Fresh Install

Akhirnya, setelah hampir setahun, saya menginstal ulang Ubuntu di laptop. Ada perasaan menyenangkan setiap kali melakukan instal ulang ini. Fresh. Banyak hal-hal yang selama ini terasa sayang dibuang jadi mau-tidak-mau ikut terbuang. Dengan begitu jadi lebih banyak ruang kosong yang tersisa di harddisk yang tak seberapa besar ini. 😀

Karena saya terbiasa menggunakan Ubuntu versi LTS (Long-Term Support), jadi biasanya ini saya lakukan setiap dua tahun sekali. Meski begitu, terkadang saya menginstal ulang kurang dari kurun waktu tersebut — tergantung apakah laptopnya sedang berulah atau tidak. Karena, toh, dukungan untuk pembaruan Ubuntu LTS diberikan sampai lima tahun sejak rilisnya versi tersebut.

Faktanya, kita mungkin sudah menjadi digital hoarders sekarang. Banyak foto-foto, dokumen-dokumen, dan berbagai macam berkas lainnya yang kita tumpuk di dalam komputer. Padahal, mungkin berkas-berkas tersebut sudah tidak relevan lagi — sudah usang.

Makanya, setelah proses backup dilakukan, biasanya tidak semuanya saya restore kembali setelah proses instal ulang OS selesai. Ada berkas-berkas yang sengaja saya simpan di media eksternal dan ditinggalkan di sana. Jadi, jika sewaktu-waktu dibutuhkan, tetap bisa diambil. By the way, Back In Time adalah kakas yang cocok sekali untuk kebutuhan ini. Recommended!

Seberapa sering Anda menginstal ulang OS Anda?

Menyunting

Ya, “menyunting”, bukan “mempersunting”. 😛

Dalam menulis blog ini, sebetulnya jarang sekali saya melakukan penyuntingan kembali. Apa yang terpikir, segera saja dituangkan dalam tulisan untuk kemudian langsung dipublikasi. Tak jarang, setelah melihat kembali tulisan-tulisan saya setelah beberapa waktu berlalu, saya menemukan beberapa kalimat yang terasa kurang padu atau mungkin beberapa kesalahan ketik.

Bagi saya, ini hal yang sangat wajar untuk terjadi. Meski begitu, saya selalu berusaha untuk membuat tulisan-tulisan saya enak untuk dibaca sehingga lebih mudah tersampaikan pesannya kepada para pembaca. Masalahnya, kalau pola pikir seperti ini juga dibawa-bawa ke penulisan di media massa, repot jadinya.

Salah satu peran media massa adalah membentuk kebiasaan berbahasa dari para pemirsanya. Jika yang dijadikan panutan saja ternyata abai dalam berbahasa yang baik dan benar, bagaimana bahasa yang katanya pemersatu bangsa itu bisa dipelihara? Dengan mudahnya setiap orang bertindak laiknya media massa, tidak mengherankan jika kemampuan berbahasa banyak orang pun menjadi semakin membuat miris.

Ini baru urusan redaksi ya, belum lagi kalau kita bicara soal konten. Semakin ke sini, kelihatannya beberapa awak media makin tak peduli dengan akurasi dari konten yang diterbitkan. “Yang penting rilis dulu,” begitu katanya. Tentu tidak sedikit kasus-kasus di lapangan yang kita lihat sebagai akibat dari ketidakakuratan konten-konten di media tersebut.

Apakah hal seperti ini harus dibiarkan terus?

Banyak Menulis

Saat ini saya sedang banyak menulis. Seperti yang sudah dijelaskan di pos sebelum-sebelumnya, dengan pekerjaan sebagai dosen tidak tetap sekarang, banyak tulisan yang harus saya hasilkan. Tugas, ujian, dan tentunya materi kuliah merupakan beberapa hal yang menjadi materi tulisan yang mengisi hidup saya di beberapa minggu terakhir. Tidak heran, jumlah tulisan di blog ini pun jadi berkurang. Sudah ada alternatifnya.

Dengan cukup banyak materi tulisan tiap minggunya dari dua kuliah yang harus saya ampu di semester ini, praktis, tenaga saya cukup terkuras untuk itu. Saya merasa sudah cukup produktif dari sisi penulisan. Jadi, yah, tulisan yang mungkin “tidak terlalu penting” seperti blog ini jadi dikesampingkan dulu.

Salahkah ini?

