Semester Baru

Akhirnya semester baru sudah dimulai. Besok akan jadi hari pertama saya mengajar di semester genap tahun ajaran 2016/2017. Tidak tanggung-tanggung, dua mata kuliah sekaligus menunggu saya di esok hari! Dilihat dari jumlah peserta kelasnya, mudah-mudahan ini menunjukkan bahwa anak-anak tidak kapok dengan pengalaman empat pertemuan dengan saya di semester lalu.

Ada dua mata kuliah yang dititipkan kepada saya di semester ini: Pemrograman Python dan Data Mining. Kelas yang pertama itu baru berhasil dibuka setelah sekian lama kurang peminatnya sehingga terpaksa tidak dibuka, sementara kelas yang kedua rutin dibuka meski peminatnya memang masih dapat dihitung jari. Ini mengakibatkan kuliah Pemrograman Python praktis harus disusun dari awal: materi, tugas, dan modul praktikumnya. Agak sulit juga mengingat belum ada yang bisa dimintai bantuan sebagai asisten akademis.

Tentu saja, persiapan kedua kuliah tersebut tidak akan lepas dari bantuan banyak pihak. Dosen yang mengampu mata kuliah tersebut sebelumnya, teman-teman yang memang berkecimpung di dunia industri dengan memanfaatkan ilmu dari mata kuliah tersebut, materi yang saya pelajari di S1 dan S2 dulu, hingga materi yang saya pelajari melalui kursus daring tentu memberikan kontribusi terhadap bagaimana kedua kuliah tersebut disusun. Yang jelas, kedua mata kuliah tersebut memiliki beberapa materi yang beririsan sehingga dapat menunjang satu sama lain untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif.

Semoga saja kelas-kelas tersebut bisa jadi menyenangkan!

Kita vs Mereka

Akhirnya! Kerusuhan pilkada berhenti sejenak. Keributan yang “memaksa” saya (lagi-lagi) mematikan akun Facebook ini akhirnya sampai ke titik turun minum juga. Betul-betul melelahkan mendengarnya.

Kalau ditilik kembali, beberapa minggu terakhir ini saya melihat ada satu masalah utama yang menjadi sumber kericuhan yang seolah tak berkesudahan itu: kita versus mereka. Setiap orang berusaha mengklaim golongannya lah yang terbaik. Masalahnya, ini juga masih ditambahkan dengan menuding pihak yang berseberangan dengannya 100% salah. Kapan ada ujungnya kalau begitu?

Coba perhatikan, terlalu banyak majas pars pro toto yang dipakai dalam perdebatan tersebut. “Yang sebelah sana radikal!”

“Yang sebelah situ tidak santun!”

Sebenarnya siapa yang di “sebelah sana” dan “sebelah situ”?

Juntrungannya jadi tidak jelas karena yang dituduh merasa tidak seperti itu, karena mungkin memang tidak seperti itu. Ada orang-orang yang mengaku bagian dari kelompok A, tetapi melakukan hal-hal yang sebenarnya juga kurang disukai oleh orang-orang A sendiri. Hal yang sebenarnya terkadang minoritas ini jadi bulan-bulanan, padahal bukan representasi dari mayoritas kelompok A tersebut.

Ah, pada akhirnya ini adalah politik dan kebebasan yang dijunjung demokrasi. Semua ingin bersuara, semua ingin didengar. Walhasil, kebutuhan itu pun perlu diejawantahkan dalam berbagai cara yang mungkin dilakukan. Membungkus dengan hal-hal yang sensitif pun tak jarang jadi cara favorit demi melenggangkan kepentingan politik, dari berbagai sisi yang ada.

Ini juga jadi penting karena kita mungkin terlalu memandang pemimpin itu tak ubahnya – meminjam judul lagu Bang Iwan Fals – manusia setengah dewa. Ia adalah sosok yang harus diikuti secara buta, apa yang dikatakannya mestilah kebenaran yang tak boleh dibantah. Padahal, ya mereka ini manusia-manusia juga toh? Bahkan nabi saja bukan.

