Ulasan

RM. Linggarjati, Bandung

Berawal dari kekurangkerjaan, saya berniat di hari Jumat yang lalu untuk shalat Jumat di Masjid Raya Bandung. Sejak sebelum ada alun-alun yang bagus seperti sekarang, saya sebetulnya sudah berkali-kali berniat shalat tarawih di tiap Ramadhan yang saya habiskan di Bandung. Akhirnya, baru kesampaian sekarang ini.

Nah, setelah selesai shalat Jumat, seperti halnya kebanyakan orang, saya pun pergi mencari makan siang. Seharusnya, di sekitar masjid sebesar ini ada banyak pilihan makanan menarik. Berhubung tidak banyak yang ingin saya kerjakan di hari Jumat itu, maka saya tidak terlalu terburu-buru mencari tempat makannya.

Setelah sibuk mencari-cari rekomendasi tempat makan melalui ponsel yang tak kunjung mendapatkan sinyal, akhirnya teman perjalanan saya menemukan satu tempat yang konon kabarnya direkomendasikan oleh kenalannya yang doyan makan enak: RM. Linggarjati. Promosi dari teman saya ini tidak tanggung-tanggun: jus alpokat (atau dalam bentuk bakunya avokad) yang terenak sedunia. Siang yang terik begini ditawarkan minuman segar semaca itu, siapa pula yang bisa menolak?

Walhasil, berjalanlah kami mencari tempat yang dimaksud. Namun, teman saya ini nampaknya bukan penunjuk jalan yang baik. Kami sempat salah jalan — seharusnya saya melihat kemungkinan kesalahn ini dari keputusannya untuk naik ojek ke alun-alun yang harusnya sudah sering dia lewati. :|

Yah, akhirnya kami sampai di tempat yang dimaksud — tidak sampai 100 meter dari salah satu ujung trotoar yang mengelilingi alun-alun.

Kesan pertama melihat tempat makannya adalah, “Wih, ramai. Mestinya ini memang benar-benar enak.” Tempat makannya sendiri khas tempat makan enak(?) yang sederhana, cukup tua, terlihat agak pengap, tetapi tidak pernah sepi pengunjung. Namun, beruntung kami langsung mendapatkan tempat duduk karena ada yang baru saja selesai makan.

Kami disodori menu yang menunjukkan beberapa pilihan makanan dan minuman — tetapi tidak disertai harganya. Pilihan makanannya hanya mie ayam dan bihun dengan berbagai macam variasi pelengkap: bakso, pangsit, siomay, hingga babat. Berhubung beberapa hari terakhir saya makan mie ayam, jadi saya memilih untuk memesan bihun saja, dan tentunya segelas jus avokad.

Minumannya datang jauh lebih cepat daripada makanannya. Dalam sekali seruput, saya langsung mengerti mengapa orang-orang merekomendasikan membeli minuman ini. Rasa manisnya itu berbeda dari jus avokad kebanyakan. Sepengelihatan saya, ada campuran gula merah yang digunakan sebagai pemanis jus ini. Mantap lah pokoknya.

Di sini bagian tidak mengenakkannya. Berhubung tidak tahu harganya, maka mata saya mencoba menyelisik sekitar, telinga pun saya tajamkan untuk mendengarkan pembicaraan di kasir yang berada tak jauh dari tempat kami duduk. Mata saya tertuju pada selembar kertas yang ditempel di dinding di sebelah kasir yang menunjukkan daftar harga.

Mie Bakso Pangsit | 1 | 48.000
Jus Avokad | 1 | 25.000

Saya terdiam sejenak.

