Prisoner’s Dilemma

Mainan yang saya buat tempo hari dan hasilnya yang sudah saya tulis di sini sangat erat kaitannya dengan game theory dan Nash Equilibrium. Nah, kalau berbicara game theory, rasanya tidak lengkap kalau tidak membahas kasus yang satu ini: Prisoner’s Dilemma. Saking terkenalnya kasus ini, ada beberapa versi ceritanya. Tapi, kurang lebih ceritanya seperti ini:

Dua orang anggota geng kriminal ditangkap dan dikurung dalam dua sel yang berbeda yang tidak memungkinkan komunikasi antara kedua orang tersebut. Masalahnya, tidak ada cukup bukti untuk menuntut kedua tahanan. Oleh karena itu, jaksa memberikan penawaran kepada masing-masing orang secara terpisah. Setiap orang diberikan kesempatan untuk memilih antara: mengkhianati temannya (defect) dengan bersaksi bahwa temannya lah yang melakukan kejahatan, atau bekerja sama (cooperate) dengan temannya dengan menutup mulut. Tawarannya adalah:

  • Jika A dan B mengkhianati satu sama lain, maka keduanya akan dipenjara masing-masing 2 tahun
  • Jika A berkhianat tetapi B memutuskan tutup mulut, maka A akan dibebaskan dan B akan dipenjara selama 3 tahun (berlaku sebaliknya)
  • Jika A dan B menutup mulut, maka keduanya hanya dipenjara selama 1 tahun

Nah, dalam game theory, kasus seperti ini biasa dinotasikan dalam bentuk tabel/matriks payoff sebagai berikut:

Cooperate-B Defect-B
Cooperate-A -1,-1 -3,0
Defect-A 0,-3 -2,-2

Bilangan di sebelah kiri koma dari suatu cell pada tabel tersebut adalah masa tahanan yang harus dilalui A untuk strategi yang diambilnya, sedangkan yang di sebelah kanan koma adalah masa tahanan B. Tujuan dari kasus ini adalah mencari hukuman yang paling ringan, i.e. mendekati nol. Pertanyaannya sekarang, strategi apa yang sebaiknya diambil oleh A dan B mengingat mereka tidak dapat berkomunikasi satu sama lain?

Analisis Strategi

Sekilas, jika dua-duanya ingin “sama-sama untung”, seharusnya keduanya bekerja sama dan memilih untuk bungkam. Faktanya, mereka tidak tahu keputusan apa yang diambil oleh yang lainnya. Maka, bayangkan kalau saja A memilih untuk kooperatif, tapi ternyata B memutuskan untuk berkhianat — rugilah A! Demikian sebaliknya.

prison_1565169c
Ilustrasi | Sumber: The Telegraph

Ini menyebabkan strategi yang dominan bagi kedua orang adalah untuk sama-sama berkhianat. Bukankah ini strategi yang paling masuk akal? Tidak hanya sekadar dominan, strategi kedua orang ini adalah Nash Equilibrium dari kasus ini. Ini berarti bahwa jika salah satu pihak mengubah strateginya, maka dia tidak akan mendapatkan payoff yang lebih baik, atau dengan kata lain hukuman yang lebih ringan.

Perhatikan bahwa strategi yang dominan ini justru malah membawa ke posisi yang “sama-sama rugi”. Dengan alasan rasionalitas dan keinginan untuk menguntungkan diri sendiri, strategi yang dipilih malah berbalik dan membawa kerugian bagi keduanya. Menarik bukan? Inilah sebabnya kasus ini disebut sebagai “dilema”.

Implikasi

Dalam kasus ini jelas terlihat bahwa Nash Equilibrium tidak menjamin bahwa kesetimbangan itu akan menjadi solusi yang paling optimal, maupun mementingkan kemaslahatan umum. “Apapun strategi yang orang lain pilih, saya lebih baik memilih berkhianat,” begitu kasarnya kira-kira. Masalahnya, apakah kita akan menemukan kasus seperti ini di kehidupan sehari-hari?

Kemungkinannya tidak nol. Bahkan, saya pikir kemungkinannya akan cukup besar untuk menemukan kasus seperti ini, meski mungkin akan ditemukan dalam berbagai variannya — baik dari sisi jenis hukuman/keuntungan atau pun dari sisi asumsi yang diberikan. Lalu, strategi apa yang harus kita ambil kalau akhirnya bertemu dengan kasus seperti ini?