Semoga di putaran kedua ini suhu politiknya bisa lebih menurun.

Oh, dan semoga siapa pun yang terpilih itu jadi jalan kebaikan bagi semua.

Main ke Kantor Staf Presiden

Saat Welcoming Alumni LPDP 2017 yang lalu (6/2), saya bertemu dengan seorang teman satu almamater dari Edinburgh dulu. Nah, beliau ini sekarang sedang magang di Tim Satu Data Indonesia sebagai Public Policy Specialist. Tim yang dikomandoi oleh Robertus Theodore, seorang teman lainnya saat di Informatika ITB dulu, kemudian mengundang saya untuk membagikan cerita tentang pengalaman pemanfaatan data di lapangan. Walhasil, hari ini (9/2) saya pun berkunjung ke Kantor Staf Presiden (KSP).

Jalanan agak macet hari ini, saya yang berangkat sekitar jam 11.15 pun baru sampai di lokasi sekitar pukul 12.40. Padahal, saya biasanya hanya perlu sekitar 1 jam saja untuk jarak sejauh ini. Hujan tampaknya membuat sebagian orang memacu kendaraannya sedikit lebih lambat.

Salindia yang saya gunakan sudah dipersiapkan di malam sebelumnya. Saya akan bercerita tentang dua topik yang sangat dekat dengan kehidupan saya sejauh ini: kesehatan dan transportasi. Beruntung, ada bekal ketika saya berkunjung ke pameran di National Science Museum di London bulan Agustus lalu. Jadi lah, judul presentasi saya – meminjam judul pameran tersebut: Our Lives in Data.

Saya mengawali cerita dari alasan awal pengumpulan data: bagaimana data membantu kita dalam mengambil keputusan dengan lebih baik di berbagai bidang. Masalahnya, di Indonesia terkadang data tersebut tidak selalu tersedia – dengan berbagai alasannya. Ketika negara lain sudah menimbang-nimbang regulasi tentang masalah privasi data, kita bahkan masih sibuk untuk mengumpulkan data yang sudah seharusnya tersedia dengan baik.

Dalam kasus transportasi publik yang saya angkat, saya mengulas bagaimana Transport for London (TfL) sudah punya pola pikir untuk mengolah data bahkan sebelum era digital! Artinya, memang sudah ada orang-orang yang mengumpulkan karcis kereta bawah tanah London untuk kemudian diturus dan dilihat polanya. Bayangkan berapa jam yang harus dihabiskan pada zaman itu.

Kembali ke masalah kesehatan, saat negara lain sudah menggunakan data genetik untuk mengembangkan obat-obatan, kita masih pusing untuk menyimpan rekam medis dengan baik. Masalah sesederhana pemberian nomor identifikasi saja masih jadi kendala, bahkan di ibukota. Saya jadi tidak terbayang bagaimana sistemnya bisa berjalan di daerah-daerah. Ini saja masih diperparah dengan banyaknya sistem yang beredar di berbagai fasyankes: karena beda tingkatan pemerintahan, beda masa kepengurusan, hingga beda jenis penyakit. Pusing!

Bulan Oktober lalu, seorang teman mengagihkan sebuah podcast ke saya. Isinya tentang estimasi korban jiwa dari kasus kebakaran hutan di tahun 2015 yang lalu oleh Harvard dan Columbia University. Angkanya cukup mengejutkan: sekitar 91.600 korban jiwa. Yang bikin garuk-garuk kepala, sebuah instansi pemerintah malah mengatakan hanya tercatat 19 korban jiwa beradasarkan laporan dari fasyankes setempat. Fantastis ya perbedaannya?

Maka, saya senang sekali mendengar cerita dari Robert bahwa sudah ada Peraturan Presiden yang disiapkan untuk mengatur masalah pengagihan data ini. Karena toh pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Keterlibatan masyarakat yang juga mempunyai keahlian dalam pengolahan data sudah barang tentu akan sangat membantu untuk pengembangan negeri ini ke depannya.

 

Bersama Tim Satu Data | Foto: Agie Nugroho

Semoga masa depan negeri ini bisa lebih baik dengan keterbukaan data!

