Takut Menang

Satu hal yang sangat lucu dari hidup adalah tak jarang kita berada dalam kondisi takut menang. Ya, bukan siap untuk kalah, tapi takut untuk menang. Disadari atau tidak, di balik keinginan kita yang kuat untuk menang atau jadi yang terbaik, selalu ada perasaan takut menang tersebut. Saya rasa beberapa dari kita dibesarkan dengan sindiran yang seolah pujian dari orang lain karena apa yang telah kita capai.

Saya ingat sekali ketika dulu ikut suatu lomba semacam cepat tepat. Di pertanyaan terakhir, saya dengan sepenuh hati yakin bahwa jawabannya adalah 8, tapi perasaan bahwa, “Gimana ya rasanya kalau nanti saya menang?” atau “Ih, masa’ saya bakal menang sih?” nyatanya adalah perasaan lucu yang membuat saya pada akhirnya tidak menjawab pertanyaan tersebut. Walhasil, pihak seberang lah yang menang dengan jawaban tersebut.

Setelahnya, perasaan ini campur aduk sekali. Yah, bersyukur juga karena kami akhirnya tetap membawa pulang hadiah, tapi ada perasaan bahwa, “Harusnya saya bisa dapat lebih!” Aneh ya? Tapi, jadi tidak bersyukur ya kalau begitu? Eh, apa malah harus berjuang untuk sesuatu yang lebih?

Ada yang pernah merasakan hal yang sama?

Beasiswa Presiden Republik Indonesia – Tentang Patriot

Para Patriot dengan Bapak SBY dan Bu Ani
Para Patriot dengan Bapak SBY dan Bu Ani

Banyak sekali yang saya dapatkan setelah mengikuti proses seleksi tahap akhir dan program kepemimpinan dari Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI) yang diprakarsai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dari sanalah saya bisa mendapatkan ilmu dari orang-orang hebat seperti Pak Nurul Taufiqu Rochman, Pak Zainal Abidin, Prof. Firmanzah, hingga Prof. Jimly Asshiddiqie. Namun, di atas itu semua, saya lebih bangga dan bersyukur lagi karena telah dipertemukan dengan 108 orang luar biasa penerima Beasiswa Presiden Republik Indonesia angkatan pertama.

Serius, mereka sangat hebat dalam bidangnya masing-masing. Ada yang ingin mengembangkan alutsista di Indonesia, ada yang mempelajari tentang kebijakan publik, ada yang staf khusus wagub DKI Jakarta, dan yang paling luar biasa: abang-abang TNI-Polri yang sangat menginspirasi. Bertemu dengan mereka telah membuka mata saya terhadap kehidupan sebagai seorang patriot bangsa.

Selama ini saya tidak terlalu tahu mengenai kehidupan sebagai seorang perwira, meski almarhum datuk saya dahulu adalah bagian dari Angkatan Darat. Namun, peribahasa itu benar adanya, “Tak kenal maka tak sayang.” Beberapa hari yang kami habiskan bersama membuat saya sadar betapa nasionalis dan tulusnya mereka dalam melaksanakan tugasnya. Tugas mereka begitu berat, tetapi semua itu dijalani dengan tetap memasang senyum di wajah.

Ketika saya mengikuti pelatihan di Pusdikpassus di Situ Lembang, ‘bergembira’ adalah hal yang harus ditanamkan dalam menjalani program pelatihan tersebut. Meski harus berkubang lumpur, berlari jauh, berkubang lumpur lagi, hingga berjalan di malam gelap, semua harus dijalani dengan gembira dan bersemangat. Untuk menunjang itu, kami diberikan yel-yel penyemangat yang menarik sekali — yang bahkan terkesan agak lucu.

Satu hal yang menarik saya adalah apa yang dikatakan Komandan Iwan Setiawan selaku pimpinan Pusdikpassus, bahwa yel-yel yang kadang kita rasa konyol itu sebetulnya adalah penyemangat sekaligus penggembira, dan kita tidak perlu malu akan hal itu. Kalau kita main judi, mencuri, korupsi, itu baru kita harus malu, tapi yel-yel bukan sebuah hal yang salah toh? Ya, teman-teman mungkin baru akan tahu jika sudah mengalaminya sendiri, bahwa ada banyak hal-hal yang lucu dan mengasyikkan di tengah-tengah tampang garang sebagian besar prajurit yang luar biasa itu.

