Kemenangan Platform Digital

Beberapa hari yang lalu saya dapat notifikasi di kanal subscriptions YouTube saya – ada Tonight Show Premiere. Sebetulnya saya belum sempat investigasi lebih jauh ini isinya apa, tapi kelihatannya salah satu acara prime time dari PT. Netmediatama ini agaknya bergerak untuk menjadikan YouTube sebagai platform utamanya. Dibuat sebagai tayangan berdurasi sekitar 30 menit, dengan beberapa kali jeda pariwara di tengahnya. Tak ubahnya saluran TV Anda kan?

Stasiun TV dulu mesti punya hak siar dan frekuensi untuk dapat mengudara. Hal ini menjadi salah satu penghalang besar untuk pemain baru, karena biayanya tentu tak murah untuk mendapatkannya. NET TV sendiri awalnya menggunakan frekuensi Spacetoon. Beberapa tahun kemudian, mereka mencoba untuk menjajaki platform digital dengan membuat layanan streaming-nya sendiri – meski di belakang layar memakai platform streaming lain.

Tonight Show sendiri sempat pindah-pindah jam tayang. Tayangan yang awalnya berkonsep late night talk-show ini juga sempat “diistirahatkan” untuk beberapa lama di sekitar Ramadan tahun lalu. Bisnis TV memang sedang susah, apalagi untuk NET. yang sebenarnya menyasar kategori SES penonton yang tidak begitu banyak isinya di Indonesia. Tuan-tuan rumah dari berbagai acara di TV hanya bisa harap-harap cemas agar tayangannya tidak “bungkus”.

Ya, terus kenapa? Cuma silih berganti platform saja kan? Dulu juga radio digantikan dengan TV.

Betul. Dulu juga stasiun TV hanya terbatas. Mungkin di masa yang akan datang akan ada saingan dari YouTube sebagai platform “gratis” untuk orang banyak. Harusnya sih begitu ya. Kalau tidak, maka sumber informasi akan dikuasai beberapa pihak saja, dan itu tidak baik untuk menjaga kenetralan siaran yang dikonsumsi orang banyak.

Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.

Lord Acton

Prioritas

Apa yang jadi prioritas dalam hidup kalian?

Selama time skip ini, orang-orang punya pilihannya masing-masing tentang keahlian apa yang perlu ditingkatkan. Ada yang belajar bahasa, ada yang belajar programming, dan tidak sedikit yang jadi lebih melek secara finansial. Tuntutan keadaan mungkin.

Saya kadang merasa bingung saja apa yang harus diprioritaskan. Contohnya, saya lagi senang belajar bahasa Spanyol di Duolingo, tapi di sisi lain saya merasa perlu untuk belajar bahasa Arab juga. Dengan waktu hanya 24 jam dalam sehari – itu pun sekitar 8 jam dipakai istirahat – tentu mesti pilih-pilih dong mana yang harus didahulukan?

Demikian halnya dengan bahan bacaan. Wah, ini sih lebih banyak lagi saingannya. Tidak hanya dalam bentuk buku, bahan bacaan juga bisa berupa artikel, paper, atau ya baca linimasa Twitter. Maunya kan “produktif” ya dengan baca buku, tapi tentu saja sering kalah sama Twitter-an.

Sudahkah Anda menentukan dengan baik prioritas Anda hari ini?

Berubah

Sudah sekitar 3 bulan saya tinggal di kota yang baru ini. Hanya bertiga bersama keluarga kecil saya. Alhamdulillah kami sudah mulai bisa beradaptasi (lagi). Juga akhirnya setelah 3 bulan ini saya dinyatakan lulus probation. Hore! Sebuah pencapaian baru dalam hidup saya.

Nyatanya, dunia tidak selalu seenak itu. Berangkat ke sini saja mesti tertunda 6 bulan dulu. Sampai di sini, tetap masih remote working meski masih bisa sesekali ke kantor. Remote working ini membuat banyak hal jadi serba sulit. Enggak bisa seenaknya colek-colek teman sebelah meja untuk tanya ini-itu. Awal-awal, ini cukup menyulitkan saya untuk beradaptasi.

Untungnya, buddy dan team lead saya sangat mengakomodasi. Pekerjaan saya pun bisa diselesaikan dengan lebih baik. Team lead saya juga cukup puas dengan hasil yang saya capai. Alhamdulillah.

Yang jadi masalah lain adalah ternyata penanganan COVID-19 di sini juga tidak sangat bagus dibandingkan di Indonesia. Pemerintah agak ogah-ogahan untuk lockdown, terutama karena ini di ibukota – persis seperti di Indonesia. Sekarang ibukota dan sekitarnya sudah masuk Tier 4 setelah sempat terpaksa lockdown di bulan November yang lalu. Memang salah satunya karena diduga ada varian baru dari virusnya yang membuat penyakit ini diduga lebih mudah menular. Cuma ya sama saja toh akhirnya – tetap lockdown juga?

Belum lagi isu Brexit yang akan efektif per tahun baru nanti. Akan ada banyak perubahan yang terjadi untuk warga EU yang ada di sini. Saya sih yang dari awal juga bukan orang EU sih tidak akan terlalu repot urus ini-itu, meski tentu akan ada dampak dari hal lain – dalam logistik, misalnya.

Di tempat yang baru ini, saya juga jadi agak sulit untuk mencari teman ngobrol. Memang sudah jadi lebih sulit sejak awal pandemi, tapi jadi lebih sulit lagi karena sekarang beda zona waktu dengan teman-teman yang bisa diajak ngobrol di Indonesia. Saya ngantor, mereka sudah selesai. Saya selesai ngantor, mereka sudah tidur. Pelik.

Paling tidak, tahun ini akhirnya sudah akan berakhir. Tahun yang terasa panjang di awal ini ternyata “tiba-tiba” berakhir juga. Entah seperti apa jadinya di tahun depan.

Semoga saja semua akan jadi lebih baik.