Membuat Salindia

Dalam hidup, entah sudah berapa kali saya harus membuat salindia (slide) untuk presentasi. Mulai dari tugas semasa SMA, tugas kuliah, kebutuhan lomba, pekerjaan, hingga materi yang harus disampaikan sebagai pengajar sekarang. Seiring dengan berjalannya waktu, layaknya menulis blog, gaya pembuatan salindianya pun berubah-ubah.

Tugas SMA

Zaman SMA, beberapa mata pelajaran mengharuskan untuk membuat presentasi dengan menggunakan Microsoft PowerPoint. Untungnya, ayah saya sempat mengajari bahwa membuat salindia untuk presentasi tugas itu seharusnya tidak dengan memenuhi salindia dengan berparagraf-paragraf. Seperti namanya, PowerPoint, seyogianya isinya hanyalah poin-poin pentingnya saja.

Namun, tidak demikian halnya yang ada di kebanyakan anak SMA (mungkin sampai sekarang). Walhasil, banyak sekali saya temukan gambar-gambar yang bertebaran di mana-mana, satu-dua paragraf yang dimuat dalam satu halaman sehingga hurufnya harus diperkecil, dan warna-warna yang mencolok mata. Kita sering tidak sadar bahwa salindia ini perlu untuk bisa terbaca oleh orang lain, mungkin hingga ke bagian paling belakang kelas.

Maklum lah, zaman SMA kan masa puber, ingin berkreasi, ingin dilihat.

Kuliah

Di perkuliahan, sudah tidak banyak lagi ditemukan salindia berwarna-warni. Desainnya juga cenderung lebih kaku, karena lebih berfokus pada konten. Selain itu, beberapa templates yang disediakan oleh PowerPoint pun menjadi lebih menarik.

Di luar itu semua, mulai bermunculan orang-orang yang memang terlihat bakatnya dalam mendesain salindia. Animasi yang muncul mulai menarik yang saya sendiri kadang tidak paham bagaimana mereka bisa membuatnya. Salindianya sudah seperti film animasi pendek!

Zaman kuliah juga saya mulai mengenal Prezi sebagai alternatif untuk membuat presentasi. Karena bentuknya yang bukan berupa salindia, presentasi dengan Prezi cukup membantu orang-orang seperti saya ini yang tidak jago urusan desain. Meski begitu, pada akhirnya saya tidak terlalu sering menggunakan Prezi karena kadang jadi terlalu heboh, padahal seringnya harus berbicara dalam suasana formal.

Pekerjaan

Karena saya bekerja sebagai satu-satunya orang IT untuk waktu yang cukup lama, jadi untuk mempresentasikan aplikasi yang saya buat pun harus saya sendiri yang membuat salindianya. Berhubung di masa-masa ini saya sudah lumayan meninggalkan Windows, maka saya pun beralih ke beberapa aplikasi yang sifatnya gratis, antara lain LibreOffice, WPS Office, hingga Google Slides.

Harus saya akui, templates yang disediakan oleh LibreOffice dan WPS Office tidak semenarik yang disediakan Microsoft Office. Kecuali Anda adalah penganut mazhab hitam-di-atas-putih, tidak banyak tawaran desain yang cukup menyenangkan di mata. Berhubung saya tidak terlalu suka yang polos-polos, akhirnya cukup banyak waktu yang saya butuhkan untuk mencari templates untuk LibreOffice dan WPS Office yang memadai. Namun, bisa dibilang bahwa desain yang disediakan Google Slides masih lebih baik dibandingkan dua program tersebut.

Kuliah (lagi)

Saat berkuliah lagi di Edinburgh, saya menemukan bahwa banyak dosen-dosen saya yang menggunakan Beamer (LaTeX). Hal ini mungkin disebabkan oleh kebutuhan untuk memasukkan berbagai macam formula matematis ke dalam salindia yang dibuat. Karena pada dasarnya hal tersebut sangat dipermudah dengan adanya LaTeX, maka tak ayal Beamer pun menjadi pilihan utama.