Banyak yang bertanya, apa sih bedanya BPRI dan Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI; beasiswa LPDP yang reguler)? Bagi saya dan sebagian besar teman-teman lainnya adalah kebersamaan dengan patriot dari TNI-Polri ini. Mereka benar-benar membuka mata. Dan kami betul-betul terharu ketika kami diberikan lorong penghormatan sesaat setelah pelepasan oleh Pak SBY selaku Presiden Republik Indonesia.

Mereka memberi penghormatan pada kami, tanpa memperhatikan status sosial, bahkan tanpa memikirkan setinggi apa pangkat mereka — dua orang di antara mereka bahkan sudah berpangkat kolonel! Salut! :’)

Patriot!

Pejuang Cilejet

Sore ini saya terduduk lemas, merasa malu sekali setelah bertemu dengan seorang ibu yang sangat luar biasa. Kalau dilihat sekilas, mungkin Anda akan melihat beliau tak ubahnya ibu-ibu pada umumnya. Namanya Bu Dessy Suprihartini, tapi beliau biasa dipanggil dengan sebutan Bu Uun. Dengan semangatnya, ia membantu orang-orang miskin di desa-desa tertinggal untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Beliau turun langsung dengan sepeda motornya menyusuri daerah-daerah yang sebenarnya tak seberapa jauh dari kota besar.

Tahukah Anda daerah yang jumlah penduduk miskinnya paling banyak di Indonesia?

Kalau Anda menjawab salah satu daerah di Indonesia bagian timur, maka tebakan Anda salah. Secara persentase, daerah-daerah Indonesia timur memang merupakan daerah yang tinggi persentase penduduk miskinnya. Namun, secara jumlah, daerah yang perlu perhatian khusus tersebut adalah Bogor! Tak seberapa jauh dari Jakarta yang digadang-gadang sebagai kota megapolis. Kalau tidak percaya, silakan cari informasinya. Salah satunya, Anda dapat mengeceknya di sini.

Ketika saya dan teman-teman yang mengikuti seleksi tahap akhir Beasiswa Presiden Republik Indonesia beberapa hari yang lalu, kami diturunkan ke lapangan dan melihat kenyataan bahwa daerah Parung Panjang di kabupaten Bogor yang waktu tempuhnya hanya sekitar 30 menit dari BSD, ternyata memiliki kondisi yang bagaikan langit dan bumi. Banyak sekali infrastruktur yang rusak, fasilitas air bersih tidak mudah didapatkan, hingga rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pendidikan tinggi.

Waktu itu, kami yang hanya turun sehari — lebih tepatnya hanya sekitar 4-5 jam di lokasi, sudah cukup tercekat terhadap kondisi yang jauh sekali dari segala kenyamanan yang bisa didapatkan di ibukota. Hebatnya, Bu Uun telah 7 tahun mengabdikan dirinya terhadap daerah-daerah di Bogor bagian barat tersebut. Beliau membantu orang-orang miskin untuk datang ke puskesmas. Jika sakitnya parah, maka beliau pula yang mengurus agar si sakit dapat dirujuk ke rumah sakit dengan bantuan BPJS atau Jamkesmas. Tak cukup sampai di situ, beliau pun mengontrol setelah selang beberapa hari untuk memastikan bahwa si sakit tersebut masih mendapatkan perawatan yang layak. Bahkan, beliau pernah mengurus seorang warga yang harus dirujuk sampai 7 kali untuk akhirnya mendapatkan perawatan.

Dalam 7 tahun tersebut, Bu Uun telah membantu 1000 orang pasien, merenovasi 10 gedung sekolah, mengadakan 20 titik fasilitas air bersih, dan bahkan pernah melakukan advokasi kesehatan ke komisi IX DPR RI. Beliau melakukan itu secara sukarela, tanpa mengharapkan imbalan. Bahkan, tak jarang ia mengalami tekanan oleh orang-orang di lingkungannya yang tidak senang terhadap tindakan beliau tersebut.

