Privacy vs Convenience

Pernah tidak di ponsel Anda tiba-tiba muncul pesan “ETA 30 minutes to home”? Atau bagi yang penggemar sepak bola, Anda mungkin pernah dapat notifikasi saat tim kesayangan Anda akan bertanding? Itu adalah bentuk assistance yang diberikan oleh Google untuk Anda.

Masalahnya, supaya Google dapat melakukan itu, mereka perlu tahu Anda sedang berada di mana, dan apa yang menjadi tim favorit Anda, yang artinya Google mencoba mempelajari Anda. Apakah ini salah? Di Indonesia, privasi mungkin belum menjadi perhatian utama banyak orang. Di UK, misalnya, setiap situs yang Anda kunjungi memunculkan sebuah peringatan bahwa Anda sadar perilaku Anda sedang direkam oleh situs tersebut dan Anda setuju terhadap hal itu.

Apa gunanya merekam semua hal itu?

Di dunia yang semakin canggih ini, dengan arus informasi yang semakin menggila, para produsen butuh untuk menemukan pasar yang tepat bagi produk mereka. Targeted ads, istilah kerennya. Anda mungkin sempat bertanya-tanya mengapa setelah Anda melihat-lihat ponsel di toko online, Facebook kemudian memunculkan produk yang serupa dalam iklannya? Itulah dampak dari metode marketing mutakhir ini. Gerak-gerik Anda di internet selalu ada yang mengawasi.

Dengan terkoneksinya ponsel Anda ke internet, maka setiap perilaku Anda pun sebenarnya bisa diamati. Ke mana Anda pada jam 10 pagi di hari Rabu yang lalu bisa saja terekam dengan baik oleh perusahaan di belahan dunia lain. Sepotong pesan yang Anda tulis untuk sang kekasih di malam Minggu dua pekan yang lalu terekam dengan baik di data centre berkapasitas ratusan, bahkan ribuan, terabyte.

Anda tentu pernah mencari informasi tentang teman atau gebetan Anda melalui akun media sosialnya kan? Proses pencarian informasi yang lazim dikenal dengan nama stalking ini tidak sulit untuk Anda lakukan bukan? Cari nama orang tersebut di Google, atau bahkan langsung ke Facebook, lihat beberapa pos dan fotonya, sejurus kemudian Anda sudah mendapatkan gambaran umum orang seperti apa yang ingin Anda kenal lebih jauh ini.

Sekarang, bayangkan kalau semua itu dilakukan oleh mesin. Dari 200 cuitan Anda terakhir di Twitter, mesin tersebut mencoba mengekstraksi topik-topik apa saja yang senang Anda bahas, siapa saja akun yang Anda follow, dan kapan waktu-waktu Anda paling sering “berkicau”. Bukankah mudah kemudian untuk menerapkan targeted ads ini kepada diri Anda?

Meski ada kesan mengerikan dari itu semua, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa sistem yang seperti itu yang bisa membantu Anda dalam hidup. Contohnya, Anda baru membeli kamera DSLR dan ingin belajar lebih serius tentang fotografi. Tidakkah jadi menyenangkan ketika kemudian Anda disodori iklan tentang lensa tele menarik yang bisa melengkapi kamera Anda?

Jadi, apakah kenyamanan tersebut harus selalu ditukar dengan privasi Anda?

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu premis untuk proyek pameran seni digital yang sempat dirumuskan beberapa waktu yang lalu. Sangat terbuka jika ada yang tertarik untuk membuat ide ini menjadi nyata.

Iklan

Persiapan Kuliah

Besok semester baru sudah dimulai di Universitas Al Azhar Indonesia tempat saya mengajar sekarang. Kebetulan, di semester ini saya akan dapat dua mata kuliah: Artificial Intelligence dan Data Mining. Dua-duanya merupakan kelas paling pagi — mulai dari jam 7 — dan akan berupa team teaching.

Yang lebih menarik, semester ini untuk kedua kuliah tersebut akan ada asisten untuk membantu mengerjakan banyak hal dan mengembangkan kuliahnya dengan lebih baik lagi. Berbekal feedback dari semester kemarin yang mengatakan bahwa kurang contoh-contoh dan praktikum, maka adanya asisten di semester ini diharapkan bisa mengisi kekosongan tersebut. Di samping itu, asisten bisa menjadi tolok ukur awal untuk tugas atau ujian yang akan diberikan supaya bisa menyesuaikan dengan kemampuan mahasiswanya.

Mengajar itu memang tidak pernah urusan yang mudah. Mereka yang jadi pengajar terbaik di bidangnya selalu berkembang dan berusaha untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Terlebih lagi, bidang yang saya geluti berubah sangat cepat, maka memastikan bahwa materi yang disampaikan itu termutakhir merupakan suatu keharusan.

