Bertanya

Proses menulis sejatinya adalah proses pengkristalan pikiran. Hal-hal yang selama ini berkeliaran dicoba diejawantahkan menjadi sesuatu yang lebih tahan lama, yang lebih bisa menjangkau khalayak ramai. Proses menulis juga sejatinya adalah proses menjawab setiap pertanyaan yang selama ini mengusik.

Banyak tulisan saya yang muncul dari sebuah pertanyaan, dari sebuah keresahan. Pada akhirnya, pertanyaan itu akan terjawab, tapi ada juga yang tetap menjadi misteri. Semua berhulu pada, “Kenapa ya kok bisa begini?”

Sampai saat ini, saya pun masih bertanya-tanya tentang pernyataan pertanyaan — meta-tanya. “Ignorance is bliss,” katanya. “Curiosity kills the cat,” menurut mereka. Apa iya bertanya itu sedemikian “berbahaya”?

Sejarah memang mengisahkan bahwa mereka yang terlalu banyak tanya akan terkena batunya, seperti halnya Bani Israil ketika diminta menyembelih seekor sapi. Namun, di dalam kitab juga dikatakan bahwa tanda-tanda kekuasaan Tuhan itu hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang berpikir. Bagaimanalah kita akan berpikir kalau tidak ada pertanyaan yang mengawalinya — tidak ada rasa keingintahuan?

Belajar Bersyukur

Sedikit pengingat kepada diri sendiri di Minggu malam ini.

Terkadang, saya merasa bahwa akhir minggu saya membosankan sekali. Tidak banyak hal menarik yang bisa dilakukan. Mencoba membuka media sosial — mencari kabar terbaru dari teman-teman, atau menghabiskan waktu dengan mencari artikel-artikel.

Seperti yang mungkin pernah saya bilang, pikiran saya ini suka terlalu berjalan-jalan ke mana-mana. Ketika badan saya sedang diam, otak ini berjalan terus — seolah otak ini sedemikian laparnya dengan sesuatu yang menantang. Tidak mau diam, menjalar terus dan melompat-lompat dari satu pikiran ke pikiran lainnya.

Saya kemudian sempat tertegun sejenak, “Apakah saya malah jadi kurang bersyukur karena ini?”

Begini loh, ketika saya menyibukkan pikiran ini dengan pertanyaan apa yang bisa saya lakukan lagi berikutnya, orang lain mungkin pertanyaannya jauh lebih sederhana, “Dari mana lagi saya bisa makan esok hari?” Well, yeah, target itu harus selalu dipasang, tapi jangan menjadi lupa dengan apa yang telah Tuhan izinkan untuk kita gapai.

Stop comparing yourself to others.

Pertama, sadari bahwa hidup ini adalah marathon, bukan sprint. Saat ini mungkin kamu sedang kalah dari teman-temanmu, tapi bukan tidak mungkin ke depannya kamu bisa jadi yang mereka pandang tinggi kan? Kedua, meski kamu sudah lebih tinggi pada akhirnya, janganlah menjadi jumawa karenanya. Toh, semua itu selalu karena izin Tuhan kan? Ketiga, setiap orang itu punya fungsi masing-masing, jadi ditinggikannya kamu dibandingkan orang lain itu pasti punya maksud tersendiri. Pun demikian halnya dengan dijadikannya kamu lebih rendah dari orang lain.

Maafkan kalau tulisan ini terlalu lompat-lompat. Yah, begitulah kerja otak ini. Tiba-tiba teringat ini, ingin segera ditulis. Tiba-tiba teringat itu, ingin segera dikerjakan. Terlalu impulsif memang.

Yah, semoga saja masih bisa dipetik sarinya dari sekelumit racauan malam hari ini.

Menuju Malam

Malam

Saya ingin menulis sesuatu sebenarnya, tetapi entah mengapa sedang agak buntu. Kalau lagi ingin begini, biasanya idenya menguap ke mana-mana. Giliran sedang senggang, pikiran rasanya tidak berhenti mengganggu — ada saja yang memaksa segera ditulis.

Mungkin ini ada sedikit faktor kelelahan. Saya baru saja pulang dari Bandung, dan itu menghabiskan waktu sekitar 4 jam di jalan! Ditambah lagi, saya masih harus menunggu di pool karena rumah saya saat itu sedang kosong. Akhirnya, saya yang baru benar-benar sampai rumah sekitar pukul 10 malam tadi. Padahal, saya berangkat dari Bandung sekitar pukul 14.45!