Lucu ya? Ada orang yang berbuat baik, tapi malah mau diusir. Nyatanya demikianlah adanya di negeri kita tercinta ini. Ada kasus di mana beliau hampir dimasukkan ke dalam kurungan hanya karena ‘blusukan’ beliau ke daerah-daerah terpencil telah membuat pengunjung klinik seorang bidan menjadi sepi. Belakangan diketahui bahwa bidan tersebut adalah istri dari oknum polisi yang mau memenjarakan Bu Uun. Hal-hal yang harusnya menjadi bentuk pelayanan terhadap masyarakat, malah menjadi ‘barang dagangan’ untuk memenuhi isi perut sendiri.

Fakta yang tidak dapat kita pungkiri adalah bahwa hanya sebagian kecil dari penduduk negeri ini yang dapat mengenyam pendidikan tinggi. Hal itu pula yang akhirnya menyebabkan banyak kesulitan di berbagai lini: banyak kepala keluarga yang tidak bisa mencari nafkah yang cukup bagi keluarganya, kesadaran terhadap gaya hidup bersih dan sehat yang amt kurang, dan lain sebagainya. Namun, jika itu semua masih terasa abstrak bagi Anda, maka Anda mungkin harus membuka mata lebih lebar untuk menerima kenyataan bahwa sebagian dari mereka tidak mau berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan ketika sakit karena perlakuan yang tidak mengenakkan hanya karena mereka tidak mengerti prosedur yang seharusnya.

Bayangkan, ada orang tua yang sampai menitikkan air matanya hanya karena ia tidak mengerti bagaimana caranya mendaftar, konsultasi, hingga mendapatkan obat dari rumah sakit. Beberapa kali mereka bahkan harus kena marah oleh petugas kesehatan karena salah menjalankan prosedurnya. Bagi Anda yang berpendidikan, sekalipun Anda tidak tahu apa yang harus Anda lakukan, prosedurnya biasanya masih dapat Anda lihat di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. Namun, bagi mereka, percayalah bahwa itu mungkin sesulit Anda yang harus mengerjakan 20 soal ujian akhir Kalkulus Dasar II dalam waktu 20 menit. Baca-tulis masih jadi kendala besar di beberapa tempat di negeri ini, kawan.

Faktor ekonomi merupakan salah satu kendala terbesar lainnya. Tak sedikit dari mereka yang masih belum mengetahui bahwa ada skema seperti BPJS atau Jamkesmas. Sebagian dari mereka pun merasa sulit sekali kalau harus membayar Rp 10.000 kepada tukang ojek untuk mencapai puskesmas agar dapat melahirkan dengan selamat. Untuk Anda ketahui, di beberapa desa, jarak menuju Puskesmas terdekat sekitar 4 km dan kondisi jalannya benar-benar memprihatinkan. Beberapa jalanan sangat berdebu sehingga kasus ISPA bukanlah hal yang baru di daerah-daerah tersebut.

Kawan, kalau Anda punya hati, saya yakin sekali bahwa hati Anda akan bergetar ketika mendengar ceritanya langsung dari Bu Uun, atau mungkin turun langsung ke lapangan seperti yang Bu Uun lakukan. Ini bukan sekadar masalah uang, meski janji pengucuran dana 1 miliar rupiah untuk desa tak kunjung terealisasi dengan merata, ini masalah kemanusiaan, masalah pemenuhan janji kemerdekaan yang tersemat dalam setiap diri kita.

Masihkah kita tega untuk menutup mata terhadap keadaan di sekeliling kita?

***

Kalau Anda ingin berkontribusi untuk membantu pengembangan dusun Cilejet, silakan kunjungi .

Terlanjur

Hidup kita itu tidak selalu pikiran yang mempengaruhi tindakan. Terkadang, kejadiannya bisa sebaliknya, tindakanlah yang membuat pikiran mengikuti. Kalau masih belum percaya, lihatlah kejadian belakangan ini.