Ada beberapa target yang saya tetapkan di semester ini. Salah satu yang ingin dicapai adalah meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk menulis akademis. Oleh karena itu, kuliah Artificial Intelligence nanti akan ada tugas khusus untuk menulis makalah yang diharapkan bisa dipublikasi, minimal tingkat nasional. Saya juga ingin mencoba membuat sesi poster seperti halnya kelas CS229: Machine Learning dari Stanford University. Should be exciting!

Untuk sekarang, saya perlu belajar lagi untuk beberapa materi baru di semester ini.

Self-Interest, Rationale, Decision Making

Apakah manusia itu pada dasarnya egois?

Apa yang menjadi dasar kita sebagai manusia dalam mengambil sebuah keputusan? Keuntungan pribadi? Keuntungan kelompok? Apakah semua keputusan dalam hidup hanya diambil berdasarkan asas untung-rugi?

Game theory merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi antaragen dalam suatu situasi atau permainan. Dengan asumsi mendasar bahwa setiap agen itu hanya ingin memaksimalkan self-interest, kita justru berujung pada kasus seperti Prisoner’s Dilemma. Sama-sama ingin untung sendiri malah mengakibatkan kita menjadi rugi. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Dalam game theory juga dijelaskan bahwa banyak sekali permainan yang bisa dijabarkan dalam bentuk extensive form — membuka seluruh state yang ada untuk mengetahui ujung dari permainan. Teorinya, ketika sudah tahu ujung dari permainan, harusnya kita bisa tahu bagaimana mencapai ke ujung permainan tersebut dan bagaimana mencari strategi supaya ujung permainan tersebut menguntungkan bagi kita. Jadi, teorinya kita bisa memenangkan setiap permainan catur melawan orang lain jika kita menggunakan bantuan komputer.

Faktanya, komputer sampai detik ini belum sanggup menjabarkan seluruh state yang ada. Namun, komputer tetap berhasil menang melawan manusia. Loh, kok begitu?

Dengan menggunakan ilmu probabilitas dan statistik, pemodelan matematis, dan mekanisme reward and punishment, seluruh state yang ada itu ternyata tidak segitu perlunya untuk diketahui. Keterbatasan manusia ini diperkenalkan kepada komputer sehingga ia bisa belajar seperti manusia (termasuk kasus error-nya). Kemampuan komputasi yang tinggi secara paralel dan daya tampung memorinya yang besar membuat komputer bisa mengalahkan manusia di permainan catur — ia belajar dari yang terbaik.

Konsep reward and punishment dalam reinforcement learning menggeser cara belajar komputer dari yang harus mengetahui output-nya menjadi umpan balik apa yang didapatkan ketika mengambil suatu aksi. Jadi, untuk setiap langkah yang saya mainkan, apakah ada bidak yang saya bisa makan? Atau apakah bidak saya kemudian akan dimakan? Lalu, dengan keterbatasan pengetahuan akan universe dari state tadi, kapan kita harus mengeksploitasi suatu aksi dan kapan kita harus mengeksplorasi jenis aksi yang baru untuk memaksimalkan keuntungan kita?

Untuk setiap aksi yang kita lakukan dalam dunia nyata, ternyata ini tidak sekadar masalah memaksimalkan keuntungan saja. Ada keterbatasan sumber daya yang harus kita pertimbangkan. Tragedy of the commons menceritakan bahwa eksploitasi yang berlebihan untuk dapat memaksimalkan keuntungan pribadi tanpa memikirkan keterbatasan sumber daya itu ternyata bisa berakibat pada kerugian untuk semua orang.

Ambil contoh kasus order fiktif Go-Jek. Asumsi saya ceritanya seperti ini,

“Seorang pengendara mencoba mencurangi Go-Jek dengan membuat order fiktif. Hey, ternyata sistemnya bisa dicurangi. Saya tidak ketahuan. Dari satu orang itu kemudian mencoba mengabari kepada beberapa orang teman terdekatnya bahwa sistemnya ternyata punya celah. Maka, mulailah ada beberapa orang yang mencurangi sistemnya. Ketika sistem itu sudah terlalu banyak dicurangi, maka perusahaan pun merugi. Akibatnya, banyak pengemudi yang di-PHK dan sisanya dikurangi kompensasinya.”

Semua jadi rugi kan?

“Hal yang sama juga terjadi pada kasus kemacetan, pencemaran sungai, dan — yang paling mahal harganya — kepercayaan. Coba perhatikan, betapa kita tidak percaya pada partai politik sekarang, atau betapa tidak percayanya kita pada klaim harga-murah-tapi-bersyarat-dan-terbatas dari provider telekomunikasi. Tentu saja — seharusnya — ada orang-orang baik yang berkiprah di bidang politik dan tidak semua iklan provider telekomunikasi berbohong. Masalahnya, karena ada yang berbohong, kepercayaan masyarakat terhadap pihak-pihak tersebut menjadi terkikis, bahkan habis.”

