Tentang Mereka yang Mencari Penghidupan di Jalan

Lama-lama saya curiga saya cuma akan update blog di semester baru saja. Masalahnya, kesenangan saya dalam menulis sudah terwakili di tempat kerja yang sekarang, baik sebagai data scientist maupun sebagai dosen. Membuat salindia untuk kuliah itu makan waktu dan pikiran juga loh. Jadi, rasanya energinya sudah habis untuk menulis sesuatu yang ringan seperti ini.

Alasan saja? Bisa jadi.

Anyway, di luar pekerjaan, sebetulnya ada saja hal-hal menarik yang terjadi. Contohnya beberapa hari yang lalu ketika saya naik Go-Jek dari kampus ke kantor. Mas-mas Go-Jek-nya agaknya terlalu ngebut dan masuk ke lubang sehingga ponselnya terpental ke jalan raya. Pecah.

Tentu saja, repotnya jadi meskipun saya bisa diantar sampai tujuan, status pesanan akan tetap “tergantung” — tidak selesai. Seorang pengemudi Go-Jek yang lebih senior yang kebetulan lewat jalan yang sama kemudian ikut menepi. Menawarkan bantuannya untuk mengantarkan saya sampai tujuan, dan meminta pengemudi Go-Jek saya tadi untuk melaporkan ke kantor pusat untuk menyelesaikan urusan status pesanan.

Ini yang buat saya salut. Bapak-bapak yang kemudian mengantarkan saya tersebut tidak perlu pikir panjang. Langsung saja beliau menawarkan bantuannya, padahal mungkin kenal langsung pun tidak. Kesamaan mereka hanya seringnya mereka mencari penghidupan di jalan raya ibukota yang kadang panasnya tidak kenal ampun. Sudah begitu, bapak ini sempat menolak pula ketika saya menawarkan untuk membayar beliau saat sampai di tujuan.

Iya, orang baik memang masih ada di zaman yang serba susah ini.

Begitu pun hari Jumat lalu ketika pengemudi Go-Jek saya yang tiba-tiba menepi di Jalan Abdul Majid. “Ada apa ya?” pikir saya. Ban bocor atau barang yang jatuh menjadi beberapa hal yang terlintas di kepala saya saat itu.

Bapak pengemudi itu kemudian terlihat mengeluarkan selembar uang dan memasukkannya ke dalam kotak amal untuk lembaga yang mengurus anak yatim yang memang ditaruh di pinggir jalan. Lagi-lagi saya jadi belajar bahwa tidak selalu harus berada di posisi yang serba berkecukupan untuk bisa berbagi dengan orang lain. Saya yang bisa hidup cukup enak ini berapa kali sih sempat terpikir untuk berbagi dengan orang lain? Jangan-jangan saya hanya sibuk memperkaya diri sendiri saja selama ini.

Apa cerita Anda?

Iklan

Fine Dining

Makan enak selalu jadi hiburan yang menyenangkan memang. Lebih dari sekadar mengisi perut agar bisa beraktivitas dengan lancar, makan memang bisa menjadi “terapi”. Maka, tidak heran ada orang-orang yang bertambah berat badannya kalau sering mengalami stress.

Saya sendiri sejak dahulu memang sudah suka acara masak-masak atau makan-makan di TV. Saat kuliah di luar dulu, saya pun jadi punya kesempatan untuk memasak sendiri makanan untuk kebutuhan sehari-hari. Bisa jadi karena terpaksa, karena kalau harus beli setiap saat, maka uang saku saya akan cepat habis. Jadi, mau tidak mau harus masak. Namun, faktanya saya senang bisa memasak sendiri dan menunya ya jadi saya yang tetapkan sendiri.

Karena saya belum seniat itu untuk masak sendiri, jadi pilihannya masih banyak yang gampang-gampang. Biasanya berkutat di menu makanan Italia karena bahannya cenderung sedikit dan bisa selesai dalam 15-20 menit. Beberapa menu pasta resep dari Gordon Ramsay, Gennaro Contaldo, dan The Chiappas jadi favorit saya untuk digilir dalam menu mingguan.