Saya langsung menanyakan teman makan saya berapa uang yang dia sedang bawa, karena di dompet saya saat itu hanya ada satu lembar Rp 50.000 dan beberapa lembar uang Rp 2.000. “Tidak akan cukup ini,” pikir saya. Teman saya menjawab bahwa uangnya pun hanya Rp 50.000, tapi dia benar-benar merasa santai saja — yakin bahwa uangnya akan cukup. Tak lama setelah menemukan harga itu, saya semakin teryakinkan dengan harga yang mahal tersebut karena baru saja mendengar seorang wanita yang membayar sekitar Rp 150.000 untuk dua porsi makanan dan minuman yang dibelinya.

“Tenang aja, Li. Buat apa ada dua tangan ini?” kelakar teman saya, memberikan gestur seakan dia siap mencuci piring kalau tidak bisa bayar.

Rumah makan ini juga tidak terlihat seperti rumah makan yang menyediakan pembayaran menggunakan metode lain selain cash. Daripada saya makan tidak tenang dan jadi tidak enak rasanya, lebih baik saya cari ATM terdekat untuk mengambil uang kan? Nah, untungnya tidak terlalu jauh dari sana ada ATM dari sebuah bank yang entah mengapa bisa punya kantor cabang yang hanya dipisahkan dengan alun-alun saja dengan kantor cabang lainnya dari bank tersebut. Pengalaman makan kali ini benar-benar membuat saya gagal paham, kalau menurut istilah anak zaman sekarang.

Oh iya, bihunnya menurut saya biasa saja. Kuahnya sih cukup ringan, tapi saya harus menambahkan sambal dan kecap untuk melengkapi rasanya. Baksonya sih cukup empuk, tapi pangsit rebusnya yang menurut saya paling juara rasanya.

Overall, seperti yang akhirnya disampaikan temannya teman saya kepada teman saya yang akhirnya disampaikan ke saya, intinya: kalau ke sini, pesan jus avokadnya saja, jangan pesan makanan. Dengan harga segitu, saya tidak menyarankan untuk membeli makanannya, kurang sepadan saja rasanya. Untuk ukuran mie ayam, ada beberapa tempat lain di Bandung yang rasanya lebih mantap menurut saya.

Apa santap siang Anda hari ini?

Idealisme

Alphabet, Google, dan Mainan Baru

Google memang bukan perusahaan kemarin sore. Setiap langkah selalu menarik untuk dibahas baik dari sisi bisnis maupun teknologi. Semua bisa terjadi karena sedemikian lekatnya produk Google dengan kehidupan kita sehari-hari. Siapalah sekarang yang bisa jauh dari Google search, Google Maps, atau Android?

Produk Google

Ketika Larry Page memberitakan bahwa Google “berubah” menjadi Alphabet, maka gegerlah dunia. Semua sibuk membuat analisis: theverge, Mashable, techradar, BusinessInsider, BloombergView, dan lain-lain. Belum lagi media lokal yang ikut sibuk mengutip dari sana-sini supaya tak ketinggalan berita heboh ini.

Dari sekian banyak ulasan itu, izinkan saya untuk memberikan sebuah pandangan sederhana atas semua kebijakan ini. Di luar sisi manajemen atau bisnis, ada satu hal yang saya rasa benar-benar bisa menggerakkan Larry Page dan Sergey Brin untuk mengambil keputusan besar ini. Apa itu? Sesuatu hal sesederhana keinginan akan mainan baru.

Mainan Baru

“We did a lot of things that seemed crazy at the time. Many of those crazy things now have over a billion users, like Google Maps, YouTube, Chrome, and Android. And we haven’t stopped there. We are still trying to do things other people think are crazy but we are super excited about.” – Larry Page

Tatkala capaiannya sudah sejauh ini, saya pikir mereka bukan lagi mencari materi. Mereka hanya ingin punya mainan baru — sesuatu yang bisa bermanfaat bagi lebih banyak orang lagi. Ini yang saya rasa membedakan Google dengan perusahaan lainnya: keinginan untuk terus berinovasi.

