Wisuda!

Wisuda!

WIsuda benar-benar sebuah momen yang sangat menyenangkan. Tidak hanya wisudawan, keluarga dan kerabat pun ikut ceria karenanya. Semua terlihat sumringah. Bahagia!

Wisuda itu sejatinya adalah awal untuk sesuatu yang lebih serius yang menunggu di depan: realita. Bahwa ada masa depan yang masih tetap tidak terbayangkan, bahwa ada proses berikutnya yang harus dilalui, bahwa setelah ini wisudawan bisa dianggap sudah dewasa — lebih bertanggung jawab.

Namun, menikmati euforia ini sejenak sebelum kembali ke realita lagi tidak apa-apa kan?

Pasar

Tragedy of the Commons

Pernah dengan istilah tersebut? Saya baru dengar juga, tapi secara konsep, saya yakin kita sama-sama sudah tahu. Bayangkan sebuah desa yang berisi para peternak kambing. Para peternak tersebut selalu menggembalakan kambingnya ke padang rumput yang subur. Dengan kecepatan konsumsi rumput oleh kambing seperti sekarang, siklusnya sudah cukup untuk membuat rumput di padang tersebut tumbuh lagi untuk dapat dimakan oleh kambing sepanjang tahun. Masalah muncul ketika seorang penggembala merasa bahwa dengan rumput yang subur dan baik seperti itu dia bisa menambah keuntungan pribadinya dengan menggembalakan lebih banyak kambing lagi di tempat tersebut.

Di awal, mungkin dampaknya tidak terlalu terasa. Namun, lambat laun, persediaan rumput yang subur di padang tersebut semakin menipis. Bahkan, di akhir tahun sudah tidak ada lagi rumput yang tersisa yang dapat dikonsumsi oleh kambing-kambing. Jadi, hanya karena keinginan seorang saja untuk mendapatkan lebih — menjadi rakus, semua terkena kerugiannya.

Mengerti kan maksudnya?

Nah, kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa hal-hal yang seperti itu sebetulnya banyak terjadi di sekeliling kita. Mungkin kita sebagai yang dirugikan, atau bahkan mungkin yang merugikan. Coba perhatikan, kira-kira mengapa kota seperti Jakarta bisa sangat dipenuhi oleh polusi? Karena setiap orang merasa bahwa mobil yang dia beli sudah sangat ramah lingkungan sehingga emisinya sedikit. Masalahnya, semua orang berpikiran hal yang sama sehingga akhirnya tetap saja polusinya menumpuk.

Hal yang sama juga terjadi pada kasus kemacetan, pencemaran sungai, dan — yang paling mahal harganya — kepercayaan. Coba perhatikan, betapa kita tidak percaya pada partai politik sekarang, atau betapa tidak percayanya kita pada klaim harga-murah-tapi-bersyarat-dan-terbatas dari provider telekomunikasi. Tentu saja — seharusnya — ada orang-orang baik yang berkiprah di bidang politik dan tidak semua iklan provider telekomunikasi berbohong. Masalahnya, karena ada yang berbohong, kepercayaan masyarakat terhadap pihak-pihak tersebut menjadi terkikis, bahkan habis.

Dan Ariely dalam bukunya Predictably Irrational* menceritakan bahwa eksperimen yang dia lakukan membuktikan bahwa orang-orang cenderung tidak percaya bahkan terhadap sesuatu yang bisa dianggap kebenaran mutlak, hanya karena diberikan embel-embel bahwa hal tersebut disampaikan oleh partai politik maupun perusahaan tertentu. Pernyataan seperti “matahari itu berwarna kuning” menjadi sebuah perdebatan ketika dilabeli bahwa pernyataan tersebut disampaikan oleh Partai Republik.

Dalam dunia matematika, tragedy of the commons juga dibahas dalam kasus prisoner’s dilemma. Tapi, nantilah saya ceritakan kapan-kapan tentang itu. Sekarang, mari kita merenungkan, “Apakah saya sering terlalu memprioritaskan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama?”

Lalu, apa gunanya dulu kita belajar pendidikan kewarganegaraan?

* Buku ini sangat saya rekomendasikan, seru sekali!

Lollipop

Menyerah pada Perubahan

Sudah beberapa minggu ini saya mendapatkan notifikasi untuk memperbarui OS ponsel saya. Yang menyebalkan, notifikasinya tidak bisa dimatikan. Jadi, untuk beberapa minggu, saya harus mengklik “No, maybe later” untuk menghilangkan notifikasi yang muncul semena-mena itu.

Konon kabarnya sih pembaruan itu agak melambatkan kinerja dari ponselnya. Mungkin memang sudah natur dari pembaruan begitu ya? Karena di iPod saya pun setelah diperbarui OS-nya malah jadi lebih lambat.

Saya jadi berpikir, apa itu sebabnya orang-orang tidak menyukai perubahan? Kita diharuskan beradaptasi lagi dengan suatu hal yang asing. “Saya sudah nyaman kok dengan kondisi sekarang. Bagaimana kalau setelah berubah ada hal yang saya tidak suka?”

