Bye, Edinburgh…

Sudah hampir setahun ya.

Hari ini saya beres-beres kamar. Membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi dan memasukkan benda-benda yang mungkin akan diberikan kepada para penghuni kota ini berikutnya. Semua jadi terlihat semakin sepi.

Flat 4 Room 7

Dinding kamar flat empat nomor tujuh ini tidak lagi dihiasi post-it notes yang berisi berbagai catatan: kosakata baru, rumus-rumus yang njelimet, hingga pengingat jadwal kuliah dalam seminggu. Lemari pun sudah mulai kosong, tinggal jas, jaket tebal, hoodie, dan seprai berwarna hijau pucat itu. Belasan gantungan baju masih tersisa, tapi tak ada lagi sweater atau baju yang bergantung padanya.

Besok, saya akan meninggalkan kamar ini, tempat saya menghabiskan hidup selama setahun terakhir. Dari kamar ini saya melihat daun-daun berguguran setelah beberapa bulan sampai di kota ini. Dari kamar ini juga saya melihat pohon-pohon itu kemudian meranggas saat musim dingin tiba. Dan tidak mungkin saya lupakan salju yang jatuh di awal bulan Desember itu.

Tentang Rindu

Ada perasaan aneh yang menyelimuti hati ini. Semua campur aduk jadi satu. Sedih, karena akan meninggalkan kota yang telah memberikan banyak kenangan ini. Senang, karena artinya saya akan bertemu dengan keluarga lagi dan teman-teman. Bersemangat, karena saya tahu ada tantangan baru yang menunggu di tanah air. Juga rindu, yang entah mengapa sudah muncul meski masih bisa bertemu.

Saya mencoba menikmati hari-hari terakhir di kota penuh cerita ini. Menikmati berbagai sudut kota ini sebelum tak lagi saya tinggali. Sempat saya bilang pada ibu, “Main-main sebelum pulang, Bu. Nanti kan sudah susah mau ke sini lagi.”

Namun, bukan ibu namanya kalau tidak optimis. “Ya enggak lah, Kak. Kalau rezeki enggak ke mana.”

img_0001
Pulang

Semoga.

Meninggalkan Jejak

Minggu-minggu ini saya sedang sibuk menyelesaikan disertasi, makanya blog ini jadi belum diisi. Ah, tapi itu mah alasan saja. Kalau sudah disempatkan sih seharusnya tetap bisa diisi secara rutin.

Anyway, ternyata memang tidak terasa sudah hampir setahun saya di sini. Itu juga artinya sebentar lagi saya akan meninggalkan kota ini. Sedih memang, tapi apa mau dikata? Mungkin justru baiknya begini, kota ini ditinggalkan dengan penuh rasa sukacita, agar terus menempati sudut menyenangkan di hati.

Tujuan berikutnya?

Well, saya sejujurnya masih belum tahu pasti harus ke mana lagi setelah ini. Meski kota ini memang menyenangkan, rasanya saya masih ingin mengeksplorasi dunia ini lebih jauh lagi. Saya ingin berguru kepada mereka yang terbaik di bidangnya. Saya ingin bertemu dengan orang-orang baru, cerita-cerita baru.

IMG_20160807_225511046
Halo, Dunia!

I’ll see you very soon!

Dunia yang Lebih Baik

I don’t know about you people, but I don’t want to live in a world where someone else makes the world a better place better than we do.

— Gavin Belson

Kutipan di atas boleh jadi hanya berasal dari karakter fiktif. Namun, saya cukup yakin bahwa perasaan tersebut dapat ditemukan pada beberapa orang di sekitar kita. Well, paling tidak saya sendiri punya sedikit perasaan seperti itu.

Kalau diperhatikan lagi, sebetulnya kutipan itu agak lucu. Buat orang-orang yang mungkin masih berjuang mendaki tangga kebutuhan lainnya di hierarki kebutuhan Maslow, pandangan tersebut mungkin terdengar absurd. “Ngapain repot-repot ngurusin orang lain? Hidup gua aja belum bener.”

Bagi yang hidupnya udah bener pun, tetap menggelitik untuk melihat bahwa menjadi bagian dari fitrah manusia untuk mempunyai eksistensi — diakui oleh orang lain atas karya-karyanya. Kalau lah dunia jadi lebih baik karena apa yang orang lain lakukan saja — tanpa andil kita di dalamnya — tidakkah itu tetap perlu disyukuri? Lantas, apakah kita akan berhenti berbuat baik hanya karena perbuatan baik itu tidak mengubah dunia?