Sekarang, sebagai pengajar saya jadi ikut-ikutan menggunakan Beamer. Cukup menyenangkan karena saya tidak perlu berpusing-pusing dengan tata letak dan desain dari salindianya. Walaupun tidak bisa memberikan animasi atau tampilan secantik PowerPoint atau bahkan Google Slides, tapi paling tidak ini sudah cukup untuk memuat materi perkuliahan. Toh, sekali lagi, yang penting adalah tulisannya bisa terbaca dengan jelas, dan tinggal bagaimana kita mempresentasikannya kan?

Aplikasi apa yang menjadi favorit Anda dalam membuat salindia?

Terutangkan

Sejak zaman kuliah, saya jadi merasa punya banyak utang. Kebebasan yang mulai dirasakan sejak hidup “sendiri” berakibat pada pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, tentang apa yang bisa saya lakukan dalam hidup. Mungkin ini juga bawaan dari institusi pendidikan ya, seolah sudah diberikan surat utang di muka, “Kamu habis lulus mau ngapain?”

Ada banyak hal menarik yang ingin saya capai semasa berkuliah dulu, terutama yang terkait kehidupan organisasi kemahasiswaan. Saat di unit, saya coba belajar mengembangkan divisi dan dewan yang belum lama hidupnya. Saya harus mengayomi belasan orang yang punya potensi bagus yang akan sangat sayang untuk disia-siakan.

Programnya?

Mimpi untuk membuat masterclass saat menjadi kepala divisi gitar dulu hingga saat ini ternyata belum terlaksana. Berhubung saya pun sudah tidak menjabat lagi, ya mungkin bukan jalannya saja untuk mengerjakan itu sendiri. Paling tidak, divisinya sendiri masih hidup sampai sekarang deh.

Pun demikian halnya dengan Dewan Perwakilan Anggota. Revisi AD/ART yang sempat ingin dikejar dan usulan penggantian logo ternyata masih berakhir sebagai wacana. Sepengetahuan saya, perjuangannya pada akhirnya sudah tidak dilanjutkan lagi.

Setelah lulus, makin banyak ide berseliweran di pikiran saya. Keinginan untuk mengerjakan berbagai penelitian kecil-kecilan, hingga mengembangkan ide produk ternyata masih jadi hal-hal yang tak lepas dari kendala. Banyak yang berakhir di papan tulis di kamar saya hingga berhari-hari, hingga kemudian saya hapus karena kesal sendiri. Terutangkan.

Keinginan saya untuk membuat kamus alay yang dapat digunakan untuk pemodelan bahasa Indonesia nyatanya sudah terutangkan selama setahun. Inisiasi yang dulu dilakukan ternyata belum begitu sukses, karena memang tidak dikelola secara serius. Belum lagi kalau membicarakan pameran interaktif yang ternyata lebih banyak lagi kendalanya.

Saya menyadari bahwa sebagian dari ide-ide tersebut mungkin memang belum perlu diwujudkan saat ini. Perlu jalan sedikit berputar untuk bisa sampai ke tujuan tersebut. Kalau kata Pandji di buku Juru Bicara, jadi orang Indonesia memang perlu street smart, bukan sekadar book smart. Hidup tidak semudah itu di negeri ini, jadi ide-ide gila itu mungkin hanya perlu disimpan dulu, untuk dibuka kembali suatu hari nanti.

Mungkin hanya perlu menunggu waktu untuk mendapatkan jawabannya.

img_20160204_110042495

Kecepatan Membaca

Dalam sebulan ini, ada dua buku yang sudah saya habiskan. Keduanya adalah buku dari Maman Suherman yang juga sempat saya bahas di pos ini. Yang saya heran, buku-buku semacam ini bisa cepat sekali saya habiskan, hitungan hari saja! Padahal, beberapa buku yang lain membutuhkan hitungan minggu bahkan bulan untuk dikhatamkan. Kenapa ya?

Dugaan #1: Bahasa

Kasus seperti ini sebenarnya bukan yang pertama, karena saat membaca buku-buku lain yang berbahasa Indonesia, rasanya memang kecepatan membaca saya agak meningkat. Mungkin ini wajar saja, karena toh bahasa ibu saya memang bahasa Indonesia. Berhubung novel juga biasanya dibuat menggunakan bahasa yang tidak terlalu sulit, jadi kelihatannya dugaan ini masuk akal.