Pada masa kuliah ini juga kemudian saya baru menemukan bahwa ada acara yang bernama Chef’s Table di Netflix. Episode pertama tentang cerita Massimo Bottura langsung menarik perhatian saya. Seru. Saya menonton perjalanan hidup seorang koki terkenal yang dikompresi menjadi sekitar 50 menit saja. Perjuangan koki Italia ini untuk melawan tradisi ternyata bisa berbuah manis setelah mendapat banyak cemoohan dalam tahun-tahun terberat hidupnya menjalani bisnis gastronomi.

Dan cerita serupa ternyata tidak hanya dialami oleh Massimo Bottura seorang…

Menyaksikan kisah hidup koki-koki ini untuk membawa makanan atau bahan makanan yang selama ini dianggap sederhana oleh orang-orang menjadi berkelas merupakan tontonan yang sangat menarik. Siapa lah orang yang selama ini terpikir makanan India yang terkenal biasa dimakan dengan tangan, seperti halnya di Indonesia, bisa disulap menjadi pengalaman fine dining yang masuk ke dalam daftar 50 restoran terbaik di dunia? Perjalanan panjang Gaggan Anand hingga akhirnya membuka restoran Gaggan di Bangkok tentu butuh perjuangan yang tidak main-main.

Cerita Alex Atala di season 2 yang sempat mengalami keterpurukan dalam hidupnya hingga akhirnya mengalami titik balik dan berhasil memanfaatkan bahan-bahan eksotik dari hutan Amazon untuk membawa nama D.O.M. terkenal ke penjuru dunia juga tak kalah menarik. Lain lagi serunya dengan Magnus Nilsson dengan bahan-bahan yang harus bisa disimpan di daerah yang musim dinginnya bisa menyulitkan untuk memperoleh bahan makanan yang bagus di belahan bumi Swedia. Kisah Virgilio Martinez dari Peru yang melambungkan nama Central Restaurante di Lima, Peru juga sama serunya.

Dari semua cerita para koki tersebut, pikiran saya tergelitik, “Apa suatu saat akan ada restoran Indonesia yang dapat Michelin stars?” Agaknya, mungkin masih butuh waktu yang lama, seperti halnya yang dikupas Tirto dalam serial artikel ini. Namun, dengan berkembangnya bisnis fine dining di kota-kota besar Indonesia seperti sekarang, bukan tidak mungkin suatu saat akan ada restoran Indonesia yang dikenal di mata dunia.

Apakah Anda sudah pernah mencoba fine dining?

Target Menulis

Tidak terasa sudah akhir tahun lagi. Tampaknya, target menulis blog saya tahun ini tidak tercapai lagi. Alasannya sih karena tahun ini saya juga banyak menulis untuk kebutuhan lain, dokumen analisis di pekerjaan, catatan kuliah dan soal-soal ujian, hingga salindia untuk presentasi. Harusnya tidak dijadikan alasan karena toh ada juga dosen saya yang masih tetap rajin menulis blog meski punya kesibukan yang banyak.

Sebetulnya saya masih ingin sekali mengisi blog yang satu lagi, terutama tulisan-tulisan agak teknis yang sudah kadung menumpuk. Apa daya, menulis teknis itu butuh kontemplasi supaya bagus, tidak bisa sekadar menulis seperti di blog ini. Lah, tulisan ini saja cuma racauan, tapi Anda sudah baca dua paragraf kan?

Bukannya saya tidak punya cerita ya. Ada banyak kok pemikiran yang sering terlintas dan ingin dibagikan. Namun, kalau baru terpikir terus langsung ditulis, kok kesannya tidak bertanggung jawab ya. Maksudnya, dengan derasnya arus informasi seperti sekarang, orang-orang kan banyak yang menulis seenak jidatnya saja. Nah, khawatirnya saya jadi seperti itu kalau tulisannya tidak dipikir masak-masak, terutama untuk yang sifatnya agak sensitif. Orang-orang kan sekarang mentalnya senggol-bacok.

Waktu-waktu kosong saya sekarang kebanyakan dipakai untuk menonton video menarik di YouTube, menghabiskan serial, baca buku, atau sekadar baca jawaban-jawaban menarik di Quora. Pasif. Saya perlu istirahat juga kan?

