Sendiri

Sepotong Hati yang Baru

Alkisah, aku sedang dirundung pilu. Gundah gulana. Gelisah tak menentu. Menanti seseorang untuk memadu kasih. Berbagi cerita, berbagi rasa.

Di tengah kegelisahan itu, berceritalah daku kepada seorang teman, sebut saja N. Tahu bahwa aku sedang berselimut duka, dengan segumpal niat baik, N mencoba mencarikan beberapa temannya untuk dikenalkan kepadaku. Namun, semua yang dipilihkannya tak kunjung mengena di hati.

Sampai pada suatu ketika, terkirimlah sebuah foto yang menggambarkan seorang wanita. Hatiku langsung terusik. Wanita ini menarik. Hatta, kusetujui untuk dikenalkan dengannya.

Tak disangka, tak dinyana, belum berkenalan saja saya sudah ditolak. Tahu alasannya?

Wanita ini ternyata tidak suka pria berkumis.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Baru sekali ini ditolak karena alasan berkumis. Hatiku hancur.

Belakangan, aku kemudian tahu bahwa wanita ini ternyata sedang dekat dengan orang lain juga (meski N bercerita bahwa wanita itu belum lama putus). Jadi, mungkin itu cuma alasan yang dibuat-buat saja. Tidak benar-benar serius.

***

Hari berganti, bulan pun sempat memerah karena malu. Ia bersembunyi di balik bayang-bayang. Dan di suatu hari yang baik, bak petir di siang bolong, tiba-tiba C bercerita kepadaku, “Eh, tahu enggak si anu, yang waktu itu mau aku kenalkan? Dia sudah mau dilamar loh.”

Aku tergugu.

Pencarian panjangku, proses menyusun kepingan hati yang belum lama patah ini ternyata harus berakhir bak serpihan, membuatnya lebih sulit direkatkan kembali. Mana sepotong hati yang baru yang kau janjikan itu?

Namun, ternyata ceritanya tidak berakhir sampai di sini. N ternyata lebih jahat daripada yang kuduga.

***

Kemarin, aku sedang berkeliling rumah sakit di Jakarta. Salah satu bagian dari pekerjaanku yang sekarang adalah untuk mengumpulkan data di beberapa rumah sakit mitra. Nah, ketika tinggal tersisa satu rumah sakit lagi untuk disambangi, ponselku berbunyi — nampaknya ada notifikasi dari WhatsApp. Aku mencoba mencari tempat yang nyaman sejenak, sekalian aku beristirahat. Lalu, aku membaca pesan yang tertulis di layar.

N: “Ali”

N: “Aku anaknya jahat ini”

N: “Tapi aku akan tetap nanya haha”

N: “Kamu kalo dihire jd fotografer mau ngga?”

Sejauh ini, aku tidak merasakan ada yang aneh. “Dikasih kerjaan sebagai fotografer kok malah jahat?” pikirku waktu itu. Lagipula, aku memang sedang memerlukan pemasukan tambahan.

Pertanyaan pertamaku adalah, “Fotografer apaan?” dan “Dibayar ga?” Sama sekali tidak ada pikiran jelek mengenai tawaran ini. Aku malah bingung. Aku ini bukan fotografer profesional, kok bisa ada tawaran seperti ini?

N: “Dibayar, tapi dia ngga pernah hire orang gitu jd dia bingung juga”

N: “Kalo kamu udah pernah ya kamu kasih perkiraan harga”

N: “Nah aku kan anaknya jahat”

Aku tidak tahu harus merespon apa sampai di sini. Hingga N menulis…

“Fotografer lamarannya si anu…….”

Ya, si anu yang tadinya mau dikenalkan N kepadaku, sekarang sudah benar-benar mau dilamar. Hebatnya lagi, N sendiri yang meminta aku untuk menjadi fotografernya. Luar biasa sekali bukan? Sudah lah tidak jadi dikenalkan, giliran akan dipertemukan, malah harus menjadi saksi bagi suatu peristiwa sakral yang mengunci semua harapan itu.

“Emang ga nyari yg profesional aja? Kameraku cupu. Nnt dia kecewa.” ungkapku.

“Sama kayak aku kecewa sama kamu, N.”

