Ekstrem

Mungkin manusia itu pada dasarnya ingin menggeneralisasi ya, membuat mental model yang bisa menjelaskan sebanyak mungkin peristiwa dengan cara yang sederhana*. Kelihatannya memang agak sulit untuk bisa menerima kondisi bahwa suatu sistem atau entitas itu ada dalam beberapa kondisi sekaligus. Superposition**.

Di Indonesia saat ini sedang banyak kubu yang berseteru. Salah satu bahasan yang sedang panas adalah isu-isu agama, terutama terkait dengan pemilihan kepala daerah. Singkatnya, masing-masing kubu punya kepercayaan masing-masing, dan kepercayaan itu seolah-olah tidak dapat diganggu gugat. Repotnya, ini dibawa-bawa ke tatanan yang lebih luas yang bahkan cenderung memaksakan.

Yang menjadi sorotan saya sebenarnya adalah generalisasi itu tadi. Entah mengapa orang-orang itu tidak mau menerima bahwa seseorang itu bisa dalam kondisi baik dan buruk sekaligus. Iya, ada kurangnya, tapi ya jangan tutup mata terhadap lebihnya. Betul juga bilang ada lebihnya, tapi bukan berarti tanpa cacat kan?

Mental kita mungkin masih terlalu sibuk di pencarian kambing hitam, alih-alih mencari solusi dari permasalahan itu sendiri. Kita sering terlalu nyaman dengan yang sudah dipunya sehingga terlalu malas untuk mencapai sesuatu yang lebih. Sesuatu yang mungkin bisa dicapai dengan sedikit dorongan saja.

Sudahlah kita doyannya mencari kambing hitam, kesantunan kita pun tak jarang hilang entah ke mana. Sudah sepaket sepertinya yang seperti itu. Padahal, apakah dengan memaki kita jadi lebih baik dari yang dimaki? Apakah dengan memaki keadaan kemudian akan jadi lebih baik?

Yang namanya mencari keseimbangan itu memang tidak semudah teori. Harus dijalani sendiri untuk tahu letak kesulitannya. Makanya, jauh lebih mudah untuk memilih ke salah satu titik ekstrem. Tidak begitu mengherankan kalau ternyata banyak orang yang jadi seperti itu.

Yah, tapi pada akhirnya hidup itu memang tentang keseimbangan kan?


* Apakah ini bentuk generalisasi juga? Hehehe…

** Tulisan ini terinspirasi dari berita baru-baru ini bahwa PM Kanada itu.

Procrastinate

I know. I know. Harusnya saya menyelesaikan proposal disertasi, bukannya sibuk menulis blog. Namun, kali ini saya perlu curhat sedikit di tengah segala kepenatan ini. Saya sedang agak depresi karena tiap kali buka Facebook itu yang muncul adalah orang-orang yang sedang bahas soal ujian tahun-tahun lalu. Saya harusnya sudah seperti mereka, tapi ini malah masih berkutat dengan proposal yang sebenarnya cuma akan dinilai lulus/gagal ini.

Intinya, saya butuh hiburan yang singkat. Mengapa? Karena hidup saya agak tidak teratur; si instant gratification monkey belum kabur juga. Bukunya om Bishop sudah menunggu di meja untuk dibaca, tapi hebatnya otak ini masih saja mencari alasan untuk bersantai sejenak. Ujian sudah tinggal dua minggu lagi, coy! Gila, memang.

igmrdminteracting1
Instant gratification monkey | Sumber: Wait but Why

Saya sempat mencoba untuk menjadwalkan kegiatan per minggu. Namun, di luar yang memang wajib, biasanya tidak akan dikerjakan. Teknik pomodoro juga nampaknya belum berhasil buat saya. Kenapa? Ya karena saya tidak punya hiburan yang sifatnya singkat. Saya perlu hiburan yang selesai dalam 5 menit sehingga saya bisa kembali ke pekerjaan dengan cepat.

Mungkin menulis seperti ini bisa jadi hiburan singkat itu ya? Lah, tapi kalau yang sedang dikerjakan itu menulis proposal, hiburannya sebelah mana? Hiburan apa ya yang bisa dihentikan di tengah-tengah dan tidak merasa rugi meninggalkannya?

Ada usul, pemirsa?

Penyimpanan Daring

Siapa dari Anda yang belum pernah memakai layanan penyimpanaan daring? Nama-nama seperti Dropbox, Google Drive, atau Microsoft OneDrive mungkin beberapa contoh populer dari layanan sejenis ini. Intinya, layanan tersebut memberikan media penyimpanan dalam jaringan yang membuat berkas yang Anda simpan bisa diakses dari mana saja selama Anda terhubung dengan internet.

