Pohon

Belajar dari Pohon

Faktanya, banyak sekali hal yang bisa kita pelajari dari hidup. Masalahnya tinggal kita mau membuka mata lebih lebar ntuk itu atau tidak. Mau tidak belajar dari hal-hal yang mungkin selama ini kita anggap remeh di sekeliling kita.

Hari ini, saya belajar lagi dari sebuah artikel yang selalu menarik perhatian saya di koran Kompas edisi hari Minggu. Di kolom Parodi, Samuel Mulia sering membicarakan tentang nuraninya yang sering mengusik kesehariannya. Dan kali ini, nuraninya berbisik untuk memperhatikan pelajaran dari sebatang pohon.

Kalau diperhatikan, kok bisa ya pohon itu tetap berdiri kokoh meski diterpa panas maupun hujan? Padahal, kalau kita dihadapi dengan hal yang sama, mungkin kita sudah misuh-misuh duluan. Tapi, itulah intinya, mungkin begitu seharusnya kita menjalani hidup. Panas itu dijadikan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan cadangan makanan, membantu kita tetap hidup. Dan ketika hujan datang, kita mungkin hanya perlu untuk meliuk bersama angin yang datang bersamanya, tidak menjadi kaku lalu patah. Hujan pun mungkin menyebabkan satu-dua ranting kita patah, tapi perhatikanlah bahwa mungkin itu adalah dahan-dahan tua, yang memang sudah waktunya untuk berganti dengan yang baru — yang lebih kokoh.

Di situ letak bedanya kita dan pohon. Pohon bersikap seperti itu mungkin hanya karena sudah kodratnya seperti itu, mengikuti apa yang seharusnya terjadi. Sedangkan kita, manusia, punya kebebasan yang diberikan Tuhan untuk memilih jalan kita sendiri — memilih cara kita menyikapi hidup. Kalau kita salah, mungkin saja “patah” adalah konsekuensi dari pilihan kita. Namun, kebahagiaan yang dapat kita rasakan ketika berhasil bersikap benar tentu merupakan berkah yang teramat besar.

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. – QS. 13:4

Sekilas Tentang Parung Panjang

Di akhir tahun yang lalu, saya menyempatkan untuk pergi seorang diri ke Parung Panjang. Niatnya untuk menindaklanjuti beberapa hal yang kami (tim Leadership Project dari awardee BPRI) titipkan pada kunjungan kami sebelumnya. Karena sendirian, akan lebih mudah bagi saya untuk menggunakan commuter line dari Stasiun Kebayoran.

Tidak sampai satu jam waktu yang dibutuhkan dari Stasiun Kebayoran menuju Stasiun Parung Panjang. Ditambah dengan waktu tempuh menuju SD Negeri 04 Babakan dengan ojek membuat saya menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam untuk bertemu dengan Bu Uun (baca pos ini untuk cerita lebih lengkap tentang siapa Bu Uun). Jarak dari stasiun menuju SD Negeri 04 Babakan mungkin tidak jauh, tetapi buruknya kondisi jalan raya menuju tempat tersebut tak pelak menjadi kendala utama transportasi.

SD yang saya datangi kala itu bukanlah SD yang menjadi ‘objek’ dari proyek kepemimpinan kami. Akan tetapi, melihat kondisi sekolah tersebut membuat saya menyadari bahwa masih banyak bagian-bagian dari daerah Bogor Barat ini yang terbengkalai, terutama di bagian fasilitas umumnya. Beruntunglah ada orang-orang seperti Bu Uun yang masih mau meluangkan waktunya untuk menyisir setiap dusun yang ada untuk menemukan dan menanggulangi kasus-kasus seperti ini.

Foto di atas diambil di SD yang sama pada waktu yang sama. Bagian sekolah yang bagus dan ramai tersebut merupakan perwujudan CSR dari salah satu grup yang dikelola oleh istri dari Pak Dahlan Iskan, sedangkan bagian yang terlihat jauh dari selesai tersebut merupakan pekerjaan pemerintah. Kesan yang ditimbulkan dari kasus ini adalah pemda masih sangat lalai terhadap pekerjaannya. Bukti di lapangan yang menunjukkan seperti itu.

Kondisi kesehatan masyarakat pun masih membuat miris. Dengan belasan bahkan puluhan gizi buruk dan lebih banyak lagi kasus gizi kurang, Parung Panjang jelas butuh bantuan. Seperti halnya jalan dan sekolah, fasilitas kesehatan juga sangat memerlukan perhatian pemerintah. Bayangkan, warga dusun Cilejet harus menempuh jalan sekitar 10 km untuk mencapai Puskesmas Tenjo — fasilitas pelayanan kesehatan terdekat setelah pustu (puskesmas pembantu) yang kondisinya sudah mengkhawatirkan.

Jarak dan waktu tempuh St. Tenjo - St. Cilejet

Jarak dan waktu tempuh St. Tenjo – St. Cilejet

Dengan kondisi jalan yang seperti sekarang, waktu tempuh yang diperkirakan oleh Google Maps rasanya sudah tidak tepat. Bisa jadi, waktu tempuhnya adalah 2-3 kali lipatnya.