“Perubahan itu sering membuat sakit perut,” ujar dosen saya. Perubahan acap kali memaksa kita menyisihkan hal-hal yang selama ini selalu berada di sekitar kita, dan, sebagai manusia, sudah menjadi suatu fitrah bahwa kita takut kehilangan. Selain itu, selalu ada ketidakpastian yang menyertai dalam sebuah perubahan. Itulah yang membuat kita sering merasa gelisah menghadapinya.

Seorang bijak pernah mengatakan bahwa perubahan memang tidak selalu menjanjikan hal yang lebih baik, tetapi menuju hal yang lebih baik selalu memerlukan perubahan. Yang menjadi tantangannya sekarang, sudah siapkah kita menghadapi pengorbanan dan ketidakpastian itu untuk menjadi pribadi yang lebih baik?

Sudah siapkah kita untuk berubah?

Pohon

Belajar dari Pohon

Faktanya, banyak sekali hal yang bisa kita pelajari dari hidup. Masalahnya tinggal kita mau membuka mata lebih lebar ntuk itu atau tidak. Mau tidak belajar dari hal-hal yang mungkin selama ini kita anggap remeh di sekeliling kita.

Hari ini, saya belajar lagi dari sebuah artikel yang selalu menarik perhatian saya di koran Kompas edisi hari Minggu. Di kolom Parodi, Samuel Mulia sering membicarakan tentang nuraninya yang sering mengusik kesehariannya. Dan kali ini, nuraninya berbisik untuk memperhatikan pelajaran dari sebatang pohon.

Kalau diperhatikan, kok bisa ya pohon itu tetap berdiri kokoh meski diterpa panas maupun hujan? Padahal, kalau kita dihadapi dengan hal yang sama, mungkin kita sudah misuh-misuh duluan. Tapi, itulah intinya, mungkin begitu seharusnya kita menjalani hidup. Panas itu dijadikan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan cadangan makanan, membantu kita tetap hidup. Dan ketika hujan datang, kita mungkin hanya perlu untuk meliuk bersama angin yang datang bersamanya, tidak menjadi kaku lalu patah. Hujan pun mungkin menyebabkan satu-dua ranting kita patah, tapi perhatikanlah bahwa mungkin itu adalah dahan-dahan tua, yang memang sudah waktunya untuk berganti dengan yang baru — yang lebih kokoh.

Di situ letak bedanya kita dan pohon. Pohon bersikap seperti itu mungkin hanya karena sudah kodratnya seperti itu, mengikuti apa yang seharusnya terjadi. Sedangkan kita, manusia, punya kebebasan yang diberikan Tuhan untuk memilih jalan kita sendiri — memilih cara kita menyikapi hidup. Kalau kita salah, mungkin saja “patah” adalah konsekuensi dari pilihan kita. Namun, kebahagiaan yang dapat kita rasakan ketika berhasil bersikap benar tentu merupakan berkah yang teramat besar.

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. – QS. 13:4

Sekilas Tentang Parung Panjang

Di akhir tahun yang lalu, saya menyempatkan untuk pergi seorang diri ke Parung Panjang. Niatnya untuk menindaklanjuti beberapa hal yang kami (tim Leadership Project dari awardee BPRI) titipkan pada kunjungan kami sebelumnya. Karena sendirian, akan lebih mudah bagi saya untuk menggunakan commuter line dari Stasiun Kebayoran.

Tidak sampai satu jam waktu yang dibutuhkan dari Stasiun Kebayoran menuju Stasiun Parung Panjang. Ditambah dengan waktu tempuh menuju SD Negeri 04 Babakan dengan ojek membuat saya menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam untuk bertemu dengan Bu Uun (baca pos ini untuk cerita lebih lengkap tentang siapa Bu Uun). Jarak dari stasiun menuju SD Negeri 04 Babakan mungkin tidak jauh, tetapi buruknya kondisi jalan raya menuju tempat tersebut tak pelak menjadi kendala utama transportasi.

SD yang saya datangi kala itu bukanlah SD yang menjadi ‘objek’ dari proyek kepemimpinan kami. Akan tetapi, melihat kondisi sekolah tersebut membuat saya menyadari bahwa masih banyak bagian-bagian dari daerah Bogor Barat ini yang terbengkalai, terutama di bagian fasilitas umumnya. Beruntunglah ada orang-orang seperti Bu Uun yang masih mau meluangkan waktunya untuk menyisir setiap dusun yang ada untuk menemukan dan menanggulangi kasus-kasus seperti ini.

Foto di atas diambil di SD yang sama pada waktu yang sama. Bagian sekolah yang bagus dan ramai tersebut merupakan perwujudan CSR dari salah satu grup yang dikelola oleh istri dari Pak Dahlan Iskan, sedangkan bagian yang terlihat jauh dari selesai tersebut merupakan pekerjaan pemerintah. Kesan yang ditimbulkan dari kasus ini adalah pemda masih sangat lalai terhadap pekerjaannya. Bukti di lapangan yang menunjukkan seperti itu.