Konsep Hidup

Bagi saya, ini menjelaskan suatu hal kecil dalam hidup bahwa menjadi kooperatif itu penting. Kalau semua hanya memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri, maka ujung-ujungnya malah bisa merugikan bagi semua. Kalau Anda mengikuti blog ini sejak tahun lalu, mungkin Anda akan teringat dengan bahasan saya tentang tragedy of the commons. Jadi, penting untuk tidak salah mengartikan konsep “hirup aing, kumaha aing“!

Satu poin asumsi dalam Prisoner’s Dilemma yang bisa diminimalkan dalam kehidupan sehari-hari adalah ketidakmampuan untuk berkomunikasi satu sama lain. Bekerja sama dan menjaga silaturahim (berkomunikasi) seharusnya bisa membawa kebaikan dalam jangka panjangnya. Memang acap kali membangun komunikasi yang baik juga bukan hal yang mudah. Ah, tapi hidup tak melulu tentang immediate rewards kok!

If you want to travel fast, travel alone. If you want to travel far, travel together.

— N’gambai African Proverb


Referensi:

Rapoport, A. and Chammah, A.M., 1965. Prisoner’s dilemma: A study in conflict and cooperation (Vol. 165). University of Michigan press.

“Tidak Ada Jalan Pintas”

Saya akhir-akhir ini menemukan buku-buku menarik. Biasanya buku-buku itu berkaitan dengan bisnis, tapi bukan yang judulnya Cara Cepat Menggandakan Duit atau 30 Hari Menjadi Kaya Raya, melainkan yang menceritakan sejarah dari sebuah perusahaan. Setengah buku saya sudah lalui dari The Hard Thing about Hard Things-nya Ben Horowitz dan seperlima dari Creativity Inc. karya Ed Catmull sedang saya konsumsi. Dua-duanya punya cerita yang menarik.

“Gagal Lagi, Gagal Lagi”

The Hard Thing about Hard Things bercerita tentang Ben yang berpindah-pindah perusahaan, menghadapi sulitnya mencari investor, jatuh berkali-kali saat mengembangkan sebuah produk, kehabisan uang sehingga harus mem-PHK banyak pegawai, dan berbagai kegagalan lainnya. Kalau pernah dengan pepatah “Sudah jatuh, tertimpa tangga”, nah ini ditambah “kesiram cat, digigit anjing, …” dan berbagai kesialan lainnya. Berkali-kali saya menebak-nebak, “Wah, ini sukses nih setelah bab ini,” dan berkali-kali pula saya kecele.

Sebagian cerita di Creativity Inc. pun begitu. Salah satu pendiri Pixar ini bercerita bagaimana mimpinya untuk kerja di studio animasi Walt Disney termentahkan begitu saja ketika tawaran yang data untuknya hanya sekadar penjaga salah satu wahana di Disneyland. Padahal, mimpinya sangat besar untuk bisa menghasilkan film animasi yang sepenuhnya dibuat dengan menggunakan komputer. Memang, grafis komputer merupakan hal yang tidak lazim saat itu, jadi benar-benar sulit untuk meyakinkan industri perfilman bahwa teknologi itu memudahkan. Toy Story yang menjadi batu loncatan awal kesuksesan Pixar pun tidak datang dalam semalam. Butuh waktu lima tahun untuk merampungkan itu semua dengan segala kendalanya.

Menarik untuk melihat bahwa perusahaan atau orang-orang besar seperti mereka selalu menghadapi kegagalan bertubi-tubi sebelum akhirnya mencapai kesuksesan. Kerja keras dan kesabaran menjadi kata kuncinya di sini. Kalau lah mereka memutuskan berhenti di tengah-tengah dan memutuskan menjadi karyawan saja, mungkin hidup mereka akan “baik-baik” saja, tapi kita tidak akan melihat Netscape yang menjadi cikal-bakal browser modern seperti sekarang, atau kita tidak akan menunggu-nunggu film Pixar berikutnya yang tak bosan kita nikmati meski kita sudah bukan anak-anak lagi.

“Saya Ada di Mana?”