 

Ada Apa dengan Line?

Saya suka bingung dengan orang-orang yang menjadikan Line sebagai media komunikasi utamanya. Apa enaknya sih? Dibandingkan dengan layanan pesan instan lainnya, Line terhitung berat untuk dijalankan di ponsel saya. Sudah begitu, banyak sekali notifikasi yang tidak penting, seperti iklan, misalnya.

Kalau mencari stiker, toh Telegram juga punya. Telegram bahkan lebih mudah untuk pembuatan stiker sendiri. Pun demikian dengan kemampuan untuk diakses melalui desktop atau web app. Oh, belum lagi masalah storage yang dibutuhkan – tidak masuk akal!

Dari sisi kenyamanan, yang muncul pertama di Line sekarang adalah news feed. Padahal, saya kan perlu ini untuk berkomunikasi? Tidak cukup kah ada Facebook dan Path, guys? Saya jadi hanya menggunakan Line Lite di ponsel saya untuk mengakomodasi kebutuhan beberapa orang kenalan yang memang menggunakan Line sebagai media komunikasi yang utama.

Yang saya paling heran, grup Line sudah banyak digunakan mengganti milis! Milis memungkinkan orang di luar grup tersebut untuk menyampaikan pesannya tanpa harus bergabung – tinggal dimoderasi. Nah, grup Line tidak memungkinkan ini kan? Anda kan juga perlu membedakan lingkungan profesional dan pertemanan?

Begini loh, Anda akan kesulitan untuk bisa berkorespondensi dengan orang-orang di luar Indonesia dengan menggunakan Line. Masa iya Anda mau minta akun Line-nya dulu? Belum tentu dia pakai Line juga kan? Agak aneh rasanya mendengar teman-teman saya yang pernah menemukan bahwa akun Line bahkan sudah menggantikan nomor ponsel di formulir untuk komunikasi kelompok.

Bukan berarti Anda tidak boleh pakai Line sama sekali loh. Namun, saya agak sulit mengerti mengapa Line jadi sangat menarik, terutama di kalangan anak muda zaman sekarang. Silakan digunakan, tapi ya jangan jadi terfokus pada satu media itu saja.

Apa jangan-jangan saya sudah jadi terlalu kolot?

img_20151224_115218160

Membagi Tempat Bercerita

Berapa banyak akun media sosial yang Anda punya? Facebook? Twitter? Instagram? Snapchat? Apa yang membedakan akun-akun tersebut? Jangan-jangan Anda membuat pengagihannya supaya terintegrasi – satu kali pos untuk semua?

Saya sendiri cenderung membagi-bagi tempat untuk bercerita. Untuk media sosial, saya menggunakan Facebook, Twitter, dan Instagram, dengan fungsinya masing-masing: Facebook untuk lingkungan pertemanan yang paling luas, termasuk keluarga; Twitter untuk ocehan sehari-hari yang tidak perlu diketahui terlalu banyak orang; dan Instagram yang dibuka tetapi tidak punya target khusus selain sebagai jurnal untuk perjalanan pribadi.

Kasusnya tidak begitu berbeda dengan blog. Dulu blog ini memang diniatkan untuk menampung tulisan-tulisan yang serius, yang biasanya merupakan hasil kontemplasi terhadap hal-hal yang mengusik batin. Tulisan-tulisan yang lebih ringan dulu saya simpan di Multiply – yang sekarang sudah tutup layanannya. Nah, di luar dua blog utama yang sekarang jadi tinggal satu itu, saya juga punya penampung tulisan yang sifatnya lebih personal lagi dan satu tempat yang cenderung lebih teknis di GitHub Pages.

Pembagian itu lebih karena fungsionalitas yang disediakan dari masing-masing platform sih. Di GitHub Pages, saya bisa menambahkan MathJax untuk formula matematis dan memasukkan blok kode contoh dengan lebih mudah. Dua hal tersebut sekarang juga sudah disediakan oleh WordPress sih, tetapi yang jelas, jika diperlukan, fitur yang belum ada seperti animasi yang membutuhkan script khusus pun tampaknya tidak sulit untuk diintegrasikan.

