan rasa senang terhadap pekerjaan tersebut, justru kenaikan pangkat maupun gaji akan datang dengan sendirinya.

Begitu pula dengan menghadapi pelajaran di sekolah. Sebagian besar siswa di Jakarta (termasuk saya mungkin) bersekolah karena disuruh orang tua. Tidak heran, banyak siswa yang memilih untuk bolos sekolah dan tidur pada saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Sebagian dari mereka mungkin belum memahami esensi terpenting dari sekolah yang ditujukan untuk menunjang kita di kemudian hari.

Hal inilah yang mungkin membedakan kehidupan Jakarta dengan daerah-daerah. Jakarta dengan segala kegemerlapan dunianya merupakan suasana kondusif untuk infiltrasi gaya hidup hedonisme yang merupakan bentuk akulturasi dengan budaya barat. Sebagian besar orang di Jakarta hanya memikirkan bagaimana ia bisa hidup dengan enak. Selain itu, mungkin ini dikarenakan sifat sebagian besar orang Indonesia yang cenderung nrimo.

Hal ini bertolak belakang dengan kehidupan di daerah yang cenderung kurang memfasilitasi hal-hal seperti tadi. Maka dari itu, kebanyakan orang-orang khususnya kalangan pelajar di daerah yang mungkin bisa lebih produktif daripada di Jakarta. Kebanyakan di antara mereka merasakan dunia belajar sebagai ajang bersaing satu sama lain. Ini mendorong mereka untuk menjadi lebih baik daripada temannya. Maka dari itu, tak jarang mereka yang pernah tinggal di daerah-daerah bisa hidup dengan lebih sukses karena mereka mengejar impian mereka dengan sepenuh hati.

Dari pandangan saya, mungkin bisa dibilang bahwa siswa daerah bisa dibilang lebih baik daripada di Jakarta tanpa bermaksud mendiskreditkan siswa di Jakarta. Karena, di sini saya juga masih bisa melihat orang-orang yang hidup dalam naungan idealisme mereka. Masih ada orang-orang yang berusaha untuk mengejar impian mereka di sini.

Saya berharap tulisan ini dapat dijadikan acuan dalam cara berpikir kita (khususnya saya) ke depannya. Saya harap kita bisa membangkitkan lagi ‘raksasa tidur’ dalam diri kita. Yakinkan diri kita untuk dapat menjadi lebih baik dari orang-orang di sekitar kita. Kejarlah impian kita dengan sepenuh hati. Jangan mau kalah dengan kenyataan hidup!

Iklan

8 tanggapan untuk “Idealisme

  1. Di dunia yang sebenarnya…… idealisme dan tuntutan hidup akan saling tarik menarik. Tidak ada yang bisa dipastikan siapa yang menang. Biasanya idealisme ini sangat banyak memenuhi orang2 yang masih “hijau” yang belum berhubungan langsung dengan dunia nyata secara langsung. Banyak mereka yang dulunya mendukung idealisme sekarang idealisme tersebut luntur. Tidak semuanya idealisme tersebut hilang tapi kebanyakan idealisme tersebut harus menyesuaikan diri dengan kenyataan yang ada…….

    O ya…. dan satu lagi…. idealisme yang luntur ini bukan hanya milik orang Jakarta, di manapun idealisme dapatlah luntur…. baik di kota besar maupun di kota kecil tergantung dari kompleksitas masyarakat di sekitarnya….

  2. Iya sih, mengejar cita-cita harus sesuai seneng-nya kita…
    Tapi, kalo kayak aku yang pengen sekolah seni malah… di… huhuhu…

    Ah, GJ!

    Nice blog!

    Ja! *Udah ‘kan? Maunya yang GJ ‘kan? Hehehe…*

  3. “Orang yang idealis justru dianggap aneh dan kuno.”

    Sepakat. Jadi orang aneh itu gpp lagi… Artinya menjadi orang yang BEDA. (Bukan aneh misal punya tangan 4, atau kalau jalan mesti mundur).

    Dalam teori Marketing-nya Philip Kotler dalam Marketing Management, BEDA atau Differentiation itu salah satu yang membuat usaha kita unggul. Bahkan menurut Steve Rivkin dan Jack Trout, kalau mau sukses ya BEDA!

    So jadilah orang aneh!!! πŸ˜€

    Salam… Nice Blog bro.. keep writing…

  4. @Annesoraya
    Well, saya ga begitu tertarik dengan politik. Lebih enak membahas apa yang ada dalam pikiran saya dan dekat dengan kehidupan saya.

    @aryodiponegoro
    Yeah, anggapan saya juga begitu. Dengan menjadi diri kita sendiri, esensi diri kita dalam kehidupan jadi lebih terasa. Terima kasih buat komentarnya.

  5. Setuju dengan Aryodiponegoro! Menurut pendapat Bapak Louis Tendean, selaku pemasar terkaya di Indonesia. jadi orang sukses berawal jadi orang aneh! dalam konteks berbeda dan positif! πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s