Ketika membaca buku-buku ini, yang sering terlintas dalam pikiran saya adalah, “Saya sedang di titik apa saat ini?” Saya bertanya-tanya apakah suatu saat saya bisa mencapai titik kesuksesan itu, menjadi bagian dari dunia yang bisa memberikan manfaat bagi orang banyak. To come up with the next disruptive thing…

Hidup saya sejauh ini terasa lancar-lancar saja, sehingga batin saya kadang terusik, “Apa saya terlalu bermain aman?” Kalau ada satu kesamaan yang saya lihat dari orang-orang sukses, biasanya adalah pandangan merendahkan dari orang-orang di sekitar mereka. Pasang-pasang mata yang seolah bertanya, “Lu mau ngapain sih sebenernya?”

Waktu-waktu ini mungkin memang menjadi salah satu titik yang menjadikan orang banyak berkontemplasi. Bagi saya, ini menjadi momen untuk menanyakan apa yang bisa saya berikan dengan segala nikmat yang telah diberikan untuk saya. Sudahkah saya mewujudkan rasa syukur saya dengan memanfaatkan nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya? Titik apa yang ingin saya capai berikutnya? Sudah cukup konkret kah langkah saya menuju titik itu?

“If your dreams do not scare you, they are not big enough.” — Ellen Johnson Sirleaf

Berhenti Mendewasa

Saat kecil dulu, rasanya kita ingin sekali cepat dianggap dewasa. Menjadi orang dewasa itu terlihat keren di mata kita. Naik kelas dari memakai pensil menjadi memakai pulpen saat SD saja senangnya bukan main. Bagi sebagian orang, menjadi dewasa itu mungkin ditemukan saat menghindari penambahan gula pada kopi hitamnya.

Saat sudah dewasa, kok ya menjadi anak kecil itu terlihat nikmat sekali ya? Hidupnya bebas dari beban. Setiap hari hanya diisi dengan bermain dan bertemu dengan teman-teman. Seru sekali bisa bermain tanpa harus berpikir konsekuensi apa yang akan dihadapi esok hari. Kita bahkan rela bangun pagi-pagi untuk bermain game kesukaan.

Bermain

Dari semua hal yang “tidak enak” dari menjadi dewasa, salah satu yang saya amati sering hilang adalah kemauannya untuk bermain. Menjadi dewasa dianggap harus serius. Saya ingat sekali ketika bermain-main ke Pentland Hills kemarin hanya segelintir orang dewasa yang ikut bermain snowtubes. Padahal, hey, ini menyenangkan sekali untuk dicoba loh*!

Lihat, betapa bahagianya wajah teman saya saat bermain snowtube! :D

Sekarang, berikan alasan kepada saya mengapa orang dewasa tidak boleh bermain? Kalau Anda tahu jawabannya, pertanyaan berikutnya adalah apakah Anda masih suka bermain-main? Banyak mainan yang ingin dicoba, tapi mungkin sudah malu duluan, “Sudah tua,” katanya.

Rasa Ingin Tahu

Hal lain yang biasanya berkurang saat jadi orang dewasa adalah rasa ingin tahu. Banyak hal yang dianggap tidak penting sehingga tidak dicoba dilakukan. Padahal, mungkin ada sesuatu yang indah di baliknya, yang mengingatkan saya akan cerita seorang teman yang berhasil mengalahkan keraguan hatinya dan menjawab rasa ingin tahunya.

Rasa ingin tahu atau rasa penasaran itu jangan dibiarkan mati, karena dari situlah muncul inovasi-inovasi. Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar bodoh yang berseliweran di otak itu perlu dicari tahu jawabannya. Katanya Steve Jobs juga, “Stay hungry, stay foolish.”


Nah, jadi untuk menjawab rasa ingin tahu saya dan dalam bentuk sebuah permainan, saya baru-baru ini mencoba membuat simulasi dari sebuah pertanyaan di kuliah pertama Algorithmic Game Theory and Its Application. A food for thought, sebuah pertanyaan menggelitik dalam menyusun strategi untuk memenangkan permainan sederhana. Anda bisa mencobanya di tautan di bawah ini.

http://agta.aliakbars.com

Selamat bermain dan “berhentilah mendewasa”!


*) Hanya menarik di 15 menit pertama. Lama-lama bosan juga karena lintasannya terlalu pendek.

Belajar dari Wawancara

Tadi siang saya habis ketemu dosen untuk pengajuan bimbingan untuk persiapan proposal disertasi (di sini untuk S2 namanya disertasi). Menurut pengalaman seorang teman, ada kalanya saat bertemu dengan dosen kita akan dites kemampuan programming-nya. Saya pikir, “Oh, okelah. Dulu juga sudah pernah beberapa kali wawancara saat melamar pekerjaan kan.” Kandidat pembimbing lainnya yang ditemui kemarinnya malah tidak memberikan tes semacam itu. Jadi, saya pikir semua akan baik-baik saja.