Alhamdulillah, bantuan tak kunjung berhenti datang ke Parung Panjang. Terakhir saya dengar ada bantuan untuk akses fasilitas air bersih dari Daarut Tauhid. Di samping itu, rasanya saya dengar beberapa kali dari Dompet Dhuafa memberikan bantuan ke daerah yang berbatasan dengan Banten ini.

Semoga yang mereka yang diberi amanah oleh rakyat bisa benar-benar melihat langsung ke daerah ini.

Buku Baru

Waktu Membaca

Di era yang serba sibuk seperti sekarang, membaca buku itu sering jadi sesuatu yang sulit untuk dirutinkan. Berbeda dengan orang yang sudah terbiasa membaca buku sejak lama, orang-orang yang baru mau membiasakan hal ini cenderung kesulitan karena banyaknya pilihan lain selain membaca buku. Menonton serial, menonton TV, atau menggulung layar ponsel untuk berinteraksi di media sosial adalah pilihan-pilihan lain yang sangat menggoda dibandingkan membaca.

Lucu juga, adik saya ternyata punya pertanyaan yang sama seperti saya. Namun, untungnya saya punya beberapa alternatif untuk menyelesaikan masalah ini. Pilihan pertama saya adalah membaca sebelum tidur. Kebiasaan ini pernah saya coba ketika masih SMP dulu. Adalah buku Harry Potter jilid 5 yang pertama kali saya habiskan dengan cara ini. Waktu itu, perlu beberapa minggu sampai buku setebal 870 halaman ini.

Sekarang, waktunya bisa dipotong lebih banyak sih, karena saya bisa lebih banyak menghabiskan halaman sekarang. Akan tetapi, saya punya alternatif lain pula sekarang untuk menghabiskan buku. TransJakarta, kereta api, atau pun ketika berada di travel merupakan waktu-waktu menghabiskan buku yang paling tenang. Tidak akan ada gangguan berarti selama kondisi jalannya juga bersahabat.

Yang jelas, memang perlu disempatkan untuk menghabiskan tumpukan buku ini. Kalau sudah disempatkan sih, harusnya tidak ada kendala berarti, apalagi kalau bukunya memang menarik. Membaca memang harus dibiasakan.

Selamat membaca!

Martabak

Martabak

Siapa yang tidak suka makan martabak? Baik martabak telur maupun martabak manis (juga disebut “terang bulan” di beberapa daerah), sama enaknya. Dengan berbagai jenis isian, martabak merupakan favorit banyak orang, selain karena mudahnya untuk mendapatkannya.

Yang menarik, kudapan ini sangat identik dengan buah tangan yang biasa dibawa ketika orang sedang ngapel. Martabak seolah-olah adalah pilihan yang tak mungkin salah. Well, mungkin berbeda kalau sang camer ternyata tidak boleh memakan gula terlalu banyak. Tapi, yah, tetap saja martabak menjadi pilihan yang terlintas pertama di pikiran sebagai “tiket buat ngapel”.

Masalahnya, kalau Anda pernah melihat cara pembuatan martabak, mungkin Anda akan berpikir dua-tiga kali sebelum membelinya lagi dalam waktu dekat. Untuk sebuah martabak cokelat, kacang, wijen — salah satu kombinasi standar isian martabak manis, perhatikan berapa banyak mentega dan gula yang digunakan. Itu pun belum menghitung susu kental manis yang ditambahkan, lalu cokelat dan kacangnya. Boy, menurut hasil googling sih sepotong martabak manis bisa mengandung 200 kalori!

Sebenarnya sih, meski sudah mengetahui cara pembuatannya, hingga kalori yang terkandung di dalamnya, masih banyak saja yang akan membeli martabak. Godaannya terlalu kuat untuk dihindari. Apalagi karena makanan ini biasanya dibuat untuk ririungan, berkata bahwa akan mengambil satu saja biasanya hanya berakhir sebagai sebuah kebohongan besar.

Repotnya, di depan kantor saya sekarang ada yang menjual martabak tiap sore. Gawat!

Cangkir Kosong

Kosong

Saya bingung, hidup saya kok terasa agak kosong akhir-akhir ini. Ada yang aneh, tapi saya juga tidak tahu apa.

Kegundahan seperti itu sering sekali singgah di pikiran saya. Ingin melakukan sesuatu, tapi juga tidak ingin terlalu berat. Manusia itu memang suka mempersulit diri sendiri. Padahal, hidup itu sebenarnya sederhana.

Begini loh. Kita itu sering bilang tidak tahu masalahnya apa, tapi sebenarnya mungkin kita hanya tidak mau mengakui masalah tersebut. Masalah itu ada, tapi tak ingin kita sentuh. Mencoba menghibur diri dengan jargon “ignorance is bliss” nyatanya tidak akan menyelesaikan apa-apa.