Asumsi ini juga menjelaskan kesulitan menghabiskan buku ini dengan cepat. Bisa jadi karena buku tersebut merupakan buku terjemahan, jadi perlu waktu untuk mencerna beberapa kalimatnya. Tentu ada istilah atau frasa yang sulit sekali untuk diterjemahkan tanpa menghilangkan makna aslinya sehingga terpaksa diterjemahkan lebih panjang.

Dugaan #2: Tata Letak dan Ukuran

Setuju tidak kalau saya katakan bahwa buku-buku berbahasa Indonesia didesain lebih besar secara ukuran huruf dan dimensi buku itu sendiri? Ini juga menyebabkan beberapa buku jadi terlihat lebih tebal, tetapi sebenarnya cukup tipis jika menggunakan standar mass market paperback. Banyaknya “hiasan” dan tata letak di tiap pemisah bab juga membuat beberapa buku jadi terlihat lebih tebal.

Secara jumlah halaman, memang buku-buku yang saya baca di bulan ini cenderung lebih tipis, hanya sekitar 100-an halaman. Nah, sekarang saya sedang mencoba membandingkan dengan roman yang tebalnya sekitar 400-an halaman. Apakah waktu yang dibutuhkan akan sebanding?

Dugaan #3: Konten

Jika ditilik dari isinya, buku-buku yang cenderung cepat saya habiskan biasanya memang yang sifatnya bacaan ringan saja. Tidak perlu fokus yang tinggi untuk membaca buku seperti ini. Ini juga membuat pikiran saya pun tidak perlu melayang ke mana-mana – yang menyebabkan saya harus mengulang lagi beberapa paragraf yang telah lalu.

Beda halnya dengan buku yang “berat”. Kecuali dia benar-benar menarik karena mengusik pikiran, biasanya buku-buku tersebut membutuhkan waktu yang dikhususkan untuk mencicilnya. Waktu commuting biasanya jadi kesempatan prima untuk menghabiskan buku semacam ini. Terkadang, ketika sudah kesulitan menghubungkan kasus yang terjadi di sekitar saya dengan isi dari buku, saya bisa kehilangan keinginan untuk menghabiskannya, contohnya buku The Hard Thing About Hard Things.

Simpulan

Mungkin juga sebenarnya masalahnya hanyalah saya yang kurang terbiasa membaca buku. Kecenderungan untuk memilih artikel-artikel membuat saya kurang bisa berfokus dan tahan dalam membaca buku yang agak “berat” dan panjang. Padahal, ada juga teman-teman yang bisa menghabiskan buku-buku berat hanya dalam waktu sehari(!)

Ada juga yang saking sukanya membaca, sampai buku yang ada dalam video games pun dibaca! Jadi, tentu dia tidak masalah ketika harus menghadapi buku yang “serius”, maupun yang “tidak serius”. Alah bisa karena biasa.

Bagaimana kebiasaan Anda dalam membaca buku?

Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb

Gara-gara menonton video wawancara Kang Soleh Solihun dengan Kang Maman di akhir pekan lalu, saya jadi teringat kembali bahwa buku Kang Maman sempat saya masukkan ke dalam daftar buku yang ingin saya baca. Saya lupa pertama kali menemukan buku itu kenapa, tapi rasa-rasanya juga karena tertarik dengan cerita-cerita Kang Maman dalam beberapa kali kesempatan saya melihat beliau di layar kaca. Sayangnya, buku berjudul Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb itu ternyata sudah tidak dijual dalam bentuk cetak lagi.

Setelah melakukan pencarian, akhirnya saya menemukan bahwa buku tersebut dijual melalui aplikasi Scoop. Langsung saja saya membeli buku itu, terlebih karena bayarannya bisa dilakukan menggunakan Mandiri e-Cash. Tak sampai 5 menit, buku pun sudah terunduh di ponsel saya.