Kalau kita perhatikan, sementara taipan-taipan perusahaan teknologi lain sibuk diberitakan sebagai orang-orang yang drop-out dari universitas, Larry Page dan Sergey Brin berbeda. Well, mereka juga drop-out — tapi dari program PhD. Keduanya sudah mendapatkan gelar master dari Stanford University saat membangun Google.

Waktu berlalu dan Google pun tumbuh semakin besar. Bila dihitung sebagai umur manusia, maka Google sudah beranjak dewasa sekarang dan sebentar lagi akan masuk kuliah. Bagi kebanyakan orang, terutama dalam budaya barat, ini berarti bahwa Google sudah bisa “memilih jalannya sendiri”.

Belajar Melepaskan

Saat Google sudah sebesar sekarang, tentu ada perasaan berat untuk melepasnya. Ini sesuatu yang mereka sudah bina sejak tujuh belas tahun yang lalu! Maka, penunjukkan Sundar Pichai sebagai CEO yang baru pun tentu memerlukan proses pertimbangan yang panjang.

“This new structure will allow us to keep tremendous focus on the extraordinary opportunities we have inside of Google. A key part of this is Sundar Pichai. Sundar has been saying the things I would have said (and sometimes better!) for quite some time now, and I’ve been tremendously enjoying our work together. He has really stepped up since October of last year, when he took on product and engineering responsibility for our internet businesses. Sergey and I have been super excited about his progress and dedication to the company. And it is clear to us and our board that it is time for Sundar to be CEO of Google.” – Larry Page

Tentu, ini akan jadi sebuah “kehilangan” yang besar bagi Larry Page dan Sergey Brin. Namun, saya selalu teringat akan perkataan ini,

“Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan.” – Tere Liye

Bahwa demi mencapai sesuatu yang lebih, terkadang kita memang perlu melepaskan sesuatu yang selama ini menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk kita. Di titik inilah mungkin satu-satunya alasan kita tidak boleh merasa cukup: berusaha bermanfaat bagi orang lain.

Berkelana

“Mereka lagi berkelana,” tutur seorang teman tentang manuver para pendiri Google ini. Dalam usahanya untuk meningkatkan taraf hidup orang banyak — mereka mesti merasa tidak nyaman lagi, mereka mesti merasa “bodoh” lagi. Karena hanya dengan cara demikianlah mereka bisa berinovasi lagi.

Satu poin yang perlu digarisbawahi dalam perjalanan ini adalah bahwa semua usaha ini memang tidak pernah sebentar. Butuh waktu tujuh belas tahun sampai pada akhirnya Google dilepaskan, untuk kemudian para pendirinya memilih berkelana lagi. Jadi, pada akhirnya, memang semua butuh waktu.

Saya mencoba untuk percaya pada prinsip itu dalam menjalani hidup. Bahwa hal-hal baik acap kali perlu waktu untuk bisa dipahami orang lain. Jadi, seharusnya kita tidak perlu khawatir dan sibuk membanding-bandingkan pencapaian kita dengan teman sebaya. Selama kita tahu bahwa kita sedang mengerjakan sesuatu yang ditujukan untuk manfaat orang lain, maka teruslah perjuangkan itu. Namun, jangan pernah kaku dan merasa bahwa cara kita melakukannya sudah paling benar. Pertanyaan besarnya sekarang adalah:

Apakah kita sudah berada di perkelanaan yang benar?

Pemikiran

What is Happiness?

Dalam hidup ini, entah sudah berapa kali saya bertanya kepada diri saya, bahkan kepada orang-orang di sekitar saya: Apa itu kebahagiaan? Apa yang menyebabkan seseorang merasa bahagia? Nyatanya, dari sekian kali pertanyaan itu dilontarkan, tetap saja saya masih merasa perlu mencari hakikat kebahagiaan yang sebenarnya.