Saya teringat dengan tulisan seorang teman. Kutipannya seperti ini,

Dulu saya sempat punya pemikiran naïf: saya ingin jadi guru matematika terbaik se-Indonesia. UNJ itu prodi pendidikan matematikanya salah satu yang terbaiklah, jadi kalau bisa jadi yang terbaik di sana, jadilah saya salah satu guru matematika terbaik. Rasanya penting benar recognition dari orang-orang. Dibilang terbaik. Keren, gitu.

Namun semakin lama ya saya akhirnya mulai sadar juga. Jadi guru itu bukan soal menjadi yang terbaik, bukan soal penghargaan-penghargaan. Lah, kalau semua guru mikir begitu, guru-guru saya itu ga akan ada yang ngajar sampai puluhan tahun itu tanpa dapat penghargaan apapun. Sadarlah saya bahwa selama ini saya memilih sudut pandang yang salah.

Kalau lah semua orang ingin “menguasai” dunia, maka siapa lah yang akan “dikuasai”?

Setiap kita pada akhirnya akan punya peran masing-masing di dunia ini. Intinya, jangan jadikan keinginan untuk menguasai dunia yang besar itu mengubah haluan kita dari berbuat baik itu sendiri. Toh, teman yang kau beri bantuan kemarin lusa itu tak kurang rasa syukurnya meski bukan presiden yang membantunya.

Jangan salah paham. Boleh-boleh saja memberi penghargaan macam guru teladan itu. Mengenang jasa-jasa dan pengorbanan guru yang luar biasa; yang saya perdebatkan di sini adalah jangan jadikan itu tujuan utama. Toh biasanya juga guru-guru yang menang itu juga memang guru yang tidak mengincarnya, kok. Ngajarlah yang baik, lakukan hal yang pokok, dapat penghargaan itu bonus.

Cuaca Hari Ini

Tampaknya beberapa hari ini banyak yang merasa cuaca di UK terlalu panas. Teman-teman saya mengeluhkan hal ini di Facebook dan Twitter. Edinburgh sendiri hari ini juga cerah sepanjang hari dan terasa cukup panas untuk kota yang rata-rata temperaturnya hanya 15°C di bulan Juli. Well, hari ini suhunya mencapai 26°C di puncaknya!

Sebagai kota yang terkenal cukup dingin di UK, suhu 26°C tersebut adalah sebuah “prestasi”. Saya tidak terbayang bagaimana rasanya di London atau Manchester yang bisa sampai 30°C. Belum lagi, kebanyakan fasilitas umum di sini tidak menyediakan AC, karena memang di sini wajarnya ya dingin. Padahal, di Indonesia suhu seperti ini adalah hal yang wajar ya?😀

Dari keempat musim yang ada, mungkin musim panas seperti ini yang paling tidak disukai. We just can’t stand the heat! Musim semi punya bunga-bunga yang bermekaran dan udaranya masih terasa sejuk; musim gugur punya dedaunan yang berubah jingga dan merah, mulai terasa dingin dan berangin; sedangkan musim dingin punya salju yang entah mengapa jadi impian bagi mereka yang tinggal di negara tropis. Lah, musim panas punya apa?

Setelah tinggal di sini, saya jadi tidak heran mengapa orang-orang UK terkenal punya conversation starter andalan: cuaca. Cuaca di sini memang sering tidak bisa diduga, terutama di daerah yang semakin utara seperti Edinburgh. Meski sudah beberapa hari panas seperti ini, ramalan cuaca mengatakan bahwa besok itu bakal hujan deras. Seakan sulit sekali menemukan cuaca yang paling nyaman — the sweet spot.

Kalau Anda lebih senang cuaca yang seperti apa?

Medium

Saya dulu berpikiran sempat berpikiran bahwa blog ya intinya begitu-begitu saja. Kan intinya tentang apa yang ditulis, bukan bagaimana ditampilkannya. Namun, ternyata tempat menulisnya juga menjadi salah satu yang diperhatikan bagi banyak orang. Maka, tidak heran ketika Tumblr sempat ramai digunakan karena menyediakan variasi jenis pos, seperti format yang dikhususkan untuk gambar atau kutipan.

Meski begitu, sebenarnya saya masih merasa baik-baik saja dengan WordPress ini sebagai blog utama. Itu pun karena Multiply — yang dulu lebih sering saya gunakan — sekarang ditutup. Saya memang punya blog di tempat lain, tapi ya dibuat hanya untuk hal-hal yang lebih spesifik, entah itu berupa cerita yang lebih personal atau lebih teknis.