Jadi, apa yang seharusnya menjadi dasar dalam pengambilan keputusan kita dalam hidup?

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu premis untuk proyek pameran seni digital yang sempat dirumuskan beberapa waktu yang lalu. Sangat terbuka jika ada yang tertarik untuk membuat ide ini menjadi nyata.

How Time Has Transformed Technology

Seperti Moore’s Law, “The number of transistors per square inch on integrated circuits had doubled every year since the integrated circuit was invented.” Kita bisa lihat di sekeliling bahwa sekarang komputer saja sudah bisa mengalahkan Go — permainan dengan state papan yang konon kabarnya melebihi state permainan catur. Komputer sudah semakin pintar, ia bisa mendeteksi apakah ada kucing di suatu gambar. Hell, bahkan komputer bisa memberi tahu kita itu kucing jenis apa.

Itu juga menjelaskan bahwa komputer sudah semakin pintar berinteraksi dengan gambar. Komputer sudah punya “mata”. Enggak usah jauh-jauh, ponsel yang kalian gunakan sekarang itu komputasinya lebih canggih dari komputer yang digunakan di misi Apollo 11, dan ponsel kalian punya kamera yang tak kalah canggihnya!

Tidak berhenti di situ, komputer juga punya “telinga” dan “mulut”. Kalian tahu Siri, Cortana, atau Google Now kan? Meski belum bisa banyak bahasa, tapi “mesin-mesin” itu telah mampu berkomunikasi dengan manusia. Paling tidak mereka bisa menjawab pertanyaan sederhana seperti “mau makan di mana?” atau “apakah hari ini akan hujan?” Misi Google semakin ke sini adalah sebagai asisten, bukan lagi sebagai mesin yang mengolah query dan menyodorkan jawaban — mereka mencoba membantu “memilihkan” jawaban.

Mungkin kalian tidak heran sekarang dengan komputer yang punya tangan dan kaki, atau yang kalian lebih kenal dengan nama robot. So, let’s skip that part.

Lalu, apakah komputer punya indra perasa dan pembau seperti kerjanya lidah dan hidung? Kalian pernah dengar mesin namanya mass spectrometer? Mesin canggih itu bisa menguraikan bahan-bahan yang terkandung dalam suatu produk. But, you’ve spotted the point.

Meski bisa mengurainya, mesin tidak punya persepsi rasa “enak” dan “tidak enak”. Walau bisa menentukan jenis kucing dalam gambar, mesin masih belum bisa menentukan apakah kucing itu “lucu” atau “tidak”. Biarpun sudah bisa ngobrol dengan manusia, komputer (mungkin) belum tahu apakah yang diajak ngobrol itu sakit hati atau tidak, maka jangan heran ketika Tay yang dibuat Microsoft berubah menjadi “monster”.

Jadi, apakah mesin akan bisa menyamai manusia? Apakah mesin bisa berpikir seperti manusia? Meminjam kata-kata yang terpampang di Manchester Art Gallery,

“In order to build a machine that can compare to a human, do we first need to see, know and understand ourselves better? If so, what does it mean to be human?”

Kalau memang Tay sudah menjawab bahwa mesin mampu berpikir seperti manusia, apakah ternyata manusia zaman sekarang itu sudah seperti “monster” yang mereka ciptakan?

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu premis untuk proyek pameran seni digital yang sempat dirumuskan beberapa waktu yang lalu. Sangat terbuka jika ada yang tertarik untuk membuat ide ini menjadi nyata.

Follow Back

Anda pernah bertemu dengan orang terkenal di tempat umum? Pesohor layar kaca, misalnya, atau pun mereka yang popular di media sosial, yang biasanya lebih dikenal dengan nama selebtwit atau selebgram. Pernah merasa aneh tidak?

Maksudnya, kan kita sering memperhatikan mereka ya. Ditambah lagi, tak jarang dari mereka yang gampang dijangkau juga dari akun media sosialnya sehingga kita tahu mereka habis pelesir ke mana, bertemu dengan siapa, bahkan baru makan apa siang itu. Menariknya, mereka tidak tahu siapa kita sema sekali. Bahkan sekadar nama pun tidak.

Kesannya, kita seperti bertemu teman lama yang mengalami amnesia. Kita seolah sudah tahu luar-dalam, baik-buruk, hingga kelebihan-kekurangannya, tapi dia sama sekali tidak bisa ingat kita. Komentar kita di media sosial mereka saja belum tentu dibaca, boro-boro mau ingat siapa kita.