Ah, alasan saja…

“Saya Suka Kemewahan”

Sudah cukup lama juga tidak mengisi blog ini lagi. Saya sedang sangat sibuk akhir-akhir ini. Kalau ditotal, mungkin saya menghabiskan lebih dari 40 jam dalam seminggu untuk bekerja. Melelahkan memang hingga beberapa kali saya jadi kurang fit, tapi ya alhamdulillah masih bisa dijalani meski kualitasnya memang tampaknya jadi sedikit menurun. Jadi, saya memang perlu belajar mendelegasikan pekerjaan tampaknya.

Anyway, saya jadi baru menyadari bahwa mungkin di satu titik harga yang mahal itu memang jadi pantas untuk dibayar karena jaminan yang tidak bisa diberikan oleh yang lebih murah. Sebagai contoh, saya beberapa kali mulai memilih untuk naik taksi karena meski lebih mahal, tapi saya bisa sambil beristirahat dan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk sampai tujuan. Sebagian dari Anda juga mungkin sudah tidak sungkan lagi untuk membayar lebih mahal demi mendapatkan kenyamanan lebih, misalnya saat memesan makanan menggunakan ojek online. Artinya, Anda sudah menganggap bahwa duduk-duduk santai di rumah atau sambil meneruskan pekerjaan di kantor lebih mahal atau minimal sepadan harganya dengan ongkos pengiriman makanan dengan ojek tersebut.

Intinya, yang orang-orang bayar mahal itu terkadang bentuknya tidak kasat mata. Anda membayar kepastian, i.e. mengurangi risiko, dan kepastian itu bentuknya tak selalu sama. Orang-orang yang bayar kuris kelas bisnis di pesawat itu boleh jadi tujuannya adalah agar punya ruang kaki yang lebih lega dan meja yang nyaman untuk menyicil pekerjaan selama penerbangan. Mereka yang beli sepatu yang lebih mahal itu tentu saja berharap bahwa sepatu tersebut tahan beberapa tahun lebih lama dibandingkan sepatu yang biasa mereka beli selama ini.

Hal ini adalah proses kok. Tidak apa-apa untuk berawal dari barang atau layanan yang lebih murah dulu. Namun, Anda mungkin perlu menyadari kelak bahwa ada hal-hal yang di kemudian hari tidak bisa ditawar lagi dan itu berimplikasi pada harga yang lebih mahal.

Saat saya membuat tulisan ini, saya sedang tidak bisa tidur dalam perjalanan kereta eksekutif menuju ke Bandung untuk menjajaki suatu kerja sama penelitian. Kalau lah saya beli yang ekonomi, mungkin saya tidak akan bisa duduk senyaman ini. Lantas, besok saya badan saya bisa jadi pegal-pegal dan tidak fit saat bertemu dengan calon rekan kerja tersebut. Malah tujuan utamanya tidak tercapai kan? Padahal, beberapa waktu yang lalu mungkin saya akan lebih memilih kereta ekonomi saja selama masih ada di waktu yang saya butuhkan. Saya juga mungkin masih rela-rela saja mengejar pesawat paling pagi dengan alasan harganya lebih murah. Jadi, ini tidak selalu tentang bermewah-mewahan.

Apakah Anda suka kemewahan?

 

Tick-Tock

Entah mengapa manusia selalu terobsesi untuk bisa mengukur semua hal. Semua menjadi relatif. Kita mungkin hanya satu-satunya spesies yang sibuk menghitung satu hari sebagai dua-puluh-empat jam. Pertanyaannya kemudian, mengapa harus 24 jam?

Kalau lah Anda bisa menjawab mengapa harus 24 jam, maka pertanyaan saya berikutnya adalah apa itu satu jam?

“Satu jam itu 60 menit.” Maka, apa itu satu menit? Lalu, apa itu satu detik?

A second is defined as: “9,192,631,770 periods of the radiation corresponding to the transition between the two hyperfine levels of the ground state of the caesium-133 atom.”

Aih, betapa memusingkannya definisi yang katanya standar itu. Berapa lah dari kita yang tahu atom caesium itu sifatnya seperti apa? Siapa pula yang paham angka 9 milyar itu harus ditafsirkan bagaimana? Bukankah kita tinggal melihat bergeraknya jarum jam untuk mengetahui pergerakan detik dan menit?