Setelah aktivitas teman-teman saya mulai berkurang di Tumblr, kemudian saya memperhatikan kemunculan Medium di tahun 2012 yang cukup menggelitik. Idenya sederhana, tampilannya dibuat seragam untuk semua sehingga orang-orang bisa lebih berfokus pada apa yang dituliskannya. Konsepnya memang lebih mengarah ke social journalism dibandingkan blog biasa. Namun, banyak fitur-fitur menarik yang mereka sediakan sehingga bisa menggait basis pengguna yang cukup banyak.

medium
Logo baru Medium

Di Medium, komentar terhadap suatu tulisan bisa diberikan langsung di bagian yang ingin dikomentari supaya diskusinya bisa lebih terarah. Tulisan bisa diberi penanda jika Anda tertarik untuk membacanya di lain waktu. Ditambah lagi, para insinyur dan ilmuwan di belakang Medium yang terus mengembangkan mesin rekomendasi tulisannya agar para pembaca lebih mudah menemukan artikel-artikel menarik tiap harinya.

Fitur dari Medium yang paling saya suka sebenarnya adalah estimasi waktu yang dibutuhkan untuk membaca suatu artikel. Dengan adanya estimasi tersebut, saya jadi tahu kira-kira artikel mana yang bisa saya konsumsi di sela-sela kesibukan saya. Yang membuatnya lebih keren, selain menampilkan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan suatu artikel, para analis di Medium juga memperhatikan waktu yang nyatanya dibutuhkan orang-orang dalam mengonsumsi berbagai macam panjang artikel. Faktanya, mereka berhasil menemukan bahwa artikel yang optimal dalam artian besar kemungkinannya dibaca sampai habis adalah artikel dengan durasi 7 menit.

Dengan pengetahuan yang didapat dengan mengolah data yang begitu banyak, Medium seharusnya bisa meningkatkan kinerja sistem rekomendasinya. Di era ketika arus informasi sudah tidak lagi terbendung, maka sistem rekomendasi seperti ini menjadi suatu keharusan demi kelangsungan mayoritas bisnis digital. Karena zaman sekarang untuk mendapatkan basis massa itu mungkin jadi lebih mudah, tapi bagaimana mempertahankannya itulah yang jadi persoalan.

Nah, pemirsa lebih cenderung menggunakan platform apa untuk ngeblog?

Perpustakaan

Ceritanya, hari ini saya sudah meniatkan untuk mampir ke perpustakaan untuk mencari sebuah buku yang direkomendasikan teman saya. Berhubung ini buku “berat”, maka sayang kalau beli tapi ternyata cuma terpakai sebagian. Jadilah saya memilih untuk melihat-lihat bukunya terlebih dahulu di perpustakaan. Alhamdulillah, perpustakaan kampus cukup lengkap untuk urusan begini.

Saya selama kuliah di sini tergolong jarang ke perpustakaan, apalagi ke perpustakaan dengan niatan untuk membaca atau meminjam koleksinya. Hidup yang serba digital membuat saya lebih memilih untuk mencari artikel atau jurnal di internet. Namun, ternyata selalu ada saja hal yang masih perlu kita cari di buku ya?

Jalan-jalan ke perpustakaan kali ini ternyata menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan daripada yang saya duga di awal. Niatan hanya untuk mencari satu buku berubah menjadi jalan-jalan, lihat-lihat, bahkan akhirnya meminjam buku tersebut.

Proses peminjamannya mudah sekali. Tidak perlu berurusan dengan orang lagi. Saya tinggal datang ke komputer khusus yang disediakan, lalu tinggal memindai barcode yang ada di kartu mahasiswa dan di buku yang ingin saya pinjam. Tidak sampai 2 menit proses peminjaman pun selesai. Canggih ya?

IMG_20160705_174013111_HDR
Komputer untuk self-checkout

Terakhir saya tahu, di perpustakaan pusat ITB masih belum memakai sistem yang seperti ini. Namun, sudah cukup lama sejak terakhir kali saya meminjam buku di sana. Ada yang tahu perpustakaan di Indonesia yang sudah memakai sistem peminjaman seperti ini?

IMG_20160705_175051051
Biar kelihatan keren

Ah, kalau tahu semenyenangkan ini, mungkin saya bakal lebih sering ke perpustakaan dari kemarin. 😛