Layanan seperti ini yang paling awal saya kenal adalah Dropbox. Sekitar zaman kuliah dulu, ketika berkas yang mau disimpan pun tidak sebesar sekarang, 2 GB yang disediakan untuk pengguna biasa Dropbox itu sudah cukup. Apalagi, ketika zaman kuliah masih ada Campus Cup yang bisa menambahkan kapasitas penyimpanannya hingga beberapa GB lagi.

Penuh!

Masalah muncul ketika penambahan kapasitas tersebut habis masa berlakunya dan kapasitas penyimpanan turun kembali ke 2 GB. Banyak yang kemudian “panik” dan mencoba mencari alternatifnya. Sebetulnya, setelah Dropbox semakin marak, banyak juga yang membuat layanan seperti ini. Selain Google Drive dan Microsoft OneDrive (dulu namanya SkyDrive), ada Box.net (sekarang jadi Box), Ubuntu One, dan Copy.

Untuk jaga-jaga, saya coba lah untuk membuka akun di beberapa layanan tersebut. Dengan isu privasi Google Drive yang sempat merebak beberapa waktu silam, dan terbatasnya akses Ubuntu One (client app-nya agak ekslusif), maka saya pun memilih Copy yang memberikan kapasitas yang cukup besar dan punya client app yang cukup oke. Memang Copy tidak punya client app di banyak platform seperti Dropbox, tapi cukup lah saya kira mengingat mereka memberikan kapasitas hingga 20 GB bagi pengguna awal.

Tutup!

Lalu semuanya berubah saat negara api menyerang.

Canonical yang mengurus Ubuntu One akhirnya kewalahan dengan persaingan yang ada dan tidak punya modal investasi yang cukup untuk meneruskan layanan ini. Maka, mereka pun terpaksa menutup layanan ini pada tanggal 1 Juni 2014. Berkurang sudah satu tempat penyimpanan saya.

Hampir dua tahun berselang semenjak Ubuntu One ditutup, sekarang saya harus menghadapi kenyataan bahwa Copy pun akan menutup layanannya per 1 Mei 2016. Haduh, kacau dunia persilatan. Ini artinya dokumen-dokumen saya harus saya pindahkan lagi ke tempat lain.

Screen Shot 2016-03-29 at 18.06.13
Ditutup juga!

Iya, proses pindahan itu yang paling repot sebenarnya. Harus menunggu lama lagi untuk memindahkan berkas-berkasnya, belum lagi kalau ternyata nanti ada berkas yang sama tapi dengan versi yang berbeda. Sulit melacak konfliknya terjadi di mana. Bisa-bisa mesti disortir dulu satu-satu.

Solusi (Sementara?)

Untung sekarang saya sedang dapat tambahan kapasitas Dropbox lagi dari Campus Cup 2015. Jadi, mungkin untuk sementara waktu saya masih bisa mengembalikan berkas-berkas saya ke Dropbox lagi. Lumayan, ada sekitar 25 GB lagi yang bisa saya pakai.

Namun, berhubung sekarang sudah punya uang sendiri, sebetulnya saya bisa saja melakukan upgrade dari layanan dasar yang biasa diberikan. Dropbox bisa memberikan kapasitas penyimpanan 1TB dengan membayar £79.00 per tahun. Microsoft malah menawarkan kapasitas penyimpanan OneDrive 1TB plus Office 365 dengan hanya Rp 879.000 per tahun. Masalahnya, OneDrive itu tidak punya client app yang resmi untuk Ubuntu, tidak seperti Drobox.

Yah, mungkin kembali ke external harddisk saja dulu.

Belajar Mandiri

Ya sudah. Begitu saja, semester kedua akan berakhir dalam satu minggu lagi. Berarti sudah saatnya bersiap menghadapi ujian sekitar sebulan lagi dari sekarang. “Kaya kemaren baru ngepost foto mendung di bandara,” bunyi pesan seorang teman. Time flies.

Saya agak bingung terkadang bagaimana menjalani hidup yang seimbang itu. Melihat teman-teman yang sudah sibuk saja mendaftar visa Schengen, saya jadi berpikir, “Apa terlalu serius saya menjalani hidup ini?” Saya sih belum bisa tenang sebelum ujian selesai. Bawaannya masih ketar-ketir meski perilakunya tidak menunjukkan seperti itu.

