Lego

Lego Mixels

Sejak kecil, mainan Lego sudah jadi salah satu yang biasa ada dalam hidup saya. Uang THR yang didapatkan setelah lebaran pun kebanyakan dihabiskan untuk melengkapi koleksi Lego kami — saya dan dua orang adik laki-laki saya. Seri Lego City, Harry Potter, hingga — favorit saya — Bionicle, selalu menjadi yang dicari pertama kali ketika mendatangi toko-toko mainan diJakarta.

Kebiasaan tersebut berlanjut sampai sekarang. Hampir setiap jalan-jalan ke mal, saya menyempatkan untuk datang ke toko mainannya untuk melihat-lihat seri Lego yang baru. Nah, akhir-akhir ini saya lagi tertarik dengan seri Mixels.

Lego Mixels Seri 1: Krader dan Shuff

Lego Mixels Seri 1: Krader dan Shuff

Ada tiga alasan mengapa saya tertarik dengan Mixels: 1) makhluknya aneh-aneh; 2) mereka bisa digabungkan; 3) dan — yang paling penting — harganya relatif murah. Percayalah, harga Lego sekarang mahal-mahal. Seingat saya dulu seri Lego City itu yang satu kendaraan dan satu karakter kecil harganya berkisar Rp 50 ribuan. Sekarang, harganya bisa sampai Rp 100 ribuan!

Nah, Mixels ini harga satuannya Rp 69.900. Yang membuat saya akhirnya memutuskan beli adalah karena harga yang sudah relatif murah itu didiskon 50%! Bayangkan betapa kalapnya saya melihat itu. Yang awalnya hanya ingin beli satu set (tiga makhluk @ Rp 34.950), jadi beli dua set. :|

Meskipun begitu, setelah dihitung-hitung, harganya tetap lebih murah daripada Bionicle yang ingin saya beli! Iya, harga Bionicle sekarang segitu mahalnya. Dulu harga satuannya hanya sekitar Rp 70 ribuan. Sekarang, karakter sampingannya saja berharga Rp 180.000, sedangkan karakter utamanya mencapai Rp 360.000!

Agak sedih rasanya karena saya sudah mengoleksi Bionicle cukup banyak. Hampir setiap lebaran saya menyisihkan uang THR untuk membeli Bionicle, meski adik-adik saya sudah tidak tertarik mengoleksinya lagi. Seri terbaru dari Bionicle ini pun baru muncul lagi setelah sekian tahun lamanya vakum.

Yah, mungkin harus melanjutkan koleksinya ke Mixels dulu untuk saat ini. :’)

Ahlan wa Sahlan, ya Ramadhan

Alhamdulillah. Sudah sampai ke waktu itu lagi. Ramadhan sudah tiba, waktunya menyambut tamu agung ini. Momentum ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik.

Laiknya menyambut seorang tamu, maka sudah sewajarnyalah kita bebersih diri. Sudah sepatutnya kita menghilangkan keburukan yang selama ini menodai. Dan sudah waktunya pula bersiap, bertransformasi menjadi bentuk terbaik.

Entah mengapa, tahun ini rasanya agak berbeda dalam menyambut Ramadhan. Semua sama-sama terasa berlalu begitu cepat, tapi saya tidak merasa segelisah sebelumnya, tidak sekhawatir sebelumnya. Apakah itu perubahan yang baik atau buruk, saya tidak tahu. Yang jelas, saya sudah menargetkan beberapa hal di Ramadhan kali ini.

Ya Ramadhan,

Semoga kami tidak menyia-nyiakan kedatanganmu kali ini.

Ahlan wa sahlan, ya Ramadhan.

Andai

Kita sering sekali berandai-andai dalam hidup ya? Oh, mungkin Anda tidak — saya tidak tahu, yang jelas saya itu sering sekali berandai-andai. Pikiran ini sering berjalan-jalan ke mana-mana, tak jarang memikirkan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dipusingkan. Buat apa?