Saya sebenarnya juga sedang ingin ngoding. Ada beberapa hal yang mesti diselesaikan dalam waktu dekat. Namun, saat menulis ini saja kesadaran saya sudah berkurang setengahnya. Maklum, saya bukan orang yang terbiasa tidur terlalu malam sebenarnya. Cuaca juga nampaknya mendukung sekali untuk segera meringkuk di balik selimut.

Well, selamat beristirahat semua. :)

Predictably Irrational

Katanya, sakit hati mampu membuat seseorang menjadi seorang pujangga. Perkataan itu memang ada benarnya. Karena cinta sejatinya adalah sebuah perasaan yang amat sederhana. Sesuatu yang semua orang bisa mengalaminya, dalam berbagai bentuknya.

Saya jadi teringat kata-kata Sting dalam salah satu konsernya, kurang lebih seperti ini,

Dalam membuat lagu itu, kalau ceritanya “saya cinta kamu, dan kamu cinta saya”, itu akan jadi membosankan. Saat ceritanya jadi “I love you, but you love somebody else,” now, that’s interesting.

Salah seorang dosen Apresiasi Sastra dulu juga mengungkapkan sesuatu yang senada. Mungkin itu sebabnya kebanyakan buku di luar sana, terutama mungkin teenlit, lebih banyak membahas permasalahan yang luar biasa kompleks ini.

***

Bagi orang seperti saya, yang terlalu sering mengedepankan logika dan struktur — pekerjaan menuntut saya berpikir sepert itu, hal yang bernama cinta ini menjadi sesuatu yang luar biasa aneh. Ada masanya ketika cost-benefit analysis menjadi tidak berlaku — atau harus dikesampingkan. Lonjakan-lonjakan emosi yang terjadi acap kali bukanlah sesuatu yang mesti dipahami, melainkan hanya perlu dirasakan.

I’ve tried so many times to regain my sanity when love struck in. But, then I failed miserably in love.

Cinta itu irasional dan tak jarang memang membuat kita bertindak seperti itu. Banyak sekali yang akan kita lakukan hanya atas nama cinta. Mengapa? Hanya karena kita senang melakukannya! Dari sekian irasionalitas itu, mungkin hanya satu hal yang bisa dipahami,

You can’t hurry love. No, you just have to wait.

Sendiri

Sepotong Hati yang Baru

Alkisah, aku sedang dirundung pilu. Gundah gulana. Gelisah tak menentu. Menanti seseorang untuk memadu kasih. Berbagi cerita, berbagi rasa.

Di tengah kegelisahan itu, berceritalah daku kepada seorang teman, sebut saja N. Tahu bahwa aku sedang berselimut duka, dengan segumpal niat baik, N mencoba mencarikan beberapa temannya untuk dikenalkan kepadaku. Namun, semua yang dipilihkannya tak kunjung mengena di hati.

Sampai pada suatu ketika, terkirimlah sebuah foto yang menggambarkan seorang wanita. Hatiku langsung terusik. Wanita ini menarik. Hatta, kusetujui untuk dikenalkan dengannya.

Tak disangka, tak dinyana, belum berkenalan saja saya sudah ditolak. Tahu alasannya?

Wanita ini ternyata tidak suka pria berkumis.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Baru sekali ini ditolak karena alasan berkumis. Hatiku hancur.

Belakangan, aku kemudian tahu bahwa wanita ini ternyata sedang dekat dengan orang lain juga (meski N bercerita bahwa wanita itu belum lama putus). Jadi, mungkin itu cuma alasan yang dibuat-buat saja. Tidak benar-benar serius.

***

Hari berganti, bulan pun sempat memerah karena malu. Ia bersembunyi di balik bayang-bayang. Dan di suatu hari yang baik, bak petir di siang bolong, tiba-tiba C bercerita kepadaku, “Eh, tahu enggak si anu, yang waktu itu mau aku kenalkan? Dia sudah mau dilamar loh.”

Aku tergugu.

Pencarian panjangku, proses menyusun kepingan hati yang belum lama patah ini ternyata harus berakhir bak serpihan, membuatnya lebih sulit direkatkan kembali. Mana sepotong hati yang baru yang kau janjikan itu?

Namun, ternyata ceritanya tidak berakhir sampai di sini. N ternyata lebih jahat daripada yang kuduga.

***

Kemarin, aku sedang berkeliling rumah sakit di Jakarta. Salah satu bagian dari pekerjaanku yang sekarang adalah untuk mengumpulkan data di beberapa rumah sakit mitra. Nah, ketika tinggal tersisa satu rumah sakit lagi untuk disambangi, ponselku berbunyi — nampaknya ada notifikasi dari WhatsApp. Aku mencoba mencari tempat yang nyaman sejenak, sekalian aku beristirahat. Lalu, aku membaca pesan yang tertulis di layar.