Satu blog lagi dibuat lebih personal karena memang ada hal-hal yang tidak perlu semua orang tahu, tapi tetap perlu tempat untuk “menceritakannya”. Menulis itu katanya memang mampu memberikan efek terapi, jadi ya lahirlah blog yang lebih privat tersebut. Namun, mungkin saya perlu memindahkannya menjadi jurnal yang membutuhkan pulpen dan kertas jika memang ceritanya benar-benar hanya berfokus pada hal-hal yang privat sekali ya?

Berapa banyak blog yang Anda punya?

Membuat Salindia

Dalam hidup, entah sudah berapa kali saya harus membuat salindia (slide) untuk presentasi. Mulai dari tugas semasa SMA, tugas kuliah, kebutuhan lomba, pekerjaan, hingga materi yang harus disampaikan sebagai pengajar sekarang. Seiring dengan berjalannya waktu, layaknya menulis blog, gaya pembuatan salindianya pun berubah-ubah.

Tugas SMA

Zaman SMA, beberapa mata pelajaran mengharuskan untuk membuat presentasi dengan menggunakan Microsoft PowerPoint. Untungnya, ayah saya sempat mengajari bahwa membuat salindia untuk presentasi tugas itu seharusnya tidak dengan memenuhi salindia dengan berparagraf-paragraf. Seperti namanya, PowerPoint, seyogianya isinya hanyalah poin-poin pentingnya saja.

Namun, tidak demikian halnya yang ada di kebanyakan anak SMA (mungkin sampai sekarang). Walhasil, banyak sekali saya temukan gambar-gambar yang bertebaran di mana-mana, satu-dua paragraf yang dimuat dalam satu halaman sehingga hurufnya harus diperkecil, dan warna-warna yang mencolok mata. Kita sering tidak sadar bahwa salindia ini perlu untuk bisa terbaca oleh orang lain, mungkin hingga ke bagian paling belakang kelas.

Maklum lah, zaman SMA kan masa puber, ingin berkreasi, ingin dilihat.

Kuliah

Di perkuliahan, sudah tidak banyak lagi ditemukan salindia berwarna-warni. Desainnya juga cenderung lebih kaku, karena lebih berfokus pada konten. Selain itu, beberapa templates yang disediakan oleh PowerPoint pun menjadi lebih menarik.

Di luar itu semua, mulai bermunculan orang-orang yang memang terlihat bakatnya dalam mendesain salindia. Animasi yang muncul mulai menarik yang saya sendiri kadang tidak paham bagaimana mereka bisa membuatnya. Salindianya sudah seperti film animasi pendek!

Zaman kuliah juga saya mulai mengenal Prezi sebagai alternatif untuk membuat presentasi. Karena bentuknya yang bukan berupa salindia, presentasi dengan Prezi cukup membantu orang-orang seperti saya ini yang tidak jago urusan desain. Meski begitu, pada akhirnya saya tidak terlalu sering menggunakan Prezi karena kadang jadi terlalu heboh, padahal seringnya harus berbicara dalam suasana formal.

Pekerjaan

Karena saya bekerja sebagai satu-satunya orang IT untuk waktu yang cukup lama, jadi untuk mempresentasikan aplikasi yang saya buat pun harus saya sendiri yang membuat salindianya. Berhubung di masa-masa ini saya sudah lumayan meninggalkan Windows, maka saya pun beralih ke beberapa aplikasi yang sifatnya gratis, antara lain LibreOffice, WPS Office, hingga Google Slides.

Harus saya akui, templates yang disediakan oleh LibreOffice dan WPS Office tidak semenarik yang disediakan Microsoft Office. Kecuali Anda adalah penganut mazhab hitam-di-atas-putih, tidak banyak tawaran desain yang cukup menyenangkan di mata. Berhubung saya tidak terlalu suka yang polos-polos, akhirnya cukup banyak waktu yang saya butuhkan untuk mencari templates untuk LibreOffice dan WPS Office yang memadai. Namun, bisa dibilang bahwa desain yang disediakan Google Slides masih lebih baik dibandingkan dua program tersebut.