Yang namanya berandai-andai itu kemungkinannya cuma dua: terhadap sesuatu yang sudah terlanjur terjadi atau sesuatu yang belum terjadi. Terhadap hal-hal bodoh yang saya lakukan, saya kerap berandai-andai, “Kalau saja hal itu tidak saya lakukan, mungkin….” Pertanyaannya sekarang: terus mau diapakan lagi?

Lain lagi halnya dengan yang belum terjadi. Berandai-andai ini biasanya datang bersamaan dengan kecemasan — kekhawatiran. Saya jadi sibuk menerka-nerka segala kemungkinan, biasanya berhubungan dengan hal-hal buruk yang menunggu di masa depan. Padahal, mayoritas dari yang diandai-andaikan itu hanya ada dalam pikiran saja, tidak pernah benar-benar terjadi.

Jadi, kesimpulannya berandai-andai itu buruk dong?

Well, tidak selalu sih.

Alasannya klise: hidup itu selalu penuh dengan hal-hal yang berpasang-pasangan. Dalam berandai-andai pun, tentu ada hal-hal baik yang tersimpan. Berandai-andai terhadap masa lalu bisa saja menjadi pengingat kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, sedangkan berandai-andai akan hal yang tidak pasti di masa depan bisa membantu kita lebih awas, membantu kita mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi. Orang-orang yang senang berandai-andai atau berimajinasi pula lah yang telah menjadi penemu berbagai gawai-gawai menarik yang kita gunakan sekarang.

Berandai-andai itu suatu bentuk ketidakberdayaan. Di saat-saat seperti itu, sudah seharusnya lah kita mengingat Sang Mahakuasa. Bahwa segala sesuatu yang telah terjadi pastilah terjadi dengan izin-Nya, dan segala sesuatu yang belum terjadi tentu dapat berubah dengan kuasa-Nya.

Ingat, tugas kita hanya berusaha, Dia lah yang akan menentukan hasilnya.

What Does Normal Mean, Anyway?

Cepat!

Saya baru mulai mengerti perasaan ayah saya selama ini. Dengan pikiran yang seakan tidak pernah berhenti dialiri keinginan untuk produktif, susah bagi saya untuk berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Masalahnya, bersamaan keinginan itu juga adalah kesulitan untuk melihat orang lain — terutama yang di bawah komando saya — berdiam diri.

Dalam hidup, tidak jarang kita juga mengalami hal yang serupa. Terkadang, sulit sekali bagi kita untuk memahami bahwa beberapa hal memang hanya butuh waktu. Ada masa-masa ketika kita harus menunggu untuk buah dari kerja yang kita lakukan. Ada satu kutipan yang bagi saya selalu menarik tentang masalah ini.

“No matter how great the talent or efforts, some things just take time. You can’t produce a baby in one month by getting nine women pregnant.” — Warren Buffett

Di zaman yang serba cepat ini, rasanya penting sekali untuk terus bergerak cepat. Seolah semua selalu punya jalan pintasnya. Dan dengan tekanan dari kanan-kiri, melihat teman-teman yang usahanya sudah mulai diliput media, atau yang baru memenangkan suatu kompetisi, saya sering bertanya, “Apa saya sudah dalam kecepatan yang benar?”

Sampai sekarang, itu masih jadi pertanyaan yang cukup besar buat saya yang belum saya ketahui jawabannya. Yang jelas, saya masih mencoba berpegang pada satu prinsip: bahwa hidup ini seperti lari marathon. Sekarang, mungkin judulnya saya sedang kalah sprint, tapi semoga dengan tetap melangkah dengan mantap, saya bisa mencapai sebuah kesuksesan di akhir “perlombaan” ini.

Pada akhirnya, yang perlu kita lakukan hanya berusaha sekeras mungkin. Kerja cerdas penting, tapi kerja keras melupakan suatu hal yang tidak boleh diabaikan. Dan hanya dengan kerja ikhlas, semua itu bisa terasa lebih ringan.