Well, nyatanya, beberapa dosen-dosen terkenal di dunia yang saya geluti tetap rajin menulis blog kok meski tumpukan utang penulisan ilmiah terus menggunung. Tentu saja selalu ada hal-hal trivial maupun non-trivial yang bisa ditulis tiap harinya. Contohnya, sekadar analisis terhadap tren di arXiv seperti tulisan Andrej Karpathy ini mungkin tidak akan terlalu banyak menguras pikiran.

Jadi, mungkin kurang tepat rasanya kalau saya beralasan kesibukan saya di kampus membuat saya jadi meninggalkan blog ini. Seharusnya, blog ini tetap bisa ditulis meski masih banyak utang tulisan lain yang “menuntut” untuk dituangkan. Belum lagi melihat bagaimana kerasnya usaha para peneliti di Google Brain untuk mendistilasi ilmu machine learning yang sekarang sedang sangat berkembang itu melalui distill.pub. It’s a mountain of research debt.

Mari menyesuaikan waktu agar lebih produktif menulis…

Go-Hackathon

Akhir minggu kemarin, saya ikut hackathon yang diadakan oleh Go-Jek. Awalnya, saya diajak oleh teman-teman satu almamater saat S2 dulu. Karena memang kebetulan lagi agak senggang mengingat akan libur kuliah juga, jadi saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan tersebut. Sekalian, karena mereka dari bidang Design Informatics, saya berharap bisa menghasilkan sesuatu yang menarik – yang lebih tangible.

Hackathon kali ini berlangsung di kantor Go-Jek yang baru di bilangan Blok M. Karena tidak terlalu jauh dari rumah, jadi saya tidak perlu repot-repot mencari transportasi menuju tempat tersebut. Saya sendiri tiba di lokasi sekitar pukul 10 lewat, saat kebanyakan peserta ternyata sudah di dalam ruang auditorium untuk briefing awal. Jadi, saya pun langsung menuju lantai 7 bersama rekan setim yang sudah menunggu.

Kesan Awal

Kantornya menarik! Terlihat sekali bahwa hackathon ini dipersiapkan dengan sangat baik. Dekorasi yang dipersiapkan untuk kompetisi, papan nama tim di tiap area kerja, suplai makanan dan minuman enak, hingga ruang game membuat hackathon ini terasa cukup menyenangkan. Ini mengingatkan saya akan hackathon saat di J.P. Morgan tahun 2015 yang lalu dengan semua fasilitas yang disediakan. Bahkan, pihak Go-Jek menyediakan layanan Go-Massage secara cuma-cuma untuk para peserta di jam-jam tertentu. Well done!

Sayangnya, Go-Jek tidak menyediakan data maupun alat untuk digunakan. Artinya, semua kebutuhan ngoprek harus dipersiapkan oleh peserta sendiri. Meski begitu, ini juga berarti kebebasan bagi peserta untuk menentukan “mainan” mereka masing-masing, dan tidak harus terkait dengan Go-Jek.

Ngoprek!

Sehari sebelum acara berlangsung, berdasarkan rekomendasi seorang teman, saya memutuskan untuk membeli alat untuk EEG (electroencephalogram). Ide awal kami memang sudah ingin mempromosikan berkendara dengan aman, tapi saat itu data yang diambil baru didasarkan pada detak jantung dari gawai seperti Fitbit atau Mi Band saja. Nah, EEG ini tentu akan membuatnya jadi lebih canggih, karena kita bisa mengambil kondisi dari orang tersebut, misalnya dari sisi fokus atau ketenangannya.

Untungnya, tidak perlu waktu yang terlalu lama bagi saya untuk bermain dengan SDK yang disediakan oleh NeuroSky, produsen dari alat EEG yang kami pakai. Dengan dokumentasi yang baik dan contoh kode yang cukup jelas, saya yang sejak awal ditugaskan untuk mengerjakan aplikasi mobile, berhasil mendapatkan data yang dibutuhkan untuk melakukan inferensi tersebut. Namun, karena kami tidak punya data latih, akhirnya saya membuat versi sederhana dari fuzzy logic untuk proses pengambilan kesimpulannya. Untuk yang ingin melihat teknisnya, silakan buka tautan ini.