Kekosongan itu juga tak jarang berakhir pada kekhawatiran. Menafikan apa yang terjadi hanya membuat masalah tertunda beberapa saat, tapi toh ujung-ujungnya harus dihadapi juga. Saya jadi teringat sebuah “celetukan” yang menarik,

Buat apa khawatir? Kalau ada yang bisa kamu ubah, ya ubahlah. Kalau tidak bisa diubah, apa yang perlu dikhawatirkan?

Karena sekali lagi, menjadi bahagia itu adalah pilihan.

Pengaruh pemimpin

Tergantung Pemimpin

Sekarang ini, kelihatannya kepemimpinan sedang menjadi topik yang hangat dibicarakan. Buku-buku tentang kepemimpinan sedang mengisi rak-rak toko-toko buku ternama — buku-buku John C. Maxwell, misalnya. Akan tetapi, justru masyarakat Indonesia sekarang sedang bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan bapak presiden di tengah polemik ini.

Saya sedang mencoba memperhatikan, seberapa besar pemimpin itu mempengaruhi rakyatnya. Katanya sih, dalam dunia demokrasi itu, “The people get the leader they deserve“. Jadi, yah, kelihatannya memang ada korelasi yang cukup kuat antara pemimpin dan bawahannya.

Nah, ceritanya, seperti yang saya pernah sampaikan di sini, saya sedang mencoba menggiatkan anak-anak KIR di SMA saya untuk membuat karya ilmiah lagi. Yang menarik, ternyata anak-anaknya di tahun ini lebih bersemangat. Di pertemuan terakhir kemarin, diskusinya sudah lebih hidup, dan ketika diminta mencari referensi pun, mereka mengerjakannya dengan baik.

Yang jadi pertanyaan saya sekarang, apakah semua itu karena tajuk pimpinannya baru saja berganti?

System Monitor

100 Days of Me

Akhirnya!

Seperti yang pernah saya tulis di sini, kumpulan videonya sudah selesai, tapi belum dikompilasi. Nah, akhirnya setelah dua hari ini berkutat dengan kode dan video, hasilnya sedang naik tayang! Hasilnya tidak terlalu memuaskan bagi saya, tapi paling tidak ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil di sini.

Dokumentasi dengan gaya seperti ini ternyata memang super-menarik setelah disatukan! Itu baru 100 hari, bayangkan kalau 365 hari kita dalam setahun berhasil direkam sedetik saja setiap harinya untuk kita lihat di akhir tahun, mantap kan? Masalahnya, ide yang saya canangkan juga sebagai resolusi tahun ini ternyata sudah banyak dilanggar. Sudah beberapa hari terlewat dari rekaman kamera.

Pelajaran #1: Konsistensi itu susah, tapi buahnya manis.

Masalah berikutnya muncul ketika saya mencoba mengompilasi video tersebut. Berhubung saya agak malas, jadi saya coba mencari-cari bagaimana menyatukan semua video itu dengan program (baca: di-coding). Dengan menggunkan pustaka moviepy, akhirnya dibuatlah beberapa baris kode itu. Eh, ternyata beberapa kali muncul error.

Jadi, kode yang dibuat ini secara otomatis mengambil semua video, lalu mengambil hanya 1 detik dari video-video tersebut. Masalah, ternyata ada video rekaman saya yang kurang dari 1 detik! Jadilah, video yang kurang dari 1 detik itu saya buang. Lalu, saya hanya mengambil subclip-nya di 1 detik pertama, karena banyak video yang tidak lebih dari 1 detik. #gamaurepot

Sedihnya, banyak momen yang sebenarnya menarik, tapi terpotong. Selain itu, di 1 detik pertama terkadang tidak langsung menyorot inti “cerita”-nya. Ini juga terjadi karena saya masih sering takut-takut untuk mengambil video dengan langsung menyorot yang di hadapan saya. Agak disayangkan memang.

Pelajaran #2 & #3: Repot-repot sedikit itu perlu kalau mau hasilnya lebih bagus & jangan malu untuk menyorot langsung kejadian, apa sih yang mungkin jadi konsekuensi terberatnya?

Nah, karena video ini juga sifatnya cuma sepotong-sepotong, saya juga baru menyadari satu hal lagi. Jangan membuat gerakan menyapu untuk mengambil keseluruhan cerita, waktunya cuma 1 detik. Jadi, pelajaran berikutnya adalah…

Pelajaran #4: Mundur beberapa langkah untuk memasukkan semua objek ke dalam satu bingkai itu lebih dianjurkan.

Oke. Jadi, sekarang video yang naik tayang tidak mengalami post-processing yang terlalu banyak dan masih banyak kekurangan di sana-sini. Namun, untuk memberikan gambaran, semoga video ini bisa menginspirasi pembaca untuk membuat video sejenis.

Oh, satu lagi. Post-processing video itu ternyata memang membutuhkan komputer tingkat tinggi. Kompilasi videonya terpaksa saya bagi tiga kelompok. Memori yang perlu dialokasikan terlalu besar kalau dibuat sekaligus. :mrgreen:

Selamat bereksperimen!