Konsep waktu pada dasarnya adalah tanda-tanda alam yang diterjemahkan sebagai angka-angka. Ukuran relatif yang zahir bagi manusia pada akhirnya hanyalah waktu yang diperlukan dari satu purnama hingga purnama berikutnya — yang kita sebut sebagai satu bulan, dan pergantian malam dan siang yang kita jadikan sebagai satu hari. Lantas, apa yang membuat kita ripuh dengan pengukuran waktu itu? Apa sebenarnya hakikat waktu bagi kita?

Ingin tahu makna waktu satu tahun? Tanyalah kepada siswa yang gagal dalam ujian kenaikkan kelas.

Ingin tahu makna waktu satu bulan? Tanyalah kepada ibu yang melahirkan bayi prematur.

Ingin tahu makna waktu satu minggu? Tanyalah kepada editor majalah.

Ingin tahu makna waktu satu hari? Tanyalah kepada pekerja dengan upah harian.

Ingin tahu makna waktu satu jam? Tanyalah kepada seorang gadis yang menunggu kekasihnya.

Ingin tahu makna waktu satu menit? Tanyalah kepada seseorang yang ketinggalan kereta.

Ingin tahu makna waktu satu detik? Tanyalah kepada seseorang yang selamat dari kecelakaan.

Ingin tahu makna waktu satu milidetik ? Tanyalah kepada seorang pelari peraih medali olimpiade.

Namun, sesibuk-sibuknya kita mencoba memberikan makna terhadap waktu, toh bunga-bunga itu tak pernah luput dari waktunya untuk mekar. Mereka seakan paham bahwa musim semi sudah tiba dan sudah waktunya bagi mereka untuk memunculkan warna-warna indahnya. Kelak, ketika musim dingin kembali, mereka pun kembali “bersembunyi” — bersabar menunggu siklus hidup berikutnya.

Herannya, kita malah menjadi paranoid, memanfaatkan berbagai teknologi untuk dapat “membekukan” waktu. Foto-foto dan video yang tersimpan dengan rapi di media sosial, jurnal yang kita rangkai di blog setiap harinya, hingga ribuan cuitan yang diketik dari layar ponsel adalah sebagian dari usaha kita untuk memampatkan fenomena hidup. Tak jarang kita jadi sedemikian gelisah untuk merekam semua kejadian tersebut sampai-sampai kita jadi lupa untuk hidup di masa itu. Living the moment.

Kita ingin semuanya tersimpan rapi, berurut berdasarkan waktu, untuk kemudian dibuka kembali pada masa yang akan datang sebagai kapsul waktu. Akan tetapi, tidakkah kemudian kita jadi terlalu sibuk menggulung layar, hidup dalam masa lalu, dan — meminjam syair dari penyanyi terkenal itu — terjebak di ruang nostalgia? Apa iya waktu kita baru jadi bernilai saat diterjemahkan sebagai jumlah “love” yang muncul di pos-pos Path kita atau jempol-jempol maya di Facebook? Bukankah kebanyakan yang kita lihat di dunia maya adalah sesuatu yang terjadi beberapa detik yang lalu?

Jangan-jangan hidup kita justru lebih bermakna ketika tidak memusingkan waktu?

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu premis untuk proyek pameran seni digital yang sempat dirumuskan beberapa waktu yang lalu. Sangat terbuka jika ada yang tertarik untuk membuat ide ini menjadi nyata.

Privacy vs Convenience

Pernah tidak di ponsel Anda tiba-tiba muncul pesan “ETA 30 minutes to home”? Atau bagi yang penggemar sepak bola, Anda mungkin pernah dapat notifikasi saat tim kesayangan Anda akan bertanding? Itu adalah bentuk assistance yang diberikan oleh Google untuk Anda.

Masalahnya, supaya Google dapat melakukan itu, mereka perlu tahu Anda sedang berada di mana, dan apa yang menjadi tim favorit Anda, yang artinya Google mencoba mempelajari Anda. Apakah ini salah? Di Indonesia, privasi mungkin belum menjadi perhatian utama banyak orang. Di UK, misalnya, setiap situs yang Anda kunjungi memunculkan sebuah peringatan bahwa Anda sadar perilaku Anda sedang direkam oleh situs tersebut dan Anda setuju terhadap hal itu.

Apa gunanya merekam semua hal itu?