Banyak yang secara tidak sadar menaruh materi sebagai ukuran utama dari keberhasilan, kesuksesan, dan — pada akhirnya — kebahagiaan. Hidupnya selalu dipenuhi dengan target-target supaya bisa membeli banyak hal, pergi ke berbagai tempat di segala penjuru dunia, dan menikmati makanan dengan kualitas kelas satu. Akan tetapi, tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa kebahagiaan itu tidak dapat diukur dengan materi. Kalau sudah begini, biasanya selalu saja ada yang berceloteh,

“Yes, money can’t buy happiness, but it’s more comfortable to cry in a BMW than on a bicycle.”

Banyak yang mempertanyakan konsep kebahagiaan tanpa memiliki — atau hanya sedikit sekali — materi. Betul memang, hidup itu tetap perlu materi. Saya tidak menampik itu. Namun, perkataan orang dulu tentang hidup berkecukupan itu bukan berarti rumah cukup dua, villa cukup satu, dan mobil cukup tiga. Karena bahkan ketika kita sudah punya semua itu, selalu saja ada orang lain yang punya lebih bagus atau lebih banyak.

Jadi, berkecukupan itu masalah bersyukur. Dari apa yang kita punya, apakah kita sudah merasa cukup dan bersyukur dengan itu semua. Konsep ini mudah diceritakan, tetapi sangat sulit untuk dipahami, apalagi untuk dipraktikkan.

Saya juga sering merasa terusik dengan fakta bahwa banyak sekali orang mengadu nasib ke ibukota untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Terkadang saya tidak habis pikir mengapa banyak orang yang rela bekerja 5 to 9 — berangkat jam 5 pagi dari rumah, lalu sampai di rumah pukul 9 malam. Kalau ditanya dan benar-benar mau dipikirkan lagi, are they really happy?

Hidupnya terpaksa habis di jalan, bung! Saya rasa kita sudah tidak asing dengan cerita berangkat sebelum anak bangun dan pulang setelah anak tidur. Apalah artinya mencari uang yang melimpah itu kalau pada akhirnya tidak bisa dinikmati dengan orang-orang terkasih?

Jadi, apakah kita sudah merasa bahagia dengan hidup kita?

Pemikiran

Ga Enakan

Orang Indonesia itu lucu sekali menurut saya. Terkadang saya suka sulit untuk mengerti mengapa banyak sekali basa-basi yang dilakukan oleh orang Indonesia. Rasa toleransi di sebagian besar orang tersebut terlalu tinggi sampai-sampai bisa muncul rasa “ga enakan”. Risih.

Coba kita ingat-ingat, apakah kita termasuk orang yang belum mau makan sampai semua teman mendapatkan makanannya ketika berada di restoran? Atau, siapa yang merasa harus pamitan dengan semua orang yang ada di suatu tempat, padahal belum tentu kenal dengan semua orang itu? Lantas, berapa kali kita hampir tidak jadi pergi hanya karena ada seorang teman yang tidak tahu caranya untuk mencapai tempat tujuan tersebut — karena tidak punya kendaraan, misalnya?

Lucunya, perasaan “ga enakan” itu suka terbawa-bawa ke hal yang sifatnya prinsipil. Kita menggunakan alasan “ga enakan” tersebut untuk melakukan suatu hal, yang terkadang sebetulnya melanggar suatu hal yang fundamental — yang “agak” melanggar prinsip kita. Dalam kasus yang paling sederhana, kita sering terlalu takut untuk mengingatkan ketika orang lain berbuat salah — hanya karena tidak mau menyinggung perasaannya. Mulai merasa ada yang aneh?

Saya jadi teringat tentang suatu artikel yang pernah saya baca perihal kasus ini. Katanya, banyak orang Indonesia itu menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang tidak dapat ditoleransi. Contoh paling sederhananya bisa kita lihat melalui liputan di berbagai media tentang hasil dari suatu pertandingan sepak bola. Kata-kata yang dipakai itu bermacam-macam: menggunduli, meluluhlantakkan, menggilas, mempermalukan, menghancurkan, dan lain sebagainya. Seolah-olah kekalahan itu adalah sesuatu yang memalukan sekali.

