Tsunami Memory, Lhok Nga Beach
Biru membentang di langit Banda Aceh. Sekitar pukul 12.45 saat itu, disaat sedang terik matahari yang sangat menyengat mata dan menembus kulit hingga ke pori. Awan pun rasanya menari-nari dengan bebasnya. Suasana kota yang sedang ramai. 8 Oktober 2008. Saat Banda sedang ramai karena memasuki waktu Dzuhur. Orang-orang berbondong-bondong mendatangi tempat ini.
Ya, ini adalah langit di atas Masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Salah satu masjid yang selamat dari bencana. Masjid yang megah. Meskipun diluar sangat panas sinarnya. Namun, di dalam masjid, nyaman bagaikan di Masjid Nabawi. Serambi Mekah. Ya, negara serambi Mekah. Itulah Nanggroe Aceh Darussalam.
Sejenak saya diam, memandangi keindahan lukisan yang terbentang di langit yang cerah itu. Namun, saya tidak benar-benar diam. Sesekali menengok ke arah adik-adik saya yang sedang bermain dengan bebasnya, menikmati hembusan angin yang bertiup. Bermain bersama dengan supir kami, supir dinas. Sebut saja namanya Andri.
Umurnya masih tergolong muda. Saya taksir, umurnya sekitar 25-28 tahun. Penduduk asli Banda Aceh. Walau sekilas terkesan ‘anak muda’ dengan gaya seperti layaknya anak SMA. Dia pun bercerita kepada oma dan mama saya ketika perjalanan ke pantai Lhok Nga. Diam-diam saya mendengarkan cerita itu.
24 Desember 2004. Peristiwa yang mengguncangkan rakyat Indonesia. Bencana alam terparah sepanjang sejarah Indonesia. Yang menewaskan tidak kurang dari 140.000 orang. Mulai dari Banda Aceh hingga Meulaboh. Dari mulai Km 0 sebelah barat Indonesia. Di ujung pulau Sumatera. Dengan pusat gempa sekitar sekian kilometer dan kedalaman 10 km di dasar laut.
Ya… Tsunami. Ketika peristiwa itu, beruntung Om Andri sedang berada di luar daerah bencana. Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Tidak sampai 10 menit. Kurang malah. Meratakan tanah, mulai dari ujung pantai hingga ke pedalaman. Semua bangunan hancur. Tersisa beberapa puing. Bangunan paling kokoh pun hancur seketika. Subhanallah, ditunjukkan kekuasaan Allah. Beberapa masjid hanya mengalami kerusakan ringan, bahkan masih utuh.
“Andri sedang di luar kota saat itu, Bu. Andri lagi tidur, tiba-tiba dapat telepon, ada Tsunami. Awalnya Andri nda percaya, tapi penasaran juga. Lihat di TV memang sudah hancur. Keluarga Andri banyak yang meninggal, di situ… (menunjuk bagian pinggir pantai) kakak dan kakak ipar meninggal. Anaknya hilang.
Adik juga. Sekarang Andri hanya sama sepupu. Andri langsung jalan ke kota. Saat sampai pinggir kota, kami nda bisa lewat. Jalan penuh dengan puing, sampah, dan mayat di mana-mana. Puing setinggi 2 meter. Mobil berada di atas rumah. Wah, apalagi mayat itu Bu.
Sudah bergelimpangan seperti sampah. Ada yang masih utuh, dan ada pula yang tidak. Di jalan depan kantor Bapak itu sudah nda berbentuk, banyak mayat. Semua bangunan sekitar Jalan Cut Meutia hancur. Ah, nda tahu lagi Andri harus bagaimana. Hanya bisa berdoa. Melihat saudara-saudara hilang. Mungkin memang harus begini jalannya. Alhamdulillah, Allah masih sayang sama Andri. Andri masih hidup hingga saat ini. Insya Allah, Andri berjuang terus untuk seterusnya.”
Sekilas, ingin menangis rasanya mendengarnya. Di usia yang begitu muda, sudah kehilangan segalanya. Memang semua yang terjadi di sana, itu adalah kembali ke kesalahan mereka sendiri dan juga merupakan teguran kepada Bangsa Indonesia yang lupa akan moral. Itulah takdir yang memang harus mereka tanggung. Itulah jalan yang diberikan oleh Allah.
Sekilas tentang pemandangan di sekitar pantai pabrik semen Andalas. Tempat yang juga merupakan tempat hilangnya salah satu saudara Andri. Jalan arah Meulabouh. Jalan itu, rusak parah. Direkonstruksi ulang dengan bantuan USAID Amerika. Sepanjang jalan dari Lhok Nga menuju Meulaboh.