***

Dengan berat hati, akhirnya tawaran itu aku terima. Beginilah rasanya menjadi jomlo ibukota yang kondisi keuangannya sedang pas-pasan. Nah, sebagai pelengkap dari sejumlah uang yang dijanjikan, si anu juga harus mengenalkan aku dengan teman dokternya yang lain. MUAHAHAHA. Yah, hitung-hitung sebagai ongkos sakit hati.

Namun, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa memulihkan kepercayaan ini kepada N.

Escape the Room

Saya suka dibilang terlalu serius. Mainan saja seringnya dipilih yang berbentuk strategi atau puzzle. Salah satu favorit saya dulu (meski pun saya cupu memainkannya) adalah puzzle dengan tipe “Escape the Room”.

Jadi, permainan tersebut mengharuskan kita mengobservasi ruangan untuk memecahkan beberapa teka-teki kecil untuk mendapatkan barang-barang yang dapat digunakan untuk keluar dari sebuah ruangan terkunci. Karena tujuan utamanya hanya seperti itu, maka variasi dari permainan ini pun sangat banyak. Teka-teki kecilnya bisa dibuat bermacam-macam, dari kode angka, kode huruf, kode warna, hingga sandi morse atau permainan suara.

Nah, kebetulan, hari ini saya dan teman-teman dari Soul of Campus sedang kurang kerjaan. Walhasil, jadilah kita berkumpul untuk memainkan “Escape the Room” secara riil di suatu tempat di Kemang. Ada beberapa tingkat kesulitan yang bisa dijalani. Namun, dengan jumawa, kami langsung memilih yang paling susah

…dan kami kena batunya.

Dari kira-kira tiga ruangan yang ada dalam satu rangkaian permainan, kami hanya sampai di ruangan kedua. Waktu 60 menit yang disediakan untuk menyelesaikan teka-teki yang ada ternyata tidak berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh kami berlima. Yah, walaupun sebenarnya saya sedikit kesal karena salah satu teka-teki yang diberikan ternyata punya kesalahan sehingga agak tidak mungkin diselesaikan. Tapi kami juga melakukan kesalahan di teka-teki yang lainnya sehingga membuang sumber daya yang katanya akan terpakai nantinya. :mrgreen:

Well, anyway, ini adalah sebuah pengalaman yang menarik. Sedikit hiburan yang menyenangkan untuk dilakukan bersama teman atau keluarga di tengah kepenatan rutinitas ibukota. Bagi yang tertarik, silakan lihat di The Escape Hunt atau Agent X Indonesia.

Harganya sih lumayan, bisa menghabiskan sekitar 150-200 ribu per orang. Jadi, kalau ingin mencoba-coba, mungkin ada baiknya melihat-lihat yang versi online dari permainan sejenis dulu. Salah satu yang secara visual paling menarik dan interaksinya seru menurut saya yang ini. Nah, silakan mencoba dan ingatlah bahwa practice makes perfect.

Selamat bermain!

Salah & Lupa

Saya sering merasa takut berbuat salah. It turns out, sesuatu yang seperti ini bisa jadi berbahaya. Begini loh, we will make mistakes, eventually. Masalahnya kan tinggal mau diperbaiki atau tidak. Nah, ketika terlalu takut merasa bersalah, maka kita malah bisa jadi kehilangan eksistensi diri. We cannot define ourselves.

Yang masih memusingkan saya sampai sekarang adalah bagaimana caranya bisa mencari keseimbangan antara perasaan takut berbuat salah itu, tapi tidak menjadi terlalu berlebihan. Soalnya, kalau dibiarkan saja untuk tidak terlalu memikirkan perasaan orang lain kan jadi enggak baik juga? Tapi, kalau terlalu hati-hati, nanti malah jadi kaku dan membuat orang lain segan.

I was worse than this, once. Dulu saya orangnya jauh lebih menjaga image dari sekarang. But, then I met these amazing people, mereka yang tetap bisa mendapatkan respect meski di luar kelakuannya kadang-kadang “ajaib”. Then I learned to loosen up. Saya kemudian belajar bahwa bersikap seperti ini membuat saya merasa lebih tenang, lebih bahagia. Bahwa ternyata enggak apa-apa kok di-bully sekali-sekali, dan sama sekali tidak masalah untuk terlihat konyol atau bodoh di beberapa kesempatan.

The world doesn’t revolve around you. You are not the centre of the universe.

