Abstraksi Sosial

Sekitar 4 bulan yang lalu, saya menemukan video ini di YouTube.

Video tersebut bercerita tentang eksperimen yang dilakukan oleh Adam Carroll, seorang penasihat finansial dan pembicara profesional. Dalam video tersebut, Adam bercerita tentang eksperimen yang dilakukan dengan anak-anaknya ketika bermain Monopoli. Idenya sederhana: apa yang terjadi ketika uang Monopoli diganti dengan uang yang sebenarnya? Seperti judulnya, permainan ini dibuat dengan peraturan satu peraturan utama: winner takes all.

Hasilnya, dua dari tiga anak Adam mengubah strateginya. Hanya anak perempuannya yang tetap bermain mengandalkan “kesempatan” dan “dana umum” — yang tentunya jadi pemain pertama yang bangkrut. Lalu, apa kesimpulannya?

Adam menyatakan bahwa konsep abstraksi finansial — dalam kasus di atas adalah penggunaan uang mainan dalam Monopoli — membuat kita menjadi tidak berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Faktanya, transaksi di masyarakat jadi lebih besar hingga 12-18% ketika menggunakan kartu kredit dibandingkan kas. Masalahnya, dengan psikologi seperti ini, masa depan generasi baru bisa sangat mengkhawatirkan jika tidak pernah dibiasakan mengatur keuangan kasnya sejak dini.

Mereka bisa menjadi sangat boros.

Abstrak

Dalam dunia yang serba digital seperti sekarang, tidak hanya abstraksi finansial saja yang menjadi ancaman. Mereka yang terlalu lama “hidup” dalam dunia maya boleh jadi telah terjebak dalam — meminjam istilah Adam — abstraksi sosial. Tak pelak, kebiasaan untuk mengumpat orang lain, menyebarkan berita yang tidak jelas juntrungannya, hingga penipuan dengan social engineering menjadi marak di masyarakat kita.

Berapa banyak di antara kita yang lebih sering sibuk dengan ponsel masing-masing bahkan ketika ada teman-teman atau keluarga di sekitar kita? Saat saya menulis ini, minimal satu orang di tiap meja kafe memegang ponselnya, yang besar kemungkinannya sedang digunakan untuk bersosialisasi di dunia maya. Apakah ketidakmampuan kebanyakan dari kita untuk berdiskusi dan berdebat secara sehat memang berpangkal pada minimnya dialog tatap muka yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari?

Mungkinkah media sosial telah menjadi tabir yang mengaburkan konsekuensi sosial dan moral?

Saya Berpikir dan Bertanya

Semakin ke sini, kebiasaan kita yang selama ini terlalu sering mengasosiasikan sesuatu dengan simbol terlihat makin menjadi. Maksudnya begini, kita itu, sadar atau tidak, sering terpaku pada hal-hal yang kasatmata saja. Orang yang naik haji langsung dianggap saleh; teman-teman yang berkacamata kita anggap kutu buku; dan mereka yang bertato mesti orang jahat.

Yang paling gawat dari itu semua sebetulnya adalah betapa mudahnya kita kemudian dipengaruhi oleh sajian media. Dengan derasnya arus informasi saat ini, tidak hanya media massa, tetapi juga media sosial telah membuat banyak dari kita yang terlalu cepat melabeli seseorang. Si A begini lah, si B begitu lah. Kita seolah jadi yang paling jago dalam mengklasifikasikan orang-orang tersebut. Eh, apa jangan-jangan tulisan ini juga jadi seperti itu ya? Hahaha…

Anyway, pola pikir yang simplistik dengan asosiasi simbol tersebut akhir-akhir ini jadi sesuatu yang membuat saya agak gerah. Lucu saja melihatnya ada beberapa orang yang dengan mudahnya mengkultuskan seseorang, demikian sebaliknya. Kok ya tidak mau dicoba ditelisik dulu begitu?

Sebagai bagian dari umat Islam, saya sering sedih karena makin ke sini makin banyak orang yang terpaku pada saleh ritual saja dan mengesampingkan saleh sosial. Menurut hemat saya, pelabelan dan asosiasi simbol tadi adalah contoh-contoh kemunduran kesalehan sosial di masyarakat kita. Padahal, bukankah junjungan kita selalu menunjukkan kesalehan sosial dalam kehidupannya sehari-hari? Tak hanya ibadahnya yang tak tertandingi, tapi sejak muda pun beliau sudah dijuluki sebagai Al-Amin — orang yang dapat dipercaya. Lantas, mengapa kita sekarang senangnya berkubang dalam arus informasi yang kadang tak jelas sumbernya?