Belum lagi kalau sudah masuk ke tatanan pemerintahan. Rasanya pemerintahan itu tidak ada yang benar di mata kebanyakan orang Indonesia. Sebegitu tidak tolerannya kita sehingga selalu yang dilihat itu cuma sisi jeleknya. Jika ada sisi baik, biasanya hanya dianggap sebagai usaha pencitraan.

Pemerintah itu hampir pasti bikin salah. Karena tidak ada yang namanya kebijakan yang dapat menyenangkan semua golongan. Sekarang masalahnya, maukah kita melihat sisi lain dari kebijakan yang pemerintah buat itu. Tentu mereka yang duduk di kursi pemerintahan tidak selamanya seperti yang “terlihat di televisi” saja.

Lucu ya? Kok malah jadi terbalik ceritanya? Kita ingin jadi orang yang begitu toleran, tapi kok ya malah jadi sangat tidak toleran di sisi lainnya? Namanya orang toleran, seharusnya bisa memahami bahwa manusia itu ya tempatnya salah dan lupa. Ingatkanlah, tapi tidak perlu diingat-ingat.

We will make mistakes, eventually.

Masalahnya hanya: maukah kita memperbaiki kesalahan itu?

Pemikiran

Programming Everywhere

Ketika semua orang belajar programming, lalu lulusan ilmu komputer / teknik informatika mau jadi apa?

Pertanyaan atau pernyataan semacam itu rasanya sudah tidak asing kita dengar saat ini. Mereka yang katanya lulusan informatika atau ilmu komputer selalu dipertanyakan kemampuannya, karena toh memang banyak kursus, buku, maupun kuliah daring (dalam jaringan) yang mengajarkan tentang programming. Mau bahasa pemrograman apapun ada. Yang menjanjikan belajar kilat dalam beberapa jam juga mudah ditemukan di rak-rak toko buku.

Jadi, di samping bersaing dengan lulusan informatika lain yang jumlahnya juga tidak sedikit, para “informatikawan” ini juga harus berhadapan dengan mahasiswa atau lulusan jurusan lain seperti elektro, fisika teknik, hingga matematika. Bahkan, topik programming pernah jadi edisi khusus dari Bloomberg Businessweek. Kata orang-orang sih, programming itu tidak lama lagi akan menjadi seperti belajar bahasa Inggris — suatu kebutuhan pendidikan yang esensial.

Nah, kembali ke pertanyaan yang dilemparkan di awal, “Ketika semua orang belajar programming, lalu lulusan ilmu komputer / teknik informatika mau jadi apa?”

Software vs Arsitektur

Kalau berhadapan dengan pertanyaan seperti itu, saya selalu teringat akan perkataan salah seorang dosen sekaligus mentor saya: Pak Budi Rahardjo. Beliau — yang aslinya adalah orang elektro — pernah berkata bahwa programming itu pada hakikatnya mirip dengan arsitektur juga. Kalau beliau diminta merancang rumah satu tingkat, beliau cukup yakin bahwa beliau mampu untuk melakukkannya. Namun, lain halnya ketika beliau diminta merancang gedung dua puluh tingkat, beliau jelas akan angkat tangan.

Begitulah. Kata kunci yang sering keluar memang hanya “programming”. Walakin, di belakang itu banyak sekali hal yang terjadi dan ada banyak peran dalam dunia pembangunan perangkat lunak: system engineer, system architect, system analystdatabase administrator, UX designer, UI designer, Quality Assurance, hingga developer-nya sendiri. Untuk sekadar membuat aplikasi kecil yang dipakai oleh satu orang saja, mungkin hanya perlu satu orang yang memegang semua peranan itu. Namun, ketika kita bicara skalanya satu perusahaan, atau bahkan satu negara, maka tidak mungkin semua itu dibebankan ke satu orang saja. Bisa-bisa “bangunan digital” itu rubuh dalam waktu yang singkat.