Siap?

Khawatir

Khawatir itu perasaan yang aneh. Berbeda dengan kehilangan yang pada akhirnya bisa kita relakan atau kedatangan yang selalu menyenangkan, khawatir adalah ujung dari sebuah ketidakpastian. Perasaan khawatir itu menusuk tak terelakkan.

Khawatir muncul karena ketidakberdayaan. Padahal, mengapa lah harus dikhawatirkan? Kalau ada yang kita bisa lakukan, maka lakukan. Namun, ketika tidak ada yang bisa dilakukan, bukankah itu sudah menjadi satu keniscayaan?

Khawatir itu ujian kehidupan. Seberapa tawakal kita menghadapi segala ketidakpastian. Ingatlah selalu perintah Tuhan untuk senantiasa berdoa, berlindung dari waswas yang ditiupkan setan.

Teman, semoga engkau yang sedang dilanda kekhawatiran diberikan kekuatan. Semoga Tuhan memberikan kesabaran dan ketabahan. Semoga doa yang engkau panjatkan berbuah satu kebaikan. Semoga Tuhan menujukkan jalan-Nya.

Media

Arus informasi menggila. Anda mungkin menemukan tulisan ini di antara tumpukan bacaan yang menggunung di sekeliling Anda. Tulisan ini mungkin hanya jadi sebuah usaha kecil dalam penyebaran kebaikan.

Begitulah media 2.0. Keterhubungan masyarakat benar-benar terekam. Dinding pun bertelinga sekarang. Dulu orang berpikir bagaimana caranya bisa berinteraksi dengan penyiar di TV, sekarang itu semua terjawab dengan mudahnya melalui media sosial.

Saya belajar banyak tentang ini dari siaran Star Talk semalam yang digawangi oleh astrofisikawan Neil deGrasse Tyson. Malam itu, mereka membicarakan tentang media sosial dan jurnalistik. Mengundang Jeff Jarvis — seorang profesor di bidang jurnalistik — dan Chuck Nice — seorang komedian di AS, mereka membicarakan bagaimana media konvensional “bersaing” dengan media sosial di zaman seperti sekarang ini. Anda bisa menonton cuplikannya di sini.

Menariknya, memang media konvensional pada akhirnya selalu berhulu pada masyarakat, yang dalam era pos-Gutenberg ini bersumber dari media sosial. Media sosial memberikan mimbar bagi siapa saja, termasuk orang-orang yang dianggap mengganggu karena kekurangan ilmunya — asal bunyi. Perhatikanlah, sudah berapa kali Anda merasa kesal karena tulisan yang Anda lihat di Facebook yang berasal dari orang-orang terdekat Anda?

Begini, dari dulu, orang-orang yang menyebalkan itu selalu ada. Orang-orang yang berkomentar tanpa tahu ilmunya itu juga selalu ada. Bedanya, dengan adanya media sosial, semua itu menjadi terpatri. Mereka punya probabilitas yang lebih tinggi untuk mendapatkan perhatian. Padahal, mungkin secara rasio jumlah mereka dulu dan sekarang itu sama. Jadi, apa yang harus dilakukan?

Sederhana saja, jangan berikan perhatian yang mereka inginkan. Jangan “memberi makan” mereka. Persentase mereka seharusnya kecil, tapi dengan memberi mereka makan, maka mereka dapat tumbuh besar. So, don’t ever laugh at their posts.

The Huffington Post dulu mencoba menggunakan algoritma yang canggih dan 30 orang moderator manusia untuk menyingkirkan internet troll tersebut dari kolom komentar artikel-artikel mereka. Namun, internet troll ini seakan tidak pernah habis. Akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan bahwa mengapa mereka harus memusingkan sekelompok orang yang mungkin hanya sejumlah 0,00001 persen dari populasi ini?