Ternyata saya salah.

Setelah memperkenalkan diri lagi, saya mulai ditanya-tanya dulu pernah belajar apa saja. Kemudian, karena saya menyatakan bahwa saya cukup percaya diri untuk urusan ngoding, ditanyalah apakah saya keberatan kalau diberikan tes sederhana untuk mengetahui kemampuan saya. Maka, penderitaan wawancara itu pun dimulai.

Insertion Sort

Pertanyaan yang diberikan kepada saya pertama kali adalah mengenai insertion sort. Sesuatu yang sebenarnya cukup sederhana dan punya kemungkinan ditanyakan cukup besar. Perihal sorting ini sendiri bahkan jadi satu volume khusus dari seri buku The Art of Computer Programming oleh Donald Knuth. Ini menyatakan betapa pentingnya untuk tahu hal seperti ini.

insertion-sort
Ilustrasi | Sumber

Saya ingat bahwa insertion sort itu seperti mengurutkan kartu di tangan saat bermain capsa. Pertanyaan berikutnya yang memusingkan saya, “Apa bedanya dengan bubble sort?” Nah, loh. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata memang agak mirip idenya. Saya pun akhirnya tidak bisa menjelaskan dengan baik idenya. Kegagalan pertama.

Linked List

Berikutnya, saya diminta untuk membuat fungsi untuk membalik urutan dari linked list. Jadi, dari 1 -> 4 -> 0 -> 4 -> 5, menjadi 5 -> 4 -> 0 -> 4 -> 1. Kalau di Java, gampang dong? Sudah banyak library untuk mengerjakan itu.

java.util.Collections.reverse(List list)

Kelar.

Masalahnya, saya diminta membuat ulang programnya. From scratch. Pusing lah saya. Lebih-lebih lagi, saya masih sering bermasalah dengan menghadapi tekanan.

Syntax saya berantakan. Sudahlah tulisannya jelek, tercampur-campur pula antara pseudo-code, Java syntax, dan Python syntax. Yang ada di otak saya saat itu adalah memanfaatkan pustaka standar dari Java, tapi ya enggak bisa dipakai kan?

Pada akhirnya, dosennya kelihatan kasihan sama saya karena tidak ada kemajuan berarti. Akhirnya saya diminta menggambarkan dulu apa itu linked list. Nah, kalau ini saya masih bisa. Sayang, saya benar-benar tidak terbayang bagaimana membalik urutannya. Pertanyaan tentang ini pun disudahi. Kegagalan kedua.

n-th Fibonacci Number

Deret Fibonacci nampaknya menjadi soal favorit banyak orang. Bahkan, sebelum bertemu dengan dosennya siang tadi, saya sempat membahas kalau dulu pernah dites semacam ini saat wawancara kerja dulu. Dulu, saya terlalu lama berpikir untuk bisa sampai ke solusi yang dibutuhkan. Harusnya, saya sudah belajar dari pengalaman tersebut.

fibonaccishallowdiags_1000
Deret Fibonacci | Sumber: mathworld.wolfram.com

Well, saya berhasil membuat solusinya dengan cukup cepat dengan menggunakan cara rekursif. Namun, ternyata pertanyaannya tidak selesai di situ. Pak dosen ini ingin tahu kompleksitas dari algoritma saya itu seperti apa. Setelah berpikir dengan suasana otak yang masih kalut, saya bilang saja O(n2). Bapaknya kemudian menggambarkan pohon yang tercipta dari algoritma tersebut, dan segera saya sadari bahwa kompleksitasnya ternyata O(2n). Nah loh.

Tak terelakkan, saya diminta untuk memberikan solusi dengan kompleksitas yang lebih sederhana. Saya langsung terpikir menggunakan cara iteratif. Lagi-lagi, otak saya terlalu kalut untuk menemukan solusinya yang baik. Padahal, harusnya ini adalah hal yang cukup sederhana. Di Python, kodenya hanya perlu lima baris! Kegagalan ketiga.

