Konsisten Menulis

Beberapa hari ini pikiran saya lebih banyak tercurahkan untuk menulis makalah. Walhasil, kelihatannya kegiatan menulis blog jadi agak terganggu. Rasanya seperti sudah menulis banyak begitu, jadi mau menulis lagi kok ya jadi malas. Padahal kan menulis blog seperti ini harusnya bebannya tidak terlalu berat ya. Haduh.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebetulnya kuantitas itu penting dalam urusan menulis. Mungkin itu sebabnya juga banyak yang mempublikasikan makalahnya melalui situs ArXiv sebelum dimuat oleh jurnal atau prosiding yang diulas oleh orang lain. Lucunya, ada juga makalah yang jadi lebih terkenal versi ArXiv-nya dibandingkan versi jurnal atau prosidingnya. Biasanya ini karena idenya sangat praktikal dan revolusioner sehingga cepat diadopsi orang lain, misalnya makalah tentang XGBoost ini.

Mencari materi untuk ditulis juga terkadang menjadi kendala utama bagi banyak orang. Writer’s block, katanya. Ini juga yang membedakan media untuk menulis bebas seperti blog dengan karya yang membutuhkan ide yang solid seperti makalah. Tidak heran banyak orang yang lebih senang berkutat dengan eksperimennya dibandingkan menulis hasil eksperimen tersebut. Masalahnya, cuma dengan tulisan itu lah ide yang kita eksekusi dalam eksperimen bisa dikembangkan lagi oleh orang lain.

Apakah Anda sudah cukup konsisten menulis?

Ketoprak

Di tengah keributan yang mungkin tidak kunjung usai di media sosial Anda, mari kita bicarakan sesuatu yang lebih sederhana: ketoprak. Anyway, ketoprak yang saya maksud ini adalah yang jenisnya makanan, bukan yang seni pertunjukan itu. Ternyata, dari sepiring ketoprak yang sederhana itu bisa memunculkan pertanyaan yang cukup menarik untuk saya.

Bagaimana cara terbaik memakan ketoprak?

Kita mungkin tidak menemukan kesulitan berarti dalam memakan nasi goreng. Demikian juga mafhumnya kita terhadap perbedaan dalam memakan bubur ayam: diaduk maupun tidak. Namun, satu hal yang masih jadi pertanyaan besar untuk saya adalah, “Bagaimana cara terbaik menghabiskan sepiring ketoprak yang dibeli dari gerobak abang-abang di pinggir jalan?”

Ketoprak
Sepiring ketoprak yang kerupuknya telah dimakan sebagian

Perhatikan gambar di atas, sebagian kerupuk sudah saya makan saat foto tersebut diambil. Nah, sekarang bayangkan sepiring penuh ketoprak yang hampir tertutupi seluruhnya oleh kerupuk, apa yang harus dilakukan? Saya menemukan beberapa kesalahan yang mungkin terjadi di sini.

Aduk atau Tidak Diaduk

Memang kelihatannya memakan sebagian kerupuk tersebut terlebih dahulu adalah jalan yang diambil banyak orang [citation needed]. Masalahnya, meski kerupuk sudah tersisa seperti yang terlihat di gambar di atas, mengaduk ketoprak tetap sulit untuk dilakukan. Masalahnya, tentu saja akan banyak tahu, ketupat, atau bihun yang akhirnya tidak terkena saus kacang atau pun kecapnya. Tidakkah ini akan menghilangkan kenikmatan tiap suapan?

Dilemanya menjadi muncul karena menghabiskan semua kerupuk terlebih dahulu menghilangkan esensi dari keberadaan kerupuk itu sendiri: tekstur. Di luar kerupuk, tekstur dari komponen penyusun sepiring ketoprak biasanya tidak keras. Jadi, saat kerupuk dihabiskan terlebih dahulu, yang tersisa hanya (terurut berdasarkan tingkat kelembutan) saus kacang, bihun, tahu, ketupat. Letupan kelima yang esensial itu praktis menghilang.

Perhatikan bahwa kasusnya akan berbeda jika dibandingkan dengan gado-gado. Secara umum bumbu kacang telah terlebih dahulu dicampurkan di awal dengan komponen lainnya oleh abang-abang penjualnya. Oleh karena itu, kerupuk yang banyak itu bisa dinikmati sedikit demi sedikit sembari menikmati campuran sayur, lontong, yang dilumuri bumbu kacang tersebut.