Namun, pembelajaran ini tidak pernah berhenti. Saya masih mencari-cari cara untuk lebih santai lagi. Tidak terlalu serius. Bayangkan, untuk menulis ini saja saya berusaha membuatnya serapi mungkin, menghindari kesalahan yang ada. Dan ketika saya menjadi terlalu obsesif, maka kebiasaan ini sudah menjadi penyakit. And I hate myself for doing that.

Pertanyaan-pertanyaan hidup ini mungkin masih memerlukan waktu untuk menjawab. Tapi, semoga saya bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke harinya. Mungkin saya benar-benar perlu mengurangi kebiasaan overthinking ini. Laiknya slogan terkenal apparel olahraga itu, “Just do it.”

Feel free. Be happy.

Wisuda!

Wisuda!

Wisuda benar-benar sebuah momen yang sangat menyenangkan. Tidak hanya wisudawan, keluarga dan kerabat pun ikut ceria karenanya. Semua terlihat sumringah. Bahagia!

Wisuda itu sejatinya adalah awal untuk sesuatu yang lebih serius yang menunggu di depan: realita. Bahwa ada masa depan yang masih tetap tidak terbayangkan, bahwa ada proses berikutnya yang harus dilalui, bahwa setelah ini wisudawan bisa dianggap sudah dewasa — lebih bertanggung jawab.

Namun, menikmati euforia ini sejenak sebelum kembali ke realita lagi tidak apa-apa kan?

Pasar

Tragedy of the Commons

Pernah dengan istilah tersebut? Saya baru dengar juga, tapi secara konsep, saya yakin kita sama-sama sudah tahu. Bayangkan sebuah desa yang berisi para peternak kambing. Para peternak tersebut selalu menggembalakan kambingnya ke padang rumput yang subur. Dengan kecepatan konsumsi rumput oleh kambing seperti sekarang, siklusnya sudah cukup untuk membuat rumput di padang tersebut tumbuh lagi untuk dapat dimakan oleh kambing sepanjang tahun. Masalah muncul ketika seorang penggembala merasa bahwa dengan rumput yang subur dan baik seperti itu dia bisa menambah keuntungan pribadinya dengan menggembalakan lebih banyak kambing lagi di tempat tersebut.

Di awal, mungkin dampaknya tidak terlalu terasa. Namun, lambat laun, persediaan rumput yang subur di padang tersebut semakin menipis. Bahkan, di akhir tahun sudah tidak ada lagi rumput yang tersisa yang dapat dikonsumsi oleh kambing-kambing. Jadi, hanya karena keinginan seorang saja untuk mendapatkan lebih — menjadi rakus, semua terkena kerugiannya.

Mengerti kan maksudnya?

Nah, kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa hal-hal yang seperti itu sebetulnya banyak terjadi di sekeliling kita. Mungkin kita sebagai yang dirugikan, atau bahkan mungkin yang merugikan. Coba perhatikan, kira-kira mengapa kota seperti Jakarta bisa sangat dipenuhi oleh polusi? Karena setiap orang merasa bahwa mobil yang dia beli sudah sangat ramah lingkungan sehingga emisinya sedikit. Masalahnya, semua orang berpikiran hal yang sama sehingga akhirnya tetap saja polusinya menumpuk.

Hal yang sama juga terjadi pada kasus kemacetan, pencemaran sungai, dan — yang paling mahal harganya — kepercayaan. Coba perhatikan, betapa kita tidak percaya pada partai politik sekarang, atau betapa tidak percayanya kita pada klaim harga-murah-tapi-bersyarat-dan-terbatas dari provider telekomunikasi. Tentu saja — seharusnya — ada orang-orang baik yang berkiprah di bidang politik dan tidak semua iklan provider telekomunikasi berbohong. Masalahnya, karena ada yang berbohong, kepercayaan masyarakat terhadap pihak-pihak tersebut menjadi terkikis, bahkan habis.

Dan Ariely dalam bukunya Predictably Irrational* menceritakan bahwa eksperimen yang dia lakukan membuktikan bahwa orang-orang cenderung tidak percaya bahkan terhadap sesuatu yang bisa dianggap kebenaran mutlak, hanya karena diberikan embel-embel bahwa hal tersebut disampaikan oleh partai politik maupun perusahaan tertentu. Pernyataan seperti “matahari itu berwarna kuning” menjadi sebuah perdebatan ketika dilabeli bahwa pernyataan tersebut disampaikan oleh Partai Republik.