Refleksi

Di akhir sesi, bapaknya bilang kalau kelihatannya saya bisa ngoding, mungkin hanya perlu kepala yang lebih dingin saja. Selain itu, akan sangat baik jika saya menggambarkan persoalannya terlebih dahulu sebelum menyentuh kode. Untuk linked list, gambarlah representasinya dulu. Untuk deret Fibonacci, tulis saja beberapa angka pertamanya supaya tahu apa yang harus dijumlahkan per iterasi.

Solusi semacam ini sudah sering saya baca, tapi ternyata agak sulit juga menerapkannya di lapangan ya. Mungkin butuh jam terbang supaya bisa lebih mengontrol kegugupan semacam ini. Satu kegagalan di awal itu seharusnya tidak serta-merta mengganggu pikiran saya. Hanya perlu kembali menyadari bahwa “everything’s going to be okay.”

Di sisi lain, saya jadi cukup tersadar bahwa selama ini agaknya saya jadi sedikit sombong. Karena terbiasa ngoding, jadi merasa sudah banyak hal yang bisa dikerjakan. Padahal, masih banyak juga hal yang harus dipelajari. Mungkin, materi-materi yang lama juga perlu saya ulas kembali supaya dapat pemahaman yang lebih baik.

Terkait Kesombongan

Saya selama ini mungkin terlalu banyak mengandalkan keberuntungan, jadi kurang menghargai kerja keras. Toh, selama ini semua terasa mulus-mulus saja jalannya. Masuk universitas favorit, lulus dengan nilai yang cukup baik, dan bisa dapat beasiswa, agaknya membuat saya makin ingin yang muluk-muluk tanpa diiringi usaha yang sepadan.

Sekarang, saya sedang berpikir lagi untuk melanjutkan ke PhD. Apakah masih akan berkutat di bidang yang digeluti sekarang — machine learning — atau bergeser sedikit ke social network? Rasa-rasanya saya malah mau dua-duanya, tapi ya mana lah mungkin? Sudah begitu, masih ingin jago urusan software engineering, dan masih mau berbisnis sendiri pula nanti. Kalau dengan usaha seperti sekarang, apakah itu semua bisa tercapai?

Bukan artinya berhenti bermimpi besar, tapi usahanya yang perlu didorong lagi. Kalau mau semua itu, ya tidak bisa sesantai sekarang sepertinya. Kalau perlu, jadi seperti Elon Musk yang bisa kerja sampai 80 jam seminggu.

Pertanyaannya, sudah siapkah saya?

8506166674_27b6649d38_b

Belajar Daring

Salah satu kanal favorit saya di YouTube adalah TED. Bagi yang belum tahu, TED merupakan sebuah organisasi nonprofit yang berfokus pada penyebaran ide-ide menarik dari berbagai bidang sehingga bisa diterima oleh orang awam. Dari matematika di balik permainan basket hingga bagaimana mengikat tali sepatu dengan benar bisa Anda temukan di kanal yang penuh informasi ini.

Ide brilian ini diadopsi oleh banyak orang dan dilaksanakan secara independen dengan nama TEDx, termasuk di Indonesia. Anda bisa dengan mudah menemukan TEDxJakarta, TEDxBandung, dan TEDxUbud di YouTube. Pembicaranya pun orang-orang Indonesia yang hebat di masing-masing bidangnya seperti Anies Baswedan, Ridwan Kamil, hingga Mbah Sujiwo Tejo.

Setiap cerita berdurasi sekitar 18 menit dan tidak selalu berisi pidato. Musisi seperti Jubing Kristianto dan Barry Likumahuwa, misalnya, mengisi sebagian dari ceritanya dengan bermain musik. Kalau Anda ingin hiburan yang juga memberi informasi, menyimak TED bisa jadi pilihan yang tepat.

Masalahnya, saya yang orangnya mudah terdistraksi ini terkadang harus memilih-milih mana yang harus saya tonton. Tidak bisa dipungkiri, meski banyak yang menarik, tentu ada beberapa video yang memang bidangnya tidak terlalu saya sukai, atau memang pembicaranya saja yang kurang menarik membawakannya. Di samping itu, terkadang saya juga merasa tidak punya cukup waktu untuk menonton video sepanjang 18 menit.

Nah, baru-baru ini, saya menemukan TED-Ed. Kanal ini merupakan bagian dari TED yang berisi kumpulan video-video (kebanyakan berupa animasi) menarik yang durasinya hanya sekitar 4-5 menit. Meski singkat, ternyata banyak sekali yang bisa dipelajari dalam waktu sesingkat itu — dan videonya seru-seru! Bagi yang penasaran, ini teaser dari kanal TED-Ed.