Terkait arus informasi ini, kita memang tak bisa lepas dari bahasan siapa sumbernya. Nah, seperti halnya saleh ritual dan saleh sosial tadi, sumber informasi ini juga punya dua dimensi yang prinsipil: jujur dan cerdas. Mungkin saja informasi yang disampaikan tidak dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi, tapi bukan tidak mungkin kan bahwa informasinya sudah salah dari hulunya? Jadi, si penyampai/penerus pesan sebetulnya memang orang baik, tapi dia mungkin tidak cukup cerdas untuk memfilter mana yang benar dan mana yang salah. Hoax, istilahnya yang lebih populer sekarang.

Demikian juga sebaliknya. Bisa jadi informasi awalnya mengandung kebenaran, tapi si penyampai/penerus pesan malah melebih-lebihkannya. Seolah-olah dia punya informasi yang orang lain belum punya. Biar terlihat beda gitu.

Bulan yang penuh berkah ini sudah seharusnya jadi masa bagi kita untuk introspeksi. Sudahkah kita bisa lebih menyaring informasi dengan lebih baik? Apakah apa yang kita sampaikan ke orang lain itu sebetulnya akan berujung pada kebaikan atau malah hanya akan jadi sumber perpecahan?

Mari belajar untuk lebih berpikir dan bertanya.

Bulan Itu Lagi

Sudah bulan itu lagi. Terakhir bertemu itu ketika saya sedang tidak berada di tanah air. Meski jadi minoritas, rasanya damai sekali. Menahan lapar dan dahaga selama hampir 20 jam pun tidak terasa begitu memberatkan.

Tahun ini, ada kegelisahan saat menuju bulan yang penuh berkah ini. Beredarnya kabar-kabar tidak mengenakkan di berbagai penjuru dunia membuat saya benar-benar berharap bulan ini bisa membantu meredam itu semua. Semoga bulan ini bukan sekadar menundanya, tetapi juga menyadarkan kita dan menjauhkan kita dari permusuhan yang tidak seharusnya terjadi.

And when they hear ill speech, they turn away from it and say, “For us are our deeds, and for you are your deeds. Peace will be upon you; we seek not the ignorant.”

— QS. 28:55

Beberapa minggu terakhir memang banyak hal yang memenuhi pikiran saya. Ingin sekali dituangkan, tetapi rasanya yang ada hanya akan jadi emosi sesaat saja. Pedih, tapi sungguh tak ingin menularkannya pada sesama.

Mungkin bukan waktunya. Mungkin bukan tempatnya.

And the servants of the Most Merciful are those who walk upon the earth easily, and when the ignorant address them [harshly], they say [words of] peace,

— QS. 25:63

 

Fresh Install

Akhirnya, setelah hampir setahun, saya menginstal ulang Ubuntu di laptop. Ada perasaan menyenangkan setiap kali melakukan instal ulang ini. Fresh. Banyak hal-hal yang selama ini terasa sayang dibuang jadi mau-tidak-mau ikut terbuang. Dengan begitu jadi lebih banyak ruang kosong yang tersisa di harddisk yang tak seberapa besar ini. 😀

Karena saya terbiasa menggunakan Ubuntu versi LTS (Long-Term Support), jadi biasanya ini saya lakukan setiap dua tahun sekali. Meski begitu, terkadang saya menginstal ulang kurang dari kurun waktu tersebut — tergantung apakah laptopnya sedang berulah atau tidak. Karena, toh, dukungan untuk pembaruan Ubuntu LTS diberikan sampai lima tahun sejak rilisnya versi tersebut.

Faktanya, kita mungkin sudah menjadi digital hoarders sekarang. Banyak foto-foto, dokumen-dokumen, dan berbagai macam berkas lainnya yang kita tumpuk di dalam komputer. Padahal, mungkin berkas-berkas tersebut sudah tidak relevan lagi — sudah usang.

Makanya, setelah proses backup dilakukan, biasanya tidak semuanya saya restore kembali setelah proses instal ulang OS selesai. Ada berkas-berkas yang sengaja saya simpan di media eksternal dan ditinggalkan di sana. Jadi, jika sewaktu-waktu dibutuhkan, tetap bisa diambil. By the way, Back In Time adalah kakas yang cocok sekali untuk kebutuhan ini. Recommended!

Seberapa sering Anda menginstal ulang OS Anda?

Menyunting

Ya, “menyunting”, bukan “mempersunting”. 😛

Dalam menulis blog ini, sebetulnya jarang sekali saya melakukan penyuntingan kembali. Apa yang terpikir, segera saja dituangkan dalam tulisan untuk kemudian langsung dipublikasi. Tak jarang, setelah melihat kembali tulisan-tulisan saya setelah beberapa waktu berlalu, saya menemukan beberapa kalimat yang terasa kurang padu atau mungkin beberapa kesalahan ketik.