Kalau boleh dibilang, saya ini terhitung banyak “beruntungnya”. Tuhan beri saya kelebihan untuk memahami banyak hal. Namun, saya sering terlalu malas untuk memaksimalkan apa yang sudah diberikan Tuhan ini. Entah sejak kapan pola pikir saya berubah dari “tidak rela dapat 90 padahal bisa dapat 100” jadi “yang penting lulus saja dulu”.

Padahal nih ya, secara usaha sih kelihatannya tidak berbeda jauh. Dari dulu mah saya juga bukan orang yang sampai belajar mati-matian untuk suatu hal. Ada kalanya memang usahanya agak ekstra dengan mencoba mengulas beberapa materi, tapi itu jarang terjadi deh seingat saya. Dengan semua kenikmatan yang saya dapat sampai sekarang, saya jadi suka sedih sendiri karena merasa tidak memaksimalkan potensi yang diberikan.

Menjadi mahasiswa di negeri orang seperti ini memang punya tuntutannya tersendiri. Kemampuan membaca dan berlatih sendiri itu adalah hal yang wajib dilakukan. Semua serba mandiri. Belum lagi kenyataan bahwa ujian dari dua semester digabung menjadi satu bulan saja. It’s all or nothing.

Semoga saja semua dilancarkan dan saya bisa dapat hasil yang terbaik.

Social Experiment

Manusia itu objek penelitian yang paling menarik — paling tidak bagi saya. Mengapa kita melakukan ini, mengapa kita berpikir seperti itu, selalu jadi pertanyaan yang tidak pernah berhenti muncul dari setiap kejadian yang ada di sekeliling saya. Pertanyaan besarnya terkadang, “Kalau kita diciptakan sedemikian berbeda satu sama lain, apa sih sebenarnya yang membuat hakikat kita sama sebagai manusia?”

Manusia selalu berusaha membentuk suatu kerangka yang cukup umum, generalisasi dari berbagai macam hal sebagai sebuah mental model yang menjadi “jalan pintas” untuk mencapai kesimpulan. Nah, program yang saya sematkan di atas justru mencoba menggali setiap kemungkinan penjelasan yang ada, berusaha melihat secara spesifik dari berbagai aspek. Menariknya, semua itu hanya berasal dari keresahan-keresahan yang kerap kita abaikan.

Gue bukan aktivis atau peneliti. Gue cuma anak urban yang punya hobi komplain nomor satu! – Adriano Qalbi

Jakarta dan Masalahnya

Program Social Experiment ini banyak mengambil latar di Jakarta. Kalau bicara tentang Jakarta, apa sih yang terpikirkan sama orang-orang? Saya cukup yakin yang banyak muncul duluan itu adalah masalahnya, entah itu macet, sampah, atau banjir. Lucunya, sesering apapun orang komplain, nyatanya kita masih bisa hidup juga dengan kondisi yang sedemikian semrawutnya. Bahkan, setiap tahunnya orang-orang selalu menuju ibukota untuk mencari harapan hidup yang lebih baik. Menarik kan?

Makanya, saya pikir pemilihan latar tersebut tidak mengherankan. Walaupun, memang ada juga topik-topik yang cenderung lebih general seperti pernikahan atau kesehatan. Yang jelas, bahasannya cukup mengena ke kehidupan sehari-hari, karena beberapa kali juga saya senyum-senyum sendiri mendengar ceritanya. Bahasa kekiniannya, “relatable banget”.

Sudahkah Dicari Solusinya?

Bagian menarik dari program ini adalah fokusnya yang tidak hanya pada masalahnya, tetapi juga pada pencarian solusinya. Ada tantangan-tantangan yang dilakukan semata-mata untuk memberikan bukti kecil dari potensi solusi yang ada. Contohnya, balapan dari Mahakam sampai Monas antara tiga moda transportasi yang berbeda untuk solusi masalah kemacetan, tantangan tiga hari hidup tanpa gawai, hingga bermain di pasar malam sebagai salah satu cara menghilangkan penat.

Nah, karena ada berbagai alternatif solusi yang ditawarkan, Anda bebas memilih mana yang paling cocok dengan diri Anda. Kalau pun tidak ada yang cocok tidak apa-apa, tapi paling tidak kan sudah tahu apa yang mesti diselesaikan. Skala perubahannya pun mungkin kecil, tapi bukankah segala sesuatu yang besar itu selalu dimulai dari hal yang kecil?

Sayang acara yang seperti ini nampaknya sulit dapat rating bagus.

Roads Less Travelled

Kuliah akan selesai dalam dua minggu lagi. Agak deg-degan rasanya karena itu berarti saya harus bersiap-siap untuk menghadapi ujian dari dua semester sekaligus. Lebih pusingnya lagi karena itu artinya saya sudah mesti memulai menentukan lagi jalan yang mau saya pilih setelah semua ini berakhir. Mau apa lagi saya?