Pedas atau Sedang

Apa yang menjadi dasar bagi para tukang ketoprak (ini juga termasuk pedagang makanan lain yang menggunakan cabai atau sambal sebagai komponen masakannya) menentukan tingkat kepedasan dagangannya? Setahu saya, tingkatan utamanya hanya ada tiga: pedas, sedang, dan tidak pedas. Apakah ini dapat diartikan sebagai jumlah cabai yang digunakan (2, 1, 0)? Ataukah mungkin abang-abangnya menggunakan variabel lain dalam menentukan tingkat kepedasannya? Karena jelas ketoprak yang saya makan itu pedas sekali meski saya sudah bilang tingkat kepedasannya “sedang” saja.

Dari dulu sampai sekarang, saya bukan orang yang terlalu tahan pedas, boro-boro suka. Menurut saya, orang-orang yang suka makanan yang terlalu pedas itu aneh, karena semua rasa yang lain menjadi tertutupi oleh rasa pedas yang mengganggu itu. Sedikit rasa pedas mungkin bisa meningkatkan kenikmatan makan, tapi terlalu banyak cabai/sambal hanya membuat mulut panas, lantas perut menjadi kembung karena terlalu banyak minum. Belum lagi faktor malu yang harus ditanggung karena saya akan menjadi bercucuran air mata.

Kesimpulan

Pada akhirnya, topik ini merupakan kajian yang masih perlu diuji kembali kebenarannya. Preferensi orang-orang dalam menikmati sepiring ketoprak bisa berbeda-beda. Seperti halnya kajian saya dan teman-teman tentang bubur ayam terdahulu, akan sangat menarik untuk mencoba menggali perilaku orang-orang dalam menikmati hidangan vegetarian yang populer di ibukota ini.

Pulang, Akhirnya!

Hai, sudah sekitar sebulan saya tidak menulis lagi di sini. Saya sedang memproses banyak perbedaan yang menggelitik semenjak kepulangan dari negerinya Ratu Elizabeth itu. Khawatir jadi protes saja, saya memilih untuk menikmati ini semua dulu supaya tidak terlalu meledak-ledak disampaikannya. Nah, berikut rangkumannya.

Lembap!

Perbedaan paling mencolok pertama yang dirasakan di tanah air setelah sekian lama adalah kelembapan udaranya. Akhirnya saya baru bisa menyadari apa itu udara yang lembap. Well, sebenarnya tidak benar-benar baru sih, karena saya sempat merasakan perbedaan ini ketika memasuki kebun botani di Edinburgh. It’s just… weird.

Iklim Jakarta yang panas ternyata juga cukup mengganggu di beberapa hari pertama di sini. Yang saya bingung, kenapa sekarang Bandung juga mulai terasa seperti Jakarta ya? Panas betul!

Berjalan Kaki

Iklim yang kurang bersahabat itu juga menambahkan faktor malasnya berjalan kaki di sini. Selain karena trotoar yang tidak memadai dan dipadati oleh berbagai macam benda yang tidak seharusnya ada di situ, hujan yang terus turun beberapa minggu terakhir membuat jalan kaki bukan pilihan yang baik. Padahal, di Edinburgh saya bisa jogging sampai sekitar satu jam menuju ke pantai, bukit, atau tempat menarik lainnya.

Di sisi lain, transportasi umum yang memadai dan teratur di UK juga membuat orang-orang tidak merasa perlu menggunakan kendaraan pribadi, kecuali memang mobilitasnya tinggi. Beda dengan kebanyakan kota di Indonesia yang menjadikan motor sebagai moda transportasi utama. Merekalah penempat kasta tertinggi di jalanan ibukota!

Namun, satu hal yang saya senangi adalah bus TransJakarta yang sudah mulai diremajakan dan ditambah armada dan jangkauannya. Di halte-halte juga sudah terlihat papan penunjuk waktu kedatangan bus berikutnya, dan ternyata relatif akurat! Sebuah kemajuan yang menarik sekali dalam setahun ini. Semoga saja MRT yang sedang dalam pembangunan ini juga bisa menjadi alternatif bagi para komuter ibukota.