Ini yang membuat saya makin heran lagi dengan konsep follow back. Buat apa sih sebenarnya? Memangnya hidup kita sepenting itu ya sampai dia harus follow? Berbeda dengan Facebook yang sifatnya two-way handshake, Twitter dan Instagram memang didesain untuk membebaskan kita mengikuti siapa yang memang menarik, apa pun itu alasannya. Mana mau lah selebritas itu mendengarkan keluhan kita akan teman kita yang ternyata senang menggosipkan kita di belakang.

Apa yang menjadi alasan Anda meminta seseorang untuk follow back?

P.S. Saya baru tahu kalau selebriti yang merupakan bentuk baku dalam KBBI IV ternyata menjadi tidak baku lagi di KBBI V. Bentuk bakunya berubah menjadi selebritas.

Konsumsi Nasi

Anda pernah terpikir untuk menghindari atau mengurangi makan nasi? Kok kelihatannya banyak tulisan berseliweran di internet bahwa mengurangi nasi bisa membuat badan “lebih ringan” dan lebih berenergi untuk beraktivitas ya? Sebagai disclaimer, pengurangan karbohidrat dalam bentuk nasi itu biasanya selalu dibarengi dengan olahraga sih oleh para penulisnya. Jadi, apakah memang ada dampak yang signifikan dari mengurangi konsumsi nasi?

Yang jelas, rasanya saya memang jadi makan lebih banyak semenjak pulang dari studi master. Selama di luar negeri, saya bisa saja tuh makan hanya normal tiga kali sehari. Menu standarnya: sarapan dengan roti atau sereal dan teh tawar, makan siang dengan pasta, makan malam dengan pasta — dengan saus yang berbeda terkadang. Di luar itu, saya jarang sekali jajan. Hanya tiap Jumat siang yang saya alokasikan untuk makan nasi dan kari di kafe dekat masjid. Makanan ringan pun hanya saya beli satu bungkus untuk seminggu.

Bandingkan dengan di Indonesia. Meski sudah makan nasi, tak jarang beberapa jam kemudian saya sudah lapar kembali dan mencoba mencari makanan di kulkas. Belum lagi dengan murahnya alternatif jajanan di sini. Junk food dapat dengan mudahnya dilahap. Sementara setahun yang lalu saya akan lebih memilih untuk meminum jus atau memakan buah.

Menurut yang sempat saya diskusikan dengan seorang teman yang berkutat di jurusan kimia, mungkin ini ada hubungannya dengan indeks glikemik. Jenis karbohidrat yang dikonsumsi akan menentukan jangka waktu untuk merasa kenyang. Selain itu, junk food memang didesain untuk membuat Anda mencari lebih banyak lagi. Jadi, menumpuk dosa di atas dosa. Silakan baca buku The Dorito Effect untuk mencari tahu tentang ini lebih banyak.

Jadi, bagaimana dengan diet Anda selama ini?

Terbit

Beberapa minggu terakhir ini ada banyak tulisan yang saya mesti hasilkan. Kebanyakan dari tulisan tersebut butuh fokus ekstra dan pengetahuan akan domain itu sendiri. Menguras pikiran sekali sehingga rasanya malas betul mengisi blog ini lagi. Padahal, sudah dicanangkan untuk membuat tulisan tiap minggu selama setahun ini. Payah ya?

Baru-baru ini juga saya dapat tawaran dari seorang teman untuk menulis modul pelatihan dasar pemrograman. Idenya sih nanti bisa dijadikan buku serial yang dipasarkan dengan penerbit. Nah, bisa jadi makin sedikit frekuensi menulis di blog ini kalau begitu.

Apakah ini alasan yang bisa diterima? Entahlah. Yang jelas, sebetulnya saya tidak benar-benar kehabisan ide untuk menulis yang agak serius di blog ini. Ada saja tiba-tiba ide yang tercetus saat sedang berjalan kaki dan mengobservasi dunia di sekeliling saya. Hanya saja, menulis hal-hal yang seperti itu tentu perlu riset lebih lanjut. Minimal, perlu ada proses kondensasi ide supaya tulisannya bisa padat dan tidak mengawang-awang.

Oleh karena itu, saya selalu salut dengan orang-orang di dunia broadcasting maupun media cetak. Tuntutan pekerjaan mereka tinggi sekali. Yang disajikan kepada konsumen tentu saja harus melalui riset terlebih dahulu sebelum masuk dapur produksi. Untuk membuat program mingguan saja sulitnya bukan main, bagaimana lah mereka yang harus naik tayang/cetak harian bisa hidup selama ini?

Apakah Anda tertarik dengan dunia jurnalistik?