Kuliah (lagi)

Saat berkuliah lagi di Edinburgh, saya menemukan bahwa banyak dosen-dosen saya yang menggunakan Beamer (LaTeX). Hal ini mungkin disebabkan oleh kebutuhan untuk memasukkan berbagai macam formula matematis ke dalam salindia yang dibuat. Karena pada dasarnya hal tersebut sangat dipermudah dengan adanya LaTeX, maka tak ayal Beamer pun menjadi pilihan utama.

Sekarang, sebagai pengajar saya jadi ikut-ikutan menggunakan Beamer. Cukup menyenangkan karena saya tidak perlu berpusing-pusing dengan tata letak dan desain dari salindianya. Walaupun tidak bisa memberikan animasi atau tampilan secantik PowerPoint atau bahkan Google Slides, tapi paling tidak ini sudah cukup untuk memuat materi perkuliahan. Toh, sekali lagi, yang penting adalah tulisannya bisa terbaca dengan jelas, dan tinggal bagaimana kita mempresentasikannya kan?

Aplikasi apa yang menjadi favorit Anda dalam membuat salindia?

Terutangkan

Sejak zaman kuliah, saya jadi merasa punya banyak utang. Kebebasan yang mulai dirasakan sejak hidup “sendiri” berakibat pada pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, tentang apa yang bisa saya lakukan dalam hidup. Mungkin ini juga bawaan dari institusi pendidikan ya, seolah sudah diberikan surat utang di muka, “Kamu habis lulus mau ngapain?”

Ada banyak hal menarik yang ingin saya capai semasa berkuliah dulu, terutama yang terkait kehidupan organisasi kemahasiswaan. Saat di unit, saya coba belajar mengembangkan divisi dan dewan yang belum lama hidupnya. Saya harus mengayomi belasan orang yang punya potensi bagus yang akan sangat sayang untuk disia-siakan.

Programnya?

Mimpi untuk membuat masterclass saat menjadi kepala divisi gitar dulu hingga saat ini ternyata belum terlaksana. Berhubung saya pun sudah tidak menjabat lagi, ya mungkin bukan jalannya saja untuk mengerjakan itu sendiri. Paling tidak, divisinya sendiri masih hidup sampai sekarang deh.

Pun demikian halnya dengan Dewan Perwakilan Anggota. Revisi AD/ART yang sempat ingin dikejar dan usulan penggantian logo ternyata masih berakhir sebagai wacana. Sepengetahuan saya, perjuangannya pada akhirnya sudah tidak dilanjutkan lagi.

Setelah lulus, makin banyak ide berseliweran di pikiran saya. Keinginan untuk mengerjakan berbagai penelitian kecil-kecilan, hingga mengembangkan ide produk ternyata masih jadi hal-hal yang tak lepas dari kendala. Banyak yang berakhir di papan tulis di kamar saya hingga berhari-hari, hingga kemudian saya hapus karena kesal sendiri. Terutangkan.

Keinginan saya untuk membuat kamus alay yang dapat digunakan untuk pemodelan bahasa Indonesia nyatanya sudah terutangkan selama setahun. Inisiasi yang dulu dilakukan ternyata belum begitu sukses, karena memang tidak dikelola secara serius. Belum lagi kalau membicarakan pameran interaktif yang ternyata lebih banyak lagi kendalanya.

Saya menyadari bahwa sebagian dari ide-ide tersebut mungkin memang belum perlu diwujudkan saat ini. Perlu jalan sedikit berputar untuk bisa sampai ke tujuan tersebut. Kalau kata Pandji di buku Juru Bicara, jadi orang Indonesia memang perlu street smart, bukan sekadar book smart. Hidup tidak semudah itu di negeri ini, jadi ide-ide gila itu mungkin hanya perlu disimpan dulu, untuk dibuka kembali suatu hari nanti.

Mungkin hanya perlu menunggu waktu untuk mendapatkan jawabannya.