Easy Come, Easy Go

Sadar tidak sih? Hidup kita itu sekarang serba cepat, serba instan? Banyak dari kita yang ingin cepat kaya, cepat sukses, tapi ingin segera? Hal itu memang wajar, tapi kalau semua hal diperlakukan seperti itu, jangan-jangan kita malah jadi kehilangan “harga” dari suatu proses.

Gampangnya begini, ketika dulu orang punya ponsel bisa sampai bertahun-tahun, saya cukup yakin bahwa sekarang orang bisa ganti ponsel per 2 tahun. Teknologi semakin maju memang, dan daya beli masyarakat juga meningkat, tapi tampaknya kita semakin tidak bisa menghargai barang. Kalau rusak, ya beli yang baru.

Saya tidak begitu mengerti sebetulnya. Saya mencoba tetap berpegang bahwa sesuatu yang dijalani secara sedikit demi sedikit dan konsisten bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada yang cepat tapi besar. Masalahnya, dunia seolah-olah sedang bergerak sebaliknya. Istilah work smart rasanya terlalu dibesar-besarkan sehingga kalau prosesnya lama sedikit, orang-orang bisa segera mengeluh.

Entahlah. Da aku mah apa atuh…

Serba Cepat, Serba Singkat

Kelihatannya orang kita masih senang hal-hal yang cepat, yang singkat, yang instan. Entah bagaimana ceritanya kalau di daerah, tapi semenjak saya pindah ke Jakarta dan kemudian ke Bandung, saya acap kali menemui singkatan di mana-mana, dari nama tempat hingga istilah. Hal ini kadang membuat saya berpikir, “Apa sebegitu malasnya kita sampai semua harus disingkat?”

Di Jakarta, hampir setiap tempat terkenal punya sebutan yang terdiri dari dua suku kata. Sebut saja mal-mal terkenal macam Sency (Senayan City), PS (Plaza Senayan), Kokas (Kota Kasablanka), hingga yang tergolong anyar: MOI (Mall of Indonesia). Selain itu, ada juga nama daerah seperti Benhil (Bendungan Hilir) dan Gatsu (Gatot Subroto). Kalau nama daerah sih saya masih mengerti untuk disingkat, tapi hal ini merambah hingga ke istilah sehari-hari.

Rasanya sudah akrab di telinga kita istilah “hedon” sebagai pengganti “hedonis” atau “hedonisme”. Lalu, ada juga “narsis” yang merujuk kepada “narcissism” atau “narsisme”. Atau, mungkin kaum akademis cukup terbiasa mendengar “kompre” sebagai pengganti “ujian komprehensif”.

Begini loh, bukannya saya benci terhadap singkatan. Sama sekali tidak. Namun, ketika semua hal jadi disingkat, kok kayaknya ada yang salah ya. Yang paling anyar, salah seorang teman hanya mengambil dua suku kata pertama dari kata “analisis”. Kan jadi tidak enak terdengarnya?

Ah, dan kebiasaan ini pun terbawa hingga ke jajaran pemerintahan. Kelihatannya, saking sulitnya mencari nama suatu sistem yang bagus, ujung-ujungnya yang dilakukan hanyalah menyingkat namanya. Padahal, Indonesia kaya akan sejarah sehingga harusnya tidak sulit untuk mencari nama yang lebih filosofis.

Apa betul kita semalas itu ya?

Mengurus Perpanjangan SIM

Jadi ceritanya, SIM C saya sudah mati sejak lama — hampir setahun yang lalu! Walhasil, saya harus memperpanjang SIM itu. Awalnya, saya sempat ragu mau memperpanjang di layanan SIM keliling, karena terhitung sudah cukup lama matinya. Namun, hari ini saya baru tahu bahwa ternyata batas waktu untuk memperpanjang di layanan seperti itu adalah satu tahun! Beruntung sekali saya, alhamdulillah.

Hatta, berkat informasi dari ibu saya, berangkatlah saya ke layanan perpanjangan SIM yang ada di lantai basement Blok M Square. Sampai di sana, ternyata saya kepagian, layanannya baru dibuka pukul 9.30, dan saya sudah di sana pukul 9 kurang. Akhirnya, saya menunggu dulu selama sekitar setengah jam.