Kondisi kesehatan masyarakat pun masih membuat miris. Dengan belasan bahkan puluhan gizi buruk dan lebih banyak lagi kasus gizi kurang, Parung Panjang jelas butuh bantuan. Seperti halnya jalan dan sekolah, fasilitas kesehatan juga sangat memerlukan perhatian pemerintah. Bayangkan, warga dusun Cilejet harus menempuh jalan sekitar 10 km untuk mencapai Puskesmas Tenjo — fasilitas pelayanan kesehatan terdekat setelah pustu (puskesmas pembantu) yang kondisinya sudah mengkhawatirkan.

Jarak dan waktu tempuh St. Tenjo - St. Cilejet

Jarak dan waktu tempuh St. Tenjo – St. Cilejet

Dengan kondisi jalan yang seperti sekarang, waktu tempuh yang diperkirakan oleh Google Maps rasanya sudah tidak tepat. Bisa jadi, waktu tempuhnya adalah 2-3 kali lipatnya.

Alhamdulillah, bantuan tak kunjung berhenti datang ke Parung Panjang. Terakhir saya dengar ada bantuan untuk akses fasilitas air bersih dari Daarut Tauhid. Di samping itu, rasanya saya dengar beberapa kali dari Dompet Dhuafa memberikan bantuan ke daerah yang berbatasan dengan Banten ini.

Semoga yang mereka yang diberi amanah oleh rakyat bisa benar-benar melihat langsung ke daerah ini.

Buku Baru

Waktu Membaca

Di era yang serba sibuk seperti sekarang, membaca buku itu sering jadi sesuatu yang sulit untuk dirutinkan. Berbeda dengan orang yang sudah terbiasa membaca buku sejak lama, orang-orang yang baru mau membiasakan hal ini cenderung kesulitan karena banyaknya pilihan lain selain membaca buku. Menonton serial, menonton TV, atau menggulung layar ponsel untuk berinteraksi di media sosial adalah pilihan-pilihan lain yang sangat menggoda dibandingkan membaca.

Lucu juga, adik saya ternyata punya pertanyaan yang sama seperti saya. Namun, untungnya saya punya beberapa alternatif untuk menyelesaikan masalah ini. Pilihan pertama saya adalah membaca sebelum tidur. Kebiasaan ini pernah saya coba ketika masih SMP dulu. Adalah buku Harry Potter jilid 5 yang pertama kali saya habiskan dengan cara ini. Waktu itu, perlu beberapa minggu sampai buku setebal 870 halaman ini.

Sekarang, waktunya bisa dipotong lebih banyak sih, karena saya bisa lebih banyak menghabiskan halaman sekarang. Akan tetapi, saya punya alternatif lain pula sekarang untuk menghabiskan buku. TransJakarta, kereta api, atau pun ketika berada di travel merupakan waktu-waktu menghabiskan buku yang paling tenang. Tidak akan ada gangguan berarti selama kondisi jalannya juga bersahabat.

Yang jelas, memang perlu disempatkan untuk menghabiskan tumpukan buku ini. Kalau sudah disempatkan sih, harusnya tidak ada kendala berarti, apalagi kalau bukunya memang menarik. Membaca memang harus dibiasakan.

Selamat membaca!

Martabak

Martabak

Siapa yang tidak suka makan martabak? Baik martabak telur maupun martabak manis (juga disebut “terang bulan” di beberapa daerah), sama enaknya. Dengan berbagai jenis isian, martabak merupakan favorit banyak orang, selain karena mudahnya untuk mendapatkannya.

Yang menarik, kudapan ini sangat identik dengan buah tangan yang biasa dibawa ketika orang sedang ngapel. Martabak seolah-olah adalah pilihan yang tak mungkin salah. Well, mungkin berbeda kalau sang camer ternyata tidak boleh memakan gula terlalu banyak. Tapi, yah, tetap saja martabak menjadi pilihan yang terlintas pertama di pikiran sebagai “tiket buat ngapel”.

Masalahnya, kalau Anda pernah melihat cara pembuatan martabak, mungkin Anda akan berpikir dua-tiga kali sebelum membelinya lagi dalam waktu dekat. Untuk sebuah martabak cokelat, kacang, wijen — salah satu kombinasi standar isian martabak manis, perhatikan berapa banyak mentega dan gula yang digunakan. Itu pun belum menghitung susu kental manis yang ditambahkan, lalu cokelat dan kacangnya. Boy, menurut hasil googling sih sepotong martabak manis bisa mengandung 200 kalori!

Sebenarnya sih, meski sudah mengetahui cara pembuatannya, hingga kalori yang terkandung di dalamnya, masih banyak saja yang akan membeli martabak. Godaannya terlalu kuat untuk dihindari. Apalagi karena makanan ini biasanya dibuat untuk ririungan, berkata bahwa akan mengambil satu saja biasanya hanya berakhir sebagai sebuah kebohongan besar.

Repotnya, di depan kantor saya sekarang ada yang menjual martabak tiap sore. Gawat!