Data, Bisnis, dan SQL

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengajarkan divisi Monitoring and Evaluation (M&E) di kantor tentang SQL. Mereka yang notabene adalah lulusan kesehatan masyarakat pada akhirnya juga bisa mengikuti “pelajaran” itu. Sekarang, untuk data jenis baru yang masuk — yang memang belum disediakan semacam dashboard-nya, mereka sudah bisa mengambil sendiri langsung ke database. Ini benar-benar meringankan pekerjaan saya di kantor yang dulu hanya sendirian sebagai tenaga kerja IT.

Tempo hari, saya bahkan baru mendapatkan sebuah kabar menarik dari adik saya. Dia baru saja selesai interview di sebuah perusahaan e-commerce multinasional, dan dia ditanya apakah menguasai SQL atau tidak. Padahal, menurut keterangan yang tertulis di situs lowongan pekerjaannya, persyaratannya hanya menguasai Ms. Excel. Menarik bukan? Padahal, posisi yang dilamar ada di bagian business development yang biasanya diisi oleh anak-anak teknik industri.

Faktanya, memang Anda mungkin sudah sampai tahap risih mendengar jargon seperti big data, data analysis, atau data mining. Bisnis memang pada akhirnya membutuhkan banyak hal untuk bisa terekam untuk kemudian diolah datanya menjadi suatu informasi yang bernilai. Tidak ada yang salah dengan itu, bahkan mungkin memang sudah seharusnya seperti itu.

Terlebih lagi, banyak hal yang sudah bisa diotomasi. Hal-hal yang melelahkan dan berulang-ulang, sudah sangat mungkin diserahkan kepada mesin. Jadi, manusia seharusnya bisa memanfaatkan otaknya untuk mengerjakan yang di luar itu. Nah, bagi orang-orang lulusan informatika seperti saya, tantangannya adalah,

Apakah saya sudah mengerti lebih dari sekadar programming?

Sendiri

Menulis Akademis

Sesering-seringnya saya menulis di blog ini, tetap saja bahasa yang digunakan sederhana. Selain itu, bahasannya pun tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Saya pikir, menulis secara akademis seharusnya tidak sesusah itu jika saya sudah sering menulis di tempat seperti ini.

Nyatanya, saya salah. Saat saya menulis makalah untuk kebutuhan lulus dulu (yang juga diikutkan dalam Konferensi Nasional Informatika 2013), perlu waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan makalah sebanyak lima halaman tersebut. Padahal, makalah itu sebenarnya mayoritas terdiri dari rangkuman tugas akhir saya.

Itu baru tulisan dalam bahasa Indonesia, bagaimana kalau dalam bahasa Inggris?

Dari hasil tes IELTS saya, komponen writing mendapatkan nilai terendah — hanya 6.0. Padahal, saya masuk ke kategori kelas writing saat mata kuliah bahasa Inggris dulu. Ini juga seharusnya bukan karena saya bermasalah dalam pemahaman bahasa Inggris, karena nilai reading saya bisa dikategorikan cukup tinggi.

Yang membuat saya agak khawatir sekarang adalah kenyataan bahwa kuliah saya yang tinggal beberapa bulan lagi itu konon kabarnya sangat memperhatikan penulisan akademis. Untuk mendapatkan poin tinggi, tulisannya harus benar-benar bagus, baik dari sisi analisis, struktur, hingga tata bahasa. Ini sudah terlihat dari perbedaan kemampuan menulis antara saya dan seorang teman yang sekarang menjadi rekan dalam menulis blog tentangdata.

Blog tersebut sebetulnya dibuat bersifat ilmiah-populer, jadi harusnya tidak benar-benar butuh analisis mendalam — yang penting deskriptif saja. Namun, itu saja banyak sekali suntingan yang harus saya lakukan setiap kali saya menyelesaikan suatu draft. Kalau sekarang sih, mungkin saya bisa berdalih bahwa saya hanya terbiasa menulis blog, tapi ketika kuliah nanti kan alasan itu tidak bisa dipakai lagi?