Di saat menunggu itu, saya sempat melihat di kaca ruangan layanan perpanjangan SIM tersebut, bahwa dokumen yang dibutuhkan adalah fotokopi KTP, KTP asli, SIM asli, serta surat keterangan dokter dan asuransi. Selain itu, syaratnya adalah SIM tidak mati lebih dari satu tahun, SIM tidak dalam keadaan rusak, dan SIM diterbitkan di Jakarta (Daan Mogot). Saya saat itu langsung terpikir, “Waduh, repot juga kalau harus balik lagi untuk buat surat keterangan dokter dan asuransi. Lagipula saya tidak tahu bagaimana harus membuat asuransinya.”

Setelah ruangan layanan tersebut dibuka, akhirnya saya tanya saja mengenai syarat-syarat berupa surat keterangan dokter dan asuransi tadi. Ternyata, syarat tersebut tidak dibuat lebih dulu, melainkan akan sekalian diproses di tempat. Jadi, syarat yang dibutuhkan hanya salinan KTP dan SIM, masing-masing sebanyak dua kali; dan SIM lama yang asli. Di tempat tersebut sebenarnya ada mesin untuk fotokopi, tetapi saat saya datang mesin itu tidak berfungsi. Nah, setelah syarat-syarat dokumen tersebut dipenuhi, kita diwajibkan untuk mengisi formulir data diri.

Setelah mengisi formulir tersebut, dokumen diproses, dan kita harus menunggu giliran dipanggil untuk pengambilan foto, sidik jari, dan tanda tangan. Setelah dipanggil, kita diminta untuk membayar biaya proses perpanjangan SIM ini. Biaya pemrosesan SIM C saya adalah Rp 150.000. Sayangnya, saya tidak sempat bertanya berapa biaya yang dibutuhkan untuk pemrosesan SIM lainnya.

Proses berikutnya adalah pengambilan foto, sidik jari, dan tanda tangan. Tak berapa lama, SIM pun dicetak dan urusan Anda sudah selesai! Total waktu yang dibutuhkan untuk pemrosesan ini kira-kira sekitar 45 menit sampai 1 jam. Kalau Anda yang paling pagi datang, mungkin bisa jauh lebih cepat daripada itu.

Akhir kata, saya ingin menyampaikan bahwa saya salut dengan kepolisian sekarang. Sudah banyak sekali kemajuan yang dilakukan, meski belum menyeluruh. Semoga saja ke depannya kepolisian kita bisa jauh lebih keren lagi.

Kalau sudah bisa integrasi dengan e-KTP, tentu lebih keren lagi kan?

Amarah

Amarah itu menurut saya adalah bentuk kelemahan dari seseorang. Amarah itu muncul karena perasaan tidak berdaya terhadap apa yang akan atau sudah terjadi. Mengapa? Karena amarah, sejatinya, tidak akan menyelesaikan masalah.

Kalau kita masih punya segudang ide untuk menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat, maka amarah itu tidak akan muncul toh? Namun, karena kita ini adalah makhluk yang lemah, maka amarah itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Amarah adalah sesuatu yang amat wajar sebetulnya, tetapi sangat mungkin juga dikurangi.

Selemah-lemahnya kita, Tuhan telah menciptakan kita dalam bentuk yang sempurna. Ditambah lagi, Tuhan sedemikian hebatnya untuk membuat kita bebas memilih jalan hidup kita, pun demikian dengan pengaturan amarah kita. Orang-orang yang tidak bisa berpikir dengan jernih, kebanyakan akan menggunakan kontak fisik sebagai penyelesaian masalahnya. Akan tetapi, orang-orang yang baik tentu akan menghindari bahkan tetap berkata-kata baik terhadap orang-orang yang mengusik mereka.

Caranya?

Itu yang masih saya cari tahu juga. Ada yang tahu?

Akhir Minggu

Waktu akhir minggu sering kali saya habiskan dengan kurang produktif. Susah sekali memaksa otak ini untuk bekerja di akhir minggu. Seolah-olah, ada tombol yang telah membuat fungsi otak saya nonaktif di waktu-waktu seperti ini. Bahkan dalam hal membaca sekalipun, saya cenderung memilih yang tidak “membebani” otak saya.