Ah, tak pernah terlintas kejadian itu menimpa saya, keluarga saya, teman-teman saya. Apa jadinya nanti nasib saya? Bagaimana ke depannya saya? Sedih bila mengingat. Cerita ini, mungkin sudah 5 tahun yang lalu, tetapi rasanya tetap terasa hingga sekarang.
Di bumi Aceh, masih dilakukan banyak pembangunan di mana-mana. Bangsa Aceh masih dalam proses bangkit. Kebangkitan yang pesat terlihat dari struktur kota yang kini telah teratur rapi. Sayangnya ada beberapa daerah rumah bantuan yang konstruksinya tidak memadai.
Bumi Aceh, Bumi Indonesia ku. Kita satu bangsa. Kita satu rumpun. Kejadian ini merupakan pelajaran bagi seluruh bangsa Indonesia. Sebagai bahan instrospeksi mengubah moral bangsa ke arah yag lebih baik. Cerita ini, adalah sebuah cerita yang sangat sederhana. Namun, untuk saya, cerita ini sangat menyentuh.
Om Andri, mama dan oma masih terus berbincang. Saya hanya melihat ke arah langit yang bersih dan cerah. Seakan-akan langit itu sedang tersenyum bahagia pada dunia. Menggambarkan harapan akan nasib bangsa. Pemandangan di atas pun mungkin sangat sederhana, namun seketika saya lihat, miris hati ini. Daerah yang sangat indah dan mempunyai langit yang bersih serta pantai yang bagus sekali. Harus mengalami kejadian memilukan ini, 4 tahun yang lalu.
Sesekali saya berbincang dengan penduduk sekitar. Mereka tetap tersenyum menerima pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung dari dalam maupun luar negeri. Menjelaskan peristiwa itu. Ya, terlihat mereka sangat sedih, namun ada satu kalimat yang terlontar dari seorang kakek yang sangat saya hormati.
“Memang saya kehilangan semua anak saya, hanya cucu saya ini yang menemani saya. Saya… Sedih dengan ini semua. Tapi bukan berarti kita harus menyerah begitu saja kan? Masih banyak yang perlu dilakukan untuk bangsa ini…”
Ah, sebuah kalimat sederhana. Dia pun tersenyum. Mereka pun tersenyum. Seakan kesedihan itu sirna. Yang ada hanyalah cahaya harapan yang terus bersinar di hati mereka. Dan mereka pun berkata,
“Jangan lupakan Tsunami…”



Ah, tak terasa sudah 4 tahun ya. Ternyata sudah banyak kejadian yang melanda negeri ini, yang baik dan yang buruk. Ya, ini peringatan untuk kita semua, semoga kita bisa mengambil hikmah dan menjadi insan yang lebih baik ke depannya. Satu yang luar biasa, semangat untuk hidup dari orang-orang yang selamat itu. Mereka tetap berjuang untuk bisa hidup lebih baik, walau harus memulai dari hampir nol lagi.
________________________
Anne Soraya : Ya begitulah. Itu salah satu alasan saya sangat menghormatinya. Mudah-mudahan ke depannya kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Amiin…
Alias
October 17, 2008
Ada banyak cara untuk mengenang tragedi tsunami….. namun yang paling baik tentu saja tidak dengan cara merenung saja. Yang penting adalah mari kita berdoa bagi mereka korban2 tsunami dan semoga kita selalu dijauhkan dari segala bencana termasuk tsunami ini. Dan yang paling penting adalah kita belajar berbagai macam disiplin ilmu agar kita dapat memprediksi kedatangan tsunami ini sedini dan seakurat mungkin. Jangan sekali2 pernah berkata ‘ah… tidak mungkin….’ walaupun mungkin membutuhkan riset yang sangat lama untuk itu. Inilah yang paling afdol…. berdoa sambil berusaha…..
_______________________
Anne Soraya : Amiin. Setuju sama Om Yari. Tetap semangat dan terus berusaha!
Yari NK
October 18, 2008
Ahh,, Luka Lama Indonesia..
tetap semangat! Makasi udah mau mampir Mutia
*Maaf ya, Anne. Numpang nulis.*
____________________
Anne Soraya : Ayo, mari sama-sama kita tutupi luka itu
Alias: Mut, bikin di WordPress juga!
Mutia Dhuhanovitri
October 18, 2008
Saya setuju bahwa tsunami merupakan teguran dari Allah swt bagi bangsa indonesia. Oleh karena itu sebagai generasi penerus, mari kita bangun indonesia agar dapat menjadi lebih baik lagi. Amin!!!
Wananda M Rifki
October 24, 2008
Waaaa… baguss banget awannya. Jarang liat awan bagus di sini.
Itu bahasa apa sih, unutma blablabla?!
Sitti Rasuna Wibawa
November 5, 2008
semoga mereka semua diterima di sisi Allah SWT
* Al-Fatiha
Gelandangan
November 6, 2008