Yuk, banyak belajar lagi!

IMG_20160117_121234280

Salju!

Wih, sudah beberapa minggu bolong nih. Bukannya tidak ada yang ditulis, tapi selalu kesulitan mencari formulasi yang tepat untuk tulisannya. Di sisi lain, memang sedang ada hal lain yang lebih mendesak dalam dua minggu terakhir ini. Ah, tapi itu sih alasan saja, padahal harusnya waktunya selalu bisa disediakan untuk menulis.

Anyway, beberapa hari ini dingin sekali di Edinburgh. Salju sudah turun beberapa kali dalam seminggu terakhir ini. Masalahnya, berhubung saya tinggalnya di dekat pusat kota yang agak hangat, jadi tidak terlalu banyak salju yang terlihat. Padahal, sedikit menengok ke arah selatan, warna putih sudah terlihat menghiasi di mana-mana.

Tentang salju-saljuan ini, sebenarnya saya tadinya sok cool gitu, tidak mau terlihat terlalu heboh. Eh, tapi nyatanya saya tetap jadi norak juga melihat salju yang banyak ketika main ke Pentland Hills tempo hari. Melihat tumpukan salju dari dekat dan berjalan di permukaan yang cukup licin ternyata menyenangkan. Hahaha…

Berhubung hari Minggu lalu tidak ada kegiatan, jadi langsung saja saya dan teman-teman berangkat mencari salju begitu tahu bahwa daerah belakang flat tempat saya tinggal sudah bersalju dari hari Sabtu malam. Maka berangkatlah kami, empat orang anak Indonesia di flat, menggunakan bis sekitar pukul 11.00 siang. Yeah!

IMG_20160116_185815683
Lapangan parkir di belakang flat

Kami menuju Midlothian Snowsports Centre yang menyediakan fasilitas untuk berbagai kegiatan di musim dingin, seperti ski, snowboard, dan snow tubing. Kalau pun tidak mau mengeluarkan uang untuk permainan-permainan tersebut, Pentland Hills tetap menjadi tempat yang menarik untuk didaki kok. Atau, bisa juga jadi seperti orang lokal yang membawa sled milik masing-masing untuk berseluncur di bukit bersalju.

IMG_20160117_134658271

Ramai sekali yang datang ke snowsports centre ini. Jalanan untuk keluar-masuk mobilnya sempit pula. Kalau ini di Indonesia, mungkin sudah ribut dengan suara klakson di mana-mana. Yah, mirip-mirip lah dengan suasana Puncak saat musim liburan.

Nah, yang seru itu ketika mendaki bukitnya. Dengan sepatu yang tidak memadai, kami berusaha mendaki bukit yang licin itu. Sebegitu licinnya sehingga menuruni bukitnya cukup beralaskan sepatu saja. Masalahnya ya tapi bagaimana cara berhentinya. Saya saja sampai berkali-kali terjungkir. :D

Pemandangan dari atas bukit terlihat menarik sekali. Semakin menjauhi pusat kota, semakin banyak daerah yang diselimuti warna putih. Dari sana benar-benar terlihat, kecil sekali kita itu di dunia ini ya?

IMG_20160117_154316023

Setelah liburan singkat ini, saatnya kembali produktif lagi!

London (Part 3: COYS)

Rencana awalnya, saya pulang hari Minggu siang. Padahal, saya sebenarnya sudah libur, jadi tidak ada kebutuhan untuk pulang cepat-cepat. Eh, tapi ternyata saya cukup “beruntung” karena kepulangan saya terpaksa tertunda sehari(!) Well, agak jahat untuk bilang beruntung, karena sebenarnya tertundanya kepulangan saya adalah karena banjir yang terjadi di daerah Lancaster sehingga akses kereta ke Edinburgh terhambat. Teman saya yang harusnya pulang Sabtu sore pun terpaksa menunda kepulangannya menjadi Minggu pagi.

Jadi, hari itu saya manfaatkan untuk bermain-main ke klub favorit saya di daerah London utara. Karena saya orangnya agak anti-mainstream, klub London utara yang saya favoritkan bukanlah tim gudang peluru, tapi klub rivalnya yang sempat punya nama-nama hebat seperti David Ginola, Jürgen Klinsmann, Gareth Bale, hingga — yang teranyar — Harry Kane. Yes, it’s Tottenham Hotspur!