Repotnya, waktu-waktu itu sebetulnya terlalu panjang untuk dihabiskan dengan tidak produktif. Makanya, saya senang ketika akhir minggu seperti ini bisa bertemu dengan teman-teman, artinya jadi ada hal-hal yang bisa dibicarakan — ada ide-ide yang “memaksa” otak ini tetap bekerja. Toh, mengobrol itu tidak terlalu “berat” untuk otak saya.

Jadi, kalau lagi senggang juga, jangan segan-segan untuk mengajak saya ketemuan dan membicarakan berbagai macam hal dengan saya. Saya akan dengan senang hati untuk menemani, bahkan mungkin untuk bertemu dan hanya mengerjakan kesibukan masing-masing — selama tidak terlalu jauh tentunya. Katanya sih, body double itu memang mampu meningkatkan produktivitas kita, bahkan hanya dengan hadir di sekeliling kita.

Bagaimana Anda menghabiskan akhir minggu Anda?

Kira-kira

Sering tidak mengalami kondisi yang membuat bingung? Misalnya, ketika wawancara kerja ditanyakan berapa gaji yang diminta atau — contoh kasus pertanyaan untuk masuk Google — berapakah 2^64 (hitunglah tanpa menggunakan kalkulator)? Saya yakin banyak sekali pertanyaan yang seperti itu, yang sebetulnya bisa kita tahu, tapi terbatasnya kemampuan kita (atau mungkin hanya karena panik) membuat kita bingung sekali menjawabnya.

Well, untuk menjawabnya, salah satu kuncinya sebetulnya sudah tersebut: jangan panik. Kunci berikutnya untuk pertanyaan seperti ini adalah: mulailah dari hal yang paling diketahui. Cobalah untuk mencari tahu hal-hal yang paling jelas di sekitar kita, untuk kemudian dirunut satu per satu sampai bisa ke titik tujuan. Ingat, semua hal besar selalu dimulai dari satu langkah kecil.

Kalau kita ambil contoh paling sederhana saja, misalnya masalah gaji, kita bisa mulai dari menghitung kebutuhan primer: makan. Kalau sekali makan kita anggap Rp 15.000, maka dalam sehari (asumsinya kita hanya makan 3 kali sehari) akan habis Rp 45.000. Kalikan itu dengan 30 hari, maka hasilnya adalah Rp 1.350.000 per bulan. Kalau ditambah makan enak tiap minggu kira-kira Rp 100.000, maka total untuk makan saja akan menghabiskan Rp 1.750.000.

Nah, perhitungan yang sama juga dilakukan untuk hal-hal lainnya, seperti tempat tinggal, transportasi, pulsa, hingga kebutuhan upgrade diri seperti membeli buku atau membeli pakaian baru. Tambahkan uang yang ingin disisihkan untuk ditabung, maka angka itu akan muncul dengan sendirinya. Tentunya semua ini sangat tergantung kepada keinginan dan lingkungan.

Ilmu dan pertanyaan “kira-kira” seperti ini, dikenal juga sebagai Fermi problem. Silakan buka tautan untuk mencari tahu lebih lanjut hal-hal menarik tentang Fermi problem tersebut. Yang saya ingin sampaikan, sebetulnya adalah bahwa ilmu ini dapat diterapkan di banyak hal, bahkan hingga hal-hal yang terkesan absurd, seperti “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan semua jendela yang ada di Empire State Building?”

Sejatinya, ini adalah ilmu kehidupan. Semua yang besar selalu disusun dari sesuatu yang lebih kecil. Kehidupan yang baik dan buruk pun demikian. Kita adalah cerminan dari apa yang kita lakukan tiap harinya. Kebiasaan kecil yang kita lakukan tiap hari, dapat berdampak lebih besar daripada satu kegiatan besar yang hanya dilakukan sekali seumur hidup.

Itu sebabnya orang-orang yang berbakat bisa dikalahkan oleh orang-orang yang tekun.

***

Bacaan lebih lanjut:

https://www.facebook.com/notes/arya-pugala-kitti/berbuatlah-baik-setiap-saat-repot-amet-ga-gitu-kali/10152233838405723

Poundstone, William. Are You Smart Enough to Work at Google?: Trick Questions, Zen-like Riddles, Insanely Difficult Puzzles, and Other Devious Interviewing Techniques You Need to Know to Get a Job Anywhere in the New Economy. Hachette UK, 2012.