Kita acap kali jadi terlalu sombong untuk mengakui bahwa apa yang kita perbuat atau katakan sebetulnya salah. Faktanya sudah sangat jelas, tapi karena kita berpikir bahwa ini sudah terlanjur terjadi, dan kita tidak mau terlihat salah, maka kita mati-matian melakukan berbagai macam hal untuk menutupi kesalahan itu. Alasannya yang kita kemukakan kadang-kadang jadi tidak masuk akal. Dan hal itu semakin parah ketika kita terlanjur menaruh emosi dalam tindakan atau perkataan kita.

Coba deh dipikir, betapa memalukannya jika kita sudah ngotot, eh ternyata salah. Jadi pengin membuang muka jauh-jauh kan rasanya? Nah, itulah yang membuat kita mati-matian menutupi kesalahan kita itu. Amarah itu telah membuat kita menutupi kenyataan yang sebenarnya kita sendiri juga tahu.

Berubah pikiran setelah menerima data dan fakta yang lebih sahih bukanlah suatu bentuk inkonsistensi. Namun, kalau kejadian seperti itu terlalu sering, artinya selama ini kita memang terlalu cepat menerima berita, terlalu dangkal dalam mengkajinya. Maka, bersabarlah, pikirkan matang-matang sebelum telah terlanjur terucapkan atau terjadi.

Mari introspeksi…

Easy Come, Easy Go

Sadar tidak sih? Hidup kita itu sekarang serba cepat, serba instan? Banyak dari kita yang ingin cepat kaya, cepat sukses, tapi ingin segera? Hal itu memang wajar, tapi kalau semua hal diperlakukan seperti itu, jangan-jangan kita malah jadi kehilangan “harga” dari suatu proses.

Gampangnya begini, ketika dulu orang punya ponsel bisa sampai bertahun-tahun, saya cukup yakin bahwa sekarang orang bisa ganti ponsel per 2 tahun. Teknologi semakin maju memang, dan daya beli masyarakat juga meningkat, tapi tampaknya kita semakin tidak bisa menghargai barang. Kalau rusak, ya beli yang baru.

Saya tidak begitu mengerti sebetulnya. Saya mencoba tetap berpegang bahwa sesuatu yang dijalani secara sedikit demi sedikit dan konsisten bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada yang cepat tapi besar. Masalahnya, dunia seolah-olah sedang bergerak sebaliknya. Istilah work smart rasanya terlalu dibesar-besarkan sehingga kalau prosesnya lama sedikit, orang-orang bisa segera mengeluh.

Entahlah. Da aku mah apa atuh…

Serba Cepat, Serba Singkat

Kelihatannya orang kita masih senang hal-hal yang cepat, yang singkat, yang instan. Entah bagaimana ceritanya kalau di daerah, tapi semenjak saya pindah ke Jakarta dan kemudian ke Bandung, saya acap kali menemui singkatan di mana-mana, dari nama tempat hingga istilah. Hal ini kadang membuat saya berpikir, “Apa sebegitu malasnya kita sampai semua harus disingkat?”

Di Jakarta, hampir setiap tempat terkenal punya sebutan yang terdiri dari dua suku kata. Sebut saja mal-mal terkenal macam Sency (Senayan City), PS (Plaza Senayan), Kokas (Kota Kasablanka), hingga yang tergolong anyar: MOI (Mall of Indonesia). Selain itu, ada juga nama daerah seperti Benhil (Bendungan Hilir) dan Gatsu (Gatot Subroto). Kalau nama daerah sih saya masih mengerti untuk disingkat, tapi hal ini merambah hingga ke istilah sehari-hari.

Rasanya sudah akrab di telinga kita istilah “hedon” sebagai pengganti “hedonis” atau “hedonisme”. Lalu, ada juga “narsis” yang merujuk kepada “narcissism” atau “narsisme”. Atau, mungkin kaum akademis cukup terbiasa mendengar “kompre” sebagai pengganti “ujian komprehensif”.