Di dunia yang semakin canggih ini, dengan arus informasi yang semakin menggila, para produsen butuh untuk menemukan pasar yang tepat bagi produk mereka. Targeted ads, istilah kerennya. Anda mungkin sempat bertanya-tanya mengapa setelah Anda melihat-lihat ponsel di toko online, Facebook kemudian memunculkan produk yang serupa dalam iklannya? Itulah dampak dari metode marketing mutakhir ini. Gerak-gerik Anda di internet selalu ada yang mengawasi.

Dengan terkoneksinya ponsel Anda ke internet, maka setiap perilaku Anda pun sebenarnya bisa diamati. Ke mana Anda pada jam 10 pagi di hari Rabu yang lalu bisa saja terekam dengan baik oleh perusahaan di belahan dunia lain. Sepotong pesan yang Anda tulis untuk sang kekasih di malam Minggu dua pekan yang lalu terekam dengan baik di data centre berkapasitas ratusan, bahkan ribuan, terabyte.

Anda tentu pernah mencari informasi tentang teman atau gebetan Anda melalui akun media sosialnya kan? Proses pencarian informasi yang lazim dikenal dengan nama stalking ini tidak sulit untuk Anda lakukan bukan? Cari nama orang tersebut di Google, atau bahkan langsung ke Facebook, lihat beberapa pos dan fotonya, sejurus kemudian Anda sudah mendapatkan gambaran umum orang seperti apa yang ingin Anda kenal lebih jauh ini.

Sekarang, bayangkan kalau semua itu dilakukan oleh mesin. Dari 200 cuitan Anda terakhir di Twitter, mesin tersebut mencoba mengekstraksi topik-topik apa saja yang senang Anda bahas, siapa saja akun yang Anda follow, dan kapan waktu-waktu Anda paling sering “berkicau”. Bukankah mudah kemudian untuk menerapkan targeted ads ini kepada diri Anda?

Meski ada kesan mengerikan dari itu semua, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa sistem yang seperti itu yang bisa membantu Anda dalam hidup. Contohnya, Anda baru membeli kamera DSLR dan ingin belajar lebih serius tentang fotografi. Tidakkah jadi menyenangkan ketika kemudian Anda disodori iklan tentang lensa tele menarik yang bisa melengkapi kamera Anda?

Jadi, apakah kenyamanan tersebut harus selalu ditukar dengan privasi Anda?

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu premis untuk proyek pameran seni digital yang sempat dirumuskan beberapa waktu yang lalu. Sangat terbuka jika ada yang tertarik untuk membuat ide ini menjadi nyata.

Persiapan Kuliah

Besok semester baru sudah dimulai di Universitas Al Azhar Indonesia tempat saya mengajar sekarang. Kebetulan, di semester ini saya akan dapat dua mata kuliah: Artificial Intelligence dan Data Mining. Dua-duanya merupakan kelas paling pagi — mulai dari jam 7 — dan akan berupa team teaching.

Yang lebih menarik, semester ini untuk kedua kuliah tersebut akan ada asisten untuk membantu mengerjakan banyak hal dan mengembangkan kuliahnya dengan lebih baik lagi. Berbekal feedback dari semester kemarin yang mengatakan bahwa kurang contoh-contoh dan praktikum, maka adanya asisten di semester ini diharapkan bisa mengisi kekosongan tersebut. Di samping itu, asisten bisa menjadi tolok ukur awal untuk tugas atau ujian yang akan diberikan supaya bisa menyesuaikan dengan kemampuan mahasiswanya.

Mengajar itu memang tidak pernah urusan yang mudah. Mereka yang jadi pengajar terbaik di bidangnya selalu berkembang dan berusaha untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Terlebih lagi, bidang yang saya geluti berubah sangat cepat, maka memastikan bahwa materi yang disampaikan itu termutakhir merupakan suatu keharusan.

Ada beberapa target yang saya tetapkan di semester ini. Salah satu yang ingin dicapai adalah meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk menulis akademis. Oleh karena itu, kuliah Artificial Intelligence nanti akan ada tugas khusus untuk menulis makalah yang diharapkan bisa dipublikasi, minimal tingkat nasional. Saya juga ingin mencoba membuat sesi poster seperti halnya kelas CS229: Machine Learning dari Stanford University. Should be exciting!

Untuk sekarang, saya perlu belajar lagi untuk beberapa materi baru di semester ini.