Dalam dunia matematika, tragedy of the commons juga dibahas dalam kasus prisoner’s dilemma. Tapi, nantilah saya ceritakan kapan-kapan tentang itu. Sekarang, mari kita merenungkan, “Apakah saya sering terlalu memprioritaskan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama?”

Lalu, apa gunanya dulu kita belajar pendidikan kewarganegaraan?

* Buku ini sangat saya rekomendasikan, seru sekali!

Lollipop

Menyerah pada Perubahan

Sudah beberapa minggu ini saya mendapatkan notifikasi untuk memperbarui OS ponsel saya. Yang menyebalkan, notifikasinya tidak bisa dimatikan. Jadi, untuk beberapa minggu, saya harus mengklik “No, maybe later” untuk menghilangkan notifikasi yang muncul semena-mena itu.

Konon kabarnya sih pembaruan itu agak melambatkan kinerja dari ponselnya. Mungkin memang sudah natur dari pembaruan begitu ya? Karena di iPod saya pun setelah diperbarui OS-nya malah jadi lebih lambat.

Saya jadi berpikir, apa itu sebabnya orang-orang tidak menyukai perubahan? Kita diharuskan beradaptasi lagi dengan suatu hal yang asing. “Saya sudah nyaman kok dengan kondisi sekarang. Bagaimana kalau setelah berubah ada hal yang saya tidak suka?”

“Perubahan itu sering membuat sakit perut,” ujar dosen saya. Perubahan acap kali memaksa kita menyisihkan hal-hal yang selama ini selalu berada di sekitar kita, dan, sebagai manusia, sudah menjadi suatu fitrah bahwa kita takut kehilangan. Selain itu, selalu ada ketidakpastian yang menyertai dalam sebuah perubahan. Itulah yang membuat kita sering merasa gelisah menghadapinya.

Seorang bijak pernah mengatakan bahwa perubahan memang tidak selalu menjanjikan hal yang lebih baik, tetapi menuju hal yang lebih baik selalu memerlukan perubahan. Yang menjadi tantangannya sekarang, sudah siapkah kita menghadapi pengorbanan dan ketidakpastian itu untuk menjadi pribadi yang lebih baik?

Sudah siapkah kita untuk berubah?

Pohon

Belajar dari Pohon

Faktanya, banyak sekali hal yang bisa kita pelajari dari hidup. Masalahnya tinggal kita mau membuka mata lebih lebar ntuk itu atau tidak. Mau tidak belajar dari hal-hal yang mungkin selama ini kita anggap remeh di sekeliling kita.

Hari ini, saya belajar lagi dari sebuah artikel yang selalu menarik perhatian saya di koran Kompas edisi hari Minggu. Di kolom Parodi, Samuel Mulia sering membicarakan tentang nuraninya yang sering mengusik kesehariannya. Dan kali ini, nuraninya berbisik untuk memperhatikan pelajaran dari sebatang pohon.

Kalau diperhatikan, kok bisa ya pohon itu tetap berdiri kokoh meski diterpa panas maupun hujan? Padahal, kalau kita dihadapi dengan hal yang sama, mungkin kita sudah misuh-misuh duluan. Tapi, itulah intinya, mungkin begitu seharusnya kita menjalani hidup. Panas itu dijadikan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan cadangan makanan, membantu kita tetap hidup. Dan ketika hujan datang, kita mungkin hanya perlu untuk meliuk bersama angin yang datang bersamanya, tidak menjadi kaku lalu patah. Hujan pun mungkin menyebabkan satu-dua ranting kita patah, tapi perhatikanlah bahwa mungkin itu adalah dahan-dahan tua, yang memang sudah waktunya untuk berganti dengan yang baru — yang lebih kokoh.

Di situ letak bedanya kita dan pohon. Pohon bersikap seperti itu mungkin hanya karena sudah kodratnya seperti itu, mengikuti apa yang seharusnya terjadi. Sedangkan kita, manusia, punya kebebasan yang diberikan Tuhan untuk memilih jalan kita sendiri — memilih cara kita menyikapi hidup. Kalau kita salah, mungkin saja “patah” adalah konsekuensi dari pilihan kita. Namun, kebahagiaan yang dapat kita rasakan ketika berhasil bersikap benar tentu merupakan berkah yang teramat besar.

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. – QS. 13:4