Bagi saya, ini hal yang sangat wajar untuk terjadi. Meski begitu, saya selalu berusaha untuk membuat tulisan-tulisan saya enak untuk dibaca sehingga lebih mudah tersampaikan pesannya kepada para pembaca. Masalahnya, kalau pola pikir seperti ini juga dibawa-bawa ke penulisan di media massa, repot jadinya.

Salah satu peran media massa adalah membentuk kebiasaan berbahasa dari para pemirsanya. Jika yang dijadikan panutan saja ternyata abai dalam berbahasa yang baik dan benar, bagaimana bahasa yang katanya pemersatu bangsa itu bisa dipelihara? Dengan mudahnya setiap orang bertindak laiknya media massa, tidak mengherankan jika kemampuan berbahasa banyak orang pun menjadi semakin membuat miris.

Ini baru urusan redaksi ya, belum lagi kalau kita bicara soal konten. Semakin ke sini, kelihatannya beberapa awak media makin tak peduli dengan akurasi dari konten yang diterbitkan. “Yang penting rilis dulu,” begitu katanya. Tentu tidak sedikit kasus-kasus di lapangan yang kita lihat sebagai akibat dari ketidakakuratan konten-konten di media tersebut.

Apakah hal seperti ini harus dibiarkan terus?

Banyak Menulis

Saat ini saya sedang banyak menulis. Seperti yang sudah dijelaskan di pos sebelum-sebelumnya, dengan pekerjaan sebagai dosen tidak tetap sekarang, banyak tulisan yang harus saya hasilkan. Tugas, ujian, dan tentunya materi kuliah merupakan beberapa hal yang menjadi materi tulisan yang mengisi hidup saya di beberapa minggu terakhir. Tidak heran, jumlah tulisan di blog ini pun jadi berkurang. Sudah ada alternatifnya.

Dengan cukup banyak materi tulisan tiap minggunya dari dua kuliah yang harus saya ampu di semester ini, praktis, tenaga saya cukup terkuras untuk itu. Saya merasa sudah cukup produktif dari sisi penulisan. Jadi, yah, tulisan yang mungkin “tidak terlalu penting” seperti blog ini jadi dikesampingkan dulu.

Salahkah ini?

Well, nyatanya, beberapa dosen-dosen terkenal di dunia yang saya geluti tetap rajin menulis blog kok meski tumpukan utang penulisan ilmiah terus menggunung. Tentu saja selalu ada hal-hal trivial maupun non-trivial yang bisa ditulis tiap harinya. Contohnya, sekadar analisis terhadap tren di arXiv seperti tulisan Andrej Karpathy ini mungkin tidak akan terlalu banyak menguras pikiran.

Jadi, mungkin kurang tepat rasanya kalau saya beralasan kesibukan saya di kampus membuat saya jadi meninggalkan blog ini. Seharusnya, blog ini tetap bisa ditulis meski masih banyak utang tulisan lain yang “menuntut” untuk dituangkan. Belum lagi melihat bagaimana kerasnya usaha para peneliti di Google Brain untuk mendistilasi ilmu machine learning yang sekarang sedang sangat berkembang itu melalui distill.pub. It’s a mountain of research debt.

Mari menyesuaikan waktu agar lebih produktif menulis…

Go-Hackathon

Akhir minggu kemarin, saya ikut hackathon yang diadakan oleh Go-Jek. Awalnya, saya diajak oleh teman-teman satu almamater saat S2 dulu. Karena memang kebetulan lagi agak senggang mengingat akan libur kuliah juga, jadi saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan tersebut. Sekalian, karena mereka dari bidang Design Informatics, saya berharap bisa menghasilkan sesuatu yang menarik – yang lebih tangible.

Hackathon kali ini berlangsung di kantor Go-Jek yang baru di bilangan Blok M. Karena tidak terlalu jauh dari rumah, jadi saya tidak perlu repot-repot mencari transportasi menuju tempat tersebut. Saya sendiri tiba di lokasi sekitar pukul 10 lewat, saat kebanyakan peserta ternyata sudah di dalam ruang auditorium untuk briefing awal. Jadi, saya pun langsung menuju lantai 7 bersama rekan setim yang sudah menunggu.

Kesan Awal

Kantornya menarik! Terlihat sekali bahwa hackathon ini dipersiapkan dengan sangat baik. Dekorasi yang dipersiapkan untuk kompetisi, papan nama tim di tiap area kerja, suplai makanan dan minuman enak, hingga ruang game membuat hackathon ini terasa cukup menyenangkan. Ini mengingatkan saya akan hackathon saat di J.P. Morgan tahun 2015 yang lalu dengan semua fasilitas yang disediakan. Bahkan, pihak Go-Jek menyediakan layanan Go-Massage secara cuma-cuma untuk para peserta di jam-jam tertentu. Well done!