Aplikasi mobile ini sendiri saya namakan Cerebro, karena alat EEG yang digunakan mengingatkan saya pada Cerebro yang diciptakan oleh Professor X dan Magneto di komik X-Men. Memang, fungsi jauh dari Cerebro yang sebenarnya. Namun, karena sama-sama menggunakan gelombang otak, boleh lah ya? 😀

NeuroSky
Sudah mirip James McAvoy belum? :mrgreen:

Para Juara

Alhamdulillah, ide tim kami masuk enam besar. Saya sangat berharap sekali untuk memenangkan kompetisi ini. Supaya balik modal ceritanya. 😀 Sayangnya, ternyata lawan-lawan kami cukup tangguh. Ide-idenya brilian dan aplikatif. Saya salut sekali!

Juara ketiga membawa ide klasifikasi gambar makanan menggunakan Convolutional Neural Networks. Canggih. Dengan membungkus algoritma klasifikasi gambar yang sedang populer tersebut sebagai web service, mereka berhasil mengklasifikasikan gambar ayam bakar, nasi goreng, gado-gado, dan sekitar sepuluh jenis makanan lainnya dengan akurasi hingga 80%. Tim yang hanya terdiri dari dua orang ini jelas memancing rasa penasaran para juri dengan penggunaan elemen state-of-the-art. Bravo!

Juara kedua ini sebetulnya punya ide head-to-head dengan tim kami. Bedanya, mereka benar-benar ngoprek dari awal. Menggunakan mikrokontroler Arduino, mereka membuat helm cerdas yang bisa mendeteksi jika terjadi kecelakaan atau jika pengendara melaju terlalu kencang. Tak ayal, hasil kerja mereka pun diganjar Macbook Pro bagi masing-masing anggota tim.

Nah, juara pertama ini sebenarnya sudah saya takutkan sejak awal. Tim yang terdiri dari adik-adik kelas saya di Informatika ITB ini namanya memang sudah langganan dalam memenangkan kompetisi semacam ini. Terbukti, ide mereka untuk menggabungkan keberadaan sopir Go-Jek yang berada di mana-mana dan penggunaan beacon berbasis bluetooth untuk mencari barang hilang berhasil membawa mereka mendapatkan posisi puncak. Mereka pun pulang Rp 120 juta lebih kaya.

Overall, pengalaman yang menyenangkan. Meski lelah karena hanya tidur sekitar 1-2 jam, tapi saya jadi punya kesempatan untuk bermain-main lagi, bertemu dengan teman lama dan teman baru, dan belajar lebih banyak lagi. Semoga saja kompetisi seperti ini benar-benar bisa menghasilkan banyak ide gila nan bermanfaat lainnya.

Tidak sabar untuk menunggu kesempatan hackathon berikutnya!

Makan!

Kebiasaan makan saya berubah. Saya merasa jadi makan lebih banyak akhir-akhir ini. Semenjak selesai studi, kok rasanya saya tidak bisa makan normal lagi. Mungkin karena kandungan nutrisi juga ya, tapi rasanya piring nasi itu harus dipenuhi supaya memenuhi porsi makanan saya. Repotnya, nafsu makannya jadi makin tidak terkendali kalau sudah bertemu makanan enak.

Tidak hanya pola makan, tapi kebiasaan saya untuk minum juga jadi berubah. Sebelumnya, saya lebih memilih mengonsumsi minuman kemasan yang “berasa”, bersoda maupun tidak. Namun, sekarang rasanya minuman seperti itu, terutama yang dari golongan teh kemasan, jadi meninggalkan rasa asam yang berlebih di mulut setelah dikonsumsi. Saya jadi lebih terbiasa meminum teh tanpa gula. Ini masih ditambah juga dengan konsumsi air putih yang lebih banyak karena saya jadi sering merasa haus.

Mungkin ini ada hubungannya dengan pola makan saya selama di UK. Kesulitan untuk menemukan waralaba fast food yang halal dan faktor ekonomi membuat saya lebih sering memasak sendiri. Praktis, konsumsi junk food saya dapat dihitung jari selama tinggal di sana selama setahun. Memasak sendiri juga membuat saya lebih mengendalikan nutrisi. Saya jadi lebih terbiasa makan sayur dan sering menggilir proteinnya, antara ikan, ayam, dan daging. Kudapan saya pun diganti dengan buah-buahan seperti pisang dan jeruk.

Sekarang, saya jadi merasa agak aneh setiap kali makan fast food. Ada yang kurang rasanya cuma makan nasi dan sepotong ayam goreng berbumbu itu – sudah tidak senikmat dulu lagi. Walhasil, saya jadi lebih senang datang ke restoran yang menyajikan masakan Indonesia. Makanya mungkin saya sering dianggap aneh sekarang ketika lebih memilih untuk memesan gado-gado di food court yang harganya tentu lebih mahal dibandingkan penjual gado-gado di pinggir jalan.