Nampaknya saya memang benar-benar harus latihan menulis akademis lagi.

Pemikiran

Norma dan Efisiensi

Saya bosan dengan kata-kata pembuka yang sama, tapi mau bagaimana lagi? Hidup kita memang isinya perbandingan saja, dan kita hidup di zaman sekarang. Jadi, biarlah.

Di zaman modern seperti sekarang ini, sifat-sifat yang menyangkut aspek sosial seolah-olah semakin terasing — terlebih lagi dalam kehidupan di ibukota. Korupsi, kolusi, dan nepotisme seharusnya tidak akan pernah kita dengar seandainya kepentingan masyarakat luas lebih dijunjung dibandingkan kepentingan sebagian golongan — seperti halnya yang diajarkan saat Pendidikan Kewarganegaraan dulu. Yang paling anyar, kasusnya adalah teror yang didapatkan oleh driver Gojek dari tukang ojek pangkalan.

Berangkat dari situ, muncul lah banyak cerita tentang pro-kontra Gojek vs ojek pangkalan. Banyak yang mendukung Gojek rasanya, tapi ada juga yang mendukung ojek pangkalan. Salah satunya, bisa dilihat di sini. Saya tidak mau ikut-ikutan ribut atau mendukung salah satu di sini. Saya punya kecenderungan ke salah satu, tentu saja, tapi tidak perlu lah ya saya perpanjang cerita itu — meski Anda mungkin akan menangkapnya pula pada akhir cerita ini.

Yang mau saya soroti di sini adalah kenyataan bahwa kasus seperti ini ternyata terjadi di banyak elemen dalam kehidupan modern. Kasus-kasus ini mengingatkan saya pada salah satu bab di buku Predictably Irrational karya Dan Ariely yang menceritakan tentang norma sosial versus norma pasar. Ini kutipan cerita yang menariknya:

You are at your mother-in-law’s house for Thanksgiving dinner, and what a sumptuous spread she has put on the table for you! The turkey is roasted to a golden brown; the stuffing is homemade and exactly the way you like it. Your kids are delighted: the sweet potatoes are crowned with marshmallows. And your wife is flattered: her favorite recipe for pumpkin pie has been chosen for dessert.

The festivities continue into the late afternoon. You loosen your belt and sip a glass of wine. Gazing fondly across the table at your mother- in- law, you rise to your feet and pull out your wallet. “Mom, for all the love you’ve put into this, how much do I owe you?” you say sincerely. As silence descends on the gathering, you wave a handful of bills. “Do you think three hundred dollars will do it? No, wait, I should give you four hundred!”

Dalam artikel yang saya agihkan tentang memori ojek pangkalan itu, topik yang banyak disorot adalah masalah empati — kehidupan sosial. Bahwa ternyata semua orang di kota metropolitan selalu mencari yang lebih efisien sehingga melupakan esensi kemanusiaannya, bahwa ada kedekatan antara si penulis dengan tukang ojek pangkalan langganannya yang membuat dia bisa berutang. Ada kepercayaan yang dibangun di situ, dan kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dibeli — sama seperti masakan mertua dalam kutipan di atas yang tidak mungkin kita bayar dengan berlembar-lembar rupiah/dollar.

Pada akhirnya, semua orang mencari efisiensi dalam kehidupan ini. Semua orang benci pada ketidakpastian. Itu sebabnya Gojek cenderung lebih disukai, karena selalu bisa diukur dalam satuan rupiah. Namun, ada satu hal yang mengusik batin saya dalam semua perdebatan ini,

Apakah saat semua jadi serba efisien, kita hanya akan menjadi robot-robot dalam peradaban?

Referensi:
http://danariely.com/the-books/excerpted-from-chapter-4-%E2%80%93-the-cost-of-social-norms/