Masih ada keinginan saya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sejauh ini sudah ada dosen dan topik yang saya tertarik untuk pelajari lebih lanjut. Sayangnya, ini berarti saya harus agak bergeser dari jurusan yang sedang saya jalani sekarang. Yah, semua orang saya yakin cukup tahu bahwa yang namanya perubahan itu selalu bikin sakit perut.

Saya selama ini selalu berpikir bahwa salah satu cara untuk meninggalkan jejak dalam hidup ini adalah untuk menjadi yang berbeda. Taking roads less travelled. Namun, tentu itu berarti membuat diri ini secara konsisten dalam perubahan — sakit perut secara konstan. Kekhawatiran tentang apakah jalan yang saya ambil ini adalah “jalan pintas” atau justru “jalan yang menyesatkan” selalu menghantui.

Saya cuma terus mencoba untuk percaya bahwa skenario Tuhan tentu yang terbaik. Tidak usah bimbang. Kalau lah ternyata jalannya salah, ada cara Tuhan nanti untuk mengembalikan saya ke jalan yang benar. Yang penting saya mau bergerak, bukan berdiam di tempat — yang berarti tidak akan pernah sampai ke tujuan. Yah, semoga saja Tuhan berikan kekuatan untuk kita semua yang sedang berjuang demi kebaikan sesama.

Bismillah.

Creativity, Inc.

Saya sedang membaca buku Creativity, Inc. karya Ed Catmull. Bukunya seru sekali, tentang perjalanan Pixar dulu sampai sekarang, hampir setiap bab ada hal yang bisa saya highlight! Bagaimana mereka berawal dari beberapa orang yang ternyata sama-sama mengangumi Disney, perbedaan bayangan mereka tentang Disney dan kenyataan yang ada, sampai akhirnya mereka diakuisisi oleh Disney, semua diceritakan dengan sangat menarik. Semua membuat saya gatal untuk terus berkreasi di sela-sela waktu kuliah ini.

Mimpi saya suatu saat adalah punya sebuah “tempat bermain” sendiri, sebuah industri kreatif. Google telah lama menjadi panutan saya untuk hal seperti ini, tapi setelah membaca buku ini, saya jadi memasukkan Pixar sebagai bagian dari contoh ideal. Satu kesamaan yang membuat saya semakin yakin dengan jalan yang saya tempuh sekarang adalah kenyataan bahwa Ed Catmull, penulis buku Creativity, Inc., ternyata seorang doktor!

Membangun Kreativitas dari Kejujuran

Pixar sendiri awalnya memang dibangun dengan landasan perkembangan teknologi animasi tiga dimensi dengan bahan bakar mimpi untuk menciptakan cerita-cerita yang kelak dikenang orang. Membuat film yang medioker menjadi hal yang sangat tidak diinginkan di Pixar, tetapi menghadapi kegagalan dalam proses mencapai tujuan itu adalah suatu keniscayaan. Semua orang tidak perlu takut berbuat salah, dan jangan sungkan pula menyampaikan kritik jika dirasa ada yang tidak beres.

Nah, poin yang terakhir itu yang kadang masih sulit buat saya. Saya pernah jadi orang yang terbiasa menegur orang lain tanpa memfilter omongan saya, karena saya tahu kebenarannya. Masalahnya, cara saya menyampaikannya terkadang terlalu keras sehingga orang-orang malah menjadi segan. Ini yang saya coba perbaiki, yang sekarang malah berujung pada saya yang sulit sekali untuk memunculkan keberanian untuk menegur.

Keseimbangan

Pada akhirnya, keseimbangan itu sesuatu yang amat praktis. Sehebat apapun kita menyampaikan teori bagaimana menyeimbangkan diri, itu semua tidak menjamin kita kan dengan mudah menyeimbangkan segala sesuatunya. Menjadi seimbang juga bukan berarti tidak mengambil sikap. Karena, laiknya belajar naik sepeda, kita hanya akan bisa seimbang ketika terus bergerak.

3867932646_f67eb71bf8_b
Ilustrasi | Sumber: https://www.flickr.com/photos/paulhami/3867932646/

Nah, dalam bersepeda juga jatuh itu menjadi suatu hal yang biasa. Dan tidak ada yang bisa disalahkan dengan jatuhnya kita tersebut. Kalau lah ada, apakah dengan terus mengomel dan mencari-cari siapa yang salah kita jadi bisa mengendarai sepeda dengan baik? Seperti slogan perlengkapan olahraga itu,

Just do it.