Pada akhirnya, media sosial memang sebuah usaha pencitraan. Dan citra yang dibangun tersebut bisa jadi citra yang baik, bisa juga citra yang buruk. Karena, toh, tidak semua hal yang kita alami dalam hidup kita masukkan ke sana kan? Maka, di samping kita perlu menyaring hal-hal buruk yang berseliweran di sekitar kita, ada satu hal yang tak kalah penting: menghasilkan karya-karya positif.

Apakah kita sudah cukup berkarya hari ini?

Sekelumit Jakarta

Hari ini saya melihat beberapa hal yang “menarik” sekali di ibukota tercinta ini. Ini membuat saya benar-benar berkontemplasi. Saya yang biasanya hidup enak, tinggal pilih naik motor atau naik mobil ke kantor — meski waktu tempuhnya bisa mencapai satu jam, hari ini melihat lagi apa yang lama saya tinggalkan sejak lulus SMA: kehidupan angkutan umum.

Semua berawal ketika saya harus mengunjungi salah satu rumah sakit di bilangan Jakarta Timur. Menariknya, meski rumah sakit ini akan dicalonkan sebagai subrujukan untuk kasus tuberkulosis (TB), masih banyak hal yang saya pikir harus dibenahi dari sarana maupun prasarananya. Gampangnya, ada kok beberapa rumah sakit lain yang punya kapasitas lebih.

Well, ternyata memang rumah sakit tersebut mencerminkan daerah di sekitarnya. Berhubung lokasinya dekat dengan terminal — yang sebetulnya juga hanya terminal bayangan, maka berseliweranlah kendaraan umum berbagai jenis. Saya yang saat itu sedang senggang, memutuskan menggunakan bis untuk mencapai tujuan saya berikutnya.

Hal yang pertama saya sadari adalah betapa semrawutnya sistem transportasi umum ini: tidak ada halte yang nyaman untuk menunggu, jadwal yang tidak pasti, hingga masih banyaknya anak jalanan yang mencari uang dengan berbagai macam cara. Yang membuat makin miris, ketika saya menunggu di bawah terik matahari siang itu, saya melihat seorang anak kecil yang sedang merokok. Ia masih usia sekolah dasar, tapi tidak ada yang menegurnya mengepulkan asap dari benda berbahaya itu. Dan, hey, ini jam sekolah, mengapa dia tidak pakai seragam dan tidak berada di sekolah?

Itu baru satu kasus. Saya juga melihat seorang bocah laki-laki yang mengamen di dalam bis. Biasa mungkin. Yang tidak biasa adalah tindakan dia berikutnya. Ketika dia sudah turun dari bis, kemudian seorang wanita muda masuk ke dalam bis dan mengambil tempat duduk tidak jauh di depan saya. Kalian tahu yang anak kecil itu lakukan? Ia kembali ke dalam bis, meminta-minta pada wanite tersebut (tidak mengamen lagi), kemudian mencolek-colek lengan wanita tersebut. Entah dari mana ia berpikiran untuk melakukan hal tersebut. Namun, saya cukup yakin bahwa apa yang dia saksikan selama ini di lingkungannya telah menjadi preseden yang buruk.

Itulah sekelumit kehidupan ibukota. Meski saya menemukan hal-hal seperti itu, meski saya “dipaksa” memikirkan hal-hal seperti itu, tetap saja saat ini saya sedang duduk enak di sebuah mal yang dingin, menulis di depan laptop kesayangan yang harganya mungkin bisa dipakai untuk uang kuliah saya dua semester dulu. C’est la vie.

Saya mungkin selama ini mengeluhkan lamanya waktu tempuh rumah-kantor sehari-hari yang bisa mencapai satu jam. Saya mungkin juga sering dipusingkan karena tidak punya teman main di waktu-waktu kosong saya. Gawai-gawai yang saya miliki mungkin juga kalah canggih dengan kebanyakan yang teman saya punya.

Namun, bukankah masih banyak hal yang bisa disyukuri dari hidup ini?