Internet

Sebagai manusia abad ke-21, internet adalah kebutuhan yang sudah setara dengan sandang, pangan, dan papan. Masalahnya, kembali ke Indonesia berarti kembali ke negara yang mantan menteri kominfonya bisa-bisanya bertanya, “Internet cepat buat apa?” Belum lagi “jahatnya” penyedia layanan seluler yang paketnya terlalu banyak tanda bintang di ujung iklannya.

Kalau kecepatan, oke lah ya, itu masih bisa dimaklumi. Tapi, cara berbisnis para penyedia layanan seluler ini yang masih membuat saya gagal paham sampai sekarang. Terlalu banyak syarat dan ketentuannya!

Mari kita bandingkan. Pertama, di UK, kalau tertulis paketnya 500MB, ya memang segitu yang didapat, tidak ada tetek-bengek hanya berlaku di jaringan tertentu lah, jam tertentu lah, atau mungkin zona tertentu. Bahkan, ada bonus 150MB yang ditambahkan tanpa syarat! Jadi, beli 500MB, dapat 650MB!

Anda mungkin berpikir itu kecil, tapi ya hampir setiap tempat di sana sudah punya wifi untuk akses internet yang tak terbatas. Jadi, sebulan ya saya cukup beli 500MB saja, meski ada juga paket internet unlimited tanpa syarat untuk yang membutuhkan. Yang keren, paket internet itu masih bisa dipakai di Indonesia dan beberapa negara lainnya!

Kalau Anda beli paket baru padahal paket yang lama kuotanya belum habis, maka paket baru tersebut akan ditahan sampai kuota lama Anda habis. Jadi Anda tidak akan dirugikan! Coba sekarang saya tanya: penyedia layanan seluler mana di Indonesia yang mempunyai model bisnis seperti itu?

Epilog

Saya bercerita begini bukan berarti tidak cinta Indonesia. Well, saya memang sudah cukup sebal dengan Jakarta sih, tapi intinya adalah masih banyak yang bisa dan perlu diperbaiki dari negeri ini. Alhamdulillah, sudah ada beberapa perubahan yang terlihat. Makin banyak orang yang mulai ikut berbenah, termasuk munculnya orang-orang baik di dunia politik.

Cuma perlu optimisme dan usaha yang sedikit lebih kok!

Tidak sempurna, tapi layak diperjuangkan: Indonesia.

– Pandji Pragiwaksono

Bye, Edinburgh…

Sudah hampir setahun ya.

Hari ini saya beres-beres kamar. Membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi dan memasukkan benda-benda yang mungkin akan diberikan kepada para penghuni kota ini berikutnya. Semua jadi terlihat semakin sepi.

Flat 4 Room 7

Dinding kamar flat empat nomor tujuh ini tidak lagi dihiasi post-it notes yang berisi berbagai catatan: kosakata baru, rumus-rumus yang njelimet, hingga pengingat jadwal kuliah dalam seminggu. Lemari pun sudah mulai kosong, tinggal jas, jaket tebal, hoodie, dan seprai berwarna hijau pucat itu. Belasan gantungan baju masih tersisa, tapi tak ada lagi sweater atau baju yang bergantung padanya.

Besok, saya akan meninggalkan kamar ini, tempat saya menghabiskan hidup selama setahun terakhir. Dari kamar ini saya melihat daun-daun berguguran setelah beberapa bulan sampai di kota ini. Dari kamar ini juga saya melihat pohon-pohon itu kemudian meranggas saat musim dingin tiba. Dan tidak mungkin saya lupakan salju yang jatuh di awal bulan Desember itu.

Tentang Rindu

Ada perasaan aneh yang menyelimuti hati ini. Semua campur aduk jadi satu. Sedih, karena akan meninggalkan kota yang telah memberikan banyak kenangan ini. Senang, karena artinya saya akan bertemu dengan keluarga lagi dan teman-teman. Bersemangat, karena saya tahu ada tantangan baru yang menunggu di tanah air. Juga rindu, yang entah mengapa sudah muncul meski masih bisa bertemu.

Saya mencoba menikmati hari-hari terakhir di kota penuh cerita ini. Menikmati berbagai sudut kota ini sebelum tak lagi saya tinggali. Sempat saya bilang pada ibu, “Main-main sebelum pulang, Bu. Nanti kan sudah susah mau ke sini lagi.”