Spurs Shop

IMG_20151206_114238166_HDR
Dengan muka yang masih lelah sehabis ngoding semalam suntuk

White Hart Lane — stadium Spurs — hanya berjarak 5 menit jalan kaki dari tempat saya tinggal. Sayangnya, hari itu sedang tidak pertandingan di stadium, Spurs baru bermain tandang sehari sebelumnya. Walhasil, saya hanya datang ke toko merchandise-nya dan ikut stadium tour!

Tentu kalau mampir ke tempat seperti ini yang dicari adalah jersey atau kit. Nah, sedikit tips buat yang mau agak hemat, coba tanyakan kit musim lalu. Biasanya harganya jauh lebih murah daripada kit yang baru. Saya membeli itu karena saya pikir toh tahun depan juga kit-nya akan ganti lagi. Dari sisi desain, saya malah lebih suka kit dua tahun yang lalu. Anyway, penghematannya tidak tanggung-tanggung: £35!

Nah, tadinya kan saya cuma mau foto-foto di depan stadium saja, tapi ternyata dari luar tidak begitu menarik*. Setelah bertanya-tanya tentang stadium tour, akhirnya saya dan Ataka — teman saya yang berbaik hati menemani saya jalan-jalan hari itu, membeli tiket seharga £20 di Spurs Shop untuk 1,5 jam keliling stadium.

Stadium Tour

Di kebanyakan stadium, biasanya disediakan fasilitas stadium tour dengan harga yang kurang lebih sama di sepanjang Inggris. Saya baru tahu kalau Wembley Stadium, markas tim nasional Inggris, pun punya stadium tour. Silakan cek situsnya untuk tahu informasi lebih lengkap.

IMG_20151206_130617824

Nah, di White Hart Lane, tur dimulai dari ruang konferensi pers. Kesan pertama dari ruangan ini adalah: sempit. Meski bisa menampung hingga sekitar 40-an orang, jarak antarbangku itu sempit sekali. Tak heran ruangan ini jarang dipakai untuk pengenalan pemain baru.

Ada sedikit cerita menarik tentang ruang konferensi pers ini. Hanya ada dua pemain di zaman modern yang diperkenalkan di ruang konferensi pers ini: David Bentley dan Roman Pavlyuchenko. Bentley tidak begitu berkesan nampaknya bagi para penggemar Spurs, tetapi lain halnya dengan Pavlyuchenko. Pemain Russia ini konon kabarnya sempat nyasar saat menuju ke White Hart Lane saat akan diperkenalkan di ujung musim transfer. Akhirnya, terpaksa penyerang bertubuh jangkung ini diperkenalkan di ruang konferensi pers.

IMG_20151206_131707782
Pemandu tur akan dengan senang hati membantu mengambil foto Anda

Kami kemudian diajak berkeliling lagi ke bangku penonton eksekutif, ruang trofi, ruang cendera mata, ruang ganti pemain, dan berakhir di pinggir lapangan hijau. Banyak hal yang baru saya ketahui setelah tur ini, termasuk nama Bill Nicholson yang menjadi legenda di klub berlambang ayam jantan ini.

Sang Legenda

Bill Nicholson adalah seorang pekerja keras. Kehebatannya sebagai seorang pemain dan kemudian manajer di Spurs begitu diakui hingga ia masuk ke dalam jajaran English Football Hall of Fame. Ketika ia menangani Spurs pertama kali sebagai manajer, kondisi Spurs saat itu sedang kurang berprestasi. Namun, kemenangan 10-4 atas Everton membuktikan kelas dari pelatih yang namanya diabadikan sebagai nama jalan di dekat White Hart Lane tersebut.

Bill bukan manajer sembarangan. Gilanya, sementara sebagian besar orang bersuka cita karena menang besar atas Everton tersebut, Bill masih tetap membahas secara serius 4 gol kemasukan dari tim lawan! Tak heran manajer bernama lengkap William Edward Nicholson ini berhasil memperoleh trofi UEFA Cup di tahun 1972. Dedikasinya yang begitu tinggi kepada klub memang patut diacungi jempol.