Begini loh, bukannya saya benci terhadap singkatan. Sama sekali tidak. Namun, ketika semua hal jadi disingkat, kok kayaknya ada yang salah ya. Yang paling anyar, salah seorang teman hanya mengambil dua suku kata pertama dari kata “analisis”. Kan jadi tidak enak terdengarnya?

Ah, dan kebiasaan ini pun terbawa hingga ke jajaran pemerintahan. Kelihatannya, saking sulitnya mencari nama suatu sistem yang bagus, ujung-ujungnya yang dilakukan hanyalah menyingkat namanya. Padahal, Indonesia kaya akan sejarah sehingga harusnya tidak sulit untuk mencari nama yang lebih filosofis.

Apa betul kita semalas itu ya?

Mengurus Perpanjangan SIM

Jadi ceritanya, SIM C saya sudah mati sejak lama — hampir setahun yang lalu! Walhasil, saya harus memperpanjang SIM itu. Awalnya, saya sempat ragu mau memperpanjang di layanan SIM keliling, karena terhitung sudah cukup lama matinya. Namun, hari ini saya baru tahu bahwa ternyata batas waktu untuk memperpanjang di layanan seperti itu adalah satu tahun! Beruntung sekali saya, alhamdulillah.

Hatta, berkat informasi dari ibu saya, berangkatlah saya ke layanan perpanjangan SIM yang ada di lantai basement Blok M Square. Sampai di sana, ternyata saya kepagian, layanannya baru dibuka pukul 9.30, dan saya sudah di sana pukul 9 kurang. Akhirnya, saya menunggu dulu selama sekitar setengah jam.

Di saat menunggu itu, saya sempat melihat di kaca ruangan layanan perpanjangan SIM tersebut, bahwa dokumen yang dibutuhkan adalah fotokopi KTP, KTP asli, SIM asli, serta surat keterangan dokter dan asuransi. Selain itu, syaratnya adalah SIM tidak mati lebih dari satu tahun, SIM tidak dalam keadaan rusak, dan SIM diterbitkan di Jakarta (Daan Mogot). Saya saat itu langsung terpikir, “Waduh, repot juga kalau harus balik lagi untuk buat surat keterangan dokter dan asuransi. Lagipula saya tidak tahu bagaimana harus membuat asuransinya.”

Setelah ruangan layanan tersebut dibuka, akhirnya saya tanya saja mengenai syarat-syarat berupa surat keterangan dokter dan asuransi tadi. Ternyata, syarat tersebut tidak dibuat lebih dulu, melainkan akan sekalian diproses di tempat. Jadi, syarat yang dibutuhkan hanya salinan KTP dan SIM, masing-masing sebanyak dua kali; dan SIM lama yang asli. Di tempat tersebut sebenarnya ada mesin untuk fotokopi, tetapi saat saya datang mesin itu tidak berfungsi. Nah, setelah syarat-syarat dokumen tersebut dipenuhi, kita diwajibkan untuk mengisi formulir data diri.

Setelah mengisi formulir tersebut, dokumen diproses, dan kita harus menunggu giliran dipanggil untuk pengambilan foto, sidik jari, dan tanda tangan. Setelah dipanggil, kita diminta untuk membayar biaya proses perpanjangan SIM ini. Biaya pemrosesan SIM C saya adalah Rp 150.000. Sayangnya, saya tidak sempat bertanya berapa biaya yang dibutuhkan untuk pemrosesan SIM lainnya.

Proses berikutnya adalah pengambilan foto, sidik jari, dan tanda tangan. Tak berapa lama, SIM pun dicetak dan urusan Anda sudah selesai! Total waktu yang dibutuhkan untuk pemrosesan ini kira-kira sekitar 45 menit sampai 1 jam. Kalau Anda yang paling pagi datang, mungkin bisa jauh lebih cepat daripada itu.

Akhir kata, saya ingin menyampaikan bahwa saya salut dengan kepolisian sekarang. Sudah banyak sekali kemajuan yang dilakukan, meski belum menyeluruh. Semoga saja ke depannya kepolisian kita bisa jauh lebih keren lagi.

Kalau sudah bisa integrasi dengan e-KTP, tentu lebih keren lagi kan?