***

Seperti subjudulnya, buku ini banyak bercerita tentang kisah gelap di dunia yang terlihat penuh gemerlap. Mulai dari seleb karbitan, popularitas yang dikejar dengan seolah berbuat baik, hingga kelakuan para pesohor yang membuat geleng-geleng kepala. Bokis-bokisnya
orang-orang yang tak jauh dari sorotan kamera dan tulisan para wartawan tersebut diceritakan dari sisi yang berbeda, yang jarang diketahui publik sebelumnya. Ternyata, kisahnya bisa semengejutkan itu!

Membaca buku ini juga seolah-olah sedang mendengarkan Kang Maman langsung bercerita dengan gaya khasnya. Diksi yang sederhana justru membuat buku ini menjadi ringan tetapi tetap menggelitik. Cerita yang menarik pada akhirnya memang bisa mengalahkan kisah sederhana yang ditulis dengan kata-kata yang berbunga-bunga.

Nah, gosip apa yang Anda dapatkan hari ini?

The Soleh Solihun Interview

Pagi ini saat mencoba random walking di YouTube untuk mencari tontonan menarik, saya sampai ke kanal buatan Soleh Solihun, seorang stand up comedian atau komika yang sempat menjadi wartawan musik di majalah Rolling Stones. Di kanal tersebut, yang diwawancarai adalah para selebritis yang sebagian besarnya juga diisi oleh komika atau komedian juga. Sebut saja Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, Ernest Prakasa, hingga Boris Bokir dan Mongol.

Karena memang dasarnya adalah wartawan, pertanyaan yang dimunculkan Soleh Solihun cukup menggelitik dan membuka wawasan terhadap sisi yang mungkin jarang diliput oleh media mainstream. Salah satu pertanyaan ke Raditya Dika, misalnya, yang difokuskan ke kesukaannya mendengar dan bermain musik jazz yang ternyata juga mempengaruhi cara-caranya dalam berkarya. Di balik materinya yang cenderung sederhana buat banyak orang, teori dan teknis sebenarnya merupakan hal-hal yang sangat diperhatikan oleh Raditya Dika dalam membuat karyanya. Ini terlihat dalam bagaimana dia menikmati musik jazz.

Di video yang lain, Soleh yang juga sempat menjadi penyiar radio ini juga mengulas bagaimana Komeng memandang peranan bakat dalam berkarya. Di samping itu, diungkap pula “rahasia” spontanitas dan kejituan Komeng dalam mengeluarkan celetukan-celetukan segar. Dalam durasi sekitar 11 menit, sejarah dan perjalanan karier Komeng bisa dibuat seolah menjadi sebuah narasi yang mengalir.

Namun, salah satu favorit saya tetaplah wawancara dengan Maman Suherman. Mulai dari cerita di balik plontosnya mantan pimpinan redaksi Kompas Gramedia ini, hingga pandangan mengenai minat baca dan menulis yang masih sangat kurang di Indonesia dibahas dengan sangat menarik dan berbobot. Saking serunya, video ini menjadi terasa sangat singkat – membuat ketagihan! Padahal, tak kurang dari 23 menit dihabiskan dalam rekaman yang hanya dilakukan menggunakan kamera ponsel ini.

Apa hiburan Anda di akhir pekan ini?

Mencari Tempat Bekerja (Lagi)

Sebagai tindak lanjut dari pos kemarin, saya mencoba alternatif yang sebetulnya tidak saya cantumkan pada pos tersebut: perpustakaan. Gratis, nyaman, ada lokernya, kurang enak apa lagi toh? Semuanya seharusnya tersedia di perpustakaan.

Begitu harapannya.

Kenyataannya, perpustakaan pertama di bilangan Cipete Selatan yang saya datangi sore kemarin sudah tutup secara permanen, entah apa alasannya. Fotonya padahal terlihat menyenangkan, tetapi apa daya semua itu tinggal angan-angan. Apakah tidak cukup baik sebagai bisnis? Kurang tahu juga saya.

Ke Perpustakaan Lagi

Hari ini, saya mencoba mendatangi perpustakaan umum daerah Jakarta di bilangan Kuningan. Dulu sih ada teman saya yang jadi pengunjung rutin tempat ini, karena konon kabarnya memang cukup nyaman. Namun, apa daya, saat saya membuat tulisan ini, akses internet hanya dibatasi kepada anggota, pendingin ruangan sedang dalam perbaikan, dan lift yang harus ditunggu lama sekali. Belum lagi suasana kelam di koridor yang membuat orang segan mendatanginya.