N: “Ali”

N: “Aku anaknya jahat ini”

N: “Tapi aku akan tetap nanya haha”

N: “Kamu kalo dihire jd fotografer mau ngga?”

Sejauh ini, aku tidak merasakan ada yang aneh. “Dikasih kerjaan sebagai fotografer kok malah jahat?” pikirku waktu itu. Lagipula, aku memang sedang memerlukan pemasukan tambahan.

Pertanyaan pertamaku adalah, “Fotografer apaan?” dan “Dibayar ga?” Sama sekali tidak ada pikiran jelek mengenai tawaran ini. Aku malah bingung. Aku ini bukan fotografer profesional, kok bisa ada tawaran seperti ini?

N: “Dibayar, tapi dia ngga pernah hire orang gitu jd dia bingung juga”

N: “Kalo kamu udah pernah ya kamu kasih perkiraan harga”

N: “Nah aku kan anaknya jahat”

Aku tidak tahu harus merespon apa sampai di sini. Hingga N menulis…

“Fotografer lamarannya si anu…….”

Ya, si anu yang tadinya mau dikenalkan N kepadaku, sekarang sudah benar-benar mau dilamar. Hebatnya lagi, N sendiri yang meminta aku untuk menjadi fotografernya. Luar biasa sekali bukan? Sudah lah tidak jadi dikenalkan, giliran akan dipertemukan, malah harus menjadi saksi bagi suatu peristiwa sakral yang mengunci semua harapan itu.

“Emang ga nyari yg profesional aja? Kameraku cupu. Nnt dia kecewa.” ungkapku.

“Sama kayak aku kecewa sama kamu, N.”

***

Dengan berat hati, akhirnya tawaran itu aku terima. Beginilah rasanya menjadi jomlo ibukota yang kondisi keuangannya sedang pas-pasan. Nah, sebagai pelengkap dari sejumlah uang yang dijanjikan, si anu juga harus mengenalkan aku dengan teman dokternya yang lain. MUAHAHAHA. Yah, hitung-hitung sebagai ongkos sakit hati.

Namun, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa memulihkan kepercayaan ini kepada N.

Escape the Room

Saya suka dibilang terlalu serius. Mainan saja seringnya dipilih yang berbentuk strategi atau puzzle. Salah satu favorit saya dulu (meski pun saya cupu memainkannya) adalah puzzle dengan tipe “Escape the Room”.

Jadi, permainan tersebut mengharuskan kita mengobservasi ruangan untuk memecahkan beberapa teka-teki kecil untuk mendapatkan barang-barang yang dapat digunakan untuk keluar dari sebuah ruangan terkunci. Karena tujuan utamanya hanya seperti itu, maka variasi dari permainan ini pun sangat banyak. Teka-teki kecilnya bisa dibuat bermacam-macam, dari kode angka, kode huruf, kode warna, hingga sandi morse atau permainan suara.

Nah, kebetulan, hari ini saya dan teman-teman dari Soul of Campus sedang kurang kerjaan. Walhasil, jadilah kita berkumpul untuk memainkan “Escape the Room” secara riil di suatu tempat di Kemang. Ada beberapa tingkat kesulitan yang bisa dijalani. Namun, dengan jumawa, kami langsung memilih yang paling susah

…dan kami kena batunya.

Dari kira-kira tiga ruangan yang ada dalam satu rangkaian permainan, kami hanya sampai di ruangan kedua. Waktu 60 menit yang disediakan untuk menyelesaikan teka-teki yang ada ternyata tidak berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh kami berlima. Yah, walaupun sebenarnya saya sedikit kesal karena salah satu teka-teki yang diberikan ternyata punya kesalahan sehingga agak tidak mungkin diselesaikan. Tapi kami juga melakukan kesalahan di teka-teki yang lainnya sehingga membuang sumber daya yang katanya akan terpakai nantinya. :mrgreen:

Well, anyway, ini adalah sebuah pengalaman yang menarik. Sedikit hiburan yang menyenangkan untuk dilakukan bersama teman atau keluarga di tengah kepenatan rutinitas ibukota. Bagi yang tertarik, silakan lihat di The Escape Hunt atau Agent X Indonesia.

Harganya sih lumayan, bisa menghabiskan sekitar 150-200 ribu per orang. Jadi, kalau ingin mencoba-coba, mungkin ada baiknya melihat-lihat yang versi online dari permainan sejenis dulu. Salah satu yang secara visual paling menarik dan interaksinya seru menurut saya yang ini. Nah, silakan mencoba dan ingatlah bahwa practice makes perfect.

Selamat bermain!