Sayangnya, Go-Jek tidak menyediakan data maupun alat untuk digunakan. Artinya, semua kebutuhan ngoprek harus dipersiapkan oleh peserta sendiri. Meski begitu, ini juga berarti kebebasan bagi peserta untuk menentukan “mainan” mereka masing-masing, dan tidak harus terkait dengan Go-Jek.

Ngoprek!

Sehari sebelum acara berlangsung, berdasarkan rekomendasi seorang teman, saya memutuskan untuk membeli alat untuk EEG (electroencephalogram). Ide awal kami memang sudah ingin mempromosikan berkendara dengan aman, tapi saat itu data yang diambil baru didasarkan pada detak jantung dari gawai seperti Fitbit atau Mi Band saja. Nah, EEG ini tentu akan membuatnya jadi lebih canggih, karena kita bisa mengambil kondisi dari orang tersebut, misalnya dari sisi fokus atau ketenangannya.

Untungnya, tidak perlu waktu yang terlalu lama bagi saya untuk bermain dengan SDK yang disediakan oleh NeuroSky, produsen dari alat EEG yang kami pakai. Dengan dokumentasi yang baik dan contoh kode yang cukup jelas, saya yang sejak awal ditugaskan untuk mengerjakan aplikasi mobile, berhasil mendapatkan data yang dibutuhkan untuk melakukan inferensi tersebut. Namun, karena kami tidak punya data latih, akhirnya saya membuat versi sederhana dari fuzzy logic untuk proses pengambilan kesimpulannya. Untuk yang ingin melihat teknisnya, silakan buka tautan ini.

Aplikasi mobile ini sendiri saya namakan Cerebro, karena alat EEG yang digunakan mengingatkan saya pada Cerebro yang diciptakan oleh Professor X dan Magneto di komik X-Men. Memang, fungsi jauh dari Cerebro yang sebenarnya. Namun, karena sama-sama menggunakan gelombang otak, boleh lah ya? 😀

NeuroSky
Sudah mirip James McAvoy belum? :mrgreen:

Para Juara

Alhamdulillah, ide tim kami masuk enam besar. Saya sangat berharap sekali untuk memenangkan kompetisi ini. Supaya balik modal ceritanya. 😀 Sayangnya, ternyata lawan-lawan kami cukup tangguh. Ide-idenya brilian dan aplikatif. Saya salut sekali!

Juara ketiga membawa ide klasifikasi gambar makanan menggunakan Convolutional Neural Networks. Canggih. Dengan membungkus algoritma klasifikasi gambar yang sedang populer tersebut sebagai web service, mereka berhasil mengklasifikasikan gambar ayam bakar, nasi goreng, gado-gado, dan sekitar sepuluh jenis makanan lainnya dengan akurasi hingga 80%. Tim yang hanya terdiri dari dua orang ini jelas memancing rasa penasaran para juri dengan penggunaan elemen state-of-the-art. Bravo!

Juara kedua ini sebetulnya punya ide head-to-head dengan tim kami. Bedanya, mereka benar-benar ngoprek dari awal. Menggunakan mikrokontroler Arduino, mereka membuat helm cerdas yang bisa mendeteksi jika terjadi kecelakaan atau jika pengendara melaju terlalu kencang. Tak ayal, hasil kerja mereka pun diganjar Macbook Pro bagi masing-masing anggota tim.

Nah, juara pertama ini sebenarnya sudah saya takutkan sejak awal. Tim yang terdiri dari adik-adik kelas saya di Informatika ITB ini namanya memang sudah langganan dalam memenangkan kompetisi semacam ini. Terbukti, ide mereka untuk menggabungkan keberadaan sopir Go-Jek yang berada di mana-mana dan penggunaan beacon berbasis bluetooth untuk mencari barang hilang berhasil membawa mereka mendapatkan posisi puncak. Mereka pun pulang Rp 120 juta lebih kaya.

Overall, pengalaman yang menyenangkan. Meski lelah karena hanya tidur sekitar 1-2 jam, tapi saya jadi punya kesempatan untuk bermain-main lagi, bertemu dengan teman lama dan teman baru, dan belajar lebih banyak lagi. Semoga saja kompetisi seperti ini benar-benar bisa menghasilkan banyak ide gila nan bermanfaat lainnya.

Tidak sabar untuk menunggu kesempatan hackathon berikutnya!