Well, enggak juga sih.

Justru hari ini ada banyak yang datang, dan itu malah membuat ruang utama perpustakaan menjadi berisik. Seharusnya sih, ini adalah ruang baca, jadi tidak akan seberisik itu. Namun, realita berkata lain.

Perbandingan dengan di Luar Negeri

Kalau sudah begini, saya jadi sadar bahwa perpustakaan yang bagus seperti di luar negeri itu adalah sebuah kenikmatan. Tidak jarang orang-orang sampai menginap di perpustakaan sekadar untuk mengerjakan tugas yang tenggatnya sudah dekat. Ruang diskusi pun disediakan untuk yang perlu bekerja secara berkelompok. Di mana kira-kira di Indonesia yang menyediakan perpustakaan yang seperti itu coba?

Agak tidak adil juga kalau menceritakan yang jelek-jeleknya saja tentang perpustakaan di sini. Kalau saja pendingin ruangannya bekerja normal, mungkin ruangannya akan jadi lebih nyaman. Selain itu, di sini juga sudah punya mesin yang dapat membantu pengembalian buku secara mandiri seperti di luar kok. Ditambah lagi, meski akses internet untuk umum dibuat terbatas, paling tidak mereka masih menyediakan tablet yang dapat digunakan untuk berselancar di internet selama beberapa lama.

Apakah Anda masih sering ke perpustakaan?

 

Bekerja dari Kafe

Mencari Tempat Bekerja

Impian saya dulu – bahkan sebelum mulai kuliah – adalah bisa bekerja dari rumah. Seharusnya dengan begitu bisa jadi lebih mudah untuk berinteraksi dengan keluarga dan bisa mengatur sendiri waktu kerjanya. Namun, kenyataannya menunjukkan bahwa tidak semudah itu untuk jadi produktif di rumah.

Berada di rumah membuat kelembaman saya jadi lebih tinggi, bawaannya ingin yang ringan-ringan saja. Menonton video di YouTube atau membuka newsfeed di Facebook menjadi jauh lebih menarik dibandingkan membaca buku teks kuliah maupun ngoding. Rasanya, ini juga yang menyebabkan akhir minggu saya sering terasa tidak produktif. Kalau ini terjadi setiap hari bisa repot kan?

Saya ternyata harus mengondisikan bahwa saya mau kerja, jadi minimal berpindah tempat dari rumah. Masalahnya, saat ini bisnis yang sedang saya jalani bersama teman-teman berpusat di Bandung sehingga praktis saya tidak punya kantor di Jakarta. Walhasil, sulit bagi saya untuk bisa mencari tempat yang nyaman untuk bekerja.

Sudah sekitar sebulan ini saya mencoba bekerja dari satu kafe ke kafe lainnya, dan tentu dari satu mal ke mal lainnya. Bekerja sendirian di kafe itu sebetulnya enak karena jarang ada gangguan dari luar, kecuali obrolan “tetangga” yang kadang terlalu ribut dan “menarik” untuk dilewatkan. 😀 Ditambah lagi, bekerja dari kafe sering menjadi tidak nyaman karena saya tidak bisa meninggalkan barang-barang sewaktu-waktu, saat ingin ke toilet, misalnya. Sementara, saya ini memang orangnya gampang kebelet kalau minum terlalu banyak.

Sebetulnya ada pilihan yang lebih baik, yaitu coworking space. Setelah dihitung-hitung, menyewa tempat bekerja seperti ini juga bisa jadi lebih murah dibandingkan harus berpindah-pindah kafe. Plus, coworking space biasanya menyediakan loker sehingga barang-barang saya bisa ditinggal dengan aman. Walakin, rasanya agak salah ketika pembayaran sewa yang dilakukan di muka untuk sebulan tidak dimanfaatkan secara penuh. Ya, ini karena saya juga masih perlu bolak-balik ke Bandung sewaktu-waktu. Yang jelas saya memang harus menghitung dengan lebih baik mana yang secara ongkos akan jadi lebih mahal.

Nah, tempat bekerja seperti apa yang menjadi favorit Anda?