Any player coming to Spurs, whether he’s a big signing or just a ground staff boy, must be dedicated to the game and to the club. He must never be satisfied with his last performance, and he must hate losing. — Bill Nicholson

Lapangan Hijau

Kembali ke cerita jalan-jalan saya, hal yang berkesan lainnya di luar mengenal sosok manajer legendaris itu tentu adalah ketika melihat lapangan hijau secara langsung. Ketika keluar menuju tempat para eksekutif menonton pertandingan, ada perasaan luar biasa yang menerpa wajah saya. Saya tidak bisa menyembunyikan senyum kala itu. It was absolutely breathtaking.

IMG_20151206_132032013_HDR
Dari tribun eksekutif

Ada beberapa fakta menarik tentang lapangan hijau. Dari foto di atas, terlihat bahwa lapangannya tidak sepenuhnya hijau. Warna kuning itu berasal dari lampu-lampu yang fungsinya adalah merawat rumput lapangan di musim dingin seperti sekarang ini. Fakta lainnya dapat Anda ketahui kalau Anda melihat lapangan dari pinggirnya: lapangan hijau itu ternyata tidak rata! Lapangan hijau didesain agak cembung di tengah untuk menghindari air yang menggenang di kala musim hujan.

Kalau Anda cukup teliti, Anda akan menemukan lambang ayam jantan yang terpasang di atap stadium. Lambang yang terbuat dari perunggu tersebut merupakan time capsule. Ketika White Hart Lane selesai direnovasi nanti, time capsule ini akan tetap dijaga sebagai penanda sejarah dari stadium yang lama.

Daripada ceritanya jadi terlalu panjang lagi, saya sertakan beberapa foto saja ya untuk melengkapi ceritanya. Semoga caption yang diberikan di setiap foto bisa membantu Anda melihat lebih jelas sudut-sudut menarik dari stadium ini. Akan tetapi, ada satu bagian yang saya rasa sangat menarik untuk diceritakan: ruang ganti.

Trik Ruang Ganti

Setiap stadium selalu memiliki ruang ganti untuk tim kandang dan tandang. Anda tentu sering mendengar bahwa bermain di stadium sendiri itu punya keuntungan yang besar. Nah, salah satunya adalah karena ruang ganti ini.

Peraturan tentang ruang ganti tim tandang ternyata sederhana sekali, yang penting ada hal-hal seperti ruang utama, shower, dan ruang medis. Sederhananya peraturan ini sering menjadi celah untuk mengakali ruang ganti tim tandang. Beberapa klub membuat ruang ganti tim tandang berbentuk huruf L atau diberi kolom-kolom sehingga menyulitkan komunikasi saat briefing. Ada juga yang memberikan bau-bauan tertentu di ruang ganti. Anda mungkin ingin melihat artikel ini untuk tahu lebih lanjut.

Ruang ganti tim kandang berbeda 180 derajat. Di White Hart Lane, Anda akan melihat tiga televisi, masing-masing untuk membantu briefing barisan penyerang, gelandang, dan pemain bertahan. Kamar mandi pemain pun tidak boleh dimasuki sembarangan orang. Di stadium Chelsea konon kabarnya bahkan pemain bisa memesan wangi-wangian khusus untuk loker mereka masing-masing! Setelah melihat hal-hal seperti ini baru saya benar-benar paham bahwa keuntungan kandang itu nyata adanya.

IMG_20151206_141530447
Pemain akademi yang mulai bersinar

Akhir dari Tur

Perjalanan berkeliling stadium sekitar 1,5 jam berakhir di pinggir lapangan hijau. Setelah itu, kami keluar melalui lobi utama yang biasanya diperuntukkan sebagai jalur masuk penonton VIP. Overall, it was a lovely afternoon inspite of the gloomy sky.

Kalau Anda bertanya apakah uang yang dikeluarkan sepadan dengan yang didapatkan, saya akan menjawab iya. Terlebih lagi kalau stadium yang Anda sambangi itu milik klub kesayangan Anda. Namun, saya cukup yakin kalau stadium legendaris semacam Camp Nou, Santiago Bernabeu, atau yang lebih modern seperti Allianz Arena punya daya tarik tersendiri.

Perjalanan saya kemudian dilanjutkan ke British National Museum, King’s College London, dan restoran Nusa Dua hari itu. Namun, disimpan dulu untuk pos selanjutnya ya? Selamat beraktivitas lagi!


* Klub yang tidak terlalu besar biasanya memang tidak banyak spot menarik untuk berfoto-foto ria dari luar