Namun, bukan ibu namanya kalau tidak optimis. “Ya enggak lah, Kak. Kalau rezeki enggak ke mana.”

img_0001
Pulang

Semoga.

Meninggalkan Jejak

Minggu-minggu ini saya sedang sibuk menyelesaikan disertasi, makanya blog ini jadi belum diisi. Ah, tapi itu mah alasan saja. Kalau sudah disempatkan sih seharusnya tetap bisa diisi secara rutin.

Anyway, ternyata memang tidak terasa sudah hampir setahun saya di sini. Itu juga artinya sebentar lagi saya akan meninggalkan kota ini. Sedih memang, tapi apa mau dikata? Mungkin justru baiknya begini, kota ini ditinggalkan dengan penuh rasa sukacita, agar terus menempati sudut menyenangkan di hati.

Tujuan berikutnya?

Well, saya sejujurnya masih belum tahu pasti harus ke mana lagi setelah ini. Meski kota ini memang menyenangkan, rasanya saya masih ingin mengeksplorasi dunia ini lebih jauh lagi. Saya ingin berguru kepada mereka yang terbaik di bidangnya. Saya ingin bertemu dengan orang-orang baru, cerita-cerita baru.

IMG_20160807_225511046
Halo, Dunia!

I’ll see you very soon!

Dunia yang Lebih Baik

I don’t know about you people, but I don’t want to live in a world where someone else makes the world a better place better than we do.

— Gavin Belson

Kutipan di atas boleh jadi hanya berasal dari karakter fiktif. Namun, saya cukup yakin bahwa perasaan tersebut dapat ditemukan pada beberapa orang di sekitar kita. Well, paling tidak saya sendiri punya sedikit perasaan seperti itu.

Kalau diperhatikan lagi, sebetulnya kutipan itu agak lucu. Buat orang-orang yang mungkin masih berjuang mendaki tangga kebutuhan lainnya di hierarki kebutuhan Maslow, pandangan tersebut mungkin terdengar absurd. “Ngapain repot-repot ngurusin orang lain? Hidup gua aja belum bener.”

Bagi yang hidupnya udah bener pun, tetap menggelitik untuk melihat bahwa menjadi bagian dari fitrah manusia untuk mempunyai eksistensi — diakui oleh orang lain atas karya-karyanya. Kalau lah dunia jadi lebih baik karena apa yang orang lain lakukan saja — tanpa andil kita di dalamnya — tidakkah itu tetap perlu disyukuri? Lantas, apakah kita akan berhenti berbuat baik hanya karena perbuatan baik itu tidak mengubah dunia?

Saya teringat dengan tulisan seorang teman. Kutipannya seperti ini,

Dulu saya sempat punya pemikiran naïf: saya ingin jadi guru matematika terbaik se-Indonesia. UNJ itu prodi pendidikan matematikanya salah satu yang terbaiklah, jadi kalau bisa jadi yang terbaik di sana, jadilah saya salah satu guru matematika terbaik. Rasanya penting benar recognition dari orang-orang. Dibilang terbaik. Keren, gitu.

Namun semakin lama ya saya akhirnya mulai sadar juga. Jadi guru itu bukan soal menjadi yang terbaik, bukan soal penghargaan-penghargaan. Lah, kalau semua guru mikir begitu, guru-guru saya itu ga akan ada yang ngajar sampai puluhan tahun itu tanpa dapat penghargaan apapun. Sadarlah saya bahwa selama ini saya memilih sudut pandang yang salah.

Kalau lah semua orang ingin “menguasai” dunia, maka siapa lah yang akan “dikuasai”?

Setiap kita pada akhirnya akan punya peran masing-masing di dunia ini. Intinya, jangan jadikan keinginan untuk menguasai dunia yang besar itu mengubah haluan kita dari berbuat baik itu sendiri. Toh, teman yang kau beri bantuan kemarin lusa itu tak kurang rasa syukurnya meski bukan presiden yang membantunya.

Jangan salah paham. Boleh-boleh saja memberi penghargaan macam guru teladan itu. Mengenang jasa-jasa dan pengorbanan guru yang luar biasa; yang saya perdebatkan di sini adalah jangan jadikan itu tujuan utama. Toh biasanya juga guru-guru yang menang itu juga memang guru yang tidak mengincarnya, kok. Ngajarlah yang baik, lakukan hal yang pokok, dapat penghargaan itu bonus.