Entah karena sudah terbiasa makan pasta atau mungkin memang jenis bahannya yang berbeda, saya juga tidak terlalu sering memesan pasta di sini. Setiap kali saya mencoba pesan pasta, entah mengapa saya tidak terlalu puas. Ekspektasi saya tidak terpenuhi. Entah karena kehilangan sayur-sayuran yang kadang saya masukkan, asin dan lembutnya beberapa jenis ikan, atau rasa umami yang bisa diberikan keju yang bagus.

Faktor lainnya yang juga mungkin menyebabkan ini adalah harga yang terlalu mahal jika dibandingkan dengan di UK untuk menu yang sama. Dengan harga sekitar 6 pon (~Rp120.000), saya bisa membuat enam porsi spaghetti carbonara yang enak bermodalkan salami, telur, minyak zaitun, dan pasta. Itu juga masih bisa menyisakan sebagian bahannya. Di sini, carbonara bisa jadi salah satu pilihan termahal dari daftar menu pasta!

Sayang, murahnya mendapatkan makanan di luar, dengan asumsi kita juga menghitung ongkos waktu yang diperlukan, jika dibandingkan dengan memasak sendiri membuat memasak sendiri bukan pilihan yang cukup menarik di sini. Belum lagi ditunjang dengan makanan-makanan ringan yang sangat murah dan menggoda. Enak, tapi meninggalkan rasa bersalah. Hahaha…

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda masih senang masakan rumahan?

Darurat Bahasa Indonesia!

Salah satu tugas saya sebagai dosen adalah membuat deskripsi tugas untuk dikerjakan mahasiswa. Karena mengajar di Indonesia, maka sudah sepatutnya deskripsi tugas tersebut diberikan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Well, tidak semuanya jadi dalam bahasa Indonesia sih, karena ada beberap istilah yang masih asing bagi banyak orang – daring (online), misalnya.

Beberapa istilah lain sengaja dibiarkan dalam bahasa aslinya supaya bisa dibedakan dengan istilah yang terlalu umum, sepertiframework yang sebetulnya bisa saja diganti dengan kerangka kerja. Karena artinya bisa jadi terlalu umum, membiarkan kata tersebut dalam bahasa asing membuat perbedaannya dengan padanan bahasa Indonesia-nya sedikit lebih jelas. Hal seperti ini tentu tidak asing bagi cabang ilmu pengetahuan yang berkembang dengan pesat seperti informatika.

Format dan Spesifikasi

Yang jadi poin perhatian saya adalah kesulitan beberapa mahasiswa saya dalam memahami spesifikasi yang telah diberikan. Maksudnya, spesifikasi yang diberikan dalam deskripsi itu saya pikir sudah cukup jelas. Bahkan, tugas-tugas yang saya rilis tersebut telah saya berikan kepada beberapa orang teman untuk diulas terlebih dahulu sebelum dirilis. Kenyataannya, masih banyak yang tidak bisa mengikuti spesifikasi yang sebenarnya cukup umum tersebut.

Penamaan dan pembagian berkas adalah dua contoh yang paling sering dilanggar. Meski sudah saya jelaskan, tetap saja ada orang-orang yang tidak mengikuti format yang telah saya sampaikan. Begini loh, format itu kan dibuat supaya memudahkan saya dalam memeriksa tugasnya nanti. Kalau lebih mudah untuk diperiksa, tentu mereka juga akan mendapatkan umpan balik dari tugas tersebut dengan lebih cepat. Kenapa akhirnya malah jadi banyak yang ngawur begitu?

Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Saya pikir, kemampuan anak-anak muda ini dalam berbahasa ketika berikirim surat (e-mail) merupakan hal yang mau tidak mau harus ditoleransi. Mereka mungkin terlanjur terbiasa berkomunikasi melalui media yang lebih tidak formal, seperti pesan instan melalui WhatsApp atau Line. Namun, kebiasaan ini juga terbawa ke cara berbahasa mereka dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan teoritis yang diberikan dalam tugas tersebut. Bukankah ini jadi satu hal yang cukup memprihatinkan?

Keluhan dosen-dosen saya terdahulu tentang hal semacam ini ternyata sampai juga kepada saya. Masih banyak orang Indonesia yang ternyata tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar – benar dalam mengekspresikan ide dan baik dalam menentukan ragam bahasa. Tentu saja tidak ada masalah untuk menggunakan ragam non-formal dalam percakapan atau melalui pesan instan. Namun, selalu ada dokumen yang membutuhkan ragam bahasa yang baku dan formal. Apakah semakin banyak yang kehilangan kemampuan untuk membedakan itu?

Wabah Iliterasi

Sedihnya, ini semakin terlihat di kalangan anak-anak yang lebih muda. Ketika melatih anak-anak KIR di SMA saya dulu, ternyata masih banyak yang mengalami kesulitan bahkan untuk membuat sebuah kalimat yang utuh. Sudah bukan barang baru untuk menemukan beberapa kalimat yang tiba-tiba sudah bertemu tanda titik tanpa ada kejelasan SPOK ketika memeriksa makalah mereka. Miris.

Fenomena ini mungkin juga bisa dilihat di negara-negara lain. Negara-negara berbahasa Inggris yang bahkan tidak bisa membedakan “you’re” dan “your”, atau “there” dan “their” sudah bukan barang baru yang berseliweran di media sosial kita. Tidakkah mereka sadar bahwa bahasa dalam bentuk tertulis itu sedemikian pentingnya untuk dapat menyampaikan pesan dengan benar?

Atau jangan-jangan malah cara berbahasa saya yang terlalu aneh?

Are You Happy?

Apakah Anda bahagia dengan hidup Anda?

Pertanyaan seperti itu mungkin bukan sekali atau dua muncul sepanjang hidup sampai saat ini. Entah muncul berupa pertanyaan dari teman, atau mungkin dari pikiran sendiri yang sepertinya tak lelah menanyakan hal aneh seperti itu. Aneh, karena pertanyaan itu hanya butuh jawaban “ya” atau “tidak”, tapi ditujukan untuk suatu hal yang sangat abstrak. Yang ada, pertanyaan itu dibalas lagi dengan pertanyaan, “Apa itu kebahagiaan?”

Dari bermacam studi yang dirangkum dalam buku Thinking, Fast and Slow, respon seseorang terhadap pertanyaan tersebut menjadi suatu topik yang ternyata punya cerita yang menarik di baliknya. Faktanya, kita sering mengasosiasikan kebahagiaan dengan hal-hal yang mendahului pertanyaan itu. Sebutlah pertanyaan pendahulu seperti “Berapa penghasilan Anda sekarang?” Maka, kita akan mengasosiasikan kebahagiaan dengan penghasilan atau uang yang kita punya. Demikian pula yang terjadi jika pertanyaan tentang kebahagiaan didahului oleh hubungan dengan pasangan.

Saya jadi terpikir tentang pertanyaan ini saat dalam perjalanan kereta menuju ke Bandung. Melihat rumah-rumah di daerah yang kelihatannya jauh dari kota membuat saya bertanya-tanya tentang peluang mereka mendapatkan kemewahan yang saya dapat. “Bagaimana mereka bisa mendapatkan penghasilan yang cukup? Apakah anak-anak mereka punya akses pendidikan yang baik? Sudahkah mereka dapat memenuhi semua kebutuhan hidup mereka?”

Pertanyaan tersebut membuat saya berpikir kembali tentang konsep kebahagiaan. Saya yang mengejar pendidikan tinggi-tinggi ini apakah jadinya lebih bahagia dibandingkan mereka yang mungkin bahkan tak sempat mengecap pendidikan tinggi. Apakah justru mereka yang hidup jauh dari bioskop, mal, dan tempat hiburan lainnya bisa lebih bahagia dibanding saya yang tinggal hanya berjarak 15 menit naik motor dari salah satu mal di selatan ibukota?

Pada akhirnya, bahagia mungkin cuma masalah rasa syukur. Lah, apa kurang nikmat Anda bisa baca tulisan saya ini dari layar ponsel atau laptop Anda? Mungkin sembari duduk atau bahkan berbaring di ruangan berpendingin? Namun, mereka yang bahkan tak tahu adanya tulisan ini juga tak kalah senangnya ketika mengetahui selesainya pekerjaan mereka hari ini – tak perlu pusing-pusing membawa pulang pekerjaan dari kantor?

Selalu saja ada hal yang bisa disyukuri dari segala situasi. Masalahnya, fokus kita mau ke kesulitannya atau kepada apa yang sejatinya selama ini kita abaikan – things we took for granted? Bahagia itu mungkin hanya masalah berhenti membandingkan apa yang kita dan orang lain dapatkan.

Ah, tahu apa saya?